My Baby CEO

My Baby CEO
Langkah pertama


__ADS_3

Bryan yang datang ke kantor pagi ini, terlihat sangat bahagia. Wajah garangnya sedikit terhiasi oleh senyuman. Saapan karyawan yang biasa dia jawab dengan anggukan saja, sekarang dia tambahi dengan sedikit senyum.


"Pagi," sapa Bryan pada Felix.


Mendengar Bryan menyapa, sudah bisa Felix pastikan, jika Bryan sedang dalam suasana hati yang senang. Apalagi Felix melihat jelas wajah Bryan yang berhiaskan senyuman.


"Berhasil?" Walapun sudah bisa menebak jika apa yang di lakukan Bryan kemarin berhasil, tapi Felix ingin mendengar ucapan dari mulut Bryan.


"Apa kamu meragukan kemampuanku?" Bryan menyombongkan dirinya pada Felix. Seraya melangkah membuka pintu ruangnnya, Bryan meninggalkan Felix yang berdiri di depan pintu ruangan Bryan.


Felix yang begitu penasaran mengikuti Bryan yang masuk ke dalam ruangannya. Ikut mendudukan tubuhnya di kursi, Felix menatap Bryan menunggu Bryan menceritakannya.


"Jadi, kamu sudah menyatakan cinta pada Shea?"


"Sudah."


"Di terima?" Felix yang begitu penasaran memajukan tubuhnya menunggu jawaban Bryan.


Bryan memikiran apa yang Shea katakan padanya kemarin. "Dia tidak bilang mau menerima, tapi dia bilang, dia memberiku kesempatan."


"Kesempatan?" tanya Felix mamastikan.


"Iya."


"Berarti masih ada kemungkinan di tolak." Ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Felix.


Bryan yang sedang sangat bahagia, tiba-tiba di buat kesal saat mendengar ucapan Felix. "Kamu senang sekali merusak suasana." Bryan memutar bola matanya, merasakan kekesalannya pada Felix.


Felix tertawa melihat wajah Bryan yang bahagia berubah kesal. "Aku hanya bertanya."


"Kalau aku bisa membuktikan, jika aku benar-benar mencintai Shea, aku yakin Shea tidak akan menolak diriku."


"Cara?"


"Aku akan membuat Shea jatuh cinta padaku," ucap Bryan dengan percaya diri.


Felix hanya bisa menjawab dengan senyuman yang dia paksakan, karena bingung harus menanggapi bagaimana ucapan Bryan. Felix hanya bisa berharap, jika Bryan akan bisa mendapatkan hati Shea, mengingat Shea yang begitu keras, akan butuh perjuangan lebih untuk Bryan.


"Tapi aku tidak tahu membuat wanita jatuh cinta," ucap Bryan. "Lalu apa yang harus aku lakukan?" Bryan menatap Felix meminta pendapat temannya itu.


"Mana aku tahu bagiamana membuat wanita jatuh cinta, yang aku tahu hanya membuat wanita jatuh ke dalam pelukanku, dan membawanya ke ranjang panas milikku."


Bryan hanya bisa mendengus kesal saat mendengar ucapan Felix. Bryan menertawakan dirinya sendiri saat ternyata kedua hal yang di ucapan Felix tidak ada yang bisa dia lakukan.


Membuat Shea jatuh cinta saja sudah berat, apa lagi membuat Shea ke dalam pelukanku dan ke ranjang panasku.


Batin Bryan hanya bisa meronta mengingat, jika dia tidak akan bisa dengan mudah menyentuh Shea.


"Lalu bagaimana caranya?" gumam Bryan memikirkan apa yang bisa membuat Shea jatuh cinta.


"Coba kami cari di internet, ketik disana 'bagaimana membuat wanita jatuh cinta'." Felix memberikan ide pada Bryan.


Mendengar ide Felix. Bryan berpikir tidak ada salahnya, dirinya mencoba. Mengambil ponselnya di saku jas yang melekat di tubuhnya, Bryan mengusap layar ponselnya.


Mencari pencarian di aplikasi, Bryan mengetik seperti apa yang di perintahkan Felix.


"Dapat?" tanya Felix yang melihat Bryan yang sibuk mencari info di layar ponselnya.


"Disini ditulis, harus perhatian," ucap Bryan. Bryan memikirkan apakah dirinya sudah perhatian apa belun pada Shea.


"Ya sudah, lakukan saja."


"Bukannya aku sudah melakukannya," ucap Bryan. "Kemarin aku menjaga Shea saat dia sakit ."


"Berarti itu sudah kamu lakukan," ucap Felix. "Coba yang lain." Felix meminta Bryan untuk mencari lagi informasi di dalam ponselnya.


"Merayu, memberikan hadiah, mengajak kencan." Bryan membaca tulisan di ponselnya. Mengerutkan dahinya, Bryan binggung saat dirinya harus merayu, karena Bryan jarang merayu.


"Ya sudah lakukan saja."


"Tapi bagaimana caranya?"


Felix hanya mendengus kesal mendengar Bryan bertanya terus. "Sebaiknya kamu baca dan pahami, jangan bertanya terus," ucap Felix seraya berdiri.


"Kamu mau kemana?" Bryan yang melihat Felix berdiri pun bertanya.


"Aku mau kembali kerja."


"Oh..."


"Apa kamu mau aku menemanimu saja disini," goda Felix.


"Tidak, kamu kembali berkerja saja, aku tidak mau perusahaanku rugi hanya karena membayar dirimu yang tidak melakukan perkerjaan." Bryan pun mengusir Felix.


Felix hanya menatap Bryan malas, dan berlalu meninggalkan Bryan, untuk melanjutkan perkerjaanya.


Tapi langkahnya terhenti saat mengingat, beberapa berkas yang belum di selesaikan oleh Bryan. "Jangan lupa selesaikan berkas-berkas kemarin," ucap Felix mengingatkan.


Bryan kembali memainkan ponselnya, berselancar mencari informasi bagaimana membuat Shea mencintai dirinya, dan mengabaikan Felix.


"Bry..." panggil Felix kembali.


"Iya." Bryan menjawab malas ucapan Felix tentang perkerjaan yang harus dia lakukan.


Bryan akhirnya meletakkan ponselnya, dan melanjutkan perkerjaanya. Bryan harus rela meninggalkan kegiatannya mencari cara untuk membuat Shea jatuh cinta, karena memang perkerjaanya sudah menantinya.


Perkerjaannya yang menumpuk beberapa hari, karena dia tidak masuk kerja, memang belum selesai dia kerjakan sepenuhnya, jadi mau tidak mau Bryan harus berkerja extra untuk menyelesaikannya.


***


Bryan yang sibuk dengan berkas dan lapotopnya, melirik ke arah jam sesekali. Bryan ingin memastikan, jika dirinya tidak akan terlambat untuk mengajak Shea untuk makan siang.


Merasa jam sudah menunjukan pukul sebelas, Bryan mengakhiri perkerjaanya. Merapikan berkasnya, Bryan berlalu keluar ruangan.


"Mau kemana kamu?" tanya Felix yang melihat Bryan terlihat ingin pergi.


"Makan siang."

__ADS_1


"Makan siang?" tanya Felix. Felix melihat jam tangan yang melingkar di tangannya untuk memastikan jam berapa sekarang. "Masih jam sebelas."


"Aku ada janji dengan Shea makan siang." Bryan menjelaskan pada Felix alasannya keluar ruangannya lebih awal.


Felix tidak bisa melarang Bryan untuk makan siang dengan Shea. Apalagi Bryan yang sedang jatuh cinta, pasti selalu ingin bertemu dengan Shea.


"Aku pergi dulu," ucap Bryan seraya melangkahkan menuju ke lift, meninggalkan Felix.


***


Sesampainya di kantor Shea, Bryan menghubungi Shea, tapi sayangnya Shea tidak mengangkat sambungan telepon dari Bryan.


"Kemana dia?" Bryan memikirkan apa yang terjadi dengan Shea. "Jangan-jangan..." Pikiran Bryan melayang memikirkan apa yang di kerjakan oleh Shea dan Regan.


Membuka seatbelt yang terpasang di tubuhnya, Bryan turun dari mobil. Dengan langkah cepat, Bryan menuju ke ruangan Regan.


Keluar dari lift, dari kejauhan, Bryan melhat Shea yang duduk di meja kerjanya, dan sibuk dengan perkerjaannya.


Bryan merasa sangat lega, saat melihat Shea yang sibuk dengan perkerjaan. Apa lagi ternyata ada wanita yang duduk di sebelah Shea, Bryan semakin yakin, jika Shea dan Regan tidak akan mudah melakukan apa-apa.


Melangah mendekat ke arah meja. Bryan melihat wajah cantik Shea yang sedang tampak serius saat berkerja.


"Siang," sapa Bryan.


Shea dan Jessie yang sedang sibuk dengan perkerjaanya, tidak menyadari kedatang Bryan.


"Bryan kamu disini." Shea yang keget saat melihat Bryan ada di kantornya, langsung berdiri.


"Iya, tadi aku menghubungi dirimu tapi tidak bisa."


"Oh ya," ucap Shea. Shea langsung mencari ponselnya di dalam tas, untuk mengecek kenapa Bryan tidak bisa menghubunginya. "Ponselku mati," ucap Shea saat melihat ponselnya.


"Kenapa bisa mati?"


"Sepertinya baterai poselnya memang sudah rusak," jelas Shea. "Kamu ada apa kemari?" tanya Shea yang teringat dengan kedatangan Bryan.


"Bukannya kita ada janji makan siang?"


Melihat jam di pergelangan tangannya, Shea melihat waktu istirahat masih tiga puluh menit.


"Ini belum jam istirahat, kenapa kamu sudah sampai disini?"


Bryan hanya mengaruh kepalanya yang tidak gatal saat mendapat pertanyaan dari Shea. "Aku tidak mau terlambat, menjemputmu untuk makan siang."


Shea hanya bisa mendengus dan memberikan selipan senyum di ujung bibirnya, saat mendapati jawaban Bryan. "Baiklah, tunggulah di kursi itu, aku masih harus menyelesaikan perkerjaanku."


"Baiklah." Bryan melangkah menuju kursi sofa yang terdapat di depan meja kerja Shea. Kursi sofa yang memang di peruntukan untuk tamu yang biasa ingin bertemu dengan Regan.


"Dia kekasihmu, Shea?" tanya Jessie.


Shea yang mendengar pertanyaan dari Jessie pun menoleh pada wanita yang sekarang jadi rekan kerjanya itu. "Dia suamiku," jelas Shea.


"Kamu sudah menikah?" Jessie merasa kaget saat mendengar, jika Shea sudah menikah.


"Iya."


Saat sedang menunggu Shea, Bryan melihat Regan keluar dari ruangannya. Regan tampak menghampiri Shea, dan itu langsung membuat Bryan berdiri untuk menghampirinya.


Mendengar langkah sepatu, membuat Regan menoleh. "Kamu disini?" tanya Regan yang kaget dengan keberadaan Bryan.


"Iya, aku menjemput Shea untuk makan siang." Bryan menjelaskan kedatanganya.


"Ternyata kamu sudah punya janji, pantas kamu tadi menolak untuk makan siang bersama," ucap Regan menatap Shea.


"Iya, Pak. Maaf sudah menolak."


"Ya, tidak apa-apa, pergilah!"


Bryan menajamkan pandangannya pada Regan, saat mendengar jika Regan tadi juga mengajak makan siang Shea.


"Ayo, sebelum jalanan macet," ucap Bryan pada Shea.


"Iya." Shea mengambil tasnya, dan melangkah menuju ke lift.


***


Shea dan Bryan memilih makan siang dia mall dekat Maxton Company. Selain jaraknya tidak terlalu jauh dengan kantor, pilihan makannya jauh lebih banyak.


Setelah menentukan akan makan apa. Shea dan Bryan berbelok di restoran yang mereka berdua pilih.


"Memangnya tadi kamu akan makan siang dengan Kak Regan." Di sela-sela menunggu makanan datang, Bryan bertanya.


"Iya, tadi dia mengajakku tapi aku langsung menolaknya."


"Memangnya saat kamu menolak kamu tidak jelaskan, jika kamu akan makan siang dengan aku?" Bryan mengingat, jika Regan baru tahu alasan Shea setelah dirinya datang.


"Tidak."


"Kenapa?" Bryan begitu penasaran kenapa Shea tidak mengatakan kenyataan jika dia akan makan siang bersama dirinya.


"Karena dia tidak bertanya."


"Kalau dia tidak bertanya, bukannya kamu bisa jelaskan." Bryan masih tidak terima dengan alasan Shea.


"Untuk apa aku jelaskan, jika dia saja tidak bertanya." Shea tidak habis pikir dengan Bryan, kenapa seolah tidak terima dengan jawabannya.


"Iya, tapi..."


"Kamu cemburu?" potong Shea sebelum Shea menyelesaikan ucapannya.


"Iya," ucap Bryan malas.


"Kak Regan mengajak aku makan bersama Kak Selly, bukan berdua saja," ucap Shea dengan senyum


"Oh ya, dengan Kak Selly juga?"


"Iya," jawab Shea seraya mengangguk.

__ADS_1


Bryan yang tadinya berpikir, jika Regan akan makan berdua dengan Shea saja, merasa lega saat ternyata Selly lah yang mengajak Shea makan siang.


Saat makanan datang, Shea dan Bryan memulai makannya.


"Kamu..."


"Bryan, jam istirahat tidak banyak, bisakah kita makan dulu, dan melanjutkan obrolan di apartemen saja." Shea menatap Bryan penuh harap. Shea menyadari, jika sebagai karyawan biasa, dirinya tidak boleh sampai mengulur jam istirahat.


Bryan yang tadi sudah berencana untuk merayu sesuai artikel yang di bacanya, akhirnya mengurungkan niatnya, setelah mendengar ucapan Shea.


Aku akan merayunya nanti saja.


Merasa rencananya gagal, Bryan akan melalukan rencananya nanti di apartemen.


Setelah menyelesaikan makannya, Shea dan Bryan kembali ke kantornya. Tapi langkah Shea terhenti, saat melihat toko ponsel.


"Aku akan membeli baterai ponselku sebentar," ucap Shea seraya berbelok di toko ponsel.


Masuk ke dalam toko ponsel, Shea langsung menanyakan pada karyawan toko. " Maaf bisakah saya membeli baterai untuk ponsel ini?" tanya Shea seraya menunjukan ponsel miliknya.


Karyawan toko menerima ponsel yang di sodorkan Shea. Melihat ponsel Shea, karyawan toko menyadari sesuatu. "Baterai ponsel ini baterai tanam, jadi jika ingin di ganti harus ditinggal terlebih dahulu."


Mendengar ponselnya harus ditinggal terlebih dahulu Shea menimbang. "Baiklah." Shea tidak ada pilihan lain selain meninggalkan ponselnya.


Karyawan toko pun, memberikan bukti untuk pengambilan ponsel milik Shea, setelah menerima ponsel milik Shea.


"Terimakasih." Shea pun melangkah keluar dari toko ponsel. Tapi sejenak Shea lupa jika dirinya tadi bersama Bryan. Shea yang sibuk mengurusi ponselnya, mengabaikan Bryan begitu saja.


Mengedarkan pandangan, Shea mendapati Bryan melangkah ke arahnya. Tangan Bryan nampak membawa paper bag, tapi karena paper bag polos Shea tidak tahu apa yang di beli Bryan.


"Sudah selesai?" tanya Bryan.


"Sudah." Mata Shea beralih ke paper bag yang di bawa Bryan. "Beli apa kamu?" Shea yang penasaran tergelitik untul bertanya.


"Sudah, ayo cepat kembali ke kantor, sebelum jam istirahatmu habis."


Shea yang menyadari jika yang di katakan Bryan benar, langsung melangkahkan kakinya menuju mobil Bryan.


Setelah Shea dan Bryan masuk ke dalam mobil, Bryan melajukan mobilnya menuju kantor Shea.


Jarak kantor yang tidak jauh, membuat perjalanan mereka lebih singkat.


Sampai di lobby kantor, Shea melepas seatbelt yang melekat di tubuhnya.


"Ini," ucap Bryan seraya menyerahkan paper bag pada Shea.


Shea yang baru saja melepas seatbelt, menoleh ke araha Bryan dan beralih pada paper bag yang di di serahkan Bryan.


"Apa ini?" tanya Shea seraya menerima paper bag dari Bryan. Tangan Shea langsung membuka isi paper bag yang di berikan oleh Bryan.


"Ponsel?" Mata Shea langsung beralih menatap Bryan. "Untuk apa ponsel ini?"


"Ponselmu mati bukan?"


"Iya, tapi kamu lihat bukan, tadi aku membelikan baterainya."


"Aku lihat," ucap Bryan.


"Lalu kenapa kamu membelikan ponsel untukku?"


"Agar aku bisa menghubungimu."


"Tapi..."


"Aku tidak menerima alasan apapun." Suara Bryan lebih tegas dari sebelumnya. "Turunlah, sebelum mau terlambat."


Shea melihat jam di pergelangan tangannya, dan menyadari jika waktu istirhatnya sudah hampir habis.


"Aku belum selesai meluapkan kekesalanku," ancam Shea pada Bryan.


Bryan hanya tersenyum mendengar ancaman Shea.


Shea langsung membuka pintu mobil, dan berlalu menuju kantornya.


"Se..." panggil Bryan


Suara Bryan menghentikan langkah Shea yang baru saja berpijak keluar dari mobil. Membalikkan tubuhnya, Shea menatap Bryan.


"Pasang sim card milikmu, agar aku bisa menghubungimu."


Shea hanya mendengus kesal. Sebenarnya Shea ingin melanjutkan kekesalannya. Tapi dirinya tidak punya waktu.


"Iya," jawab Shea dan berlalu keluar dari mobil.


Melihat Shea turun dari mobil, Bryan menarik senyum di wajahnya.


"Memberi perhatian, di saat yang tepat."


Bryan yang tadi melihat Shea ingin menganti baterai ponsel, sebenarnya ingin melarang, dan meminta Shea untuk membeli ponsel baru. Tapi Bryan sadar, jika akan ada perdebatan jika dirinya melarang. Akhirnya Bryan memilih membelikan ponsel tanpa bertanya pada Shea.


Melajukan mobilnya Bryan kembali ke kantor dengan senang, karena langkah pertamanya berhasil. Tinggal melanjutkan melawan perdebatan dengan Shea selepas kerja.


.


.


.


.


.


Selamat membaca.


Up jm 12.


Sementara 1 bab perhari.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote😉


__ADS_2