My Baby CEO

My Baby CEO
Kegiatan baru


__ADS_3

Setelah sepakat untuk memberi kesempatan pada Bryan, Shea kembali melanjutkan memakan makanannya.


"Apa tidak menyentuhmu itu termasuk tidak mencium atau memeluk dirimu?"


Pertanyaan Bryan yang terdengar, membuat Shea yang sedang makan menegadah. Mata Shea menatap Bryan dengan tatapan tajam seolah siap menerkam Bryan, saat mendengar ucapan Bryan.


"Oke, oke," ucap Bryan dengan diringi senyum. Bryan mengartikan tatapan Shea, berarti dirinya tidak boleh mencium atau memeluknya. Bryan kembali melanjutkan makannya, karena dia tidak mau membuat Shea kesal.


Harusnya aku lebih bersabar.


Bryan hanya bisa merutuki kesalahannya saat memberikan pertanyaan pada Shea. Bryan menyadari, membuat Shea luluh bukan perkara mudah.


Setelah menyelesaikan makannya, Bryan dan Shea memutuskan untuk pulang. Melajukan mobilnya, Bryan menuju ke aprtamennya. Perasaan bahagia masih melingkupi hatinya. Bryan masih tidak menyangka, jika Shea akan memberinya kesempatan.


"Sejak kapan kamu menyukai aku?" tanya Shea yang memecah keheningan di dalam mobil.


Bryan yang sedang fokus pada jalanan di depannya, langsung menoleh.


"Aku sendiri tidak tahu kapan perasaan itu datang, tapi sejak aku bertemu denganmu pertama kali, hidup kacau."


"Kacau?" Dahi Shea mengerut saat mendengar ucapan Bryan.


"Iya, setelah aku melakukan hubungan intim denganmu, aku sama sekali tidak bisa berhubungan lagi dengan yang lain. Pikiranku hanya tertuju padamu."


"Jangan membohongi aku, aku melihat baju berserakan dan suara desahan di malam pertama kita." Shea mengingat dengan jelas seperti apa malam pertamanya.


Bryan mengingat kembali pada kejadian di malam pertamanya dengan Shea. "Aku memang membawa dan mencoba melakukannya dengan wanita itu. Tapi aku merasa gairahku lenyap begitu saja, saat melakukannya," ucap Bryan menatap sejenak pada Shea. "Bayanganmu membuatku tidak bisa menikmati kegiatan itu, dan sejak itu aku tidak melakukannya lagi," lanjut Bryan


"Berarti kamu mencintai aku karena tubuhku?" Pertanyaan yang terdengar dengan nada kesal terlontar dari Bryan.


"Jujur, awalnya aku pikir jika aku memang terobsesi dengan tubuhmu. Mengartikan, jika rasa gelisah dalam hatiku karena aku teringat pada tubuhmu. Sampai saat aku merasakan rasa cemburu, dan aku baru sadar, jika perasaanku bukan sekadar mencintaimu karena nafsu belaka."


Mata Shea menelisik, mencari-cari jejak kebohongan dari ucapan Bryan.


"Cemburu dengan Kak Regan?" tanya Shea memastikan.


"Iya, aku cemburu saat kamu pergi berdua dengannya ke luar kota, aku cemburu saat kamu memujinya, aku juga cemburu saat kamu menatapnya dengan tatapan berbeda saat menatapku," jelas Bryan.


Shea yang mendengar ucapan Bryan, hanya terkesiap. Dirinya benar-benar tidak tahu jika kedekatannya dengan Regan akan membuat Bryan cemburu.


"Aku sadar, Se, jika aku sangat buruk." Bryan mengingat bagaimana seringnya dirinya meniduri wanita, dan mungkin itu akan membuat Shea jijik padanya. "Hingga mungkin, aku tidak pantas bersanding dengan dirimu," lanjut Bryan.


Shea menyadari, jika Bryan yang dulu sungguh membuatnya jijik. Bagaimana dia membawa wanita ke apartemen saat ada dirinya, memberi kesan seburuk apa Bryan di matanya. Tapi melihat kesungguhan Bryan, rasanya terlalu egois, jika dirinya menghakimi seburuk apa Bryan hingga tidak pantas bersama dengannya.


Tidak terasa perjalanan mereka sampai di apartemen, memarkirkan mobilnya, Bryan sejenak masih dalam pikiranya. Pikiran dimana dirinya yang terlalu hina untuk seorang Shea.


"Tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk memperbaiki keburukannya, karena terkadang mereka tidak sadar akan keburukannya."


Mendengar suara Shea yang lembut, Bryan menatap pada Shea. Sorot mata Shea yang teduh, seketika membuat hati Bryan merasa tenang.


"Gunakan kesempatanmu, karena aku akan selalu mendukungmu." Senyum tertarik di ujung bibir Shea, menyakinkan jika Bryan akan bisa merubah semua yang ada dalam dirinya.


"Apa kamu mau menungguku berubah?" Pertanyaan yang lebih terdengar sebagai pergharapan terucap dari mulut Bryan.


Shea mengangguk di sertai senyuman.


Entah bagiamana Bryan bisa mengungkapkan rasa bahagianya. Mendapatkan wanita secantik dan sebaik Shea, tidak pernah terbayang olehnya. Walapun dulu Bryan pernah melakukan hal buruk pada Shea, tapi tidak sedikitpun Shea membalasnya. Shea malah memberinya kesempatan untuk berubah.


"Bolehkah aku memelukmu?"


Pertanyaan Bryan langsung membuat mata Shea melebar. "Bry..."


"Oke, oke," ucap Bryan, yang tahu jika Shea tidak akan memberikan pelukan padanya.


Aku pikir di saat bahagia seperti ini akan ada pengecualian.


Bryan yang berharap dapat pelukan dari Shea, seketika lenyap saat mendapat tatapan dari Shea.


***


Mata Shea mengerjap, saat merasakan perutnya bergejolak pagi ini. Shea sudah tahu, akan apa yang terjadi selanjutnya setelah perutnya terasa mual. Menyibak selimutnya, Shea langsung menuju ke kamar mandi.


Hoek...hoek..


Shea langsung memuntahkan isi perutnya.


Tubuh Shea sektika merasa lemas saat memuntahkan isi perutnya. Keluar dari kamar mandi, Shea menuju ke tempat tidur. Berniat ingin meraih gelas berisi air minum, Shea mendapati jika gelas telah kosong. Dengan langkah gontai, Shea menuju ke dapur. Tapi saat baru saja keluar dari kamar, Shea bertemu dengan Bryan.


"Shea," ucap Bryan melihat wajah pucat Shea. "Apa kamu muntah lagi?" tanya Bryan, dan mendapati anggukan dari Shea.

__ADS_1


"Ayo duduklah di kursi, aku akan membuatkan teh herbal." Bryan melangkah bersama Shea menuju ke dapur. Menarikkan kursi untuk Shea, Bryan membantu Shea untuk duduk. Bryan langsung beralih menuju ke dapur untuk membuatkan Shea teh herbal, untuk meredakan mual yang di rasa Shea.


"Minumlah!" ucap Bryan seraya menarik kursi dan ikut duduk tepat di samping Shea.


Tangan Shea meraih cangkir berisikan teh herbal buatan Bryan. Meminum perlahan, Shea merasakan perutnya menghangat. Seketika rasa mualnya perlahan mereda.


"Aku sudah bilang bukan, tidurlah bersama denganku, kamu tidak akan mual."


Mendengar ucapan Bryan, Shea memutar kedua bola matanya. Dirinya benar-benar malas, dengan ucapan Bryan. Semalam, Bryan sudah mengucapkan kalimat itu berulang kali, tapi Shea menghiraukannya.


"Cobalah malam ini tidur denganku, kalau tetap mual, berarti aku salah." Senyum tertarik di ujung bibirnya. Bryan benar-benar merasakan senang, saat ternyata Shea muntah pagi ini. Dengan muntahnya Shea pagi ini, Bryan punya kesempatan untuk tidur bersama Shea malam ini.


Shea menimbang-nimbang ucapan Bryan. Shea mengakui, jika dirinya kemarin tidak muntah karena tidur dengan Bryan. Tapi saat dirinya kembali tidur sendiri, Shea mengalami muntah kembali.


Apa benar aku harus tidur dengan Bryan lagi?


"Hai, baby, apa kamu mau tidur dengan daddy malam ini?" tanya Bryan menatap perut Shea. Bryan menundukan tubuhnya, berada tepat di perut Shea.


Shea yang sedang melayang dengan pikirannya, langsung terperagah saat mendengar Bryan yang sedang berbicara dengan anak di dalam perutnya.


"Bilang pada mommy, kalau kamu ingin tidur dengan daddy."


Shea hanya menarik senyum di ujung bibirnya saat melihat aksi Bryan, yang sedang berbicara pada anak di dalam kandungannya. Shea pun sering melakukan hal yang sama dengan Bryan. Karena Shea membaca, jika kita sering berbicara pada anak dalam kandungannya, itu akan baik untuk perkembangan anaknya.


Tangan Bryan mengapai perut Shea, berniat untuk membelai anak dalam kandungan Shea. Tapi belum sempat tangan Bryan sampai di perut Shea, Shea langsung mencengkram pergelangan tangan Bryan dan menghentikan niat Bryan. "Kenapa?" Bryan menatap bingung pada Shea.


Mendapati pertanyaan Bryan, Shea merasa bingung. Dirinya yang merasa Bryan akan menyentuhnya membuat tangannya dengan sendiri mencegah Bryan.


"Aku hanya ingin menyentuh anakku, bukan menyentuh dirimu," ucap Bryan. Bryan sadar, jika Shea tidak mau di sentuh olehnya.


"Bukannya dulu kamu tidak mau dengannya?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Shea.


Bryan terperangah mendengar ucapan Shea. Memutar kembali memori dalam pikirannya, Bryan mengingat jika dulu saat dirinya membuat surat perjanjian, Bryan menyerahkan semua hak anaknya pada Shea, dan seolah dirinya tidak mau dengan anaknya.


"Dulu aku emosi, aku hanya takut kehilangan kebebasanku," ucap Bryan. "Tapi kini, aku takut kehilangan dirimu dan anakku." Bryan menegakkan kembali tubuhnya. Bryan benar-benar menyesali apa yang dia lakukan dulu pada Shea dan anaknya.


"Habiskan tehnya, aku akan bersiap ke kantor." Bryan hanya bisa pasrah saat dirinya tidak bisa membelai anak dalam kandungan Shea.


Bryan berdiri, dan mendorong mundur kursi yang di dudukinya. Melangkah meninggalkan Shea, Bryan menuju kamarnya. Tapi belum sempat Bryan melangkah, tangan Shea sudah mencengkram lembut pergelangan tangannya. Bryan menoleh melihat pergelangan tangannya yang di genggam erat oleh jemari Shea.


"Bicaralah padanya!" ucap Shea menengadah melihat ke arah Bryan.


Mendengar ucapan Bryan, Shea tersenyum. Shea berpikir, anaknya dalam kandungannya, tidak hanya butuh dirinya, tapi dia juga butuh Bryan. Sebagai ayah, Bryan berhak mengambil perannya dalam kehidupan anaknya.


"Maafkan daddy yang dulu menolakmu," ucap Bryan. "Apa kamu mau memberikan daddy kesempatan seperti yang mommy-mu lakukan," lanjut Bryan. Tangan kekar Bryan masih terus membelai lembut perut Shea.


Walaupun Shea merasa tidak nyaman dengan sentuhan tangan Bryan, tapi dirinya berusaha menerima. Shea berharap, perkembangan anak di dalam kandungannya, akan baik jika Bryan mengambil perannya.


"Terimakasih," ucap Bryan menegakkan tubuhnya. Bryan merasa sangat senang saat dirinya bisa berinteraksi dengan anaknya. Bryan berharap anaknya bisa mendengarkan dirinya.


Shea mengangguk dan tersenyum pada Bryan.


***


Bryan berangkat mengantarkan Shea untuk ke kantor Shea terlebih dahulu, sebelum dirinya berangkat ke kantornya. Pagi ini senyum terukir di wajah Byran. Perasaanya begitu bahagia saat semua benar-benar dia mulai dari awal bersama dengan Shea.


"Aku akan menjemputmu untuk makan siang," ucap Bryan sebelum Shea turun.


"Jarak kantormu cukup jauh, apa..."


"Aku tidak menerima penolakan," ucap Bryan sebelum Shea selesai.


Shea hanya mengeleng dan dengan helaan napas kasar, saat mendengar ucapan Bryan yang terdengar seperti tidak bisa di bantah.


"Hai, baby, jangan nakal saat mommy kerja, kita ketemu lagi nanti makan siang," ucap Bryan membelai perut Shea. Rasanya Bryan punya kegiatan baru dengan yaitu membelai perut Shea dan mengajak anaknya bicara.


"Pergilah!" ucap Bryan beralih pada Shea.


Shea keluar dari mobil Bryan dan melangkah masuk ke dalam kantornya. Sedangkan Bryan masih menunggu sampai Shea benar-benar tidak telihat dari jangkauannya.


"Untuk saat ini aku cukup membelai anak kita, tapi perlahan aku kan membelai lembut wajah cantikmu," ucap Bryan. Bryan hanya bisa menanti saat-saat itu akan tiba. Mengijak pedal gasnya, Bryan melanjukan mobilnya untuk ke kantornya.


Shea menaiki lift karywan menuju ke ruangannya. Rasanya Shea rindu sekali dengan meja kerjanya. Membayangkan perkerjaan yang akan di kerjakan oleh dirinya hari ini, membuat dirinya sangat bersemangat.


Keluar dari dalam lift, Shea melangkah menuju ke meja kerjanya. Tapi langkah Shea terhenti saat melihat seorang wanita duduk di meja kerjanya. Shea tidak mengenal siapa wanita itu, karena tampak asing baginya. Walapun Shea hanya mengenal beberapa karyawan kantornya, Shea hapal betul wajah karyawan-karyawan di Maxton Company.


"Permisi, siapa Anda?" tanya Shea.


Wanita itu berdiri dan mengulurkan tangannya. "Aku Jessie-sekertaris Pak Regan."

__ADS_1


Shea terkejut saat mendengar ucapan wanita di hadapannya yang mengatakan jika dia adalah sekertaris Regan. "Apa Anda sudah lama bekerja?" Shea ingin tahu sejak kapan Regan mengantikan dirinya.


"Aku baru kemarin."


Entah apa yang harus Shea katakan lagi. Shea masih sangat bingung kenapa Regan menggantikan dirinya tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu. "Apa Pak Regan sudah datang?" tanya Shea pada Jessie.


"Belum."


Mengetahui Regan belum datang, Shea berniat menunggu Regan. Shea ingin tahu kenapa Regan mengantikan dirinya begitu saja. Pikiran Shea melayang memikirkan alasan apa yang membuat Regan mengantikan dirinya.


Sampai saat Shea melihat Regan dari kejauhan. Regan yang baru saja keluar dari lift, dan melangkah menuju ke ruangannya. "Pagi," sapa Regan pada Shea dan Jessie.


"Pagi, Pak," jawab Jessie.


"Pagi," jawab Shea dingin.


"Kamu sudah masuk kerja, Shea?" tanya Regan menatap Shea.


"Iya, tapi saat saya masuk, saya tidak menemukan meja kerja saya," ucap Shea.


Suara Shea yang terdengar seperti sebuah sindiran untuk Regan, hanya membuat Regan tersenyum. "Ayo, masuk!" Regan berlalu begitu saja, setelah berucap pada Shea.


Kalimat perintah Regan, membuat Shea melangkah mengekor di belakang Regan menuju ke ruangannya. Masuk ke dalam ruangan Regan setelah Regan masuk, Shea menutup kembali pintu ruangan Regan. Melangkah lebih dalam, Shea berdiri di depan meja Regan.


Regan yang melangkah ke meja kerjanya, mendudukan tubuhnya di atas kursi kerja miliknya. "Apa kamu sudah benar-benar baik?"


"Iya," jawab Shea. "Apa Pak Regan bisa jelaskan kenapa meja saya di pakai orang lain?" Tanpa berbasa-basi Shea langsung memberikan pertanyaan yang dari tadi dirinya pikirkan.


"Aku pikir kamu masih akan lama cuti, jadi aku merekrut sekertaris baru," ucap Regan.


"Berarti Pak Regan akan memecat saya?" tanya Shea.


"Apa kamu berharap aku melakukannya?" Regan balik bertanya.


"Tidak." Shea menjawab dengan tegas ucapan Regan.


"Bagus, kalau kamu berpikir aku tidak akan memecat dirimu, karena memang aku tidak akan memecat dirimu."


"Lalu saya akan kerja dimana?" tanya Shea bingung. Shea tidak habis pikir dimana dirinya akan berkerja, jika meja kerjanya di pakai oleh sekertaris barunya.


"Apa karena tidak ada meja kerjamu, kamu berpikir tidak bisa berkerja?" tanya Regan disertsi tawa kecil. "Aku sudah memesankan office boy untuk menaruh meja kerja di samping meja kerja lamamu, tapi sepertinya mereka belum mengerjakannya," jelas Regan.


"Maksudnya saya akan berkerja berdua dengan sekertaris baru?" Shea kembali memastikan pada Regan.


"Iya, agar perkerjaanmu lebih ringan, karena aku tidak mau kamu terlalu lelah, dan berakibat buruk pada kamu dan anakmu."


Terkadang Shea bingung kenapa Regan begitu memperhatikan dirinya. Shea merasa perhatian Regan berbeda dengan karyawan lain. Pikiran Shea tidak bisa menerka-nerka apa yang membuat Regan seperti itu.


"Tunggulah office boy mengantarkan mejamu, dan mulailah perkerjaanmu, karena perkerjaanmu sudah menanti."


"Baiklah, Pak, saya permisi." Mendengar ucapan Regan, Shea tidak mau berlama-lama di ruangan Regan. Shea berbalik, dan kembali keluar dari ruangan Regan.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca😊


Up date jam 12.00 WIB ya.


Sementara hanya 1 bab perhari.


Jangan lupa like😉


Vote kalau ada poin lebih🤭Kalau nggak ada, nggak apa-apa. Yang penting like aja udah senang😊


Main-main juga ke IG Myafa16

__ADS_1


__ADS_2