My Baby CEO

My Baby CEO
Baby CEO


__ADS_3

Setiap hari setiap dua jam sekali Shea diantar Bryan menuju ke ruang bayi untuk melakukan metode skin to skin. Dengan senang, mereka berdua menikmati moment-moment berharga untuk mereka. Dekapan hangat membuat kedekatan ibu dan anak semakin dalam.


Selama sebulan penuh Bryan tidak pergi ke kantor. Beberapa pekerjaan dilakukan di Rumah sakit. Beruntungnya, sinyal di Rumah sakit tidak seperti di hotel tempo lalu. Mungkin karena letak Rumah sakit yang lebih ke arah kota jadi akses internet dan sinyal lebih mudah.


Selama sebulan ini juga Shea dan Bryan tinggal di rumah sakit. Mereka menyewa satu kamar rawat selama sebulan. Satu hal yang mereka ingin lakukan, yaitu tidak mau meninggalkan baby El sama sekali. Apalagi metode skin to skin yang dilakukan oleh Shea dan bayinya membuat mereka tidak bisa pergi jauh.


Mama Melisa dan papa Daniel dua hari sekali selalu datang. Mama Melisa selalu membawakan makanan untuk Shea, berharap memperlancar air susunya. Selly pun tak pernah absen untuk menghubungi Shea. Dia selalu ingin tahu perkembangan keponakannya. Shea pun tidak merasa kesepian karena dia selalu berbagi cerita pada Selly tentang perkembangan anaknya.


Perkembangan baby El juga makin hari makin baik. Berat badannya sudah bertambah. Kini dia sudah tampak seperti bayi normal pada umumnya. Berat badannya sudah mencapai tiga kilogram, mungkin karena dia minum air susu ibu, jadi mempercepat penambahan berat badan.


Setiap moment selalu diabadikan oleh Bryan, sebagai dokumentasi dan sebagai pengingat mereka. Suatu saat nanti, dengan bangga Bryan dan Shea akan bercerita bagaimana mereka menjaga dan menemani baby El yang berjuang di Rumah sakit.


Tepat seminggu yang lalu baby El sudah bisa minum susu langsung dari Shea, jadi Shea sudah tidak lagi memompa air susunya lagi. Baby El yang suah pintar menyesap pun, minum dengan rakus. Terkadang Shea merasa tertawa jika melihat anaknya yang begitu tampak kehausan.


Hari ini tepat sebulan, dan akhirnya baby El diizinkan pulang. Mendengar jika baby El boleh pulang semua orang merasakan senang. Mama Melisa dan papa Daniel spesial datang untuk menjemput cucu tersayangnya. Mereka tidak mau melepaskan moment penting kepulangan cucu mereka. Alex dan Helena pun menyempatkan diri untuk datang menyambut kepulangan baby El yang mereka sudah nanti. Helena yang menyesali perbuatannya menembusnya dengan selalu menjenguk setiap minggu. Ditemani Alex, dia datang ke Rumah sakit menjenguk bayi Shea.


Dari sekian orang yang datang, hanya Regan, Selly dan Felix yang tidak bisa datang. Regan yang harus menjaga Selly memutuskan untuk menyambut baby El di rumah. Di rumah Bryan dan Shea, mereka berdua sudah mempersiapkan kedatangan baby pertama yang hadir di keluarga Adion. Rumah Bryan disulap dengan hiasan-hiasan dekor berwarna biru guna menyambut jagoan kecil yang baru saja melewati perjalanan panjang awal hidupnya.


Lain Regan dan Selly, Felix disibukkan dengan permintaan Bryan yang ingin merayakan kelahiran putra pertamanya dengan membagikan bonus pada seluruh karyawan. Setiap karyawan mendapatkan bonus yang sama. Para karyawan pun menyambut dengan suka cita pembagian bonus. Mereka menyebut bonus dengan bonus baby CEO, karena bonus itu adalah perayaan kelahiran dari anak CEO mereka.


Kebahagiaan sungguh dirasakan oleh semua orang. Para perawat dan dokter yang sudah begitu dekat dengan Shea pun merasakan kebahagiaan saat melihat Shea bisa pulang, walaupun sebenarnya mereka akan sangat merindukan Shea dan baby-nya.


"Apa semua sudah selesai?" tanya mama Melisa pada Bryan dan Shea.


"Sudah, Ma, tinggal menunggu perawat mengantarkan kursi roda saja." Bryan menjawab ucapan mamanya.


"Kamu tidur terus!" ucap Melisa gemas saat melihat cucunya nyenyak sekali tidur.


"Iya, mungkin karena sudah kenyang," jawab Shea.


"Seperti daddy-nya dulu, jika dia kenyang langsung tertidur, tidak perduli suara di sekitarnya." Melisa berucap seraya melirik Bryan.


"Aku rasa semua bayi begitu," elak Bryan.


Semua orang tertawa mendengar ucapan Bryan. Helena dan Alex pun juga sama senangnya merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Bryan dan Shea. Selama sebulan melihat perjuangan Bryan dan Shea yang menunggui anaknya, Helena tau satu hal, jika cinta tidak bisa dipaksakan, seberapa kamu berusaha merebut sebuah cinta, dia akan kembali ke tempatnya.


Setelah semua administrasi selesai. Bryan, Shea dan baby-nya bisa pulang. Jagoan kecil yang berada di gendongan mommy-nya itu tidur dengan pulas. Dia seolah tidak perduli dengan semua orang yang sedang merasakan senang dengan kepulangannya. Baginya perutnya yang kencang dan pempers-nya yang kering membuatnya nyaman untuk memejamkan mata.


Di depan Rumah sakit, para perawat yang selama ini bersama dengan Shea menjaga anaknya, mengantarkan kepulangan Shea dan bayinya. Sedangkan Helena dan Alex berpamitan untuk langsung pulang. Sebenarnya Melisa meminta mereka berdua untuk ikut ke rumah, tetapi mereka menolak dengan alasan masih ada pekerjaan.


Dengan menaiki mobil yang dibawakan oleh supir papanya, Bryan dan Shea menuju ke rumah. Mereka berharap perjalanan tidak akan menganggu si kecil yang sedang tertidur pulas. Bryan dan Shea yang duduk di belakang selalu fokus melihat anak mereka. Setiap gerakan anaknya, entah itu bibir, alis atau hidungnya selalu menakjubkan untuk dilihat. Terkadang jika mereka sedang beruntung, sebuah senyum kecil tertarik di sudut mungil bibir baby El. Mungkin dia sedang bermimpi bermain-main dengan sesama bayi.


Sesampainya di rumah. Wajah bahagia Selly sudah menyambut. Dengan perut yang masih terlihat masih membuncit dia menunggu di depan pintu. "Selamat datang di rumah anak mommy Selly."


"Halo, mommy Selly," ucap Shea tersenyum.

__ADS_1


"Sudah bawa masuk dulu!" Melisa pun meminta Shea untuk membawa anaknya cepat masuk ke dalam rumah.


Shea masuk ke dalam rumah. Matanya membulat sempurna saat melihat dekor cantik di dalam rumah yang dihiasi warna biru. "Apa Kak Selly yang buat?"


Selly tersenyum memamerkan deretan giginya. "Sebenarnya Regan, karena aku hanya memerintah," ucap Selly malu.


Regan tersenyum pada Selly. Seharian tadi Regan memang jadi pesuruh Selly. Tuan putrinya yang satu itu memerintah banyak sekali, hingga membuatnya kewalahan. Namun, Regan tidak keberatan mengingat istrinya merasakan kebahagiaan yang begitu besar.


"Kakak atau pun Kak Regan sama saja," ucap Shea, "terima kasih."


"Sama-sama," ucap Selly.


"Sebagai gantinya, nanti kita akan membuat perayaan untuk Kak Selly, jika dia pulang dari rumah sakit." Suara Bryan terdengar ikut berbicara.


"Iya, kamu benar," ucap Shea.


Rasanya mereka semua sudah tidak sabar untuk juga menanti kelahiran anak dari Selly. Sama dengan Bryan dan Shea yang tidak ingin tahu jenis kelaminnya, Regan dan Selly juga tidak ingin tahu jenis kelamin anak mereka. Mereka ingin semuanya menjadi kejutan.


Masuk ke dalam, Shea langsung menuju ke kamar bayi bersama dengan Selly, sedangkan anggota keluarga yang lain berkumpul di bawah menikmati perayaan kecil. Shea meletakan baby El di dalam box bayi.


"Apa menyakitkan melahirkan?" tanya Selly.


Shea hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dia sudah mendengar berkali-kali pertanyaan dari Selly itu, jadi dia sudah tidak kaget lagi. "Coba Kakak lihat baby El," ucap Shea, dan membuat Selly melihat ke dalam box bayi. Keponakannya itu memang tampak lucu, rambutnya cukup lebat dan sangat menggemaskan.


"Iya, aku berharap kebahagiaan juga milikku." Selly tersenyum. Usia kehamilan Selly tiga puluh tujuh minggu, dan ini adalah fase penting menanti buah hatinya bersama Regan akan lahir. Dia hanya bisa berharap kelahiran anaknya akan lancar, seperti yang di harapkan.


"Kak," panggil Bryan seraya membuka pintu.


"Kenapa?"


"Mama memintamu turun," ucap Bryan. Dia melangkah masuk ke dalam kamar bayi.


"Baiklah." Selly pun keluar dari kamar dan menemui mamanya.


Bryan yang masuk menghampiri Shea yang berdiri di samping box bayi. "Apa dia masih tidur?" tanyanya pada Shea.


"Sepertinya dia semakin pulas tertidur." Shea tertawa kecil saat menjawab pertanyaan suaminya.


"Aku rasa dia tahu, jika tempat ternyamannya adalah rumah." Bryan merasa sangat bahagia melihat anaknya. Kebahagiaannya tidak bisa digantikan oleh apapun. Menjadi ayah, dia berjanji akan memberikan contoh yang baik pada anaknya. Dia tidak mau anaknya seperti dirinya dengan keburukannya. Biar kebaikan saja yang dia akan turunkan pada anak laki-lakinya.


"Apa seperti dirimu?" tanya Shea menoleh pada Bryan.


Bryan memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Shea. Menarik tubuh Shea dia membuat istrinya tepat di hadapannya. "Rumahku bersama dirimu, rumahku ada di sini," ucap Bryan seraya memegang dada Shea menunjuk ke arah hati istrinya. "Terima kasih sudah hadir di dalam hidupku, mengubahku menjadi lebih baik." Bryan meraih tangan Shea dan menggenggamnya. "Terima kasih juga sudah berjuang untuk anak kita." Satu kecupan mendarat di punggung tangan Shea.


"Jangan membuatku menangis," ucap Shea.

__ADS_1


Bryan tertawa, dia langsung membawa Shea ke dalam pelukannya. Membelai punggung istrinya lembut, dia menangkan Shea.


Tidak pernah Shea bayangkan, jika hidupnya akan seindah ini. Dicintai oleh Bryan dengan cara yang luar biasa. Rasanya delapan bulan mengenal Bryan membuat hidupnya sungguh berwarna. Dengan awal yang menyakitkan dan pahit, dia kini semua itu berganti kebahagiaan. "Terima kasih juga terlah hadir dan memberiku keluarga yang begitu baik. Aku pikir, setelah orang tuaku tiada, aku akan sendiri." Shea menangis mengingat apa yang dia sudah dapat selama ini.


"Jangan pernah merasa sendiri, karena aku, anak kita dan keluargaku adalah bagian dari hidupmu sekarang."


Shea mengangguk.


"Aku sudah lama tidak memelukmu," ucap Bryan mengeratkan pelukannya. Di Rumah sakit, dia tidak sama sekali bermesraan dengan Shea. Lalu lalang perawat membuatnya tidak mungkin mencuri kesempatan. "Sepertinya ukurannya sekarang lebih besar," celetuknya.


"Apa yang lebih besar?" tanya Shea bingung.


Bryan mengeratkan pelukannya, dan menempelkan dadanya pada dada istrinya. Shea langsung mencubit lembut perut Bryan karena ternyata suaminya sedang membahas ukuran dadanya. Bryan yang dicubit pun memekik.


Mereka berdua menengok ke dalam box, dan untung saja suara Bryan tidak mengangguk tidur nyenyak baby El. Mereka saling pandang dan saling tertawa.


"I love you," ucap Bryan mendaratkan kecupan di dahi Shea.


"I love you too."


Akhirnya setelah sekian lama menunggu, akhirnya kebahagiaan mereka sudah lengkap. Kehadiran baby El alias baby CEO adalah kebahagiaan mereka yang menyempurnakan hidup mereka.


TAMAT


.


...Lanjut Season ke dua...


...My Perfect Daddy...


...Klik profil Myafa...


...Atau bisa ketik judul...


...Jangan lupa baca...


...kejutan aku setelah bab ini ya...


...HARUS BACA...


...----------------...


...Jika ingin melihat visualnya, bisa mampir ke...


...Instagram : Myafa16...

__ADS_1


__ADS_2