My Baby CEO

My Baby CEO
Klien khusus


__ADS_3

Kandungan Shea yang mencapai lima bulan, membuat perutnya sudah terlihat membuncit. Napasnya pun semakin sulit bersamaan dengan perkembangan bayi di dalam kandungannya.


Setelah mandi sore, Shea sibuk mengoleskan krim di tubuhnya, untuk mencegah stretch marks. Dia berharap guratan-guratan di tubuhnya karena tubuhnya yang membesar, akan berkurang atau mungkin tidak ada setelah nanti dia melahirkan.


Saat sedang sibuk memakai krim, pintu kamarnya terbuka. Shea yang kaget langsung menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya. "Kamu sudah pulang?" tanya Shea yang sedikit kaget karena Bryan sudah pulang.


"Iya," jawab Bryan seraya melangkah masuk ke dalam kamar.


Mata Shea beralih menatap ke arah jam dinding, dan menemukan jam masih pukul lima sore. "Bukannya harusnya kamu baru keluar dari kantor jam segini?"


"Iya, aku pulang lebih awal."


"Kenapa pulang lebih awal?"


"Menjemput keberuntunganku?"


Dahi Shea berkerut saat mendengar ucapan Bryan. "Keberuntungan?" tanyanya bingung.


"Iya, keberuntungan melihat tubuhmu," ucap Bryan seraya membelai lembut tangan Shea menuju ke atas lengannya. "Kenapa ditutupi?" tanyanya saat tangannya sudah sampai di bahu Shea.


"Aku pikir orang lain yang masuk, jadi tadi reflek langsung aku menutupi tubuhku."


"Memangnya siapa yang berani masuk ke kamar kita?" tanya Bryan. Tangannya mencoba meraih selimut yang menutupi tubuh Shea.


Iya juga, siapa yang berani masuk? tanya Shea dalam hatinya. Memang selama ini, Shea sendiri yang membersihkan kamarnya. Dia tidak memberikan izin pada asisten rumah tangga untuk membersihkan kamarnya. Dia tidak mau kamar pribadinya ada yang masuk. Karena dia masih sanggup untuk membersihkan sendiri, dia memilih untuk membersihkan sendiri.


"Karena aku yang masuk, jadi bukalah!" ucap Bryan seraya menaikan alisnya dan senyum di wajahnya.


"Aku akan membukanya, karena kau sedang memakai krim."


"Krim apa?" tanya Bryan sedikit heran.


"Krim untuk mencegah stretch marks."


"Stretch marks?"


"Iya, karena tubuhku membesar seiring perkembangan bayi di dalam perut, serat-serat elastis di bawah permukaan kulitku pecah, akhirnya menghasilkan stretch mark," jelas Shea.


"Seperti apa stretch marks?" tanya Bryan ingin tahu.


"Guratan-guratan di kulit." Shea menjelaskan pada suaminya.


"Apa itu berarti kulit mulusmu ini akan terdapat guratan-guratan?"


"Iya."


Mata Bryan membulat. Dia tidak bisa membayangkan tubuh mulus istrinya terdapat guratan-guratan yang akan membuat keindahan tubuhnya berkurang. Tidak hanya itu yang dibayangkan Bryan. Dia juga tidak bisa membayangkan jika Shea harus berkorban untuk mengandung anaknya dan merusak tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Shea yang melihat wajah Bryan berubah.


"Aku tidak bisa membayangkan saja, tubuh indahmu akan terdapat guratan."


"Apa itu berarti kamu tidak akan menyukai lagi?"


Bryan menaikan hidungnya dan membuat kerutan di dahinya. "Bagiku, seperti apa dirimu, tidak akan mengubah rasa cintaku. Mau seperti apa bentuk tubuhmu, aku akan menerimanya, karena aku yang membuatmu seperti itu."


"Ich ... manis sekali," ucap Shea mencubit lembut pipi Bryan.


Bryan tersenyum melihat aksi Shea yang mencubit lembut pipinya. Namun, senyumnya seketika surut saat mengingat satu hal. "Maaf," ucap Bryan.


"Maaf untuk apa?" Shea menatap bingung dengan ucapan maaf yang diberikan Bryan padanya.


"Aku sudah membuat tubuhmu seperti itu, karena mengandung anakku." Bryan merasa bersalah karena kehamilan yang terjadi pada Shea akan membuat banyak perubahan pada tubuhnya.


"Anak kita!" ucap Shea membenarkan ucapan Bryan.


"Iya anak kita maksudnya."


"Dengar! Setiap wanita akan sangat senang bisa mengandung. Karena akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri untuk mereka." Tangan lembut Shea membelai pipi Bryan, meyakinkan pada suaminya, jika dia tidak akan keberatan mengandung anaknya.


"Tapi tubuhmu?"


"Tubuhku akan kembali jika nanti aku olah raga, dan untuk guratan, aku hanya bisa mencegahnya. Jika nanti tetap ada, biarkan jadi menjadi kenangan kita, bahwa aku pernah mengandung buah hati kita." Senyum tertarik di ujung bibir Shea saat berucap.


Senyum teduh yang istrinya berikan, selalu bisa membuat hati Bryan tenang. Aku beruntung sekali mendapatkanmu, batinnya.


Bryan tidak bisa membayangkan jika yang meminta pertanggung jawabannya dulu bukan Shea melainkan wanita-wanita yang pernah ditidurnya. Mungkin saat ini, akan banyak perdebatan dan perkelahian.


"Sudah, pergilah mandi! Aku akan melanjutkan memakai krim," perintah Shea.

__ADS_1


"Biar aku saja yang oleskan," pinta Bryan.


Shea menatap Bryan penuh rasa curiga. Dia sudah hapal betul, jika terkadang suaminya itu mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Kalau dia yang oleh, yang ada tidak akan selesai.


"Tenanglah! Aku tidak akan macam-macam, hanya akan mengolesi saja." Tanpa menunggu jawaban istrinya, Bryan meraih krim dari tangan Shea. "Lepaskan selimutnya!" perintah Bryan yang melihat Shea belum melepas selimut yang membungkus tubuhnya.


Shea tidak punya pilihan lain. Dia menurunkan selimut yang membungkus tubuhnya, dan membiarkan Bryan mengolesi krim ke tubuhnya.


Mata Bryan mengerjap saat melihat keindahan tubuh istrinya. Namun, seketika dia ingat apa yang harus dikerjakannya. "Di mana saja yang harus di oles?"


"Seluruh tubuhku."


Seluruh tubuh? Bryan berbinar saat mendengar jika istrinya meminta untuk mengolesi krim di seluruh tubuhnya. Tanpa menunggu lama, tangan Bryan mengolesi krim dari bahu turun ke bawah.


"Bagian depan biar aku saja, karena aku bisa," ucap Shea yang melihat Bryan hendak menuju area depan tubuhnya.


"Sudah diam! Aku sedang bertanggung jawab dengan perbuatanku yang menghamili dirimu. Jadi biarkan aku mengolesi semua."


Shea hanya memutar bola matanya malas. Berdebat dengan Bryan memang terkadang dirinya harus mengalah, karena semakin menanggapi perdebatan, pekerjaan tidak akan selesai.


Tangan Bryan mulai mengoleskan krim ke tubuh Shea. Dari mulai area atas, depan dan belakang, hingga menuju ke bawah. Dia hanya bisa menelan salivanya saat tubuh mulus di depan mata tapi tak dapat berbuat lebih.


"Kenapa lama sekali," gerutu Shea. Dia yang melihat Bryan lama sekali pun melayangkan protesnya.


"Aku harus pastikan jika semua terkena krim, jadi tidak akan ada stretch marks di tubuhmu."


Shea hanya bisa menerima alasan Bryan. Sedangkan Bryan tersenyum saat istrinya menerima alasannya. Sebenarnya dia sengaja berlama-lama mengolesi krim. Karena dia bisa sekaligus menikmati menyentuh tubuh istrinya.


"Buka pakaian dalammu! Aku akan mengolesinya."


"Kalau itu tidak perlu," elak Shea. Shea langsung berusaha merebut krim yang dibawa oleh Bryan.


"Kenapa?" Tangan Bryan langsung menjauhkan krim ke atas agar Shea tidak bisa menjangkaunnya.


"Pokoknya tidak ya tidak." Shea berusaha untuk meraih krim yang berada di tangan Bryan.


"Aku tidak akan memberikan, karena aku mau mengolesinya." Bryan tetap dengan pendiriannya.


"Kamu tidak akan mengolesi nanti." Tangan Shea masih berusaha untuk meraih krim dari tangan Bryan.


Shea mencebikkan bibirnya saat Bryan menggoda. Dia tidak yakin suaminya itu akan benar-benar mengoleskan krim. Dia sudah tahu betul perangai suaminya.


"Sudah diam!" ucap Bryan dan membuat Shea pasrah, dan menuruti semua yang diminta suaminya itu. Bryan pun akhirnya mengoleskan krim di tubuh Shea.


Diluar dugaan Shea, ternyata Bryan benar-benar hanya mengolesi krim dan tidak melakukan hal lain. Aku terlalu berburuk sangka, batin Shea menertawakan dirinya.


"Ini masih terlalu sore untuk melakukannya," ucap Bryan tersenyum licik seraya memberikan krim pada Shea. Dia pun berlalu ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya.


Shea tersenyum saat Bryan sudah pergi. Dia malu sekali, telah menganggap Bryan akan mengajaknya untuk merengkuh kenikmatan bersama.


**


Setelah kemarin Bryan mengatakan pada Shea jika hari ini dia akan menemui Helena, akhirnya Bryan mengajak Shea untuk ikut menemui Helena, di restoran. Sekitar jam sembilan pagi Bryan sengaja tidak ke kantor dan langsung ke restoran.


Sesampainya di restoran ternyata Helena dan Alex sudah sampai di restoran. Di sana juga ada Felix yang membawa beberapa dokumen yang diperlukan untuk kerja sama antara Adion dan Davis Company.


"Se," panggil Alex saat melihat Shea bersama dengan Bryan. Alex yang duduk pun berdiri.


Melihat Alex menyapa istrinya, Bryan sedikit merutuki kesalahannya yang membawa istrinya.


Harusnya aku tidak mempertemukan Shea dengan pria ini.


Dia masih mengingat jika pria di hadapannya ini adalah salah satu pria yang perlu dia waspadai setelah Regan. Karena nama Alex berada di dalam buku diary Shea dan penuh dengan pujian.


"Kak Alex," ucap Shea menyapa balik.


"Kamu apa kabar?" tanya Alex. Matanya fokus melihat perut Shea yang tampak membuncit. "Kamu hamil berapa bulan?"


"Baik, Kak," jawab Shea, "jalan lima bulan, Kak," lanjutnya menjawab.


"Ini siapa, Bry?" tanya Helena.


Bryan menoleh saat suara Helena terdengar bertanya. "Kenalkan, ini istriku," ucapnya.


Helena terperangah saat tahu jika ternyata Bryan sudah memiliki istri. Yang lebih membuat Helena kaget adalah saat melihat Shea sedang hamil.


"Shea." Dengan tenang Shea mengulurkan tangannya pada Helena.

__ADS_1


Mau tidak mau Helena pun menerima uluran tangan Shea. "Helena," ucap Helena. Matanya menatap sinis pada Shea. Dia tidak suka saat Bryan ternyata datang dengan wanita lain. "Apa seorang istri selalu ikut saat suaminya bertemu dengan kliennya?" tanya Helena sedikit menyindir Shea.


Shea hanya tersenyum saat mendengar pertanyaan Helena. "Karena yang ditemui adalah klien khusus dari perusahaan besar, saya rasakan pengecualian khusus."


Helena memutar bola matanya malas. Dia wanita hebat sepertinya, karena bisa menjawab dengan tenang.


"Bagaimana kalau kita mulai saja pembahasan kerja sama kita." Felix yang melihat suasana tidak kondusif pun mengalihkan pembicaraan.


Dengan tenang Shea duduk di samping Bryan. Sedangkan Helena menahan gemuruh di hatinya saat melihat Shea.


Felix memulai pembicaraan kerja sama antara Adion dan Davis Company. Disambung oleh Alex yang menjelaskan jika mereka sudah mempelajari semua berkas yang Felix berikan.


Hingga akhirnya pihak Davis menyetujui untuk berkerja sama. Pihak Davis akan menyerahkan pembangunan hotel pada pihak Adion Company. Mereka mengakhiri pertemuan mereka dengan menandatangani kontrak kerja sama mereka.


"Senang sekali berkerja sama dengan perusaahan kamu, Bry," ucap Helena mengulurkan tangan.


"Senang juga bisa berkerja sama dengan Davis Company." Bryan menerima uluran tangan Helena.


Kerja sama yang diharapkan Bryan akhirnya terwujud, dan ini adalah salah satu kebanggaan untuknya karena bisa berkerja sama dengan perusaahan besar.


"Karena kita sudah berkerja sama, saya rasa kita harus merayakan," ucap Alex, "kebetulan keluarga Davis akan mengadakan acara di hotel. Jadi kami harap Pak Bryan berserta istri bisa hadir." Alex pun mengundang Bryan.


Bryan menatap pada Shea, seolah meminta jawaban. Shea yang mengangguk pun akhirnya membuat Bryan menerima tawaran untuk makan malam. "Baiklah, kami akan datang."


Alex mengangguk dan tersenyum. Matanya masih menatap ke arah Shea yang duduk di depannya.


"Baiklah, kalau begitu, kami permisi lebih dulu." Tatapan Alex pada Shea membuat Bryan merasa tidak rela. Akhirnya dia memilih untuk mengakhiri pertemuan.


"Kenapa buru-buru, Bry?" tanya Helena.


"Aku harus mengantar Shea ke dokter kandungan," jawab Bryan.


Helena sedikit kecewa saat mendengar penjelasan Bryan. Namun, dia tidak bisa mencegah Bryan.


"Baiklah kita akhiri saja pertemuan hari ini. Karena kami juga akan kembali ke kantor." Alex pun mengulurkan tangan pada Bryan dan beralih pada Felix.


Bryan dan Felix menerima uluran tangan dari Alex dan beralih mengulurkan tangan pada Helena.


"Sampai jumpa di pesta, Bry." Satu kalimat yang terucap dari mulut Helena.


"Sampai jumpa." Sebagai rekan bisnis Bryan mencoba tidak mencampur adukan masalah pribadi. Apalagi perusahaan Helena baru saja berkerja sama dengannya.


Shea dan Alex pun saling berpamitan. Karena mereka saling kenal. "Sampai jumpa, Se."


"Sampai jumpa, Kak." Shea berpamitan dengan Alex dan beralih pada Helena. Namun, tanggapan Helena sangat dingin.


Mereka semua akhirnya membubarkan diri menuju ke tempat tujuan mereka masing-masing. Bryan dan Shea akan ke dokter, sedangkan Helena, Alex dan Felix akan kembali ke kantor masing-masing.


***


"Sepertinya kamu kecewa sekali, mendengar jika Bryan sudah menikah," cibir Alex saat perjalanan ke kantor.


"Bukan urusanmu!" ucap Helena malas.


Alex tertawa saat mendengar ucap Helena. "Apa Bryan juga salah satu priamu?"


Helena melirik tajam pada Alex. "Bisakah, kamu urus saja urusanmu, dan jangan urus urusan orang lain."


"Oke, aku akan mengurus urusanku." Senyum licik tertarik di ujung bibirnya. Alex tahu, wanita di hadapannya sulit untuk diatur.


Kenapa papa harus menjadikan dia asistenku.


Helena benar-benar kesal saat tahu jika Alex asisten papanya yang akan menjadi asistennya.


.


.


.


.


...Hayo, pasti penasaran? Akan banyak kejutan di bab ke depan, harus banget ditunggu....


...Jangan lupa like dan vote ya...


...Follow juga...


...Instagram: Myafa16...

__ADS_1


...FB: Myafa...


__ADS_2