My Baby CEO

My Baby CEO
Aku merindukanmu


__ADS_3

Ponsel berdering saat Shea ingin merebahkan tubuhnya. Dia sudah menebak, siapa yang menghubunginya malam-malam. Dengan malas, Shea meraih ponselnya, dan mengangkat sambungan vidio.


"Halo, Sayang," sapa Bryan. Wajahnya dihiasi senyuman saat menyapa istrinya.


Shea benar-benar malas saat Bryan menyapanya. Dirinya benar-benar kesal saat Bryan tidak kunjung pulang.


"Hai, kamu kenapa?" Bryan yang melihat wajah Shea tampak kesal pun bertanya.


"Kamu bertanya kenapa?" Suara Shea tampak begitu geram. Hormon ibu hamil yang tidak stabil memang membuatnya terkadang merasakan sedih, senang, kesal secara tiba-tiba.


"Maafkan aku, bukan niatku tidak pulang, tapi memang perkerjaanku belum selesai." Bryan tahu alasan apa yang membuat istrinya itu sedih.


"Kamu sudah mengatakan hal itu selama dua minggu, dan sekarang kamu masih mengatakan hal yang sama." Shea merasa muak saat Bryan hanya terus menjelaskan tanpa memberi kepastian kapan dirinya pulang.


Sebenarnya Shea tahu, jika sudah jadi kewajiban Bryan tidak akan pulang sebelum urusannya selesai, tapi perasaan rindu Shea begitu menyiksa.


"Apa sebegitu besar kamu merindukan aku?"


Shea diam, sebenarnya dia ingin sekali menangis, apalagi dirinya sudah dua minggu tidak bersama Bryan. Tidak ada pelukan, tidak ada kecupan, tidak ada perdebatan, dan rasanya Shea merindukan semua itu.


"Apa kamu tidak tahu jika aku selalu muntah tiap pagi saat kamu tidak ada? Aku juga tidak bisa tidur tiap malam."


Shea berusaha agar tangisannya tidak keluar. Dia tidak mau terlihat lemah saat di depan Bryan. Walapun sebenarnya perasaanya sekarang ini sedang sangat kacau.


Sebenarnya Bryan juga tidak tega saat mendengar jika Shea muntah setiap pagi karena dirinya tidak ada. "Apa hanya dirimu saja yang merasa tersiska? Aku pun merasakannya juga."


Bryan akui, jika dirinya memang begitu merindukan Shea, tapi perkerjaan yang belum terselesaikan membuatnya selalu menunda dan memberikan janji pada Shea jika dirinya akan pulang.


"Aku merindukanmu," lirih Shea. Saat bibirnya sudah tak mampu lagi menahan kata-kata itu, akhirnya Shea mengucapkamnya.


"Aku juga merindukanmu, Sayang." Seperti mendapatkan undian hadiah, rasanya Bryan senang sekali mendengar ucapan rasa rindu dari Shea.


"Kenapa jika kamu rindu tidak segera pulang." Logika Shea benar-benar tidak berjalan dengan benar. Mungkin pertanyaan itu dirinya sudah tahu jawabannya, tapi tetap saja bibirnya mengatakan itu lagi.


Bryan hanya bisa menghela napasnya. Dia menyadari, jika hormon ibu hamil akan naik turun. "Aku akan segera pulang untuk meluapkan kerinduanku padamu."


Walapun sudah berkali-kali mendengarkan janji Bryan, tapi tetap saja membuat Shea senang. Janji Bryan serasa sebuah harapan bagi Shea, yang akan dinantinya dengan senang.


"Minggu depan aku harus cek ke dokter kandungan, apa kamu sudah bisa pulang?"


Bryan terkesiap mendengar jika Shea akan cek kandungan minggu depan. Dia juga tidak menyangka ternyata sudah secepat itu jadwal cek kandungan Shea. "Aku akan usahakan untuk pulang sebelum kamu pergi ke dokter kandungan."


"Jika tidak?" tanya Shea seolah tidak percaya Bryan akan pulang.


"Aku akan usahakan." Suara Bryan terdengar tegas. Walapun dirinya belum bisa memastikan semuanya, tapi dirinya tidak mau kehilangan kesempatan melihat perkembangan anaknya.


"Lagi pula aku harus menanyakan pada dokter, apakah kandunganmu sudah siap jika aku melakukannya." Bryan menabahkan alasan kenapa dirinya akan tetap pulang.


Pipi Shea langsung merona saat membahas tentang hubungan suami istri. Dia mengingat jika terakhir kali ke dokter, Bryan menanyakan hal itu pada dokter.


"Bukannya dokter sudah bilang tiga bulan," lirih Shea.

__ADS_1


Bryan tersenyum saat ternyata Shea mengingat ucapan dokter. "Apa itu artinya kamu mau melakukannya denganku?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Shea merasa malu saat Bryan melemparkan pertanyaan tentang hubungan intim.


"Karena aku mau melakukannya atas izinmu."


"Kalau tubuh saja memberi respon mengizinkan kenapa perlu jawaban dari bibir."


Bryan hanya bisa mendengus diiringi senyuman saat mendengar ucapan Shea.


Dia benar-benar membuatku gila.


Tak disangka Bryan, jika kata-kata seperti itu bisa keluar dari bibir Shea.


"Rasanya aku ingin langsung membenamkan bibirku di bibirmu, saat bibir kecilmu itu berucap seperti itu," ucap Bryan sudah dengan suara berat. Rasanya Bryan benar-benar tidak sabar melakukan itu pada Shea.


"Pulanglah!"


Suara Shea lirih tapi terdengar menatang bagi Bryan. "Apa kamu sedang mengodaku?"


Shea menaikan bahunya, dan tidak menjawab pertanyaan Bryan.


"Kamu semakin membuatku ingin melakukannya. Jadi jangan salahkan aku jika aku menyusuri lebih ke bawah."


Shea yang mendengar ucap Bryan, reflek langsung menarik selimut dan menutupi dadanya.


Tawa Bryan seketika terdengar saat Shea menutupi dadanya dengan selimut. "Aku sudah melihatnya, memegangnya, dan menyesapnya, lalu untuk apa kamu tutupi."


"Apa tiga bulan kehamilanmu air susu sudah ada?" Bryan yang teringat tentang kegiatan terakhirnya dengan Shea pun bertanya.


Shea semakin menarik selimutnya menutupi wajahnya yang malu dengan pertanyaan yang Bryan berikan.


Melihat Shea yang semakin malu, membuat Bryan semakin semangat untuk mengoda Shea. "Tunggu, aku akan mengambil laptop."


Shea yang mendengar Bryan mengambil laptop membuka selimutnya. Tampak Bryan sedang sibuk membuka laptopnya.


"Kapan air susu ibu akan mulai keluar selama kehamilan," ucap Bryan seraya mengetik di layar laptopnya.


Shea hanya bisa menelan salivanya saat mendengar apa yang diketik Bryan.


"Disini dijelaskan di trimester ketiga, dan tidak semua ibu hamil mengalaminya." Bryan menatap Shea dari layar ponselnya.


Walaupun dengan perasaan malu, tapi Shea pun juga penasaran dengan yang di baca Bryan.


"Jadi besok jika aku melakukannya aku tidak akan meminum air susu." Senyum mengembang di wajah Bryan saat mengucapkan itu papa Shea.


Rasanya Shea ingin menjambak Bryan saat ini juga, karena kata-kata yang keluar dari bibirnya membuatnya malu setengah mati.


"Kenapa?" tanya Bryan polos pada Shea.


"Aku tidak suka membahas itu," ucap Shea lirih.

__ADS_1


"Tidak suka mendengar, tapi suka melakukannya?" goda Bryan.


"Bry ...."


"Sayang," tegur Bryan pada Shea yang memanggilnya dirinya dengan nama.


"Iya, Sayang." Shea membenarkan panggilannya pada Bryan.


Melihat Shea yang malu, Bryan tidak meneruskan untuk mengodanya. "Ya sudah, kalau begitu tidurlah!"


Bryan pun meminta Shea untuk mengarahkan ponselnya ke perut Shea, dan Bryan mencium perut Shea.


"Selamat malam, Sayang, muach..." ucap Bryan.


"Selamat malam, Sayang." Mendapatkan kecupan jarak jauh dari Bryan membuat Shea merasa senang.


Bryan langsung mematikan sambungan telepon dan mengusap kembali nomer lain di ponselnya.


"Halo, Bry," sapa Felix saat menerima sambungan telepon dari Bryan.


"Iya, halo."


"Ada apa?"


"Aku sudah menyelesaikan semua disini, semua bukti juga sudah terkumpul. Aku akan kirimkan padamu, tolong kamu urus."


"Baiklah, aku akan mengurusnya."


"Aku masih harus disini, untuk memantau pembangunan setelah kasus ini."


"Apa kamu tidak apa-apa di sana lebih lama?" Felix menyadari jika Bryan sangat merindukan Shea.


"Aku akan seminggu kedepan disini, dan itu waktu yang pas kamu menyelesaikan urusan disana."


"Baiklah. Aku akan menyelesaikan semua proses hukum disini sesuai bukti-bukti yang sudah kamu berikan."


.


.


.


.


Ini aku kasih 2bab tapi ga bisa banyak.


Jangan lupa like ya dua babnya😀


Kalian suka lupa like kalau dua bab😔


Jangan lupa like dan vote

__ADS_1


__ADS_2