
Saat Shea baru saja mengatakan cintanya dan memeluk erat pria yang begitu dia rindukan, dia merasakan ada yang salah dengan tubuh yang dia peluk.
Dengan cepat Shea melepas pelukannya, untuk mencari tahu apa yang salah dengan orang yang berada di hadapannya. Saat pelukan terlepas, bersamaan itu juga lampu menyala.
Mata Shea membulat sempurna saat ternyata di hadapannya bukanlah Bryan melainkan Regan.
Kak Regan. Shea seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya di hadapannya. Jantungnya berdetak kencang saat ternyata dirinya salah orang saat menyatakan cintanya.
Tapi kekagetan Shea belum berhenti sampai di situ, karena saat Shea melihat sorot mata Regan yang mengarah ke pintu kamar. Dia pun ikut menoleh untuk melihat ada apa di sana.
Bryan, Kak Selly.
Suara Shea tercekat di tenggorokannya saat ternyata melihat Bryan dan Selly berdiri di depan pintu. Sorot mata tajam mereka berdua, mereka lemparkan pada Shea dan Regan.
Selly mengingat bagaimana dirinya tadi sampai di kamar Shea, dan malah menemukan Regan dan Shea berpelukan.
Saat dia melihat Regan tidak kunjung kembali ke kamar, Selly memutuskan untuk mencari keluar kamar. Akan tetapi saat dirinya keluar dari kamar, dia tidak menemukan Regan. Bersamaan dengan Selly yang keluar kamar, dia melihat Bryan yang baru datang.
"Kamu sudah pulang, Bry?"
"Iya, Kak," jawab Bryan, "Kak Selly mau kemana?"
"Aku mau mencari Regan."
Asisten rumah tangga yang mendengar nama Regan disebut pun menimpali percakapan antara Selly dan Bryan. "Pak Regan sedang ada di kamar Bu Shea, Bu," ucapnya.
Sejenak Selly dan Bryan saling pandang saat mendengar Regan berada di kamar Shea. Tanpa bicara pun mereka melangkah menuju ke kamar Shea.
Mereka berdua dalam pikiran masing-masing. Menerka apa yang dilakukan Regan di kamar Shea.
Menaiki anak tangga, mereka berdua sampai di lantai atas. Tampak lampu mati saat Selly dan Bryan sampai di lantai atas. Namun, mereka tidak mau berprasangka buruk terlebih dahulu.
Saat Selly dan Bryan sampai di depan kamar Shea, mereka berdua mendengar ungkapan cinta dari Shea. Mereka berdua sudah menebak, jika Regan adalah orang yang menerima ungkapan cinta dari Shea.
Tangan Selly menyalakan lampu kamar yang di tempati oleh Shea, dan ternyata lampu dapat menyala, seolah matinya lampu di lantai atas memang disengaja. Saat lampu menyala, Selly dan Bryan di kejutkan dengan Shea yang baru saja melepas pelukannya dari Regan.
Hati Selly hancur seketika saat melihat suaminya di peluk orang lain, dan orang lain itu adalah adik iparnya sendiri.
"Sel," panggil Regan seraya melangkah menghampiri Selly.
Selly yang mendengar suara Regan, tersadar setelah dia mengingat apa yang membuatnya sampai di kamar Shea. Tanpa menjawab panggilan Regan, dia berlalu begitu saja meninggalkan Regan.
Regan yang melihat Selly pergi pun mengejarnya. Sampai langkahnya di depan pintu, dia berpapasan dengan Bryan yang dari tadi menatap tajam pada dirinya. Mengabaikan Bryan, Regan mengejar kembali Selly yang entah pergi kemana.
"Pak .... " Supir Regan yang baru saja menyalakan MCB (Miniature Circuit Breaker) ingin bertanya pada Regan, tapi melihat Regan yang terburu-buru pun akhirnya dia urung melanjutkannya.
Langkah Regan terhenti sejenak saat supirnya ingin berbicara padanya. Karena dia buru-buru, jadi dia mengabaikan supirnya begitu saja.
Di kamar tinggal Shea dan Bryan berdua. Shea melihat Bryan dengan sorot mata yang begitu tajam, dan itu benar-benar membuatnya takut.
Shea sudah menduga, jika Bryan pasti sudah mendengar ucapan cinta yang salah dia berikan. "Bry ...."
"Ayo, pulang!" ajak Bryan dengan suara datar pada Shea.
Baru saja Shea ingin menjelaskan, tapi Bryan sudah memotong ucapannya. Dengan perasaan yang tidak menentu, Shea akhirnya mengikuti Bryan dari belakang. Masuk ke dalam mobil, dia pasrah Bryan akan membawanya kemana.
Tak ada suara di dalam mobil, semua hanya keheningan yang terasa. Shea pun tidak berani berkata apa-apa saat sikap dingin Bryan begitu terasa.
Ternyata, mobil berhenti tepat di depan rumah mereka. "Turunlah! Aku akan pergi." Rasanya Bryan butuh waktu untuk menenangkan dirinya saat menghadapi masalah.
"Bry, aku bisa jelaskan," ucap Shea. Matanya menatap lekat pada laki-laki yang begitu dia cintai. Perasaannya takut akan kenyataan Bryan yang tidak percaya dengan apa yang dia akan jelaskan.
"Apa yang mau kamu jelaskan?"
__ADS_1
Bryan menoleh dan menatap tajam pada Shea. Hatinya kali ini benar-benar hancur, melihat wanita yang dicintainya mencintai orang lain.
"Yang kamu lihat itu salah, Bry, itu tidak seperti yang kamu pikirkan." Shea mencoba menjelaskan pada Bryan.
"Kalau yang aku lihat tadi salah, lalu apa ini," ucap Bryan seraya menunjukan buku diary milik Shea, "apa ini juga salah?"
Setelah tadi Bryan memutuskan mandi terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Shea. Dia menuju rumahnya.
Walaupun tidak bisa menemani Shea ke dokter kandungan, Bryan berencana memberikan kejutan lain pada Shea nanti. Kali ini yang terpenting adalah dirinya bisa bertemu dulu dengan Shea.
Saat selesai mandi, Bryan mengambil bajunya. Namun, saat dia menarik baju paling bawa, sebuah buku diary ikut tertarik dan terjatuh.
Tangan Bryan meriah buku diary yang terjatuh. Buku diary Shea. Bryan pun meletakkannya kembali ke dalam lemari, tapi rasa ingin tahunya membuatnya urung mengembalikan buku itu ke tempat dimana dia simpan.
Memakai bajunya, Bryan duduk di sofa, dan membuka buku diary milik Shea.
Membuka lembaran terakhir, yang dia baca, Bryan sampai di lembaran yang menceritakan tentang hari dimana Shea melamar kerja. Di dalam buku, Shea menceritakan bagaimana pengalamananya melamar kerja bersama Chika.
Lembar selanjutnya, Shea menceritakan bagaimana hari pertamanya berkerja. Dahi Bryan berkerut dalam saat pujian begitu banyak ditujukan oleh Shea untuk Regan.
Dia memuji Kak Regan, apa jangan-jangan dia menyukai Kak Regan.
Pikiran Bryan melayang menerka apa yang dirasa Shea saat itu. Akan tetapi dirinya tidak mau menyimpulkan semua hanya dengan satu lembar cerita saja.
Akhirnya dia buka perlahan lembar demi lembar cerita di dalam buku diary Shea. Namun, kekecewaanlah yang dirasa oleh Bryan.
Di dalam buku diary Shea tertulis jelas bagaimana kekagumananya dengan Regan, dan apa saja perhatian yang Regan berikan pada Shea.
Ach!
Teriakan Bryan mengisi keheningan kamar. Tangannya pun memukul sofa yang sedang didudukinya.
Belum usai kekecewaannya akan perasaan kagum yang berlebih dari Shea, dirinya membaca kebencian yang Shea tulisan untuknya di lembar berikutnya. Seolah berbanding terbalik dengan Regan, yang ditulis Shea adalah tentang kebenciannya pada dirinya yang teramat besar.
Bryan menyandarkan tubuhnya di sofa yang didudukinya. Merasakan, rasa kecewanya yang begitu teramat menyakitkan. Dia tidak menyangka jika dirinya bagai setan itu di mata Shea, dan Regan seolah bagai malaikat.
Mungkin ini dulu, saat Shea belum membuka hati untukku.
Bryan mencoba menguatkan dirinya, dan meyakinkan bahwa semua ini adalah kejadian masa lalu Shea sebelum ada dirinya mencintai Shea.
Berdiri tegap, Bryan melangkah menuju keluar kamar, untuk menjemput Shea di rumah Selly. Bryan berpikir positif jika semuanya terjadi sebelum ungkapan cintanya pada Shea, dan nanti dirinya akan menanyakan kepada Shea langsung perihal buku diary. Bryan hanya bisa berharap, jika dugaanya benar.
Sampai di rumah Selly, dia bertemu Selly yang baru saja keluar kamar. Saat Bryan bertanya, ternyata Selly sedang mencari Regan.
Bryan langsung memandang Selly, saat suara asisten rumah tangga Selly mengatakan jika Regan di kamar Shea. Hati Bryan semakin tidak menentu saat mendengar hal itu. Namun, sebelum matanya sendiri yang melihat apa yang terjadi dengan Regan dan Shea, dirinya tidak mau berpikir buruk terlebih dahulu.
Melangkah menuju kamar bersama dengan Sellt , Bryan melihat lampu yang mati di lantai atas. Perasaan Bryan benar semakin tidak menentu. Hingga akhirnya dia mendengar suara merdu Shea mengucapkan cinta. Namun, ungkapan cinta itu bukanlah untuk dirinya, melainkan untuk Regan.
Melihat Selly menyalakan lampu, Bryan melihat dengan jelas jika Shea baru saja memeluk Regan. Hatinya hancur seketika saat melihat wanita yang dicintainya memeluk pria lain dan mengungkapkan cinta. Seolah apa yang dilihatnya membenarkan isi buku diary milik Shea.
Bryan mengingat bagaimana tadi dirinya menemukan dan membaca buku diary milik Shea. "Apa ini juga salah?" Bryan menanyakan kembali pada Shea tentang prihal buku diary milik Shea.
Shea terkesiap saat melihat buku diary miliknya. Bagaimana bisa buku diary itu sampai di tangan Bryan, dirinya bingung memikirkannya.
Akan tetapi, bukan itu saja yang di pikirkan oleh Shea, melainkan isi dari buku diary miliknya. Shea ingat betul bagaimana dirinya menuliskan kekagumannya dengan Regan, dan itu terlihat jelas jika dirinya memiliki rasa pada kagum berlebih pada Regan.
Shea juga menuliskan, seberapa bencinya dirinya pada Shea, dan itu dia tulis dengan jelas di dalam buku diary.
"Bry ...." Shea sadar, jika itu adalah perasaanya dulu sebelum dirinya merasakan cinta pada Bryan.
"Aku butuh waktu sendiri, turunlah!" Bryan membuang mukanya untuk tidak melihat Shea. Dia tahu, dirinya tidak akan tega jika sampai Shea memohon.
Serasa mendapat tamparan keras, Shea hanya bisa pasrah. Bagaimana cara Bryan menghindari pertengkaran, membuat Shea terluka.
__ADS_1
"Baiklah." Shea tidak punya pilihan lain. Membuka pintu mobil, dia keluar dari mobil Bryan. Dia masuk ke dalam rumah, dan membiarkan Bryan menenangkan diri seperti apa yang di inginkannya.
Membuka pintu dan masuk ke dalam rumah, dia menutup pintu rumah sesaat setelah dirinya masuk. Bersandar pada pintu yang ditutup, air matanya langsung mengalir mengalir.
Kenapa jadi seperti ini?
Shea merasa bingung kenapa harus ada kesalahpahaman ini. Dia juga merasa kenapa semua terjadi secara bersamaan.
Buku diary yang Bryan baca seolah menegaskan jika apa yang dilihatnya tadi benar.
Rasanya hati Shea sakit saat apa yang terjadi pada dirinya kali ini. Baru saja dirinya ingin merengkuh kebahagiaan, tapi semua sirna begitu saja.
Melihat Shea keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, Bryan melajukan mobilnya meninggalkan rumah. Perasaannya tak kalah hancur dengan Shea, saat mendapati kenyataan jika Shea mencintai Regan.
Memukul stir mobilnya, dia meluapkan kekesalannya. Kenapa harus Regan, Se?
Air mata Bryan pun mengalir, dirinya begitu lemah saat mendapati wanita yang dia cintai mencintai orang lain.
Untuk kedua kalinya aku jatuh cinta, dan keduanya begitu menyakitkan.
Bryan hanya bisa menertawa takdir cintanya yang begitu lucu untuk diingat. Dirinya seolah tidak pernah mendapatkan cinta sesuai apa yang dia impikan.
Berpikir untuk menenangkan diri, Bryan menuju club. Satu yang ingin dia lakukan kali ini, yaitu minum.
Sampai di club Bryan memesan minuman. Rasanya dia ingin melupakan sejenak kesedihannya. Saat minum, beberapa wanita mencoba mendekati Bryan, tapi Bryan tidak menanggapi mereka.
Dirinya hanya butuh minum, dan bukan wanita. Jadi dia mengabaikan wanita yany silih berganti merayunya.
Kalau aku harus bersaing dengan Regan, aku akan jelas kalah, Se.
Mulut Bryan sudah merancau tidak jelas saat minuman sudah menguasainya.
Kenapa semua memuja Regan? Papa, kamu, dan semua orang begitu mengilainya.
Bryan merasa sangat rendah diri saat mengigat Regan adalah saingannya. Dia merasa dirinya tidak akan sanggup jika lawannya adalah Regan.
Bryan tanpa henti minum dan terus merancau, meluapkan semua rasa sakit di hatinya. Sesekali dia tertawa, dan sesekali dia menangisi apa yang terjadi padanya.
***
Jam menunjukan pukul satu pagi, tapi Bryan tidak kunjung pulang. Shea yang menunggu Bryan, memilih tidak tidur.
Kemana Bryan?
Rasanya Shea khawatir dengan apa yang terjadi pada Bryan. Pikirannya melayang memikirkan cara apa yang di pakai Bryan untuk menenangkan diri.
Shea tanpa henti mencoba menghubungi Bryan, tapi tidak ada jawaban dari Bryan.
Dirinya yang merasakan pusing, akhrinya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tanpa sadar, mata Shea terpejam. Rasa kantuk dan pusingnya membuatnya langsung tertidur
.
.
.
.
.
Alurnya maju mundur cantik ya.
Q: kok ceritanya begini, aku dah bayangin happy, dah bayangin Bryan?
__ADS_1
A: Dari awal aku udah buatnya begini.
Jangan lupa tetap like dan vote