
Sepanjang perjalanan Shea melihat ke arah luar kaca mobil. Dia benar-benar malu, saat mendengar ucapan Bryan, dan tahu apa yang di maksud oleh Pak polisi.
"Anak daddy mau makan apa ini?" tanya Bryan memecah keheningan setelah Shea yang memilih diam. Bryan menunggu reaksi apa yang di tujukan oleh Shea, saat dirinya bertanya
Walaupun masih merasa malu, Shea memberanikan diri untuk menoleh. Shea tahu, jika yang di tanya sebenarnya adalah dirinya. "Aku mau makan ayam saus kedelai." Suara Shea akhirnya keluar juga, setelah beberapa saat bungkam.
"Ayam suas kedelai?" Bryan memastikan pada Bryan.
"Iya."
"Restoran mana yang menyediakan ayam saus kedelai?" Bryan yang tidak tahu dimana menemukan menu itu pun, bertanya pada Shea.
"Aku tidak mau ayam saus kedelai dari restoran, aku mau ayam saus kedelai buatan sendiri."
"Kamu mau memasak." Dari ucapan Shea Bryan menebak.
"Iya."
Bryan menghela napasnya, saat mendengar ucapan Shea yang ingin memasak. Bryan sadar betul, kelelahan Shea kemarin, akibat memasak, dan itu membuat Shea kemarin pingsan. "Biarkan aku saja yang memasak."
Mata Shea memicing dan dahinya berkerut saat mendengar jika Bryan akan memasak. Shea memutar ingatannya, mengingat bagaimana Bryan yang memasak waffle gosong.
"Kamu yang akan mengarahkan aku untuk memasak, jadi masakannya tidak akan gosong." Bryan sudah menebak apa yang di pikirkan Shea.
Shea memikirkan tawaran Bryan, yang menawarkan dirinya untuk memasak. "Baiklah." Setelah memikirkan jika Shea sendiri yang akan mengarahkan, tidak ada salahnya Shea membiarkan Bryan memasak.
"Oke, kita ke supermarket untuk membeli ayam." Mendengar Shea yang setuju, Bryan langsung melajukan mobilnya menuju ke supermarket.
Sesampainya di supemarket, Bryan memarkirkan mobilnya. Membuka seatbelt yang melingkar di tubuhnya, Bryan berniat untuk keluar dari mobil. Tapi Bryan urung melakukannya, saat melihat Shea yang juga ingin keluar. "Kamu mau kemana?"
"Ke supermarket."
"Untuk apa kamu ikut ke supermarket? Biarkan aku saja yang beli."
"Memangnya kamu tahu bagaimana memilih ayam?"
"Tidak," ucap Bryan di sertai gelengan kepala. "Tapi kamu bisa memberitahu aku, seperti apa ayam yang harus aku beli," lanjut Bryan.
Mendengar ucapan Bryan, akhirnya Shea memberikan Bryan kesempatan untuk berbelanja. Lagi pula sebenarnya Shea juga sedang malas untuk jalan ke supermarket. "Belikan aku ayam bagian paha. Pilihkan paha yang besar, dan pastikan pahanya masih kenyal dan segar." Shea menjelaskan ayam seperti apa yang harus Bryan beli.
Mendengar kata 'paha', pikiran Bryan melayan. "Pasti mulus." Satu ucapan lolos dari mulut Bryan.
"Mulus?" Shea mengerutkan dahinya dalam saat mendengar ucapan Shea.
Bryan yang sadar, jika ucapannya mengarah ke tempat lain, mulai memikirkan cara untuk mengelak. "Maksudku mulus, jadi paha ayahnya harus mulus, bukan?"
Walaupun Shea masih binggung mencerna kata 'mulus' yang diucapkan Bryan, Shea memilih mengabaikan saja. "Terserah padamu mau seperti apa, tapi yang jelas, aku mau seperti yang aku jelaskan tadi."
"Baiklah."
Bryan membuka pintu mobil dan menuju ke supemarket. Seraya berjalan ke supemarket Bryan hanya bisa merutuki kesalahannya yang membahas paha lain.
"Untung dia tidak sadar, jika aku membahas paha mulus miliknya," gumam Bryan. Mengingat bagian tubuh Shea, rasanya Bryan benar-benar dilema. Disisi lain dirinya ingin sekali menyentuh Shea, tapi janjinya pada Shea membuat dirinya harus bersabar.
Bukankah tadi sudah lumanyan aku dapat mencium perut Shea dan membelai pipi Shea. Aku bisa gunakan kesempatan-kesempatan seperti tadi bukan?
Bryan hanya bisa membatin dalam hatinya, tentang keberuntungannya hari ini.
Sesampainnya di supermarket Bryan menuju ke area daging. Melihat ayam, Bryan memesan ayam sesuai yang di inginkan Shea.
"Berikan bagian paha satu kilo yang besar, kenyal dan mulus," ucap Bryan pada pelayan supermarket seraya menunjuk daging ayam.
"Mulus, Pak?" tanya pelayan supermarket bingung.
Bryan baru sadar saat mendengarkan pertanyaan pelayan supermarket, jika dirinya mengatakan kata 'mulus' lagi. "Maksudku, pastikan tidak ada bulunya, jadi mulus."
Pelayan supermarket masih bingung di ucapkan oleh Bryan.
"Maksudku berikanku, paha mulus tanpa bulu." Bryan yang kesal saat melihat pelayan supermarket tidak mengerti, langsung menaikan suaranya.
Saat suara Bryan meninggi, semua orang di sekitar Bryan langsung menatap ke arah Bryan. Mereka semua mendengar saat Bryan mengatakan 'paha mulus tanpa bulu', dan semua orang menatap heran.
Bryan yang merasa semua orang menatapnya menarik senyum terpaksanya. "Maksud saya paha ayam yang mulus tidak ada bulu," ucap Bryan membela diri pada orang-orang sekitarnya
Bryan beralih pada pelayan supermarket. "Cepat berikan padaku!" Bryan ingin sekali cepat-cepat berlalu meninggalkan supermarket, karena dia benar-benar merasa sangat malu.
Aku pikir otakku saja yang kotor, ternyata mereka semua juga berotak kotor. Baru juga aku mengatakan 'paha mulus tanpa bulu', mereka sudah menatap aku seolah aku sedang membahas paha wanita, batin Bryan melihat orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
"Ini, Pak." Pelayan swalayan memberikan ayam pesanan Bryan.
Setelah mendapatkan ayam pesanannya, Bryan langsung membayarnya, Kembali ke mobilnya, Bryan menghampiri Shea yang sudah menunggu dirinya di mobil. Bryan membuka pintu mobil, dan masuk ke dalam mobil.
"Dapat?" tanya Shea saar pertama kali melhat Bryan masuk ke dalam mobil.
"Ini," ucap Bryan seraya memberikan pada Shea kantung berisikan ayam.
"Terimakasih." Shea tersenyum melihat ayam yang di berikan Bryan. Dirinya sudah tidak sabar untuk memakannya.
Melihat wajah Shea yang tersenyum saat melihat ayam yang di berikan, membuat Bryan juga ikut tersenyum. Melanjutkan perjalanan ke apartemen, Bryan melajukan mobilnya.
***
Sesampainya di apartemen. Bryan dan Shea langsung menuju dapur. Shea yang tadi meminta untuk cepat-cepat memasak, membuat Bryan tidak bisa menolak keinginan Shea.
"Duduk, dan arahkan aku saja!" perintah Bryan pada Shea.
Shea yang diminta duduk pun, menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya. Sedangkan Bryan membuka jasnya, agar dirinya lebih leluasa memasak. Melepas kancing kemejanya, tangan Bryan berniat mengulung kemejanya.
"Biar aku yang mengulung," ucap Shea pada Bryan.
Bryan tidak mau kehilangan kesempatan dengan apa yang di tawarkan Shea. Mendekat ke arah Shea yang sedang duduk, Bryan mengarahkan tangannya pada Shea. Mata Bryan terus saja memperhatikan Shea yang sedang mengulung lengan kemejanya.
Mata Bryan yang sedang memperhatikan Shea, tidak sengaja melihat belahan dada Shea. Posisi Bryan yang berdiri, dapat dengan mudah melihat belain dua gunung kembar milik Shea.
Aku berharap melihat paha mulus, tapi malah mendapatkan dada mulus.
Bryan hanya bisa merasakan betapa beruntungnya dirinya hari ini. Walapun tidak sepenuhnya terlihat, tapi bagi Bryan lumayan untuk mengobati keinginananya.
"Sudah." ucap Shea pada Bryan.
"Oh, sudah." Bryan yang menyadari jika berakirnya Shea yang mengulung lengan kemejanya, berakhir juga kesempatannya melihat belahan gunung kembar Shea.
Melihat lengan kemejanya sudah naik ke atas, Bryan tidak ada pilihan selain memulai acara memasak untuk Shea. Melangkah menuju ke area dapur, hal pertama yang di lakukan Bryan adalah mencuci ayam. Melihat paha ayam Bryan merasa takut untuk memegangnya, karena ini adalah pertama kali Bryan memegang ayam mentah.
"Coba paha Shea yang aku harus pegang, dengan senang hati aku akan melakukannya," gumam Bryan. Bryan hanya bisa merasa kesal harus mencuci paha ayam yang di belinya.
"Setelah kamu cuci, berikan perasan air lemon, agar ayamnya tidak amis" ucap Shea dari kursi di meja makan.
"Iya."
"Ini, siapkan bumbunya." Suara Shea terdengar kembali, saat Bryan selesai memberikan lemon pada ayamnya. Tangan Shea memberikan secarik kertas, yang di tulisnya tadi saat Bryan sedang mencuci ayam.
Melihat Shea memberikan secarik kertas, Bryan menerimanya. "Dua bawang putih, setengah bawang bombay," ucap Bryan membaca catatan bumbu yang di tulis Shea.
Bryan melanjutkan kembali langkahnya, untuk mengambil bawang putih dan bawang bombay. "Harus di apakan bawang-bawang ini?" tanya Bryan seraya menunjukan bawang-bawang pada Shea.
"Di haluskan."
Mendengar jika bawang harus di haluskan, Bryan mencari food processor, untuk menghaluskan bawang-bawang yang di bawanya.
"Bryan," panggil Shea.
Bryan yang sedang mengambil food processor, menoleh saat mendengar suara Shea. "Apa?"
"Aku tidak mau bawangnya di haluskan dengan food processor, aku mau bawangnya di haluskan dengan tangan," jelas Shea ragu-ragu.
Dahi Bryan langsung berkerut dalam, saat mendengar ucapan Shea. "Bagaiaman cara menghaluskan dengan tangan?" Bryan bingung bagaimana caranya.
"Maksudku bukan dengan tangan dalam artian sesungguhnya."
"Lalu?"
"Aku mau kamu menghaluskannya dengan di cincang." Shea menjelaskan pada Bryan.
Rasanya Bryan ingin sekali menolak cara Shea, tapi melihat wajah Shea yang begitu ingin makan Ayam suas kedelai, Bryan tidak tega. "Baiklah."
Mendengar jawaban Shea, Bryan melakukan apa yang di perintahkan oleh Shea. Sepanjang memasak, Shea mengarahkan apa saja yang harus di masukkan ke dalam masakan yang sedang di buat Bryan.
"Ini," ucap Bryan yang meletakkan ayam saus kedelai buatannya di atas meja.
"Em ... harumnya." Shea menikmati aroma manis yang di ciptakan dari ayam saus kedelai buatan Bryan.
Kembali duduk, Shea langsung mengambil nasi dan ayam saus kedelai buatan Bryan. Shea benar-benar tidak sabar saat melihat makanan yang sudah di tunggunya dari tadi.
"Auch ..." teriak Shea saat mengecek panas nasi dan ayam dengan tangannya.
__ADS_1
Bryan yang melihat jemari Shea terkena panas, langsung menarik tangan Shea dan memasukkan jemari Shea ke dalam mulut, untuk meredakan panas di jemari Shea.
Mata Shea membelalak, saat melihat aksi Bryan yang mengulum jemarinya. Shea melihat jelas, bagaimana kekhawatir di wajah Bryan saat jemarinya terkena panas.
Apa waktu aku pingsan, wajah khawatir Bryan seperti itu?
Rasanya Shea benar-benar tidak percaya. Bryan yang di kenalnya pertama kali sangat jauh berbeda dengan sekarang. Shea ingat betul bagaimana Bryan mengabaikan rasa sakit yang di alaminya, hingga menangis pun, Bryan mengabaikannya. Tapi sekarang, teriakan kecil dari bibir Shea, membuat Bryan berusaha menyembuhkanya.
Bukan aku tidak percaya jika kamu mencintaiku, tapi aku butuh sebuah keyakinan jika cintamu benar-benar tulus. Aku juga tidak mau terluka, jika aku salah meyakini hatiku sendiri.
Shea hanya bisa berkata dalam hatinya apa yang di rasanya, seraya melihat wajah khawatir yang di tunjukan oleh Bryan.
"Bisakah kamu bersabar untuk makan!" Bryan yang melepas jemari Shea dari mulutnya langsung meluapkan kekesalannya. "Aku tidak akan ikut makan, jika kamu mau habiskan semua. Jadi pelan-pelanlah!"
Shea yang melihat Bryan meluapkan kekesalannya, hanya menatap Bryan saja. Entah perasaan apa yang sedang Shea rasakan, tapi Shea merasakan senang saat melihat wajah khawatir Bryan.
"Kenapa melihatmu seperti itu?" Bryan yang di tatap oleh Shea, merasa salah tingkah. Bryan merasa cangung saat Shea menatapnya, karena Shea jarang sekali melakukannya.
"Apa kamu khawatir?" Ingin rasanya Shea tahu seberapa khawatirnya Bryan.
Bryan menghela napasnya. "Aku tidak mau melihatmu terluka lagi," ucap Bryan, "oleh aku atau pun oleh orang lain," lanjut Bryan menegaskan kalimatnya.
Bryan memberanikan diri menatap kembali Shea, membuat sejenak pandangan Shea dan Bryan saling mengunci. Mereka berdua merasakan perasaan yang sedang masuk ke dalam hati mereka masing-masing.
"Apa kamu pikir aku selemah itu." Shea mencoba mengalihkan pandangannya. Menarik kembali tangannya, Shea melihat jemarinya yang merah, untuk mengalihkan perasaan malunya setelah saling pandang dengan Bryan.
Bryan mendengus kesal saat Shea mengalihkan pandangannya. Tapi Bryan sadar, jika Shea sedang sangat malu. "Ya, dan kamu wanita yang kuat yang pernah aku temui."
Mendengar ucapan Bryan yang terdengar seperti pujian, membuat pipi Shea merona. Menundukan wajahnya, Shea melanjutkan makannya. Tapi kali ini Shea lebih berhati-hati, karena nasi dan ayam saus kedelainya masih panas.
Memasukkan makanan ke dalam mulutnya, Shea menikmati makanan yang di masak oleh Bryan. Sensasi manis dan gurih benar-benar memanjakan lidah Shea.
"Enak?" Bryan ingin memastikan seperti apa rasa masakannya pada Shea.
"Enak," ucap Shea di sertai anggukan.
"Cobalah!" Shea menyodorkan nasi dengan ayam di sendok, dan memberikannya pada Bryan.
Senyum tertarik sedikit di ujung bibir Bryan, saat melihat Shea menyuapinya. Membuka mulutnya, Bryan menikmati makan dari tangan Shea.
"Bagiamana?"
"Kalau sekali mana bisa tahu enaknya." Bryan mencoba membuat Shea menyuapinya kembali.
"Ini coba lagi." Shea kembali memberikan satu suapan lagi pada Bryan.
Bryan benar-benar puas, bisa membuat Shea menyuapinya. Suapan demi suapan, Shea berikan pada Bryan, hingga tidak terasa sudah berkali-kali tangan Shea menyuapi Bryan.
"Ya, habis," ucap Shea melihat piring berisi makanan miliknya sudah habis.
"Ini, milikku masih."
Shea yang melihat Bryan menyodorkan piringnya, hanya bisa memicingkan matanya. Dirinya baru menyadari, jika dari tadi dirinya menyuapi Bryan terus menerus, hingga makanan miliknya sudah habis. "Kamu curang!" Shea mencebikan bibirnya saat mendapati makanan Bryan masih utuh.
"Makanlah milikku!"
"Itu pasti, karena makananku sudah habis." Mengabaikan Bryan, Shea melanjutkan makannya. "Jangan minta aku menyuapimu lagi," sindir Shea.
"Tidak, aku sudah kenyang, makanlah!"
Bryan tersenyum melihat Shea yang sedang sibuk makan. Rasanya Bryan benar benar puas, bisa makan dari tangan lembut Shea, walaupun harus dengan menampilkan wajah bodohnya yang pura-pura tidak tahu.
.
.
.
.
.
.
Aku harap kalian ikuti alurnya. Mungkin akan jalan pelan, karena aku mau kalian lihat dulu perjuangan Bryan. Jadi yang berharap Shea cepet-cepet bucin atau nggaknya, aku rasa kalian harus sabar.
Jangan lupa like, dan berikan vote kalian jika ada poin lebih.
__ADS_1
Terimakasih