
Masuk ke dalam mobil Shea meletakkan kotak berisi beberapa barang miliknya di kursi belakang. Melanjutkan memakai seatbelt, dia menatap pada Bryan seolah mengisyaratkan jika dia sudah siap untuk perjalanan pulang.
"Apa terasa berat saat harus berhenti berkerja?" Dari raut wajah Shea, Bryan hanya bisa menerawan apa yang dirasa oleh istrinya itu.
"Dulu aku berjuang menyelesaikan kuliahku agar bisa berkerja di perusahaan besar, dan saat mendapatkannya ... ada kebanggaan tersendiri di hati. Jadi wajar jika terasa berat." Shea menoleh menatap Bryan yang sedang sibuk menyetir.
"Adion tidak kalah besar dari Maxton, jadi kamu bisa berkerja juga disana?"
Shea melirik dan mengerutkan hidungnya saat mendengar ucapan Bryan. "Apa kamu akan jadikan aku sekertaris di Adion?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku akan memberikan perkerjaan yang lain untukmu."
"Apa?" tanya Shea penasaran.
"Menunggui aku berkerja."
"Perkerjaan macam apa itu?" Shea benar-benar heran dengan perkerjaan yang diberikan oleh Bryan.
"Jadi kamu hanya tinggal duduk manis dan menunggui aku berkerja."
Shea memutar bola mata malas mendengar perkerjaan yang Bryan berikan. Dia tidak akan bisa bayangkan jika perkerjaan yang Bryan berikan dia kerjakan.
Yang ada dia tidak akan berkerja, tapi malah sibuk denganku.
Menerka-nerka apa yang akan terjadi nanti jika dirinya menerima tawaran Bryan, Shea hanya bisa bergidik ngeri jika sampai Bryan mengajaknya melakukan hubungan suami istri di kantor seperti cerita-cerita film.
"Tidak, terimakasih, aku menunggumu di rumah saja," jawab Shea dengan memaksakan senyumnya.
"Bagus, karena aku memang tidak mau kamu lelah." Bryan meraih tangan Shea dan mengenggamnya.
***
Shea mengerjap saat perutnya berdendang merasakan lapar dan seakan minta untuk diisi. Rasa kantuknya yang terasa amat berat tak bisa mengalahkan rasa laparnya yang lebih kuat. Melepas tangan Bryan yang memeluknya, dia memutar tubuhnya menghadap Bryan.
"Sayang," panggilnya.
Bryan yang masih di alam mimpi tak terpanggil dengan suara lembut istrinya. Shea yang melihat suaminya tidak bangun sama sekali, mencoba memanggil kembali. "Sayang." Kali ini Shea menambahkan volume suaranya. Tangannya pun bergerak mengoyang-goyangkan tubuh Bryan.
Merasa tubuhnya digoyang-goyangkan, Bryan mengerjap. "Sayang, kenapa?" tanyanya sedikit panik.
"Aku lapar," ucapnya lirih.
Kedua alis tegas Bryan saling bertautan mendengar Shea lapar. Dia ingat jelas sebelum tidur, istrinya makan banyak. "Lapar lagi?" tanyanya.
"Kenapa memangnya, apa aku tidak boleh lapar lagi." Shea yang merasa kata-kata Bryan seolah mengandung sindiran, dan itu membuatnya merasa kesal. Bibirnya langsung mencebik mengekspresikan kekesalannya.
"Bukan begitu," elak Bryan. Bryan menyadari jika kata-katanya salah. Tangannya langsung mendekap erat tubuh Shea. "Mau makan apa?" tanyanya seraya menatap lekat wajah istrinya.
Senyum langsung tertarik di ujung bibir Shea saat mendengar tawaran Bryan. "Mau makan es krim."
"Dimana membeli es krim malam-malam?" tanya Bryan. Dia tahu supermarket sudah tutup, dan tidak mungkin dirinya mendapatkannya.
"Di restoran cepat saji."
"Restoran cepat saji?" tanya Bryan memastikan makanan di mana Shea akan makan.
"Iya."
"Tapi - "
"Aku mau itu," potong Shea dengan tegas.
Baru saja Bryan mau menyanggah permintaan Shea, tapi istrinya itu sudah memotongnya. Bryan menghela napasnya dalam menahan emosinya. Dia tidak mau Shea bersedih hanya karena dia tidak menuruti permintaanya.
Ingat wanita hamil sangat sensitif.
Dia hanya berusaha mengingat-ingat apa yang dibacanya di artikel seputar kehamilan. Walapun sudah membaca, tapi ternyata tidak semudah yang Bryan bayangkan. Berperang dengan perasaan itu lebih sulit, apalagi perasaan ibu hamil. "Ayo," ajak Bryan. Dia menyibak selimut dan langsung bangun.
__ADS_1
Seperti anak kecil yang akan mendapatkan permen, Shea begitu senang saat Bryan mau menurutinya untuk makan tengah malam. Apalagi jam sudah menujukan pukul satu malam.
Dengan masih mengenakan piyamanya, Shea dan Bryan pergi. Mereka berdua memilih tidak berganti baju, karena akan memakan waktu lebih lama.
Mobil Bryan melaju membelah jalanan yang tampak sepi di malam hari. Hanya ada satu dua mobil yang lewat, dan itu pun tetap saja membuat jalanan sepi. Bryan terus melajukan mobilnya menuju ke salah satu gerai restoran cepat saji. Dia mencari yang restoran yang buka dua puluh empat jam, untuk memenuhi keinginan Shea. Saat menemukan restoran cepat saji, dia berbelok dan memarkirkan mobilnya.
Shea yang sudah tidak sabar pun melepas seatbelt dan langsung keluar dari mobil, meninggalkan Bryan yang masih sibuk mematikan mesin mobil. Bryan hanya bisa mengeleng melihat aksi Shea. "Seperti tidak penah makan es krim," grutu Bryan. Melangkah menyusul Shea, dia hanya dibuat bingung dengan sikap istrinya itu.
Saat membuka pintu restoran, Bryan melihat Shea dari kejauhan yang sibuk memesan makanan. Dia menajamkan pendengarnya saat Shea memesan makanan.
"Satu cheese burger, satu kentang, satu es krim, dan satu lemon tea," ucap Shea pada pelayan restoran.
Mata Bryan langsung membulat sempurna saat mendengar pesanan Shea. Bukannya tadi dia bilang mau makan es krim, kenapa jadi banyak sekali. Bryan hanya bisa berkata dalam hatinya. Dia tidak mau sampai istrinya dengar.
"Kamu mau pesan apa?" tanyanya saat melihat Bryan mendekat padanya.
"Satu minuman soda saja."
"Tambah satu soda," ucap Shea pada pelayan. Shea kembali menatap Bryan. "Kamu tunggu ya, aku cari tempat duduk," ucap Shea.
Setinggi-tingginya jabatanku di kantor, di rumah kedudukanku tetap lebih rendah. Bryan hanya bisa pasrah saat istrinya meminta untuk membawakan makanan. Dengan kepasrahan, Bryan menunggu pesanan Shea. Saat pesanan siap, dia pun membawanya untuk Shea.
"Terimakasih," ucap Shea dengan senyum mengembang di wajahnya. Dengan cepat tanganya meraih burger yang begitu mengiurkan. Aroma smoke beef tercium sangat nikmat di indera penciuman Shea.
Memegang burger dengan kedua tangannya, dia mendaratkan satu gigitan. Rasa smoke beef bercampur dengan saos, keju, acar timun, dan bawang begitu terasa nikmat di lidah Shea. Lembutnya roti burger pun menambah kenikamatan yang terdapat di dalam mulutnya.
Saos yang meleleh saat digigit pun, menghiasi bibir Shea. Tanpa peduli bagaimana penampilan wajahnya, Shea terus menikmati burger.
Tangan Bryan dengan sigap langsung mengusap ujung bibir Shea dengan tisu. Rasanya dia seperti melihat anak kecil yang baru saja makan burger.
"Terimakasi," ucap Shea seraya tersenyum pada Bryan. "Kamu mau?" Tangannya menyodorkan burger pada Bryan.
"Makanlah!" Bryan mengeleng tanda dia menolak burger yang diberikan Shea.
Shea kembali memasukan burger ke mulutnya saat Bryan tidak mau memakan burger miliknya. Menghabiskan satu cheese burger, dia beralih pada kentang goreng. Tak butuh waktu lama, kentang goreng pesanannya habis tak tersisa.
Bryan yang melihat istrinya makan, hanya bisa mengeleng. Niat Shea yang ingin makan es krim, berubah menjadi burger dan kentang. Akan tetapi, Bryan bersyukur, saat orang hamil susah makan, istrinya justru makan dengan lahap.
"Ini kedua kalinya kamu lapar malam-malam ya?" Bryan mengingat jika dulu dia pernah mengantar Shea untuk makan malam-malam.
"Kali ini pun aku akan memintamu membayar." Bryan mengedipkan matanya saat berucap. Dia mengisaratkan dengan apa Shea harus membayar.
Shea buru-buru meminum lemon tea pesanannya dan mengalihkan pandangan dari Bryan. Dia tahu apa yang harus dia bayar untuk makanan yang baru saja dia makan.
"Tenang, aku tidak akan meminta bayaran malam ini, karena aku mengantuk." Bryan tersenyum disertai seragai licik. Dia seolah sudah menyiapkan rencana di otaknya.
Sykurlah, aku pikir dia akan minta hari ini. Aku tidak bisa bayangkan perut yang kenyang akan terkena goncangan gempa bumi. Yang ada bukan hanya laharnya yang keluar, tapi semua isi perutku juga keluar.
Shea hanya menarik senyumnya saat apa yang didengarnya tetaplah akan terjadi. Melanjutkan makannya, dahinya berkerut saat melihat es krim yang dipesannya sudah cair. "Cair," ucap Shea menatap Bryan.
"Diminum saja."
"Mana enak es krim diminum." Shea mencebikkan bibirnya merasa kesal dengan ide Bryan.
"Mau pesan lagi?" tawar Bryan.
"Iya," jawab Shea dengan anggukan.
"Lalu siapa yang makan ini?"
"Kamu," jawab Shea polos.
"Aku tidak mau makan manis malam-malam."
Wajah Shea seketika kesal. Dia mengira Bryan sedang menyindirnya, karena makan manis malam-malam.
Menyadari jika wajah Shea kesal, Bryan langsung meraih es krim dan meminumnya. Es krim yang sudah cair membuat Bryan dengan cepat meminumnya. Dia pun langsung berdiri, untuk kembali memesan es krim.
Senyum mengembang di wajah Shea karena es krim yang dipesannya sudah habis. Tinggal menunggu es krim yang akan dipesan Bryan.
"ini," ucap Bryan seraya menyodorkan satu cup es krim.
__ADS_1
Dengan senang Shea menerimanya, dan langsung memakannya. Rasa manis begitu nikmat, dan seketika membuat perasaannya tenang.
Setelah menyelesaikan makannya, Shea dan Bryan akhirnya pulang. Perut Shea yang kenyang membuatnya mengantuk, hingga akhirnya dia tidur di mobil. Bryan tersenyum tipis saat melihat istrinya itu tertidur. Rasanya bahagia, saat bisa selalu ada untuk wanita yang begitu dicintainya itu. Kali ini dia merasa benar-benar hidup. Bukan seperti dulu yang entah dia hidup atau mati, karena tak ada rasa apa pun di hatinya.
Terimakasih sudah ada di dalam hidupku.
Saat mobilnya sampai di rumah, Bryan tidak ada pilihan lain selain mengendong Shea masuk ke dalam. Istrinya yang tertidur pulas, membuatnya tidak tega untuk membangunkanya. Mengendong dua makhluk yaitu istri dan anaknya, membuat keasikan tersediri bagi Bryan. Dia hanya berpikir, jika tidak mungkin ke depan dia mengendong anak dan istrinya sekaligus, kalau bukan sewaktu anaknya masih di kandungan.
Setelah membaringkan Shea, dia pun menyusul Shea tidur. Rasa kantuk yang dirasanya, membuatnya sudah tidak tahan untuk segera memejamkan matanya. Pelukan hangat membuatnya merasa dalam kehangatan bersama Shea, dan dalam hitungan detik pun, Bryan menyusul Shea ke dalam alam mimpi.
***
Tangannya yang terasa kosong, membuat Bryan meraba sisi tempat tidur. Dengan mata yang masih terpejam, dia mencari kemana istrinya. Rasanya dia ingin mendekap, dan membawa kembali istrinya itu ke dalam pelukannya. Namun, saat sadar jika tidak ada sosok Shea di sisi tempat tidur, Bryan membuka matanya perlahan. "Kemana dia?" Akhirnya dia memutuskan untuk bangun dan mencari di mana istrinya pagi-pagi pergi.
Keluar dari kamar, Bryan mencium aroma masakan. Satu tebakannya, jika istrinya yang sedang memasak. Menuruni anak tangga, Bryan melihat Shea yang sedang sibuk memasak. Dengan apron di lehernya, Shea sudah tampak seperti koki handal.
"Pagi," sapa Shea dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Pagi." Bryan melangkah menghampiri Shea yang sedang sibuk dengan masakannya. Sampai didekat Shea. Dia memeluk Shea dari belakang dan mendaratkan kecupan di pipi istrinya. "Apa kamu baru saja menemukan kegiatan baru?"
Shea menoleh dan tersenyum pada Bryan. "Iya, aku menemukan kegiatan yang akan menjadi rutinitasku ke depan." Shea menyadari, menjadi ibu rumah tangga seutuhnya memang tidaklah mudah, tapi perlahan dia akan berusaha untuk beradaptasi.
"Tapi kamu meninggalkan aku di kamar sendiri," rajuk Bryan menyadarkan kepalanya di bahu Shea. Pelukany, dia eratkan, seolah dia tidak mau kehilangan istrinya seperti saat bangun tidur.
"Kalau aku menuruti berada dipelukanmu terus, masakanku tidak akan jadi."
"Tapi kecup aku dulu sebelum kamu pergi."
Shea mendaratkan satu kecupan di pipi Bryan. "Pergilah mandi, dan cepat sarapan, jangan sampai kamu terlambat karena menempel padaku seperti lintah."
"Iya, aku akan mengisapmu," ucapnya seraya membenamkan bibirnya dia leher Shea.
"Sayang," teriak Shea saat merasa geli karena Bryan menciuminya.
"Aku akan membuat jejak di lehermu, karena sekarang kamu hanya akan di rumah."
"Jangan macam-macam, aku ada janji dengan Kak Selly," ucpa Shea berusaha menghindar dari Bryan.
"Wah, baru hari pertama dirimu tidak berkerja, tapi kamu sudah ada jadwal."
Shea tertawa mendengar sindiran Bryan. "Ya, biar aku tidak mati bosan di rumah."
"Aku tidak akan membiarkan mati bosan, jadi aku akan selalu menemanimu."
"Sudah hentikan drama pagimu, cepat pergi mandi!" Usaha Shea terakhir kali untuk membujuk Bryan.
"Apa benar kamu tidak mau aku temani?"
"Temani aku saat malam saja, sekarang pergilah mandi!"
"Benarkan malam aku akan menemanimu?" Mata Bryan berbinar saat Shea membahas kegiatan malam. Dia sudah membayangkan kegiatan yang akan menguras tenanganya dsn menciptakan peluhnya.
Shea selalu tahu bagaimana cara membujuk Bryan. Walaupun dirinya harus lelah terlebih dahulu sebagai imbalannya. "Sudah pergi mandi!" Shea memilih mengelak dari pada mengiyakan.
"Baiklah, tapi ingat malam nanti kamu tidak akan lepas dari aku." Bryan menatap seolah memberi peringatan pada Shea. Dia pun berlalu untuk mandi sesuai perintah Shea.
Shea hanya membalas dengan senyuman. Melihat Bryan, Shea tidak pernah menyangka terjebak pada seoarang CEO Adion company. Niatnya mengatarkan berkas berujung dengan hal menyakitkan yang kini berubah menjadi kebahagiaan.
Sebuah rumah tangga tak akan berjalan sempurna. Namun, aku berharap kita bisa menjalani segala rintangan yang ada.
Shea hanya bisa berdoa, jika rumah tangga yang baru di mulainya akan menorehkan cerita indah.
Melanjutkan menyiapkan sarapan, Shea menikmati kegiatan barunya. Menjadi istri sepenuhnya dari seorang Bryan Adion, yang akan tinggal di rumah, dan menunggu suaminya pulang dari kantor.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan vote