
Shea yang masuk ke dalam kamar, mengatur deru napasnya. Entah kenapa perasaannya semakin tidak karuan. Jantungnya semakin berdetak lebih kencang setelah ciuman dengan Bryan.
Mengeleng-gelengkan kepalanya, Shea mengingat jika dirinya tadi menikmati ciuman yang di berikan oleh Bryan. Dirinya yang membuka mulut, menandakan jika dirinya sangat menerima ciuman Bryan.
Ichh ... aku malu sekali.
Seraya melangkah menuju ke tempat tidur, Shea merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Melihat langit-langit kamar, Shea menerawang jauh ke belakang. Dirinya tidak pernah menyangka, jika pertemuan dengan Bryan yang begitu menyakitkan, kini berubah bahagia.
Shea ingat betul pertama tinggal bersama Bryan, dirinya selalu berdebat dengan Bryan. Dirinya dan Bryan sudah bagai orang asing yang tinggal di satu rumah.
Tapi kini kedekatannya begitu membuatnya selalu bahagia. Memberikan cerita di setiap bab kehiduapnnya.
Saat Shea masih dengan pikirannya, Shea mendengar pintu kamar terbuka. Shsa menduga, jika itu adalah Bryan.
Shea buru-buru menarik selimut, dan membenamkan tubuhnya di dalam selimut. Rasanya dia ingin menyembunyikan rona merah pipinya, yang masih begitu terasa menghangat. Dia tidak mau Bryan melihatnya, yang begitu malu.
Bryan yang melihat Shea di atas tempat tidur menghampirinya. Merebahkan tubuhnya, Bryan berbaring tepat di belakang Shea.
Bryan pikir, Shea akan menghindar karena malu saja.Tapi ternyata dia tidur.
"Se, kamu sudah tidur?" Bryan mengintip sedikit ke arah Shea, untuk memastikan jika Shea benar-benar tidur.
Saat melihat mata Shea yang terpejam, dan dengkuran halus dari Shea, Bryan menyadari jika Shea sudah tidur.
"Ternyata kamu sudah tidur," ucap Bryan, seraya memeluk Shea. "Selamat malam, Se." Walaupun Shea tidak mendengar, Bryan tetap mengucapkan selamat malam. Memejamkan matanya, Bryan menyusul Shea untuk tidur.
Selama malam, Bry.
Shea membalas ucapan selamat malam dari Bryan dalam hatinya, karena sebenarnya dirinya belum tidur. Membuka matanya, Shea melihat tangan kokoh yang memeluknya.
Senyum tertarik di ujung bibir Shea, saat merasakan kehangatan dan kenyamanan dari pelukan Bryan. Memejamkan matanya, Shea mengikuti Bryan yang sudah tertidur.
***
Saat merasakan tangan kokoh tidak memeluknya lagi, Shea membuka matanya perlahan.
Kemana Bryan?
Shea yang melihat tidak ada Bryan pun mencari keberadaan Bryan. Menyibak selimutnya, Shea bangkit dari tempat tidur.
Melangkah keluar kamar, Shea mencari keberadaan Bryan. Dia ingin tahu kemana pagi-pagi Bryan pergi, karena jarang sekali Bryan bangun lebih awal.
Saat menuruni anak tangga, Shea mendengar suara air di kolam renang. Melangkah menuju kolam renang, dari kejauhan Shea melihat Bryan sedang berenang.
"Hai, kamu sudah bangun?" Bryan yang baru saja keluar dari air pun bertanya.
"Iya," jawab Shea, aku bangun karena pelukanmu tidak terasa, batin Shea melanjutkan ucapannya.
Mata Shea yang melihat Bryan di dalam air, samar-samar melihat dada Bryan yang terbuka. Dada sixpack, begitu terlihat sexy. Tapi Shea berusaha mengalihkan pandangannya, rasanya malu sekali melihat dada polos Bryan. Walapun dirinya suka memuji ketampanan pria, khusus Bryan Shea sedikit malu.
"Ayo berenang," ajak Bryan, "berenang termasuk olah raga yang bisa dilakukan oleh ibu hamil bukan?" lanjut Bryan bertanya.
Melihat Bryan yang asik berenang, membuat Shea tertarik juga untuk
berenang. "Aku akan berganti baju renang," ucap Shea. Shea pun berbalik untuk ke kamarnya, dan berganti baju renang.
Bryan melanjutkan membelah air kolam renang seraya menunggu Shea yang sedang berganti baju.
Setelah berganti baju renang dan memakai kimono handuknya, Shea kembali ke kolom renang.
"Kemarilah!" ajak Bryan saat melihat Shea.
"Aku harus pemanasaan dulu," elak Shea.
Bryan pun mengangguk dan memilih menunggu Shea sambil masuk kembali ke air kembali. Dia membiarkan Shea untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu, karena bisa jadi Shea akan kram jika tidak melakukan pemanasan.
Shea melepas kimononya dan melakukan pemanasan.
Keluar dari dalam air untuk mengambil napas, Bryan membulatkan matanya saat melihat Shea. Tubuh Shea yang di balut baju renang model one piece yang menyerupai jumpsuit, membuat Shea begitu sexy. Baju renang berbahan lycra itu menempel sempurna di tubuh Shea.
Panggal paha sampai kaki milik Shea yang terekspos, membuat Bryan hanya bisa menelan salivanya. Baju dengan model tanpa lengan yang di pakai Shea, membuat tubuh bagian atas milik Shea tidak kalah menantang untuk dilihat.
Dada Shea yang sedikit menyembul pun membuat napas Bryan begitu sesak.
Dia yang melakukan pemanasan kenapa aku yang panas.
Bryan hanya bisa berkata dalam hatinya, apa yang dilihatnya. Rasa panas seketika dirasa oleh Bryan saat melihat pemandangan tubuh Shea di depannya.
Bagi Bryan melihat tubuh wanita sudah jadi hal biasa, tapi saat melihat tubuh Shea, rasanya berbeda. Sensasi debaran di dadanya begitu kuat, hingga Bryan merasa benar-benar gelisah.
Shea yang sudah selesai pemanasan pun langsung meluncur ke dalam kolam renang. Membela air dan menikmati air yang melewati tubuhnya.
"Kenapa diam, Bry?" teriak Shea yang sudah sampai di ujung kolam.
"Ach ... iya aku akan kesana." Bryan pun menyusul Shea ke ujung kolam renang.
Bryan pun keluar dari dalam air setelah sampai di tempat Shea berhenti.
"Ayo kita lomba sampai ujung sana," ucap Shea seraya menujuk sisi ujung berlawanan dengan tempatnya berhenti.
"Ayo," ajak Bryan, "yang kalah harus mencium," tambah Bryan.
"Ich ...." Shea melirik tajam saat Bryan mengatakan aturan lombanya.
__ADS_1
Aturan yang dibuat Bryan tidak ada sama sekali untungnya untuk Shea, karena saat dirinya yang kalah, dirinya yang akan mencium Bryan, sedangkan saat Bryan yang kalah, Bryan akan menciumnya. Jadi intinya mereka akan saling mencium.
"Jangan bilang kamu takut." Bryan meremehkan Shea yang diam memikirkan ajakannya.
"Siapa takut, ayo," ucap Shea, "tapi pipi ya?"
"Tidak janji." Bryan hanya menaikan bahunya, dan menyelipkan senyum licik.
Shea malas sekali dengan Bryan yang sungguh sangat licik. "Ya sudah ayo," ucapnya.
"Hitungan ketiga ya ... satu ... dua ... tiga." Bryan memulai hitungan untuk memulai lomba mereka.
Bryan dan Shea membelah air untuk mencapai ujung kolam renang. Sesekali kepala mereka keluar untuk mengambil napas, dan kembali lagi masuk ke dalam air.
"Menang!" seru Bryan saat dirinya lebih dulu sampai di ujung kolam renang.
Shea yang sampai setelah Bryan keluar dari dalam air dengan mencebikkan bibirnya karena kesal saat Bryan lah yang sampai lebih.
"Cium!" perintah Bryan seraya menujuk bibirnya.
Dahi Shea langsung berkerut dalam saat melihat Bryan menujuk bibirnya.
Cup
Shea mendaratkan bibirnya di pipi Bryan.
"Aku minta di bibir, kenapa kamu cium di pipi?" Bryan tidak terima dengan ciuman yang di lakukan Shea pun melayangkan protes.
"Kalau yang ini kalah, aku akan menciummu di bibir," ucap Shea seraya melucur membelah air kembali, dan meninggalkan Bryan.
Bryan yang mendengar ucapan Shea hanya terkesiap. Buru-buru Bryan menyusul Shea agar dirinya mendapatakan ciuman di bibirnya.
Mereka berdua berlomba kembali untuk sampai di ujung kolam.
"Ye ... aku menang!" seru Shea saat keluar dari dalam air.
Bryan yang masih di belakang Shea, keluar dari air sesaat kemudian. "Kamu curang!" protes Bryan.
Tawa Shea menjawab protes yang di layangkan Bryan.
Melihat Shea yang tertawa, Bryan menjadi sangat gemas. Menarik tengkuk Shea, Bryan membenamkan bibirnya pada bibir Shea.
"Kamu curang!" ucap Shea seraya mendorong Bryan.
Kini giliran Bryan yang tertawa melihat Shea kesal. Dirinya puas sekali bisa mencium Shea.
Shea yang kesal pun keluar dari kolam renang.
"Hai, jangan marah, Se." Bryan mengejar Shea.
"Berenang di luar?" tanya Bryan memastikan.
"Iya."
"Dengan pakaian seperti ini?"
"Iya, memang mau pakai apa?" jawab Shea, "aku biasa memakai ini," lanjut Shea menjelaskan.
"Apa, kamu memakai baju ini saat berenang di luar?"
"Iya." Shea menjawab enteng.
Bryan langsung menarik tubuh Shea mendekat padanya, membuat jarak yang begitu dekat antara mereka berdua. "Aku tidak mau kamu melakukannya lagi," ucap Bryan.
"Kenapa?" Shea menaikan kedua alisnya saat bertanya. Dia heran dengan permintaan Bryan.
"Karena aku tidak mau tubuh ini dilihat orang," jawab Bryan seraya membelai paha Shea yang terbuka dan tanpa penghalang apa pun.
Mendapatkan sentuhan dari Bryan, Shea merasakan hal aneh di dalam hatinya.
"Aku mau tubuh ini hanya aku yang melihatnya," ucap Bryan. Menyusuri bahu Shea yang polos, Bryan menikmati kulit mulus milik Shea. Menuju ke leher Shea, Bryan meninggalkan jejak kepemilikkan. Bryan ingin membuktikan, jika Shea adalah miliknya.
Shea hanya bisa mengigit bibirnya, agar lenguhannya tak keluar dari bibirnya. Dia tidak mau Bryan mendengar desahannya yang menikmati apa yang Bryan lakukan.
Melepas kecupannya, Bryan menarik senyum di bibirnya, saat melihat tanda merah terpapang nyata di leher Shea. Beralih ke telinga Shea, Bryan berbisik pada Shea. "Apa kamu mengerti?"
Entah magnet apa yang di berikan Bryan. Shea langsung mengangguk saat Bryan memberikan pertanyaan yang mengandung peringatan keras.
"Bagus," ucap Bryan mendaratkan kecupan manis di pipi Shea, "bersihkan dirimu, dan ayo kita sarapan," tambah Bryan.
"Iya." Shea mengangguk dan berlalu menuju ke kamarnya seraya memakai kimononya.
***
Setelah membersihkan diri, Shea merias sedikit dirinya di depan cermin.
Matanya langsung membulat saat melihat warna merah di lehernya. Shea pernah melihat tanda seperti ini di film-film, tapi baru kali ini dia melihat nyata, dan itu di lehernya.
Menoleh ke arah kamar mandi, dimana Bryan ada di dalamnya, Shea mendengus kesal. Tapi kekesalananya sedikit mereda saat mengingat, jika tadi dirinya pun tidak menolak dan malah menikmati.
Mengambil foundation, Shea berusaha menutupi bekas merah yang ditinggalkan oleh Bryan.
"Jangan ditutupi!"
__ADS_1
Suara Bryan yang baru keluar dari kamar mandi, menghentikan Shea yang sedang sibuk mengoleskan foundation.
"Kenapa memangnya?" Shea melihat Bryan dari pantulan cermin dan bertanya.
"Biar orang tahu kamu milik siapa?"
Shea hanya melirik malas ucapan Bryan.
Alasan apa itu? Menghiraukan ucapan Bryan, Shea melanjutkan mengolesi foundation di lehernya.
"Kalau kamu mengolesinya, aku akan membuatnya di seluruh lehermu!" ancam Bryan.
Tangan Shea langsung berhenti seketika saat mendengar ancaman Bryan. "Kamu mau membuatku seperti orang alergi?" Shea menatap Bryan tajam.
"Oh, kamu mau seperti alergi, kalau begitu aku akan membuatnya di seluruh tubuhmu." Senyum tipis tertarik di bibir Bryan saat mengoda Shea.
"Tidak ... tidak ... oke aku tidak akan melanjutkannya." Shea yang takut Bryan akan membuat tanda di seluruh tubuhnya langsung meletakkan foundation di atas meja.
Bryan hanya bisa menahan tawanya saat melihat Shea yang ketakutan, dan menghentikan kegiatannya. "Bagus kalau kamu mendengarkan aku." Bryan pun berlalu untuk menganti bajunya.
***
Shea sibuk memasak omelete untuk sarapan pagi. Dengan cekatan Shea bergerak kesana kemari membuat omelete.
Dirinya yang memakai
turtleneck membuat begitu panas saat berdiri di depan kompor.
"Kalau panas, sebaiknya kamu memakai kaos biasa saja." Bryan yang melihat keringat bercucuran dari Shea memberikan saran pada Shea.
Kalau bukan karena dirimu, tidak mungkin aku memakai turtleneck seperti ini saat masak.
Shea yang segaja menutupi lehernya, dengan kaos dengan kerah yang tinggi, harus merelakan keringat bercucuran.
"Diam dan makanlah!" Shea meletakkan omelet buatannya dan duduk di hadapan Bryan.
Bryan tanpa berdosa mengabaikan Shea dan memakan sarapan yang di siapkan oleh Shea. Bryan merasa senang sekali, saat Shea begitu kesal karena kissmark yang dibuat olehnya.
Saat sedang sarapan ponsel Shea berdering. Saat melihat layar ponselnya, Shea melihat nama Selly tertera di layar ponselnya.
"Siapa?" tanya Bryan.
"Kak Selly."
Bryan yang mendengar jika kakaknya yang menghubunginya, merasa kesal. "Kalau dia mengajakmu, bilang kami sedang sibuk."
"Kenapa begitu?"
"Aku tidak mau pergi dengannya."
"Ya, biarkan saja aku yang pergi."
"Tidak boleh! Aku mau bersamamu seharian."
Shea hanya memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan Bryan.
Sepagi ini saja aku sudah dapat ciuman dan kissmark, apa jadinya kalau aku seharian bersamanya.
Shea tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dirinya seharian bersama Bryan. Shea hanya bisa bergidik ngeri saat membayangkan.
Tangan Shea langsung mengusap layar ponselnya dan menempelkan di telinganya. "Halo, Kak," sapa Shea saat mengangkat sambungan telelpon.
"Se, apa kamu ada acara?"
"Tidak."
Mata Bryan mengawasi apa yang di ucapkan Shea. Bryan menerka-nerka apa yang dimaksud 'tidak' oleh Shea.
"Aku ingin mengajakmu membuat salad, bisakah kamu ke rumahku?"
"Aku bisa, Kak, aku akan ke rumah Kak Selly." Ternyata tebakan Bryan benar, jika Selly mengajaknya, dan ini adalah kesempatan Shea untuk menghindari Bryan.
Bryan yang mendengar jawab Shea, bisa menduga jika kakaknya baru saja mengajak Shea. Walapun Bryan tidak tahu kakaknya mengajak untuk apa.
"Baiklah, aku akan menunggumu."
Shea pun mengakhiri sambungan telepon setelah mengiyakan.
"Aku sudah bilang bukan untuk menolak, kenapa kamu menerimanya." Bryan merasa kesal dengan jawaban Shea pada Selly.
"Aku tidak enak menolak Kak Selly." Shea memberikan alasan yang tepat pada Bryan.
Bryan hanya bisa mendengus kesal, dan tidak bisa berbuat apa-apa, karena Shea sudah mengiyakan pada kakaknya. "Kalau begitu aku ikut."
"Iya, kita akan pergi bersama." Shea merasa lega, bisa lepas dari Bryan.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote ya