My Baby CEO

My Baby CEO
Syarat apa?


__ADS_3

Pagi ini, kamar terdengar ramai, karena suara indah Shea terdengar melengking, membangunkan Bryan. "Sayang, ayo cepat bangun! Kita akan pergi." Tangan Shea mengoyang-goyangkan tubuh Bryan yang masih terbungkus dengan selimut.


"Emm .... " Bryan masih menikmati tidurnya dalam kehangatan selimut dan tidak memperdulikan Shea yang terus membangunkannya.


"Kalau kamu tidak bangun, aku akan pergi dengan Kak Selly dan Kak Regan saja!" Suara Shea penuh ancaman terdengar menggelegar mengisi keheningan di dalam kamar.


"Jangan!" pekik Bryan. Dia langsung menyibak selimut yang membungkus tubuhnya dan bangun dari tidurnya. "Kita akan pergi," ucapnya saat berdiri.


"Bagus, kalau sampai kamu tidak pergi aku akan pergi dengan Kak Selly dan Kak Regan," ucap Shea membuang muka.


Bryan hanya bisa menghela napasnya. Mengontrol emosi di dalam hatinya. Di alam bawah sadarnya, dia menanamkan satu hal, bahwa yang sedang dia hadapi adalah ibu hamil, dan tidak akan ada kata menang untuknya.


Berlalu ke kamar mandi, Bryan mengakhiri perdebatan mereka. Dia tidak ingin memperpanjang masalah yang akan berakibat Shea marah.


***


Tin ... tin ....


Suara klakson mobil terdengar, seolah memberikan tanda jika seseorang di dalam mobil sudah menunggu.


Siapa lagi jika bukan Shea. Dia yang sudah memasukan barang-barangnya dan menunggu Bryan di mobil, membunyikan klakson mobil, memberi tanda pada Bryan, agar suaminya itu segera keluar.


Bryan hanya bisa menggeleng saat mendengar suara klakson mobil. Mengabaikan Shea, dia menutup pintu dan menguncinya. Memastikan jika rumah aman sebelum dia meninggalkan untuk beberapa hari.


Masuk ke dalam mobil, Bryan melihat wajah penuh hiasan senyum dari Shea. Persis seperti anak kecil yang akan diajak berlibur.


Saat Bryan baru saja menyalakan mobilnya, suara klakson terdengar. Dia sudah tahu suara klakson mobil siapa itu.


"Itu mereka," ucap Shea.


Tanpa menjawab, Bryan memundurkan mobilnya dan mensejajarkan mobilnya tepat di samping mobil Regan.


"Kita ke villa milik Regan," ucap Selly pada Bryan.


"Iya." Bryan menginjak pedal gas, dan melajukan mobilnya. Mengikuti mobil Regan yang berada tepat di depannya.


"Memang villa yang akan ditempati, punya kak Regan?" Shea yang tadi mendengar pembicaraan Selly dan Regan, akhirnya bertanya.


"Memangnya kak Selly tidak bilang kalau kita ke villa Kak Regan?" Bryan malah balik bertanya pada Shea.


"Tidak," jawab Shea disertai gelengan. Dia mengingat jika kemarin Selly hanya mengatakan jika akan memesan villa, tanpa mengatakan jika villa itu milik Regan.


"Iya, itu villa milik kelurga kak Regan."


Shea mengangguk, mengerti penjelasan Bryan. "Apa keluarga Adion juga punya villa?" Rasanya Shea ingin tahu sekaya apa keluarga suaminya.


"Punya, di puncak."


"Wah ... Pasti sangat menyenangkan merasakan hawa dingin pengunungan."


"Aku akan mengajakmu nanti ke sana," ucap Bryan. Melihat istrinya yang senang membayangkan pergi ke puncak, Bryan berencana membawa Shea ke sana.


Jalanan yang masih lengang, membuat perjalanan terasa nyaman. Perjalanan pun juga terasa lebih cepat saat tidak ada kemacetan. Perjalanan ke pantai juga menyuguhkan pemandangan yang begitu indah.


"Aku matikan pendingin ruangan, ya?" ucap Shea, dan Bryan mengangguk. Tangannya beralih membuka kaca mobil dan membiarkan angin laut masuk ke dalam.


Shea mengeluarkan kepalnya memandangi laut dari kejauhan. Angin laut yang tertiup membuat rambutnya berterbangan.


"Apa kamu sering ke laut?"


Suara Bryan membuat Shea yang sedang sibuk menikmati pemandangan, menoleh. "Emm ... terakhir kali, aku pergi saat acara sekolah."


"Mana yang lebih kamu suka? Pantai atau laut?"


"Aku bingung jika harus memilih. Karena keduanya menyuguhkan keindahnya masing-masing."


Bryan mengangguk mendengar penjelasan Shea.


"Kalau kamu suka yang mana?" tanya Shea balik.


"Aku tidak suka keduanya."


Shea menautkan kedua alisnya, dan membuat dahinya sedikit berkerut. "Lalu, kamu suka apa?"


"Suka kamu," ucap Bryan menoleh sejenak pada Shea. Senyuman pun menghiasi wajah tampannya.


Pipi Shea merona mendapati jawab Bryan. "Kita sedang membahas keindahan laut dan pegunungan, kenapa bisa aku?"


"Karena kamu juga salah satu keindahan. Keindahan yang diciptakan Tuhan untukku." Tangan kiri Bryan meraih jemari Shea, menariknya lembut dan mendaratkan kecupan di pungung tangan Shea.


Sejak mengatakan cinta pada Bryan, Shea melihat suaminya itu semakin romantis. Segala hal membuat Shea selalu melayang. Setiap kata yang terucap, setiap tindakan yang dilakukan, selalu membuat Shea semakin jatuh cinta.


Sesampainya di villa, Bryan memarkirkan mobilnya di samping mobil Regan.

__ADS_1


"Wah ... Villanya bagus sekali," ucap Shea. Mata indahnya melihat penampilan villa yang begitu indah.


"Kamu akan lihat keindahan lebih lagi saat di dalam." Bryan melepas seatbelt yang melingkar di tubuhnya.


Shea pun tak kalah bersabar. Dia membuka seatbelt dan membuka pintu mobilnya.


"Ayo, Se!" ajak Selly saat melihat Shea keluar.


Shea mengangguk menerima ajakan Selly. Bergandengan dengan Selly, Shea masuk ke dalam villa.


Di belakang tinggallah Bryan dan Regan yang sibuk membawa tas. Membawa tas masing-masing Bryan dan Regan saling pandang, seolah menertawakan diri mereka yang hanya bisa pasrah dengan pra wanita.


Saat masuk ke dalam villa, Shea dibuat tercengang melihat pemandangan yang ada. Lautan yang terlihat dari dalam villa terlihat sangat menakjubkan. Semilir angin laut pun menambah kenyamanan di villa.


"Kak, bagus sekali, ucap Shea pada Selly.


"Apa kamu suka?"


"Iya," jawab Shea disertai anggukan pasti.


"Setelah ini ajaklah Bryan sering-sering kemari."


"Apa boleh?" tanya Shea memastikan.


"Tentu saja boleh."


Rasanya Shea tidak sabar akan ke villa ini suatu hari nanti, untuk melihat keindahan-keindahan yang disuguhkan.


"Kalian istirahat dulu aja, tidak baik ibu hamil terlalu lelah."


Suara datar milik Regan memecah fokus Shea, dan membuat Selly menoleh.


"Apa kita tidak langsung jalan-jalan?" tanya Shea polos.


"Kita masih punya waktu, jangan sampai kamu kelelahan dan berakibat buruk untuk anak kita." Bryan menimpali percakapan Regan dan Shea.


Mendengar suaminya sudah berucap, Shea tidak punya pilihan. Dia mengangguk menerima permintaan Bryan.


"Kita akan lihat sunset nanti, jadi istirahatlah dulu!" ucap Regan.


"Ini kunci kamar kalian," ucap Selly seraya memberikan kunci pada Shea.


Shea menerima kunci dari Selly dan berlalu bersama Bryan menuju ke kamarnya. Saat masuk ke dalam kamar, Shea menajamkan pandangannya. Pemandangan laut ternyata terlihat juga dari kamar, dan itu tampak indah. "Sayang, lihat indah sekali." Shea menunjuk laut dilihatnya.


Mata Shea melirik ke arah Bryan yang menaruh dagunya di bahu Shea. "Apa yang indah?" tanyanya memastikan.


Bryan menjawab dengan isyarat matanya, seolah menunjuk ke arah keindahan. Namun, mata Bryan bukan melihat keindahan laut di depannya, melain belahan dada Shea yang melihat saat Bryan meletakan dagunya di bahu Shea.


"Selalu saja kamu ke sana," tegur Shea.


Bryan langsung tergelak saat Shea menegurnya. "Memang itu sangat indah, lalu apa aku harus berdusta?"


Shea hanya menggeleng. "Sampai sekarang aku masih bingung bagaimana kamu bisa bertahan tiga bulan tidak menyentuhku," ucap Shea saat teringat bagaimana dia dulu melihat Bryan.


"Itu perjuangan, jadi aku bertahan."


"Berarti sekarang tidak berjuang?"


"Sekarang lain, sekarang berjuang memberimu kenikmatan."


"Aku?" tanya Shea menunjuk dirinya. "Bukannya kamu?"


"Kita," ucap Bryan seraya mendaratkan kecupan di leher Shea. "Kita yang mencari kenikmatan bersama," imbuhnya.


"Jangan meninggalkan jejak di sana," ucap Shea mengoyang-goyangkan sedikit badannya.


"Kalau begitu berikan tempat aku yang tak terlihat." Bryan memutar tubuh Shea agar bisa menjangkau wajah cantik istrinya.


"Tapi sayangnya aku mau istirahat, bukankah tadi kamu bilang aku harus istirahat." Ucapan Shea seakan memberikan sindiran telak pada Bryan. Tangannya mendorong tubuh Bryan dan meninggalkan suaminya menuju ke tempat tidur.


"Menyebalkan sekali jika kata-kataku berbalik," gerutu Bryan. Dia melangkah menghampiri Shea yang sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Kamu lelah?" tanya Bryan.


"Tidak."


Senyum tergambar di wajah Bryan saat mendapati istrinya tidak lelah. "Kalau begitu kita mulai permainannya," ucap Bryan semangat.


Ekor mata Shea melirik pada Bryan. Namun, sejurus kemudian senyum terlihat di bibir Shea. "Oke kita mulai permainannya."


"Benarkah?"


"Tapi ada syaratnya."

__ADS_1


"Syarat apa?" Dahi Bryan berkerut dalam saat mendengar ucapan Shea.


"Jadi kita akan melakukan pemanasan terlebih dahulu."


Mendengar Shea membahas tentang awalan permainan, wajah Bryan langsung berbinar. "Ayo!" Tangan Bryan memegang bahu Shea dan berusaha untuk merebahkan tubuh Shea.


"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara." Shea menyingkirkan tangan Bryan dari bahunya.


"Apalagi yang ingin kamu bicarakan, kita mulai saja." Tanyanya kembali memeluk Shea. Dia sudah tidak sabar memulai permainannya.


"Tunggu, dengarkan syaratnya dulu!"


"Ya sudah, cepat katakan!"


"Aku akan melakukan pemanasan, tapi kamu tidak boleh ada suara. Kalau sampai terdengar kamu membuka mulut dan mendesah, kamu harus menuruti semua mau aku."


Bagaimana aku bisa menikmati tapi tanpa suara? Bryan berpikir dalam hatinya cara yang tepat.


Sepertinya tidak masalah, bukannya kalau aku sampai bersuara, tidak mungkin Shea mengakhirinya bukan?


"Baiklah." Bryan mulai membuka bajunya. Setelah baju terlepas dari tubuhnya, dia bersiap membuka celananya.


"Celananya tidak perlu!" ucap Shea.


"Kenapa? Oh, aku tahu, kamu mau membukanya ya?" Senyum penuh kecurigaan tergambar di wajah Bryan.


"Iya." Shea memilih mengiyakan, agar perdebatan cepat selesai.


Tanpa berlama-lama Bryan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia sudah tidak sabar mendapatkan sentuh-sentuhan dari Shea.


Melihat Bryan sudah siap, Shea memulai permainan. Dia mendekat pada tubuh polos Bryan. Membenamkan bibirnya pada ceruk leher milik Bryan, dan memberikan kecupan lembut.


Menikmati bibir istrinya yang sedang menyusuri tubuhnya, Bryan memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan. Mulutnya yang dikunci rapat agar tidak ada suara desahan terdengar.


Menyusuri leher suaminya, Shea beralih ke dada bidang milik Bryan. Namun, dia tidak meninggalkan jejak apa-apa karena tidak mau sampai nanti saat Bryan berenang jejak-jejak itu terlihat.


Menyusuri lebih ke bawah, bibir Shea sampai di pinggang Bryan. Kecupan-kecupan kecil dia tinggalkan di sana, tepat diantara pusar dan celana Bryan yang masih melekat.


Merasakan kecupan tepat di atas kejantanannya, Bryan tidak bisa menahan lagi kenikmatan yang diciptakan Shea. "Ach .... " Akhirnya suara desahan Bryan terdengar merdu.


"Kamu kalah!" seru Shea saat mendengar suara Bryan seraya bangkit dari tubuh Bryan.


Melihat Shea menghentikan kegiatannya, membuat Bryan frustrasi. Dalam satu hentakan tangannya, tubuh istrinya itu langsung jatuh ke dalam pelukannya. Dia langsung memutar tubuh Shea dan membuatnya di bawah kungkungannya. "Aku akan menuruti keinginanmu, apa mau kamu?" tanya Bryan seraya mendaratkan kecupan di pipi Shea.


"Aku mau jalan-jalan!" Suara Shea terdengar lantang dan jelas.


Bryan langsung mengangkat kepalanya agar bisa menjangkau wajah istrinya. "Apa?" tanya Bryan dengan kerutan dahi disertai matanya yang memicing.


"Iya, aku mau jalan-jalan."


"Tapi - "


"Bukannya kita sudah sepakat, jika aku menang, kamu akan menuruti aku," potong Shea.


"Iya, tapi bukan menuruti itu." Suara Bryan terdengar dengan frustrasi saat mengetahui jika istrinya meminta jalan-jalan, bukan gaya ataupun ritme permainan.


"Terserah kalau kamu tidak mau." Shea membuang muka tidak mau melihat Bryan.


Rasanya Bryan sudah sangat frustrasi saat permainan sudah dimulai tapi harus diakhiri. "Baiklah." Bryan tidak punya pilihan lain, selain pasrah. Dia tidak mau sampai Shea marah disaat liburan seperti sekarang.


"Benarkah?"


"Iya tapi setelah aku meredakannya." Bryan merebahkan tubuhnya di samping Shea. Menunggu pedang yang sudah siap berperang tapi harus kalah sebelum peperangan dimulai.


Shea tahu apa yang akan diredakan Bryan. "Baiklah, aku akan menunggu di luar." Dia tidak mau berada di samping Bryan, karena itu tidak akan cepat membuat reda.


Melangkah ke pintu, Shea keluar dari kamarnya.


Bryan yang ditinggal Shea hanya bisa pasrah. *Sabar ya, setelah dua hari jalan-jalan, kamu akan menemukan lawanm*u, batin Bryan seraya menatap ke bawah, melihat celananya yang mulai sesak.


.


.


.


.


...Jangan lupa like dan vote...


...Up jam 12...


...Jika kamu menemukan update ini sebelum jam 12, berarti sistemnya aman ya...

__ADS_1


__ADS_2