My Baby CEO

My Baby CEO
Buatlah dia mencintaimu


__ADS_3

"Kamu yakin mau pulang?" Melisa memandang lekat pada Shea, berharap menantunya berubah pikiran.


"Iya, Ma, Shea akan pulang," jawab Shea. "Tapi Shea janji, akan kembali menginap lagi." Shea tersenyum, berharap mertuanya tidak kecewa dengan kepulangannya.


"Baiklah." Walaupun harus kecewa, Melisa merasa lega, karena menantunya berjanji akan menginap kembali.


"Shea pulang ya, Ma," ucap Shea menautkan pipinya pada pipi Melisa.


"Hati-hati."


Shea melepas tautan pipinya dan berlalu menuju ke mobil. Di dalam mobil, sudah ada Bryan menunggu sejak tadi. Dari tadi Bryan sudah menunggu dua wanita yang sedang berat berpisah.


Bryan benar-benar merasa heran dengan mamanya. Padahal Shea tidak pergi jauh, tapi melepas Shea pulang saja, mamanya harus bersedih.


"Aku rasa besok aku akan di coret dari daftar anak mama," ucap Bryan saat melihat Shea masuk ke dalam mobil.


Shea yang sedang memakai seatbelt merasa terkejut mendengar ucapan Bryan. "Kenapa?"


Bryan menginjak pedal gas seraya berkata. "Karena kamu sudah mengantikan aku."


"Aku?"


"Iya, apa kamu tidak memperhatikan mama, bagaimana dia mengabaikan aku sebagai anaknya." Bryan masih tetap fokus melihat ke arah kanan dan kiri, saat baru hendak keluar dari perumahan menuju ke jalan raya.


Mendengar ucapan Bryan, Shea terkesiap. Memikirkan apa yang di katakan Bryan. Shea membenarkan, bagaimana mertuanya itu menyayangi dirinya, dan seolah dia melupakan anaknya sendiri. "Maaf," lirik Shea yang merasa tidak enak.


Bryan yang mendapati maaf dari Shea menoleh pada Shea. "Kenapa minta maaf?"


"Karena aku merebut kasih sayang mama." Wajah Shea tertunduk, merasa bersalah telah membuat Shea tersingkir.


"Hai, aku hanya bercanda, jangan serius." Bryan yang melihat wajah sedih Shea merasa bingung. Bryan pikir Shea akan mengajaknya berdebat, saat dirinya tadi memulai pembicaraan. Tapi ternyata di luar dugaannya, dirinya malah mendapati wajah sedih Shea.


"Tapi tetap saja, memang itu kenyataanya."


"Demi dirimu, di coret jadi anak dari Daniel dan Melisa Adion pun aku rela." Bryan memandang Shea sejenak sebelum pandangannya kembali fokus pada jalanan di hadapannya.


"Maksudmu?" Shea yang mendengar ucapan Bryan sedikit bingung.


"Maksudku..." Bryan bingung saat Shea meminta memperjelas ucapannya. "Maksudku, demi kamu yang sedang hamil, aku rela jika mama dan papa mengabaikan aku," jelas Bryan.


"Iya, kamu benar, mereka memperhatikan aku, karena aku sedang hamil." Pandangan Shea kosong menatap kearah jalan. Mengingat memang benar apa yang di katakan Bryan.


Sepertinya aku salah bicara.


Bryan merutuki kesalahannya yang mengucapakan kata-kata yang membuat Shea sedih.


"Dengarkan aku, mama tidak akan pernah akan berubah setelah anakmu lahir. Aku yakin perhatiannya akan tetap sama." Bryan mencoba meyakinkan Shea.


"Benarkah?" Shea menoleh pada Bryan dan menatap Bryan saat menanyakan kebenaran ucapan Bryan.


"Percayalah padaku, aku tahu seperti apa mama."


Senyum langsung tertarik di ujung bibir Shea. Perasaanya menghangat, saat mendapat jawaban dari Bryan. Baginya mendapatkan keluarga baru seperti keluarga Adion, adalah anugrah baginya. Walaupun dia tahu, semua akan berubah saat perceraiannya dengan Bryan.


"Pagi tadi aku tidak melihat dirimu muntah?" Bryan mencoba mengalihkan pembicaraan.


Mendengar ucapan Bryan, Shea mengingat kembali, jika tadi dirinya memang tidak mual saat bangun tidur. "Iya, aku juga baru ingat, jika tadi pagi aku tidak muntah. Padahal setiap pagi aku muntah." Shea memikirkan apa yang membuat dirinya muntah.


"Mungkin karena dirimu tidur denganku, jadi dirimu tidak muntah," ucap Bryan dengan menarik senyum di ujung bibirnya.


Shea langsung mengerutkan dalam dahinya, mendengar ucapan Bryan. "Mana bisa begitu?" tanya Shea tidak terima.


"Kamu tahu, anak di dalam kandunganmu itu sudah bisa merasakan kehadiranku. Jadi kehadiranku, saat kamu bangun tidur, membuat bayi di dalam perutmu itu tenang, dan tidak membuatmu muntah."


Aku pernah membaca, jika bayi di dalam kandungan tahu jika ayahnya berbicara padanya. Tapi masalah kehadiran aku belum tahu.


Shea hanya bisa memikirkan dalam hatinya, apa yang di ucapkan Bryan.


"Jangan di pikirkan, cobalah tidur denganku nanti malam. Jika kamu tidak mual lagi, berarti aku benar." Bryan tersenyum, berharap idenya membuat Shea tidur dengannya berhasil.


Shea membulatkan matanya, saat mendapati ajakan Bryan untuk tidur bersamanya. "Jangan mimpi aku akan tidur bersamamu, semalam itu terjadi karena tidak ada kamar lagi," ucap Shea tidak terima.


"Baiklah," ucap Bryan yang tidak memaksakan Shea. "Tapi jika besok kamu muntah lagi, kamu tahu harus bagaimana."


Sebenarnya Bryan sendiri tidak yakin apa yang menyebabkan Shea tidak muntah. Tapi mengambil kesempatan dalam situasi seperti ini, sangat menguntungkan untuk dirinya.


Shea hanya mencebik, saat mendengar ucapan Bryan. Shea berharap dirinya tidak akan muntah seperti pagi ini, dan membuat dirinya harus tidur dengan Bryan.


Sesampainya dia apartemen, Shea turun dari mobil Bryan. Tapi saat dia ingin membuka pintu mobil, Shea teringat sesuatu. "Nanti aku akan ke mall untuk membeli beberapa keperluanku," ucap Shea pada Bryan.


"Tidak boleh." Bryan dengan tegas tidak mengizinkan Shea pergi.


"Aku sedang memberitahu, bukan sedang meminta izin." Shea melirik tajam pada Bryan.

__ADS_1


"Apa kamu lupa kamu baru saja pingsan kemarin. Jika kamu pergi, apa kamu bisa jamin, kamu tidak akan pingsan?"


"Iya, tapi aku harus membeli beberapa pakaian karena pakaianku sudah tidak muat." Shea menyadari jika dirinya baru saja pulih, tapi tidak mungkin dirinya tidak membeli kebutuhannya, sedangkan dirinya butuh.


"Aku akan mengantarmu nanti," ucap Bryan. "Aku akan pulang lebih awal." Bryan tidak mau ambil resiko, jika terjadi sesuatu pada Shea.


"Baiklah." Shea yang memang membutuhkan pakaian, memilih untuk menunggu Bryan mengantarkannya, dari pada dirinya harus berangkat sendiri.


Membuka pintu mobil, Shea keluar dari mobil Bryan. Tanpa kata pamit, Shea menutup kembali pintu mobil dan melangkah masuk ke lobby apartemen.


Mobil Bryan masih menunggu Shea yang masuk ke dalam apartemen. Setelah yakin, Shea sudah masuk ke dalam apartemen, Bryan melajukan mobilnya ke kantor.


Setelah sampai di kantor, Bryan masuk ke dalam ruangannya. Mata Bryan membulat saat melihat tumpukan berkas yang harus di cek. "Baru saja dua hari aku tidak berkerja," gerutu Bryan saat melihat tumpukan berkas.


Saat sedang ingin mendudukkan tubuhnya di atas kursi, terdengar ketukan pintu. "Masuk!" seru Bryan.


Pintu yang terbuka, menampakan Felix di belakangnya. "Kamu sudah masuk?" tanya Felix seraya melebarkan pintu dan masuk ke dalam ruangan Bryan.


"Apa kamu tidak nampak aku disini?" Bryan hanya memutar bola matanya malas menjawab ucapan Felix.


"Sensitif sekali dirimu," sindir Felix. Felix menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Bryan.


"Ada apa kamu kemari?"


"Ada berkas dari Regan kemarin, dan kamu harus segera mempelajarinya," ucap Felix menjelaskan kedatangannya.


Mendengar nama Regan disebut, membuat gemuruh dalam hati Bryan. "Rasanya aku malas sekali mendengar nama pria itu," ucap Bryan.


Felix merasakan kebingungan mendengar ucapan Bryan. "Regan maksudmu?" tanya Felix memastikan.


"Iya."


"Kenapa?" Felix begitu penasaran dengan apa yang terjadi dengan Bryan dan kakak iparnya itu.


"Aku merasa Regan terlalu berlebihan memperhatikan Shea."


"Memperhatikan seperti apa maksudmu?" tanya Felix bingung.


Bryan menghela napasnya, ketika harus mengingat bagaimana Regan marah saat tahu Shea sakit. "Entahlah aku sendiri tidak tahu perhatian seperti apa, tapi yang tangkap, Regan memperhatikan makan Shea saat di kantor, Regan juga tidak memberikan perkerjaan yang berat pada Shea."


"Mungkin dia menganggap Shea adiknya." Felix tidak mau berburuk sangka terlebih dahulu dengan Regan.


Bryan mendengus di iringi tawa. "Yang menjadi adik Selly aku, sedangkan Shea orang asing untuknya."


"Jadi maksudmu mungkin saja perhatian Regan itu, karena dia suka pada Shea?"


"Apa yang kamu takutkan?" Felix melihat jelas wajah Bryan yang frustrasi.


"Aku sadar aku hanya lelaki bejat, sedangkan Regan adalah lelaki baik. Aku hanya takut, jika Shea jatuh cinta pada Regan." Dengan masih memejamkan matanya, Bryan memikirkan hal-hal buruk itu terjadi.


"Apa kamu sudah menyadari, jika kamu sudah mencintai Shea?" Felix menarik senyumnya, saat melihat wajah Bryan yang tampak gelisah, dan itu menandakan jika Bryan sudah benar-benar jatuh cinta pada Shea.


"Kamu benar, aku jatuh cinta," ucap Bryan membuka matanya, dan menatap Felix. "Tapi aku takut, untuk mengatakannya." Bryan menyadari jika dirinya tidak pantas untuk Shea.


"Kenapa tidak kamu coba untuk mengatakannya pada Shea, dan membatalkan semua perjanjian konyolmu itu."


"Kamu tahu bukan, aku pernah sekali di tolak, dan sejak itu aku tidak berani lagi mengatakan cinta." Bryan ingat betul saat dirinya menyukai seorang wanita tapi penolakan yang dia dapat.


"Itu berbeda."


"Apa bedanya?"


"Shea sekarang sudah menjadi istrimu, jadi sebenarnya dia milikmu. Tapi karena keegoisanmu membuat surat perjanjian konyol itu, semua berbalik padamu."


Bryan merutuki kesalahannya yang membuat surat perjanjian antara dirinya dan Shea. "Apa surat perjanjian itu bisa di batalkan?"


Felix tertawa. "Surat perjanjiamu itu tidak bisa di batalkan oleh dirimu sendiri," ucap Felix.


"Kenapa? Bukanya aku yang membuat?" Bryan mengerutkan dalam dahinya, saat mendengar ucapan Felix.


"Lawanmu adalah Shea, dan apa kamu lupa kalau Shea pun mengatakan jika perjanjian itu tidak akan batal kecuali kedua belah pihak yang membatalkan?"


"Memang ada seperti itu?" tanya Bryan mencoba mengingat perjanjian yang di ajukan Shea.


"Shea memang tidak mengatakan itu, tapi dia menuliskan apa saja yang dia minta darimu. Selain jaminan dirimu tidak akan menyentuhnya, dia juga menulis, perjanjian tidak akan bisa di batalkan kecuali dua belah pihak sepakat."


"Apa aku menerimanya?"


"Iya. Kamu mendatanganinya."


Rasanya Bryan semakin merutuki kesalahannya. Mengusap wajahnya kasar, Bryan merasakan kegelisahaannya bertambah. "Lalu aku harus bagaimana?"


"Katakan cinta pada Shea."

__ADS_1


Bryan langsung menatap Felix. "Kalau dia menolak?"


"Buat dia mencintaimu."


Bryan menatap Bryan, rasanya dirinya benar-benar tidak yakin bisa membuat Shea jatuh cinta. Tapi dirinya tidak akan bisa membiarkan Shea pergi dari hidupnya. "Aku akan melakukannya."


"Berjuanglah, karena hanya cara itu Shea bisa membatalkan surat perjanjianmu." Felix hanya bisa menyakinkan Bryan.


Bryan hanya bisa berharap, jika saat Shea mencintainya, perjanjian itu bisa di batalkan oleh dirinya dan Shea.


***


"Aku pulang dulu," ucap Bryan pada Felix saat keluar dari ruangannya.


"Kamu ada meeting sore ini," ucap Felix.


"Jadwalkan meeting besok saja." Bryan tidak mau membatalkan janjinya pada Shea.


Felix hanya bisa mengalah. Felix tahu persis untuk apa Bryan pulang lebih awal. "Oke, tapi besok tidak ada alasan untuk membatalkakan lagi."


"Iya," ucap Bryan. Bryan langsung menuju ke parkiran mobil. Seraya melangkah menuju parkiran mobil, Bryan menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada Shea.


Melajukan mobilnya, Bryan di penuhi rasa bahagia. Bryan sudah tidak sabar untuk mengatakan pada Shea, jika dirinya mencintai Shea. Bryan hanya berharap Shea akan menerimanya.


Sesampainya di depan lobby apartemen Bryan menunggu Shea.


"Maaf lama," ucap Shea saat masuk ke dalam mobil.


"Tidak apa-apa?"


"Kamu tidak bertanya kenapa aku terlambat?" tanya Shea pada Bryan.


Bryan hanya tersenyum saat mendengar pertanyaan Shea. Menunggumu seumur hidupku pun aku rela.


"Memang apa yang kamu kerjakan?" Akhirnya Bryan pun bertanya.


"Tara..." Shea menunjukan satu kotak pada Bryan.


"Apa itu?"


"Cookies," jelas Shea. "Tadi aku lihat resep online, dan aku mencobanya." Senyum tertarik di wajah Shea saat menjelaskan pada Bryan. "Kamu mau coba." Shea membuka kotak berisi cookies buatnya.


"Aku sedang menyetir, Shea," elak Bryan.


"Baiklah, aku akan sisakan nanti untukmu," ucap Shea seraya memasukan cookies ke dalam mulutnya.


Bryan kira saat dirinya mengatakan, jika dirinya sedang menyetir, Shea akan menyuapinya, tapi ternyata Bryan salah. Tapi bagi Bryan, itulah yang di sukai dari Shea.


Shea sibuk dengan cookies-nya sepanjang perjalanan menuju mall. Tidak sedikit pun, dirinya menawari Bryan. "Ya habis," ucapnya saat sadar jika cookies yang di buatnya sudah habis


"Bukankah tadi kamu mau menyisakan untukku?" tanya Bryan.


"Maaf, Bryan, karena enak, aku jadi lupa." Shea menatap Bryan dengan wajah tampak bersalah. "Tapi aku janji, aku akan membuatkanmu besok," lanjut Shea.


"Janji?"


"Janji," ucap Shea disertai anggukan.


Bryan sebenarnya tidak mempermasalahakan cookies yang di makan oleh Shea. Tapi mendapatkan janji dari Shea, rasanya Bryan sangat senang.


"Apa saja yang akan kamu beli?" Bryan yang mengemudikan mobilnya menoleh pada Shea.


"Aku mau beli beberapa dress yang cocok untuk di pakai berkerja, karena sepertinya aku sudah tidak terlalu nyaman memakai kemeja dan rok."


Bryan melihat ke arah perut Shea. Perut Shea memang belum terlalu besar, malah belum terlihat besar. Tapi berjalannya waktu perut Shea akan membesar. "Kapan kamu akan berhenti berkerja?"


Shea menghela napasnya. Shea sendiri tidak tahu, sampai kapan dirinya akan kuat berkerja. "Aku tidak tahu."


"Aku tidak memintamu berhenti, tapi jika kamu mau, berhentilah saat kamu sudah mulai lelah," ucap Bryan. "Aku masih bisa membiayai dirimu dan anak dalam kandunganmu." Bryan tahu akan sulit untuk membuat Shea merubah keputusannya.


"Iya, akan ku pertimbangkan."


.


.


.


.


.


Selamat membaca😉

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like.


Dan jika ada poin lebih bisa berikan vote kalian.


__ADS_2