My Baby CEO

My Baby CEO
Bekal


__ADS_3

Shea yang baru saja menyiapkan sarapan kembali ke kamar untuk menemui Bryan. Dia ingin memastikan apakah suaminya itu sudah siapa atau belum.


Saat memasuki kamar, dia melihat suaminya yang sedang memakai kemejanya. Melangkah masuk ke dalam kamar, Shea mendekat dan membantu Bryan untuk memakai kemeja.


Satu kecupan mendarat di pipi Shea, saat dia mengancingkan kancing kemeja suaminya. Satu kecupan pun membuat senyum merekah di wajah Shea.


Melihat senyum istrinya, Bryan begitu senang. Namun, sejenak dia mengingat rencananya yang dia urungkan semalam.


"Aku harus mengunjungi proyek pembangunan hotel." Bryan mengatakan pada Shea.


"Kapan?" Shea bertanya tapi tangannya masih fokus pada kancing kemeja Bryan.


"Besok," jelasnya, "tapi aku tidak bisa mengajakmu karena kondisi kandunganmu sudah semakin besar." Bryan melanjutkan ucapannya.


Shea terkesiap mendengar ucapan Bryan. Dia sadar jika dengan keadaan kehamilannya yang sudah mulai besar, tidak mungkin dirinya ikut. Perjalanan jauh tidak baik untuk kondisi kehamilannya. "Pergilah! Aku akan di rumah menunggumu." Tangan Shea yang selesai mengancingkan kancing kemeja beralih meraih dasi yang di berada di tangan Bryan.


"Percayalah, jika antara aku dan Helena tidak akan terjadi apa-apa. Aku akan langsung pulang selesai mengecek proyek." Bryan mencoba menenangkan istrinya yang mungkin sedang dalam dilema melepas dirinya untuk pergi.


Shea sadar jika Bryan sebenarnya berat untuk pergi. Apalagi di sana akan ada Helena. Dari bagaimana Bryan menjaga hatinya, rasanya egois jika tidak percaya. "Aku percaya."


Bryan tersenyum saat istrinya percaya padanya. Baginya rasa percaya yang istrinya beri sudah cukup untuknya.


"Kamu tidak akan menginap, bukan?" tanya Shea memastikan. Dia tidak mau Bryan memberikan celah pada Helena.


"Iya, aku janji tidak akan menginap, aku akan segera pulang setelah pekerjaanku selesai." Bryan membelai pipi istrinya. Senyum pun dia berikan untuk membuat istrinya semakin yakin.


Shea mengangguk. Dia tidak mau menjadi penghalang kesuksesan Bryan. Lagipula apa yang harus Shea takutkan jika suaminya sudah sangat mencintainya. Besar kemungkinan dia akan menjauh dan menjaga diri dari Helena.


"Selesai, ayo pakai jasnya!" ucap Shea saat menyelesaikan kegiatannya memasang dasi di kerah baju Bryan.


"Terima kasih." Bryan memeluk Shea dan menciumi pipi Shea. Dia berjongkok untuk menjangkau perut Shea. "Hai, Sayang, apa kabar pagi ini," ucap Bryan pada anaknya yang berada di dalam kandungan istrinya. "Rasanya daddy tidak sabar menunggumu lahir. Cepat keluar ya, agar daddy bisa cepat bertemu."


Tangan Shea langsung memukul lengan Bryan. "Masih delapan bulan, kenapa memintanya keluar," ucap Shea kesal.


"Oh iya, masih delapan bulan." Bryan menengadah dan tersenyum memamerkan deretan giginya. "Masih berapa lama lagi dia akan keluar?" tanya Bryan seraya berdiri dan menegakkan tubuhnya.


"Kalau sekarang tiga puluh dua minggu berarti masih sekitar delapan minggu mencapai empat puluh minggu lagi. Itu pun bisa lebih bisa juga kurang." Shea menjelaskan pada Bryan.


Bryan mengingat tiga hari yang lalu, dokter sudah menjelaskan banyak hal mengenai kondisi kehamilan dan beberapa hal menjelang kelahiran. Walaupun masih terasa lama, tapi dia harus bersabar untuk bertemu dengan buah hatinya.


"Minggu ini masih ada kelas ibu hamil, aku harap kamu ikut lagi."

__ADS_1


Sudah beberapa kali Bryan ikut kelas ibu hamil. Semakin bertambahnya usia kandungan Shea, kelas ibu hamil yang dia ikuti lebih untuk mempersiapkan menjelang melahirkan. Bryan diajarkan bagaimana nanti para suami tidak boleh panik saat melihat tanda-tanda kelahiran bayinya, dan tidak boleh panik saat istrinya melahirkan. Namun, tetap saja rasa tegang menanti buah hatinya lahir tetap di rasa oleh Bryan.


"Iya, aku akan ikut."


Shea merasa senang Bryan selalu mengikuti kegiatannya selama kehamilan. Dia tidak pernah absen menemaninya selama kehamilan. Shea hanya bisa berharap, suaminya itu akan menemaninya sampai nanti melahirkan. "Ayo sarapan! Aku sudah menyiapkan sarapan." Shea menarik lengan Bryan dan mengajaknya untuk keluar dari kamar.


"Apa kamu memasak?" tanya Bryan saat menuruni anak tangga.


"Aku hanya membantu lebih tepatnya." Shea tersenyum malu saat, ternyata bukan dia yang memasak menu sarapan pagi ini.


"Tidak masalah, aku lebih suka kamu diam saja, tapi terlalu sulit melarangmu."


"Aku hamil, bukan sakit, jadi tidak masalah jika harus melakukan kegiatan."


Bryan mencubit pipi Shea lembut. Dia tahu istrinya begitu keras kepala, jadi dia tidak bisa melarang. Namun, dia yakin istrinya akan sangat berhati-hati saat melakukan kegiatannya.


***


Sore ini Bryan sengaja pulang lebih awal. Rencananya untuk pergi besok pagi membuatnya harus sedikit mengistirahatkan tubuhnya.


Namun, saat masuk ke dalam kamar, pemandangan tubuh shea yang indah menjadi suguhan pertamanya.


"Kamu sudah pulang?" tanya Shea. Dia heran, kenapa secara kebetulan di saat Bryan pulang lebih awal selalu saja di saat dirinya sedang sibuk mengolesi krim untuk stretch marks.


"Oh .... " Shea melanjutkan melanjutkan kegiatannya mengolesi krim. Jika dulu dia terlalu malu saat Bryan melihatnya, kini rasanya dia sudah mulai terbiasa saat Bryan melihat tubuhnya.


"Aku jadi teringat dulu waktu di supermarket, kamu bilang jika wanita hamil itu seksi, dan kini aku benar-benar tergila-gila dengan keseksian wanita hamil."


Shea tersenyum saat mengingat kata-kata itu. Kata-kata itu keluar di saat dirinya kesal dengan Bryan. Hubungan mereka pun juga belum baik seperti sekarang. "Jadi sekarang kamu baru percaya?"


"Iya," ucapnya seraya meraih krim stretch marks yang dibawa Shea. Tangannya mengoleskan krim di tubuh Shea.


Kali ini Bryan hanya benar-benar mengoleskan krim, dan tidak ada kegiatan mengambil kesempatan seperti biasanya.


Selesai mengoleksi krim, Bryan berlalu ke kamar mandi dan membersihkan diri.


***


Setelah makan malam, Bryan dan Shea kembali ke kamarnya. Bryan yang harus pergi pagi-pagi, mengharuskannya tidur lebih awal.


"Apa kamu harus membawa baju?" tanya Shea pada Bryan yang sedang bermain ponselnya di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Aku akan pulang, jadi aku rasa aku tidak perlu membawa baju." Beralih dari layar ponselnya dia menatap istrinya.


"Oh ... ya sudah kalau begitu, kalau memang kamu tidak membawa baju, aku tidak akan membawakan baju untukmu." Shea menutup kembali lemari yang tadinya dia buka. Melangkah menghampiri Bryan, dia ikut merebahkan tubuhnya tepat di samping Bryan. "Apa Felix besok ikut?"


"Tidak, dia harus mengerjakan banyak pekerjaan di kantor." Bryan meletakkan ponselnya di atas nakas, dan beralih pada Shea. Menarik lembut tubuh Shea, dia membawanya ke dalam pelukannya.


Mendengar jika Felix tidak ikut, sebenarnya Shea merasa dilema. Namun, dia mengingat jika ada Alex, dan dia pasti yang menjaga Helena, jika perempuan itu menggoda suaminya.


"Jangan berpikir macam-macam, aku tidak akan melakukan apa-apa." Bryan membelai lembut rambut Shea.


"Iya." Shea berusaha untuk tenang, agar tidak membuatnya stress karena memikirkan hal buruk mengenai Bryan dan Helena. "Apa kamu butuh sesuatu lagi ya untuk perjalanan besok?" tanya Shea kembali.


"Aku butuh bekal."


"Bekal?" tanya Shea heran, "apa kamu mau aku buatkan makanan yang tahan untuk sehari?"


"Bukan bekal itu."


"Lalu?"


"Bekal, yang ini." Bryan merenggangkan pelukannya. Dia memiringkan tubuhnya dan menatap Shea. Satu tempat yang dia tuju adalah bibir yang selalu dia rindukan. Membenamkan bibirnya pada bibir Shea, dia menikmati manisnya setiap sesapan dan kecapan. Tangannya pun tak lupa mulai bergerilya menuju ke tempat yang dia suka.


Mendapati perlakuan suaminya, Shea tahu bekal apa yang dimaksud oleh suaminya itu. "Besok kamu harus pergi pagi-pagi," ucapnya seraya mendorong lembut tubuh Bryan.


"Itu tidak masalah, aku tetap akan bisa bangun pagi," ucapnya seraya mengedipkan matanya, dan melanjutkan kegiatannya merengkuh kenikmatan.


Shea hanya bisa pasrah, dan mengikuti irama yang dibuat oleh Bryan. Berharap mitos jika kegiatan ini akan memperlancar proses persalinannya nanti.


.


.


.


.


.


...Jangan lupa, Komen, Like, dan Vote...


...Sebanyak-banyaknya ...

__ADS_1


...Tunggu kejutan tanggal 21 Desember 2020...


__ADS_2