
Setelah memastikan pintu sudah tertutup, Shea kembali masuk ke dalam rumah. Shea melihat Bryan belum beranjak dari duduknya.
Menghampiri Bryan, Shea duduk di samping Bryan.
"Makanlah! Tadi kamu belum makan banyak," ucap Bryan pada Shea. Tangan Bryan memotong daging dan mencoba memasukannya ke dalam mulut.
"Bry," panggil Shea. Shea tahu Bryan mencoba mengalihkan pembicaraan.
Bryan masih berusaha mengunyah makanannya, berusaha kuat di depan Shea. Tapi pada akhirnya, Bryan menoleh pada Shea, saat Shea memanggilnya. "Bolehkah aku memelukmu?" tanya Bryan ragu-ragu.
Shea mengangguk, dan merentangkan tangannya, agar Bryan masuk ke dalam peluknnya.
Melihat Shea mengizinkan untuk memeluknya, Bryan memeluk Shea.
Bryan merasakan tubuh munggil yang begitu hangat, mampu membuatnya begitu tenang.
Bryan menyadari, terkadang dirinya begitu butuh sandaran di saat seperti ini.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Shea seraya membelai lembut punggung Bryan.
Belaian tangan Shea pun membuat emosi Bryan seketika mereda.
"Aku minta maaf, karena sudah menyakitimu." Suara Bryan terdengar berat saat mengatakan pada Shea. Bryan mengingat apa yang baru saja di ucapkan papanya. Dari sekian kalimat yang terucap, kalimat 'menghamili wanita tidak berdosa' yang terngiang di telinga Bryan.
Bryan tidak pernah merasa sakit saat papanya merendahkan atau pun menyakitinya. Tapi saat papanya menarik Shea dalam pembicaraan, rasa sakit langsung menelusup ke hati Bryan.
Shea hanya tersenyum di belakang Bryan. "Aku sudah memaafkanmu, jadi jangan menyalahkan dirimu terus menerus." Tangan Shea terus membelai lembut punggung Bryan. "Terkadang kita tidak pernah tahu, akan bertemu seseorang dengan awal seperti apa. Jika aku bertemu denganmu dengan awal menyakitkan, coba berikan akhir yang membahagiakan." Shea melanjutkan ucapannya.
"Aku janji, Se, aku akan membuatmu bahagia." Janji yang terdengar adalah janji yang di ucapkan dari dalam lubuk hati Bryan yang paling dalam.
Satu kata yang bisa Bryan rasakan, yaitu bersyukur. Bryan benar-benar bersyukur, saat ada Shea di dalam hidupnya. Shea yang selalu kuat menghadapi hidupnya walaupun menyakitkan, dan itu memberikan semangat besar dalam hati Bryan.
Bagaimana Shea kuat menjalani hidup, mengajarkan Bryan jika dirinya tidak boleh kalah dengan Shea.
"Apa kamu belum puas memelukku?"
"Apa tidak boleh lebih lama lagi?" Bryan mengeratkan kembali pelukanny. Rasanya Bryan enggan melepasnya.
"Boleh, tapi setelah bau asap di tubuhmu hilang." Shea berucap seraya menyelipkan tawa kecil.
Bryan yang mendengar ucapan Shea, langsung melepaskan pelukannya. Bryan mengendus bajunya, untuk mengecek apa benar yang di katakan Shea. Ternyata yang di katakan Shea benar jika dirinya bau asap.
"Iya, bau asap," ucap Bryan polos.
Shea pun tersenyum melihat apa yang di lakukan Bryan.
"Kalau aku mandi, dan sudah wangi, apa boleh aku memelukku lagi?" Bola mata Bryan menatap lekat pada bola mata milik Shea. Tatapan penuh pengharapan, yang terlihat jelas di kedua bola mata Bryan.
Shea mengangguk, dan dengan senyuman tipis.
"Ayo kalau begitu kita ke kamar," ucap Bryan seraya mengulurkan tangan pada Shea.
Shea pun hanya mengikuti saat Bryan mengajaknya ke kamar. Melangkah ke lantai atas, Bryan dan Shea menuju ke kamarnya.
Masuk ke dalam kamar, Shea melihat kesekeliling. Kemarin dirinya dan Bryan sudah membahas dimana mereka akan tidur, jadi Shea sudah tahu dimana kamarnya.
"Aku akan mandi," ucap Bryan. Bryan pun berlalu ke kamar mandi.
Shea yang melihat Bryan sudah masuk ke dalam kamar mandi, beralih pada kopernya. Terlihat hanya ada empat koper. Shea ingat betul jika dua koper adalah miliknya, dan sudah Shea pastikan dua koper adalah milik Bryan.
Shea membuka koper dan memasukkan baju miliknya ke dalam lemari.
__ADS_1
"Kamu tidak mandi?" tanya Bryan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Shea menoleh saat terdengar suara Bryan tepat di belakangnya. Saat menoleh Shea melihat Bryan hanya dengan lilitan handuk saja. Memutar kembali kepalanya, Shea menghindari melihat Bryan yang telanjang dada. "Iya, ini aku mau mandi," ucap Shea seraya mengambil bajunya.
Berlalu ke kamar mandi, Shea berusaha untuk tidak melihat Bryan.
Bryan yang melihat mata Shea menghindarinya, hanya menarik senyumnya. Bryan tahu, Shea masih sangat malu melihat tubuh polos Bryan. Berlalu mengambil baju di koper, Bryan memakainya.
Sambil menunggu Shea, Bryan memasukkan bajunya di lemari. Mata Bryan langsung membulat saat melihat buku diary Shea. Aku harus cepat-cepat sembunyikannya.
Bryan pun menaruh buku diary milik Shea di tumpukan bajunya. Bryan yang belum selesai membaca, berniat melanjutkannya nanti saat dia tidak sibuk.
Selesai merapikan bajunya, Bryan menuju tempat tidur. Menunggu Shea keluar kamar mandi, Bryan membuka laptopnya, mengecek beberapa email dari kantor.
Shea yang sudah selesai, keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Merangkak ke tempat tidur, Shea menyusul Bryan.
Bryan yang melihat Shea sudah di atas tempat tidur pun meletakkan laptopnya. "Kamu janji mengizinkan aku memelukmu bukan?" tanya Bryan dengan senyum tipis.
"Iya," jawab Shea malas. Shea pikir Bryan akan lupa. "Tapi janji, apa pun yang akan aku tanyakan kamu akan menjawabnya," ucap Shea.
"Memangnya kamu mau tanya apa?" Bryan pun begitu penasaran apa yang akan di tanyakan Shea.
"Aku belum tahu mau tanya apa." Shea sedikit menaikan bahunya, merasa tidak tahu apa yang akan di tanyakan.
"Baiklah, terserah kamu mau bertanya apa, aku akan usahakan menjawabnya."
Bryan merebahkan tubuhnya, dan Shea pun juga melakukan hal yang sama. Tangan Bryan langsung merengkuh pinggang Shea dan membawanya ke dalam peluknnya. Shea pun melakukan hal yang sama, tangannya melingkar di pinggang Bryan dan memeluk Bryan.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Apa kamu baik-baik saja?" Pertanyaan pertama dari Shea.
"Aku sudah bilang bukan aku baik-baik saja." Bryan menjelaskan kembali pada Shea.
"Emm ...." Bryan mengingat kembali sejak kapan papanya sekejam itu. "Sejak aku kecil."
Wajah Shea yang dari tadi berada di dada Bryan, seketika mendongak. "Sejak kecil?" tanya Shea memastikan.
"Iya," jawab Bryan pasti, "aku adalah anak laki-laki satu-satunya dari keluarga Adion. Jadi papa selalu menuntutku untuk jadi penerus yang hebat. Papa selalu mendidikku jadi pemimpin. Selain aku belajar di sekolah, papa sendiri yang mengajari aku tentang bisnis."
"Jadi kamu belajar bisnis dari kecil?" tanya Shea dan Bryan mengangguk.
"Walaupun aku belajar bisnis, aku tidak sepandai itu," jelas Bryan tertawa. Bryan menertawakan dirinya sendiri, yang memang tidak sejenius pengusaha muda. "Aku hanya pintar tapi tidak jenius, jadi aku mengerti bisnis, tapi tidak sehebat papa, dan papa sadar akan hal itu. Sampai ...."
"Sampai apa?" tanya Shea yang mendengar Bryan menghentikan ucapannya.
"Sampai Kak Regan datang," jelas Bryan.
Kak Regan, batik Shea.
"Saat Kak Selly memutuskan menikah dengan Kak Regan, papa begitu senang, karena menantunya adalah salah satu pengusaha muda yang hebat, dan sejak saat itu papa menjadikan Kak Regan sebagai tolak ukur aku." Bryan menghela napasnya, menahan gemuruh dalam hatinya.
Shea yang berada tepat di dada Bryan, merasakan helaan napas berat dari Bryan.
"Di rumah sudah semakin tidak nyaman saat papa selalu membanding-bandingkan aku dengan Kak Regan. Hingga secara tidak langsung papa begitu merendakan aku. Seolah apa yang aku lakukan tidaklah hebat."
"Apa itu alasanmu pergi dari rumah dan tinggal di apartemen?" tanya Shea memastikan.
"Iya, memang itu alasannya. Aku mulai lelah saat papa begitu menuntut aku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk pindah."
"Apa papa berubah sejak kamu meninggalkan rumah?"
__ADS_1
Bryan mendengus dan diiringi senyum tipis. "Tidak, papa tidak berubah. Papa semakin menuntut saat papa menyuruhku jadi CEO di Adion."
Shea masih terus mendengarkan cerita Bryan.
"Disaat yang bersamaan, aku menyukai seorang wanita, tapi ternyata wanita itu meledekku, dan mengatakan aku tidak akan hebat di ranjang." Bryan tertawa saat mengingat dulu polosnya dirinya, saat seorang wanita meledeknya.
Shea pernah mendengar cerita Bryan tentang alasan meniduri para wanita. Tapi Shea tidak menyangka jika secara bersamaan ada luka yang membuat Bryan sakit.
"Jadi alasan kamu meniduri para wanita karena frustrasi dengan papa dan karena wanita yang meledekmu itu?" tanya Shea memastikan.
"Iya, awalnya aku hanya ingin membuktikan jika aku tidak seburuk itu di ranjang, tapi pada akhirnya itu menjadi candu saat aku lelah dengan segala tuntutan dari papa, hingga akhirnya, aku selalu melampiaskan kekesalanku pada papa, melalui semua itu."
Shea baru mengerti alasan Bryan sesungguhnya. Secara tidak langsung semua yang terjadi pada Bryan bersingungan.
"Di waktu aku menyakitimu, disaat itu aju juga sedang frustrasi karena papa menyuruhku mengurusi proyek di luar negeri sebulan. Tadinya aku ingin melampiaskan pada wanita yang di kirim Felix. Tapi ternyata dirimu yang datang." Ada penyesalan di hati Bryan saat Shea yang menjadi pelampiasannya.
Shea mengingat jika waktu itu Bryan baru saja datang dari luar negeri, saat dirinya pingsan dan tahu kalau dirinya hamil.
"Lalu sekarang, apa pelampiasanmu masih sama saat papa baru saja menuntutmu?" tanya Shea ragu-ragu.
Bryan langsung tertawa kecil. "Sepertinya aku sudah dapat ketenangan dalam pelukanmu, hingga mungkin aku tidak perlu hal itu untuk melampiaskan kekesalanku." Bryan mengeratkan pelukannya pada Shea.
Shea merasa bersykur saar Bryan sudah mengubah cara untuk melampiaskan kekesalannya. "Kamu bisa memelukku kapan saja, jika kamu sedang kesal," ucap Shea.
"Terimakasih, Se." Rasanya Bryan benar-benar lega, saat kekesalnnya mereda hanya dengan memeluk Shea.
Shea hanya mengangguk dalam pelukan Bryan. Shea tidak menyangka, jika ternyata ada jiwa rapuh dalam diri Bryan.
Shea menyadari, terkadang orang punya alasan terjebak dalam kegelapan, dan tidak semua menemukan cahaya di ujung jalan mereka.
Aku akan ada untukmu, membawamu keluar dari kegelapan ini.
Saat Shea berada dalam pelukan Bryan, dengkuran halus terdengar oleh Shea. Dia tidur, batin Shea.
Shea berusaha keluar dari pelukan Bryan, tapi dia tidak bisa keluar, karena pelukan Bryan begitu erat, seakan tidak memberikan celah Shea untuk pergi.
"Jangan pergi dari aku, Se." Suara Bryan terdengar.
Shea yang mendengar ucapan Bryan menengadah sedikit, memastikan jika Bryan belum tidur. Tapi saat melihat wajah Bryan yang tertidur pulas, dan dengkuran halus, Shea menyadari jika Bryan hanya mengingau.
Buatlah aku punya alasan untuk bertahan tidak pergi, Bry.
Shea mengeratkan pelukannya. Entah kenapa, Shea begitu merasa nyaman berada dalam pelukan Bryan. Menyusul Bryan, Shea memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih buat kalian yang baca, like dan terutama buat yang vote.
__ADS_1
Like terus dan vote jika ada poin lebih.