
"Tidak!" Shea mendorong tubuh Bryan agar menjauh dari dirinya. Bangkit dari tidurnya, dia bersandar pada headboar tempat tidur.
Bryan terkesiap saat mendengar ucapan Shea yang mengatakan jika tidak ada kejutan lagi. "Kenapa?"
"Apa kamu melakukan dengan wanita lain semalam?" Gemuruh di hati Shea kembali lagi saat mengingat apa yang di lihatnya
"Wanita?" Dahi Bryan berkerut dalam saat mendengar ucapan Shea.
"Aku melihatmu tanpa baju di apartemen." Shea malas sekali harus mengingat apa yang dilihatnya.
"Kamu ke apartemen?"
"Iya, sebelum aku ke makam."
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku?" Bryan tidak habis pikir dengan Shea, kalau Shea membangunkan dirinya, tidak perlu dia tadi susah-susah mencari Shea.
"Aku melihatmu tidak pakai baju, dan akhirnya aku memilih pergi, apalagi aku mencium parfum wanita."
"Parfum lagi?" Kepala Bryan seketika pusing saat mengingat jika masalahnya dimulai dari parfum terus.
"Aku mencium parfum wanita dikamar yang pernah aku tempati, dan di kamar mandi pun aku melihat jika kamar mandi baru saja dipakai, karena masih ada sisa basah di sana." Shea menjelaskan pada Bryan apa yang dilihatnya.
Bryan memutar ingatannya, dirinya binggung wanita mana yang dimaksud Shea, tapi dia tidak bisa menyanggah karena dia juga tidak tahu siapa yang mengantarnya pulang semalam.
"Sayang, aku memang semalam ke club dan aku minum di sana, tapi aku tidak ingat apa yang terjadi semalam, karena saat aku sadar aku sudah di kamar."
Shea mendengus kesal saat mendengar penjelasan Bryan. "Berarti semalam kamu melakukannya dengan wanita lain." Shea menahan tangisnya saat merasa kecewa pada Bryan, wajahnya diarahkan ke sudut lain agar Bryan tidak melihat matanya yang sudah mulai berkaca.
Tangan Bryan menarik dagu Shea agar wajah istrinya itu bisa dilihatnya. "Sayang, dengar, aku memang tidak ingat apa yang terjadi tadi malam, tapi aku jamin jika aku tidak melakukan apa pun." Bryan berusaha membuat Shea percaya.
"Bagaimana kamu bisa yakin tidak melakukannya, jika kamu saja tidak ingat semalam pulang ke apartemen dengan siapa."
"Aku yakin sayang, karena saat aku bangun aku mengecek milikku, dan aku tidak menemukan bau dan sisa disana."
"Bau apa? Sisa apa?" Shea bingung dengan yang di maskud Bryan.
"Bau dan sisa cairan kenikmatan," ucap Bryan seraya mengedipkan mata.
Wajah Shea merona saat mendengar ucapan Shea, tapi dia tetap tidak akan mudah percaya dengan ucapan Bryan. "Aku tidak akan percaya jika tidak ada bukti nyata."
Bryan hanya bisa menelan salivanya kasar saat harus membuktikannya terlebih dahulu. Dia memutar otaknya bagaiamana cara membuktikannya.
"Baiklah, aku akan ke club untuk bertanya dengan siapa aku pulanh semalam, tapi sekarang berikan dulu kejutanku."
Tubuh Bryan mendekat pada Shea kembali. Rindu yang sudah ditahannya sudah tidak bisa ditawar lagi.
Namun, belum sempat Bryan mendekat, tangan Shea sudah berusaha menjauhkan tubuh Bryan.
"Sayang," panggil Bryan mendengus kesal saat Shea menolaknya.
"Aku mau bukti dulu!"
"Iya, nanti malam, aku akan tanyakan siapa yang membawaku pulang," ucap Bryan, "ayo kita lanjutkan." Bryan kembali mendekatkan tubuhnya
"Tidak, ya tidak!" Shea kembali mendorong tubuh Bryan.
Helaan napad Bryan semakin berat saat Shea menolaknya. "Sayang, jangan siksa aku, lihatlah, dia sudah bangun," ucap Bryan seraya menujuk ke arah celananya yang sudah mulai sesak.
Namun, Shea tetap teguh dengan pendiriannya jika dia tidak akan melakukan hubungan suami istri sebelum tahu apa dan dengan siapa Bryan pulang.
"Baiklah, kalau begitu aku akan telepon club itu sekarang juga." Bryan pun mengambil ponsel dan mencoba menghubungi club. Karena Bryan adalah member VIP jadi dia akan mudah mendapatakan informasi.
Menempelkan ponselnya Bryan menunggu sambungan telepon tersambung. Saat mendengar suara sapaan Bryan pun langsung menjawab. "Halo, aku Bryan Adion, aku pelangan VIP bisakah kamu menjelaskan kembali siapa yang mengantarku kemarin?"
"Maaf, Pak pelayan yang melayani Anda semalam berkerja pada sift malam, jadi kami tidak bisa menanyakannya."
"Baiklah kalau begitu." Dengan kekesalan Bryan menutup ponselnya.
"Bagiamana?" tanya Shea.
"Pelayan yang melayani aku masuk sift malam."
Shea pun menaikan bahunya mengacuhkan Bryan. Bryan yang melihat Shea pun semakin gemas. "Sayang, berikan aku dulu, nanti kita akan cari tahu siapa yang mengantarkan aku." Bryan kembali memohon pada Shea.
"Aku tidak mau, sebelum aku tahu siapa yang mengantarkammu pulang, dan parfum siapa itu, aku tidak akan pecaya."
"Baiklah, kita akan ke club nanti malam," ucap Bryan pasrah. Bryan pun berdiri meninggalkan Shea.
"Kamu mau kemana?" Shea yang melihat Bryan berdiri merasa heran.
"Mau menidurkan sesuatu," ucapnya malas. Bryan melangkah menuju ke kamar mandi. Rasanya kali ini dia harus bersabar.
Kenapa tidur di kamar mandi, bukannya di tempat tidur? Pikiran Shea bingung memikirkan apa yang dilakukan Bryan
Saat menunggu Bryan di kamar mandi, Shea mendengar bunyi bel rumahnya. "Siapa yang bertamu?" Melangkah keluar kamar, dia menju pintu utama untuk tahu siapa tamu yang datang.
Membuka pintu, Shea terkesiap saat melihat Selly di depan pintu. "Kak Selly." Shea memutar kembali ingatanya jika kemarin Selly pergi begitu saja saat dia memeluk Regan.
"Hai, apa kamu tidak mengizinkan aku masuk?" Selly yang melihat Shea terdiam pun bertanya.
"Hah ... iya silakan, Kak."
__ADS_1
Selly masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Shea yang ikut duduk pun berada tepat di depan Selly.
"Kak, aku bisa jelaskan masalah kemarin." Shea yang merasa bersalah langsung ingin menjelaskan pada Selly.
"Apa yang ingin kamu jelaskan?" Suara Selly tampak tenang, dia ingin tahu sebesar apa keinginan Shea menjelaskan. Walaupun dia sadar semua hanya salah paham.
"Kemarin aku tidak tahu jika Kak Regan yang ada di kamar, aku pikir dia Bryan."
"Karena itu kamu memeluknya? Bagaimana kamu tidak mengenali suamimu sendiri?"
Shea menganggap pertanyaan Selly terdengar dingin, dan itu seolah menyudutkannya.
"Itu karena parfum milikku yang kakak minta." Suara Bryan menjawab pertanyaan Selly. Seraya menuruni anak tangga, Bryan menghampiri Shea dan Selly.
"Parfum?" Selly mengingat perihal parfum yang di maksud Bryan. "Astaga!" pekik Selly saat ingat parfum yang di maksud Bryan. "Jadi alasan kamu memeluk Regan karena parfum Bryan?" tanya Selly memastikan pada Shea.
"Iya," jawab Shea dengan anggukan. "Maafkan aku, Kak, karena sudah memeluk Kak Regan."
"Jangan minta maaf, aku pun juga salah, karena memang aku yang meminta Regan memakai parfum Bryan malam itu."
"Jangan gunakan parfumku lagi," timpal Bryan ketus.
"Bryan," tegur Shea.
"Aku benar-benar tidak sadar jika parfum yang aku minta akan jadi masalah, Se." Selly yang baru menyadari jika dirinya juga bersalah pun merasa bersalah.
"Sudah, Kak, yang terpenting semua sudah jelas kalau ini hanya salah paham."
"Iya," jawab Selly tersenyum, "lalu tadi kamu kemana tadi? Pagi tadi aku kemari, tapi kamu tidak ada," lanjut Selly bertanya.
Shea merasa tidak enak saat ternyata kepergiannya membuat semua orang khawatir. "Aku hanya ke makam, Kak."
"Tapi kamu baik-baik saja bukan?"
Rasanya Shea senang saat Selly begitu perhatian padanya, kekhawatirannya seperti kekhawatiran kakak pada adiknya. "Aku baik-baik saja, Kak."
Baik bagaimana, sampai pingsan dia bilang baik. Bryan hanya memutar bola matanya malas.
"Semoga kedepan kita tidak ada kesalahpahaman," ucap Selly seraya mengenggam tangan Shea.
"Iya, Kak."
Shea dan Selly melanjutkan mengobrol sebentar sebelum akhirnya memutuskan pulang.
***
Saat malam, sesuai rencana Bryan akan bertanya pada pelayan club, siapa yang membawanya pulang. Karena Shea tidak mau dibohongi akhirnya dia ikut dengan Bryan ke club.
"Tidak mau, aku mau dengar pelayan mengatakan apa."
"Aku akan sampaikan apa yang dikatakan pelayan nanti padamu."
"Aku tidak percaya, bisa jadi kamu membohongiku."
Bryan menghela napasnya saat Shea tetap meminta untuk ikut masuk ke dalam club. "Baiklah." Akhirnya dia memilih untuk menuruti keinginan Shea.
Masuk ke dalam club, tangan Shea memegang lengan Bryan. Matanya melihat ke segala arah club. Shea hanya bisa menelan ludahnya kasar, saat melihat wanita-wanita memakai pakaian minim dan berjoget di lantai dansa. "Apa mereka tidak punya pakaian lebih sopan?"
Bryan menoleh saat istrinya itu mengomentari pakaian para wanita. "Kalau mereka punya, mereka tidak akan memakai itu."
"Bagaimana jika kau memakai pakaian seperti itu?" tanya Shea mengoda Bryan.
"Aku akan mengurungmu di rumah!" ucapnya tegas.
"Bukannya dulu kamu memberiku pakaian seperti itu," sindir Shea.
Dahinya berkerut dalam, pikirannya berputar kembali mengingat kapan dia memberi Shea pakaian minim, sampai akhrinya dia menemukan kepingan ingatannya dihari dia merengut kesucian Shea dan menyuruh Shea memakai baju minim karena baju Shea sudah dia koyak.
"Itu kesalahanku, dan aku tidak akan mengulanginya lagi." Suara Bryan tegas dan penuh keyakinan.
Shea tahu, jika itu adalah kejadian pahit yang selalu berada dalam ingatannya. Namun, dia menyadari jika kejadian itu mengantarkannya pada Bryan.
Menemui manager club, Bryan pun bertanya mana pelayan yang melayani dirinya semalam. Manager club pun memanggil pelayan yang melayani Bryan semalam.
Seraya menunggu, Shea mengedarkan kembali matanya. "Apa mereka tidak malu melakukan di sini?" tanya Shea berbisik saat melihat sepasang kekasih saling berciuman dengan rakus.
Rasanya Bryan merutuki kesalahannya mengajak istrinya itu ke club. Segala hal dipertanyakan oleh Shea, seolah dia melihat sesuatu yang tabu untuk dilihat. Padahal hal semacam itu sudah biasa terjadi di club.
"Kita kemari mencari pelayan yang melayaniku, jadi berhentilah bertanya, Sayang."
Shea hanya melirik malas, saat melihat Bryan melarangnya terus bertanya.
"Malam, Pak," sapa pelayan pada Bryan.
"Apa kamu yang melayaniku semalam?"
"Iya, Pak."
"Apa kamu tahu dengan siapa aku pulang?"
"Maaf Pak, malam itu saya lancang menghubungi nomer di ponsel Anda untuk meminta seseorang menjemput."
__ADS_1
"Lalu siapa yang menjemput?"
"Waktu itu saya menghubungi satu nomer tapi tidak di angkat, kemudian saya menghubungi satu lagi nomer, dan yang mengangkat seorang wanita."
Mata Shea langsung menajam pada Bryan sesaat setelah mendengar ucapan pelayan. Tangannya yang sibuk berpegangan di lengan Bryan, langsung di lepasnya.
Matilah aku ! seru Bryan dalam hati.
"Namun, saat datang wanita itu tidak sendiri, dia bersama dengan seorang pria, Pak."
Ucapan pelayan sedikit memberikan angin segar pada Bryan saat mendengar jika ada pria yang bersama wanita itu.
"Apa kamu mengenalnya?"
"Maaf Pak, saya baru di sini jadi saya tidak tahu mamber VIP di sini."
Sial ! Bryan hanya bisa mengumpat dalam hatinya.
"Coba Bapak lihat saja panggilan keluar dari ponsel, Pak."
"Aku sudah menghapus semua." Bryan menyesali karena telah menghapus semua panggilan masuk di poselnya. "Ya sudah terimakasuh infonya."
Bryan pun memilih untuk kembali, karena di club tidak ada petujuk lagi di mana dirinya bisa tahu dengan siapa semalam dirinya pulang.
Wajah Shea dari tadi hanya d tekuk, saat tahu jika seorang wanita yang menjemput Bryan.
"Sayang, kamu jangan marah seperti itu, kamu tadi lihat bukan ada pria yang bersama wanita itu." Sesampainya di dalam mobil Bryan mencoba menjelaskan pada Shea.
"Bisa saja bukan, pria itu bersekongkol, atau mungkin pria itu merekam saat dirimu bersama wanita itu, dan saat wanita itu hamil, dia punya bukti." Shea meluapkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.
"Kamu dapat pikiran dari mana itu?" Bryan heran bisa-bisanya istrinya berpikiran sejauh itu.
"Aku lihat itu di serial televisi."
"Buang jauh-jauh pikiran seperti itu. Tidak akan ada drama seperti itu. Aku akan mencari siapa yang membawaku pulang."
"Baiklah, kalau begitu buktikan." Shea menjawab dengan santai ucapan Bryan, seolah keputusannya tidak goyah sebelum dia dapat bukti.
"Iya, tapi bukan sekarang, karena ini sudah malam, dan tidak baik ibu hamil malam-malam di luar, kamu juga masih harus banyak istirahat."
Shea tidak bisa menolak. Dia pun mengangguk dan mengikuti perintah Bryan. Melajaukan mobilnya, Bryan membawa Shea pulang.
***
Sesampainya di rumah Shea dan Bryan beristirahat. Shea yang bersiap untuk tidur memilih sisi berseberangan dengan Bryan.
"Kenapa kamu berjauhan, apa kamu tidak kau dipeluk?" Bryan yang melihat Shea memberi jarak dalam tidurnya pun bertanya.
"Iya, aku tidak mau."
"Kenapa, bukannya kamu merindukan aku kemarin?"
Shea terdiam, dia memang merindukan pelukan Bryan, tapi dirinya masih kesal dengan apa yang ditemukannya di apartemen. "Sekarang tidak lagi."
"Kamu masih marah dengan masalah wanita yang mengantarkan aku pulang?" Bryan mencoba menebak.
"Iya, jadi sebelum masalah itu selesai, jangan dekat-dekat denganku."
"Yakin?" tanya Bryan mendekatkan tubuhnya.
"Iya," jawab Shea takut saat Bryan mendekat. Dia takut jika sampai terbawa suasana dan mengikuti apa yang akan dilakukan Bryan.
"Jangan mendekat!"
"Tadi siang kamu tidak menolak." Senyum tipis mengembang di wajah Bryan. Ucapannya pun penuh dengan sindirian untuk Shea.
"Tadi ... sudah aku mau tidur." Shea membalikkan tubuhnya dan menghindari Bryan.
"Aku janji akan membuktikannya besok, dan aku tidak akan memaksamu untuk melakukanya, tapi jangan menolak pelukanku." Tangan Bryan memeluk erat tubuh Shea. Memberikan kehangatan didalamnya.
Shea tidak lagi menolak, atau melarang, dia sendiri sebenarnya merindukan pelukan Bryan.
Aku berharap tidak akan ada drama wanita, walapun aku tahu itu akan terjadi, karena para wanita adalah bagian masa lalumu.
Shea memejamkan matanya merasakan dekapan hangat Bryan yang sangat menenangkan.
Mendengar dengkuran halus dari Shea, senyum tertarik di ujung bibir Bryan.
Aku pun sebenarnya takut siapa wanita yang mengantarku, aku berharap tidak terjadi apa-apa malam itu. Aku sudah berusaha sejauh ini, dan itu akan hancur seketika jika ternyata kebodohanku sendiri yang menghancurkannya.
Bryan pun mengeratkan pelukan dan memejamkan matanya, menyusul Shea yang tertidur.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.