
Setelah empat hari Bryan dan Shea babymoon, kini mereka sudah kembali ke rumah, dan mulai aktifitas kembali.
"Nanti, aku akan ke rumah kak Selly, dan selanjutnya aku akan makan siang dengan kak Selly, Chika dan Jessie," ucap Shea. Matanya tetap fokus memasangkan seutas tali yang melingkar di kerah kemeja milik Bryan.
"Iya, pergilah! Jadwalku hari ini juga padat, jadi aku tidak bisa menemanimu makan siang."
"Apa kamu jadi bertemu dengan perwakilan dari perusaahan yang akan berkerja sama denganmu?"
"Iya, akan akan bertemu dengan perusahaan itu hari ini, dan semoga mereka mau berkerja sama dengan Adion." Bryan sangat berharap bisa berkerja sama dengan perusahaan Davis Company.
Shea sudah mendengar cerita suaminya yang berharap bisa berkerja sama dengan sebuah perusahaan besar. Dengan berkerja sama dengan perusahaan itu, suaminya bisa membuktikan pada papanya jika dia bisa mengembangkan perusahaan. "Aku akan selalu mendukungmu." Shea tersenyum menatap Bryan.
"Terima kasih," ucap Bryan seraya mendaratkan kecupan di dahi Shea. Bryan bersyukur ada istrinya yang selalu mendukungnya. Baginya itu sudah memberikan semangat yang luar biasa.
Saat sudah siap dan rapi, Shea menemani Bryan untuk sarapan. Karena di rumah sudah ada asisten rumah tangga, Shea sudah tidak terlalu kerepotan lagi.
Menyelesaikan sarapan, Shea mengantarkan suaminya sampai di luar rumah menuju ke mobilnya.
"Anak daddy sayang, daddy berangkat berkerja dulu, jaga mommy di rumah ya," ucap Bryan. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya, dan mendaratkan kecupan di perut Shea. Berharap anaknya akan merasakan kecupannya juga.
"Iya, daddy," ucap Shea menjawab Bryan. Suara Shea dibuat mirip seperti anak kecil, dan langsung membuat Bryan menegadah.
Menegakan tubuhnya, Bryan mendaratkan kecupan di pipi Shea. Dia begitu gemas dengan istrinya itu.
Shea hanya tertawa, melihat suaminya yang gemas. "Sudah sana berangkat!"
"Baiklah, aku berangkat." Bryan kembali mendaratkan satu kecupan di dahi Shea sebelum benar-benar berangkat.
"Jangan lupa berikan oleh-oleh pada Felix dan Angel," ucap Shea mengingatkan kembali Bryan.
Bryan hanya memutar bola matanya malas. Dia heran ternyata kemarin Istrinya itu membelikan juga oleh-oleh untuk Felix. "Iya, aku akan berikannya." Bryan berlalu ke mobilnya. Mengijak pedal gas, dia menuju ke kantor.
Shea yang melihat Bryan melanjukan mobilnya, melambaikan tangannya. Saat mobil Bryan sudah tidak ada dalam jangkauannya, Shea masuk ke dalam dan bersiap untuk ke rumah Selly.
Dengan membawa tas dan juga oleh-oleh di tangannya, Shea berjalan menuju rumah Selly. Karena rumah kakak iparnya tidak jauh, dia memilih untuk berjalan kaki.
"Shea," panggil Selly. Selly yang sedang menyirami tanaman, melihat Shea yang berjalan ke rumahnya.
"Hai, Kak," sapa Shea dengan senyum mengembang.
"Kenapa tidak meminta Bryan untuk mengantar?"
"Tidak, aku memang ingin berjalan kaki." Bryan tadi memang sudah menawari Shea, tapi Shea tidak mau karena beralasan ingin berjalan agar sehat.
Selly tersenyum. Dia tahu adik iparnya ini bukan tipe manja seperti dirinya. Hanya untuk ke rumah Bryan dan Shea saja dirinya meminta Regan untuk mengantarkan. "Ya sudah, ayo masuk!" ajak Selly.
Shea mengangguk dan mengikuti Selly masuk ke dalam rumah. Mereka langsung menuju ke taman ruang keluarga.
"Kak, ini oleh-oleh untuk kakak." Shea menyerahkan paper bag pada Selly.
"Wah ... ternyata aku dibelikan oleh-oleh." Selly menerima paper bag yang diberikan oleh Shea. "Terima kasih," ucapnya kembali.
"Sama-sama."
"Sayang sekali aku tidak bisa melanjutkan babymoon kemarin," ucap Selly mencebikkan bibirnya. Dia teramat kesal karena harus kembali lebih awal.
"Memang kak Regan harus bertemu siapa, sampai harus segera kembali?"
"Perawakilan Global Company."
Mendengar nama perusahaan yang disebut kakak iparnya, Shea sudah tahu sepenting apa perusahaan itu bagi Regan.
"Oh ya, apa benar kamu kemarin memakai baju yang aku berikan?" tanya Selly saat teringat dengan baju yang dia berikan.
"Benar, Kak aku memakainnya."
Selly menatap dua bola mata Shea, menelisik ada tidaknya kebohongan dari ucapan Shea.
"Aku ada bukti," ucap Shea. Dia sudah menebak jika Selly tidak akan mudah percaya. Sebagai sesama ibu hamil, dia bisa merasakan bagaimana keingannya yang ingin selalu dipenuhi.
"Mana?" Selly penasaran bukti apa yang akan diberikan oleh Shea.
__ADS_1
Shea mengambil ponsel di dalam tasnya. Mengusap layar ponselnya, dia mencari galery ponselnya. "Ini." Shea menunjukan fotonya memakai baju tidur dengan G-strings pada Selly.
Sebelum kemarin dirinya keluar dari kamar mandi, dia sengaja memfoto dirinya, untuk bukti pada Selly. Awalnya dia ingin mengirim pada Selly saat itu juga, tapi seketika dia teringat pada Regan. Dia tidak mau sampai Regan melihat foto sexy miliknya di ponsel Selly. Akhirnya dia memilih menunjukannya nanti saat sudah sampai di rumah.
"Bagus kalau kamu memakainya," ucap Selly senang.
Melihat Selly yang senang, Shea merasa lega. Tenyata, tidak sia-sia dirinya menyimpan foto itu.
"Lalu bagaimana reaksi Bryan?" Selly tidak sabar mendengar cerita Shea yang memakai baju yang dia berikan.
"Maaf, Kak, baju itu dirobek oleh Bryan," ucap Shea lirih. Dia benar-benar merasa tidak enak saat menjelaskan apa reaksi Bryan.
Melihat wajah Shea yang merasa bersalah, Selly langsung tergelak. "Kenapa wajahmu seperti itu?"
"Aku merasa tidak enak karena tidak bisa menjaga pemberian Kak Selly."
Selly masih tertawa berbahak. "Dengar, Se! Baju itu memang fungsinya untuk dirobek," ucap Selly.
Mendengar ucapan kakak iparnya, Shea teringat pada ucapan Bryan yang sama persis dengan yang diucapkan Shea. "Kenapa ucapan Kak Selly sama dengan Bryan." Akhirnya Shea pun bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Bryan berkata sama dengan yang aku katakan?" tanya Selly, dan Shea mengangguk. Selly tersenyum melihat anggukan Shea. "Jadi biasanya para pria yang gemas atau tidak sabar, akan merobek saat melakukannya."
Shea mencerna penjelasan dari Selly. Namun, tetap saja tidak bisa dia terima alasan itu. Bagi Shea itu adalah hal pemborosan.
"Regan juga sering melakukannya," tambah Selly.
Kak Regan juga? Rasanya Shea tidak bisa percaya jika seorang Regan melakukan hal yang sama dengan Bryan.
"Sudah, jangan bingung seperti itu, itu hanya sensasi saja. Ya ... biar tidak bosan saja."
Shea hanya bisa mengangguk-angguk mendengar penjelasan Selly.
"Apa kita mau pergi sekarang?" tanya Selly mengalihkan pembicaraan.
"Iya, sekarang saja, karena kita harus mampir ke rumah mama terlebih dahulu." Shea yang ingin memberikan oleh-oleh pada mertuanya, berniat mampir terlebih dahulu sebelum ke kantor Regan untuk makan siang dengan Jessie dan Chika.
"Baiklah, aku akan ambil tas terlebih dahulu." Selly berdiri dan berlalu mengambil tasnya. Mereka pergi sesaat setelah Selly mengambil tasnya.
***
Karena waktu istirahat masih sekitar tiga puluh menit, akhirnya Selly mengajak Shea untuk menunggu Jessie dan Chika di ruangan Regan.
Shea tidak punya pilihan selain ikut dengan Selly. Setelah mengetuk pintu ruangan, Shea dan Selly masuk ke dalam ruangan Regan.
"Kalian sudah datang?" tanya Regan.
"Iya," ucap Selly. Dia melangkah menghampiri Regan dan menautkan pipinya pada pipi suaminya.
"Mau makan di mana kalian?" tanya Regan.
"Kami akan makan di mal dekat sini saja."
"Bagaimana kabarmu, Se?" Regan menatap Shea dan bertanya.
"Baik, Kak." Walapun Shea sering bertemu dengan Regan, mereka selalu tidak terlalu banyak bicara. Pembicaraan mereka hanya ala kadarnya saja.
Regan mengangguk. Bersama dengan Selly, Shea menunggu waktu istirahat. Sambil menunggu Selly dan Shea membaca artikel kehamilan bersama-sama. Mencari info yang akan membuat panduan mereka berdua.
Saat jam menunjukan sudah waktu istirahat, Selly dan Shea berpamitan dengan Regan, dan menghampiri Jessie dan menuju lobby bersama untuk bertemu dengan Chika.
***
Sesampainya di restoran Shea, Selly, Chika, dan Jessie duduk di meja yang sudah mereka pesan.
"Ini untuk kalian," ucap Shea memberikan paper bag berisi oleh-oleh pada dua temannya.
"Dari mana kamu, Se?" tanya Chika yang ingin tahu.
"Aku kemarin ke pantai."
"Wah, kenapa kamu tidak mengajakku," ucap Chika.
__ADS_1
"Kamu ini, Shea pergi untuk babymoon, bagaimana bisa dia mengajakmu," timpal Jessie.
"Oh ... ternyata kamu pergi babymoon," ucap Chika, "tidak bisa honeymoon akhirnya kamu pergi babymoon," goda Chika melanjutkan ucapannya.
"Kenapa Shea tidak honeymoon." Pertanyaan lolos dari Jessie yang mendengar ucapan Chika.
Shea, Selly dan Chika langsung terkesiap saat mendengar pertanyaan Jessie. Memang dari mereka berempat, hanya Jessie yang tidak tahu jika Shea hamil lebih dulu sebelum menikah.
"Dulu, Shea dan suaminya menunda honeymoon, tapi ternyata Shea hamil, akhirnya mereka tidak jadi pergi honeymoon." Chika menjelaskan pada Jessie.
"Jadi akhirnya menganti honeymoon dengan babymoon ya, Se," ucap Jessie tertawa kecil.
"Iya," ucap Shea terbata. Dia sadar, jika hanya keluarga Bryan dan Regan yang tahu jika Shea hamil di luar nikah.
Shea patut bersyukur, kejadian itu tertutup rapat. Apalagi sekarang hubungannya dengan Bryan sudah jauh lebih baik, jadi keburukan biarlah menjadi cerita yang hanya mereka yang tahu.
Mereka pun akhirnya menikmati makan siang mereka. Sesekali mereka menyelipkan obrolan para wanita, tentang diskon dan baju keluaran terbaru.
Saat mereka bersiap untuk pulang, Selly dan Shea izin ke toilet sebentar. Ibu hamil seperti Shea dan Selly memang harus rela bolak balik ke toilet.
Shea yang sudah selesai lebih dulu, memilih menunggu Shea untuk keluar dari toliet. Saat menunggu Selly, Shea mengedarkan pandangan melihat-lihat seisi mal.
Namun, saat melihat-lihat, matanya terfokus pada satu sudut restoran. Dari kejuhan, dia melihat seorang pria yang sudah sangat dia hapal siapa dia.
Bryan, batin Shea yang melihat sosok pria yang duduk di sudut restoran adalah suaminya. Karena posisi Bryan duduk di dekat kaca restoran, jadi Shea bisa melihat dengan jelas tubuh Bryan.
Fokus Shea beralih pada seseorang yang duduk di depan Bryan. Dia melihat seorang wanita cantik dengan postur tubuh ideal dan tampak elegan.
Bryan bilang dia akan menemui perusahaan yang akan berkerja sama dengannya, mungkin saja itu sekertaris atau perwakilan dari perusahaan itu.
Shea tidak mau berpikir buruk pada suaminya. Apalagi dia melihat Bryan tampak biasa saja, dan tidak bermesraan. Jadi dia bukan salah satu istri yang menemukan suaminya berselingkuh.
Aku akan menanyakannya nanti.
"Se," panggil Selly.
Panggilan Selly seketika membuat fokus Shea teralih. Dia langsung berbalik dan menatap kakak iparnya itu.
"Ayo!" ajak Selly.
"Iya, Kak," ucap Shea. Shea pun mengikuti Selly menghampiri Jessie dan Chika.
Mengantarkan Jessie dan Chika kembali ke kantor, Shea dan Selly pulang setelah menurunkan Jessie dan Chika di lobby kantor.
Sepanjang jalan Shea diam saja. Dia masih memikirkan dengan siapa Bryan di restoran tadi.
"Apa kamu baik-baik saja, Se?" Selly yang menyadari jika Shea diam saja, akhirnya bertanya.
"Iya, Kak, hanya lelah saja." Shea tidak mau kakak iparnya tahu apa yang dipikirkan.
"Aku juga lelah," jawab Selly, "setelah ini sebaiknya kita istirahat," lanjut Selly.
"Iya, Kak."
Shea turun dari mobil Selly dan mengucapkan terimakasih. Dia masuk ke dalam rumah setelah mobil Selly melaju kembali.
.
.
.
.
.
...**Pasti kalian ngerasa dua hari ini dikit banget tiap babnya....
...Lagi ga semangat ni😔...
...Yuk di bantu buat semangat lagi....
__ADS_1
...Vote sebanyak-banyaknya ya, biar akunya semangat lagi**...
...Jangan lupa Like dan Vote...