My Baby CEO

My Baby CEO
Membuatmu terbiasa


__ADS_3

"Biar aku saja," ucap Bryan yang melihat Shea sudah selesai makan, dan ingin menaruh piring kotor.


Membawa piring kotor, Bryan mencuci piring bekas makan dirinya dan Shea. Walapun Bryan jarang sekali mencuci piring, tapi Bryan tahu bagaimana mencuci piring. Dengan perlahan Bryan mencuci piring, dan menyelesaikan dengan baik.


"Aku kenyang sekali."


Suara Shea terdengar di saat Bryan baru saja selesai mencuci piring. Membalikkan tubuhnya, Bryan melihat Shea yang sedang memegangi perutnya.


"Bagaimana dia tidak kekenyangan, jika makan begitu banyak." Bryan hanya bisa bergumam saat melihat Shea yang kekenyangan. Menarik kursi, Bryan duduk di hadapan Shea.


"Mau tidur dimana?" tanya Bryan dengan senyumannya.


Mendengar pertanyaan Bryan, Shea diam, dia memikirkan dimana dirinya akan tidur. Shea mengingat jika Bryan sudah menawari untuk tidur di kamar Bryan.


"Kamu mau, makanan yang sudah masuk di perutmu keluar lagi besok pagi?" tanya Bryan menatap Shea, dan memberitahu apa yang akan terjadi jika Shea tidur sendiri.


Shea yang mengingat kalau makanan yang ada di perutnya akan keluar besok pagi, merasa sangat sayang. Dirinya yang sudah susah payah makan, rasanya tidak rela kalau makanan yang dia makan harus keluar lagi.


"Aku akan tidur di kamar kamu," ucap Shea lirih.


Senyum langsung mengembang di wajah Bryan saat mendengar jawab Shea. Bryan merasa sangat senang karena dirinya akan tidur dengan Shea. Setelah keberuntungannya mencium perut Shea, berlanjut dengan makan dari tangan Shea, kini dirinya akan menutup keberuntungannya hari ini, dengan tidur bersama dengan Shea.


"Aku akan mandi dulu, dan aku akan ke kamarmu nanti." Shea berdiri dan mendorong kursinya ke belakang. Melangkah menuju kamar, Shea meninggalkan Bryan sendiri.


Bryan yang melihat Shea meninggalkan dirinya, langsung bergegas untuk ke kamarnya. Dirinya tidak mau melepas kesempatan, untuk menghabiskan waktu berdua di kamar dengan Shea.


Shea yang sudah masuk ke kamar, melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi. Tubuhnya yang lengket ingin segera dia segarkan.


Setelah menyelesaikan mandinya, Shea bersiap ke kamar Bryan. Dengan membawa bantal dan guling di tangannya, Shea menuju ke kamar Bryan.


Membuka pintu kamar Bryan, Shea masuk ke dalam kamar. Tapi belum sempat dirinya masuk, Shea langsung menutup kamar Bryan kembali.


"Kenapa wangi sekali," ucap Shea. Shea yang baru membuka pintu kamar Bryan mencium aroma pewangi ruangan yang begitu menyengat. "Untung aku belum masuk. Kalau aku masuk, sudah jelas aku pasti akan mual, dan muntah." Shea bersykur jika dirinya tadi buru-buru menutup pintu.


Bryan yang tadi melihat Shea membuka pintu, merasa heran kenapa Shea menutupnya kembali. Membuka pintu kamarnya, Bryan keluar dari kamar.


Saat di depan kamar, Bryan melihat Shea yang berdiri di depan pintu. "Kenapa keluar?" tanya Bryan.


"Sebenarnya seberapa banyak pewangi ruangan yang kamu semprotkan?" Dengan bersungut-sungut Shea meluapkan kekesalannya.


"Pewangi ruangan?" gumam Bryan. Bryan mengingat, jika tadi dirinya menyemprotkan banyak pewangi ruangan. Bryan pikir, untuk menyambut Shea yang ingin tidur di kamarnya, Bryan ingin kamarnya harus wangi. Apalagi, kamar Bryan masih menyisakan aroma rokok miliknya. Semenjak dirinya tidak merokok di dekat Shea. Kamar menjadi tempat favorite-nya untuk merokok.


"Memangnya kenapa?"


"Apa kamu tahu, aku mual mencium aroma pewangi ruangan di kamarmu, " ucap Shea kesal.


Bryan terkejut, saat tahu jika Shea mual mencium aroma pewangi ruangan yang berada di kamarnya.


"Untung saja, aku tidak muntah, kalau sampai aku muntah, kamu harus tangung jawab." Shea menatap tajam pada Bryan seraya memberikan Bryan ancaman.


"Maaf, aku tidak tahu, aku hanya takut wangi kamarku menganggumu." Bryan benar-benar merutuki kesalahannya saat ternyata Shea tidak menyukainya.


"Ya sudah, aku akan tidur di kamarku saja," ucap Shea seraya melangkah menuju ke kamarnya.


Bryan membulatkan matanya sempurna, saat Shea memilih kembali ke kamarnya.


"Kamu tidak jadi tidur di kamarku?" tanya Bryan.


"Kamu mau membuat ayam kecap yang aku makan tadi keluar lagi." Suara Shea sedikit meninggi, merasakan kesal saat Bryan menanyakan hal itu kembali.


Rasanya Bryan benar-benar lemas, saat Shea memilih untuk kembali ke kamarnya. Dirinya yang dari tadi membayangkan kenikmatan tidur bersama Shea, seketika lenyap begitu saja.


"Kalau kamu besok mual dan muntah lagi bagaimana?" Bryan mencoba untuk membuat Shea mau kembali ke kamarnya.


"Lebih baik aku muntah besok, dari pada aku muntah sekarang." Shea yang memilih tidur di kamarnya. Harus merelakan dirinya muntah besok pagi.


Bryan benar-benar bingung, bagaimana caranya dirinya bisa tidur bersama dengan Shea.


Shea melanjutkan langkahnya setelah menjawab ucapan Bryan. Membuka kamarnya Shea masuk ke dalam kamar. Tapi langkah Shea terhenti saat merasakan Bryan berada tepat di belakangnya.


"Kamu mau apa?" Shea merasa bingung kenapa Bryan ingin masuk bersama dirinya ke kamar.


"Aku tidak akan membiarkan kamu muntah besok," ucap Bryan. Bryan pun melewati Shea dan masuk ke dalam kamar Shea.


Shea yang melihat Bryan melewati dirinya begitu saja, hanya bisa terkesiap. Mengekor di belakang Bryan, Shea masuk ke dalam kamar.


Mata Shea terus saja memperhatikan Bryan yang dengan santainya masuk ke dalam kamar.


"Jangan tanya kenapa aku masuk," ucap Bryan yang menyadari jika Shea terus menatapnya.


Bryan membalikkan tubuhnya menatap Shea. "Yang kamu butuhkan aku, bukan kamarku, jadi aku akan tidur denganmu di sini, agar besok pagi kamu tidak muntah." Setelah Bryan memutar otaknya memikirkan cara apa yang dia gunakan untuk tetap bisa tidur dengan Shea, akhirnya Bryan menemukan jika dirinya bisa tidur di kamar Shea.


Benar juga, yang aku butuhkan hanya Bryan, bukan kamarnya. Mau tidur dimana pun, asalkan ada Bryan, aku tidak akan mual.


Shea hanya bisa membatin dalam hatinya, apa yang di katakan oleh Bryan.


Tanpa menjawab ucapan Bryan, Shea melangkah menuju ke tempat tidur. Dirinya sudah sangat lelah. "Tidurlah di sisi sana, aku akan di sisi sini," ucap Shea seraya menunjuk ke sisi tempat tidur.


Bryan menarik senyum di ujung bibirnya, saat Shea menunjukan dimana dirinya akan tidur. Tanpa membuang kesempatan Bryan langsung melangkah menuju ke sisi yang di tunjuk Shea.


Merogoh ponselnya, dan meletakkan di nakas di samping tempat tidur Shea. Bryan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

__ADS_1


Melihat Bryan menaruh ponsel, Shea teringat dengan ponselnya. Mencari tasnya Shea mengambil ponselnya. Setelah mengambil ponselnya, Shea menuju ke tempat tidur.


"Urusan kita tadi siang belum selesai," ucap Shea seraya mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Bryan yang sedang menikmati kasur empuk milik Shea, mengabaikan Shea, saat Shea membahas masalah. Bryan tahu, yang di maksud masalah oleh Shea adalah dirinya yang membeli ponsel tadi siang.


"Kenapa kamu membelikan aku ponsel?"


"Karena ponselmu mati." Bryan menjawab dengan santai pertanyaan Shea.


"Kamu tahu bukan, aku sudah membelikannya baterai, lalu kenapa kamu membelikan aku lagi?" Shea masih tidak habis pikir kenapa Bryan membelikannya ponsel.


"Akan lama ponselmu jadi. Lalu kamu mau pakai apa untuk komunikasi?"


Mulut Shea langsung terkunci saat mendengar ucapan Bryan. Sebenarnya, Shea membenarkan ucapan Bryan, tapi dirinya tidak mau menerima terlalu banyak dari Bryan.


"Apa yang kamu pikirkan?" Bryan bisa menebak Shea memikirkan sesuatu.


"Aku takut jika kamu memberiku banyak hal," ucap Shea lirih.


Bryan terperanjat mendengar ucapan Shea. Bangun dari posisi tidurnya, Bryan menegakkan tubuhnya. "Kenapa takut?" Rasanya Bryan ingin tahu alasan Shea.


"Aku belum tahu, aku bisa mencintaimu atau tidak, dan aku takut saat kamu membiasakan diriku dengan segala kemudahan dan kemewahan, aku akan terlena dengan semua itu," ucap Shea menatap Bryan.


Senyum tertarik di ujung bibir Bryan. Satu hal yang di pikirkan Bryan. Saat semua wanita mengharapkan segala kemudahan dan kemewahan, wanita di hadapannya malah takut.


"Aku mau mencintaimu, karena cinta yang kamu berikan, bukan karena kemewahan yang kamu berikan." Shea melanjutkan ucapannya.


Rasanya Bryan sangat bahagia, dengan apa yang di ucapakan Shea. "Baiklah, setelah ini, aku tidak akan memberikan hal-hal berlebihan. Tapi untuk ponsel ini, aku tidak mohon terimalah, agar aku bisa memperhatikan kamu."


"Baiklah." Shea mengangguk menjawab ucapan Bryan. Pikir Shea tidak ada salahnya menerima ponsel dari Bryan, karena dirinya juga butuh.


"Tidurlah!" ucap Bryan seraya merebahkan tubuhnya. Bryan memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Shea.


Shea pun merebahkan tubuhnya. Kali ini Shea tidak membelakangin Bryan. Shea pun ikut memiringkan tubuhnya menghadap pada Bryan.


"Bry," panggil Shea.


"Apa?"


Mata Shea dan Bryan yang berada di satu garis lurus, membuat pandangan mereka saling mengunci.


"Jika aku tidak bisa mencintaimu, apa kamu akan membenciku?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Shea.


"Aku belum banyak berusaha, kenapa kamu mematahkan semangatku?" Bryan menajamkan pandangannya pada Shea.


"Aku hanya ingin tahu, akan sebenci apa dirimu padaku."


Shea mengangguk mengerti apa yang di ucapkan Bryan.


"Apa sekarang kamu mencintai orang lain?"


Mendapat pertanyaan dari Bryan, Shea langsung mengeleng. "Tidak."


"Jadi tidak ada alasan aku untuk membencimu." Bryan menarik senyum di bibirnya sempurna.


Shea pun membalas senyuman Bryan.


"Tidurlah, kamu pasti sudah lelah." Bryan mengakhiri pembicaraan mereka dan meminta Shsa untuk istirahat.


Memejamkan matanya, Shea menuruti perintah Bryan untuk tidur. Rasa ngantuk memang sudah menghampirinya. Hingga dalam hitungan menit, Shea langsung tertidur.


Bryan yang melihat Shea tidur, merasakan ketenangan jiwa. Apalagi melihat Shea mau tidur menghadap pada dirinya.


Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta.


Memandangi Shea, membuat Bryan benar-benar tidak menyangka jika wanita di hadapannya ini yang sedang dia perjuangkan. Tak terlintas di pikiran Bryan, kalau dirinya akan jatuh cinta dan berjuang untuk cintanya.


Saat sedang asik memandangi Shea, ponsel Bryan berdering. Tangan Bryan buru-buru meraih ponselnya, agar Shea tidak terbangun.


Mengusap layar ponselnya, Bryan menempelkan ponselnya ke telinganya.


"Halo, Bryan." Suara Felix terdengar dari sambungan telepon.


"Ada apa?" tanya Bryan berbisik. Mata Bryan melirik Shea yang sedang tertidur. Memastikan, jika suaranya tidak membuat Shea terbangun.


"Kenapa kamu berbisik-bisik?" Felix yang mendengar suara berbisik Bryan pun bertanya.


"Shea sedang tidur," jelas Bryan masih dengan berbisik.


"Kamu tidur dengan Shea." Suara kaget dari Felix terdengar kencang dari sambungan telepon.


Bryan sedikit menjauhkan ponselnya saat mendengar suara Felix yang kencang. "Iya," jawab Bryan, saat kembali mendekatkan ponselnya ke telinganya.


"Wah, apa gunung kristalmu akan mencair?" tanya Felix seraya tertawa.


"Tutup mulutmu!" Bryan merasa kesal, saat Felix membahas hal sensitif itu.


"Apa kamu belum menyentuhnya?" tanya Felix ingin tahu.


Mendapat pertanyaan dari Felix, Bryan menatap ke arah Shea. Bryan mengingat apa yang di janjikannya pada Shea. Jika dirinya tidak akan menyentuh Shea sampai Shea mencintainya.

__ADS_1


"Mau apa kamu menghubungi aku?" Bryan memilih mengalihkan pembicaraan dengan Felix.


"Aku mau mengajakmu ke club, tapi sepertinya kamu akan lebih memilih menghabiskan waktumu di ranjang panas dengan Shea."


"Kalau kamu sudah tahu jawabanya sebaiknya cepat matikan teleponnya." Bryan malas sekali harus meladeni Felix yang membahas urusan ranjang.


"Baiklah, baiklah. Selamat menikmati malam indahmu." Felix langsung mematikan sambungan teleponnya.


Melihat Felix mematikan sambungan teleponnya, Bryan meletakkan kembali ponselnya.


"Malam indah?" gumam Bryan. Bryan memandang wajah Shea seraya mengingat ucapan Felix.


"Kalau ada kata yang lebih dari kata indah untuk malam ini, mungkin itu yang aku rasakan." Bryan merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan.


Memejamkan matanya, Bryan menyusul Shea ke alam mimpi. Berharapa dia akan bisa merasakan malam indahnya bersama dengan Shea malam ini.


***


Mengerjap, Bryan merasakan napas halus tepat di wajahnya. Saat mata Bryan terbuka sempurna, Bryan tidak menyangka, jika wajah Shea berada tepat di hadapannya, dengan jarak tiga puluh centi.


Cantik.


Bryan hanya bisa memuji kecantikan Shea yang berada tepat di wajahnya. Wajah Shea yang putih dan halus, benar-benar membuat Bryan terpesona. Ingin sekali Bryan membelai wajah Shea seperti kemarin, tapi Bryan tidak punya keberanian, jika tidak dengan dengan kesengajaan-kesengajaan yang menghampiri dirinya.


Saat sedang memandangi wajah Shea, Bryan melihat Shea mengerjap. Karena tidak mau ketahuan, jika dirinya sedang memandangi wajah Shea, Bryan buru-buru memejamkan mata, berpura-pura tidur.


Shea yang mengerjap, terkejut saat melihat jarak antara wajahnya dan Bryan tidak terlalu jauh. Memundurkan perlahan tubuhnya, Shea menjauh dari Bryan. Tapi mata Shea tetap terkunci pada wajah Bryan. Walaupun pernah melihat Bryan yang tidur, tapi selalu menjadi daya tarik sendiri bagi Shea, karena saat Bryan tidur, Shea bisa melihat wajah polos Bryan yang tidak menyebalkan.


Merasakan lebih dalam perutnya, Shea mendapati jika dirinya tidak mual. Tidak ada tanda-tanda, jika dirinya akan muntah seperti kemarin. Kemarin pagi, dirinya bangun karena mual, tapi kali ini dirinya bangun karena merasa tidur nyenyaknya sudah cukup.


Apa karena aku tidur dengan Bryan, aku tidak mual?


Pertanyaan itu yang berada di benak Shea, saat mendapati kenikmatan pagi yang di rasakannya. Walapun ingin rasanya, Shea tidak percaya, jika dirinya tidak mual karena tidur dengan Bryan, tapi kenyataan yang ada di depannya tidak bisa di pungkiri.


Nanti malam aku akan coba lagi, jika aku mual juga, berarti hari ini hanya kebetulan. Shea sudah berencana untuk mencoba kembali tidur dengan Bryan.


Saat sedang berada dalam pikirannya, Shea melihat Bryan yang mengeliat dan membuka matanya perlahan.


"Pagi." Satu kata yang keluar dari mulut Bryan menyapa Shea.


"Pagi." Shea membalas sapaan dari Bryan.


Menyibak selimutnya, mata Bryan berfokus pada perut Shea. Tangan Bryan membelai perut Shea. "Pagi, sayang, apa pagi ini kamu tidak membuat mommy mual?" tanya Bryan pada anak dalam kandungan Shea.


"Apa kamu mual?" tanya Bryan beralih pada Shea, dan Shea menjawab dengan gelengan.


Mendapati gelengan kepala Shea, Bryan merasa sangat senang. Mengeser tubuhnya, Bryan menjangkau perut Shea, dan mendaratkan satu kecupan pada perut Shea. "Anak daddy pintar," puji Bryan.


"Kenapa mencium lagi?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Shea saat melihat Bryan mencium perutnya.


Mengembalikan kembali tubuhnya pada posisi semula, Bryan menatap Shea. "Apa kamu lupa, kata Pak polisi, harus sering-sering mencium anak kita di dalam kanduganmu, agar perkembangan anak kita baik?"


Mendapat pertanyaan dari Bryan, mulut Shea diam membeku. Dirinya ingat betul dengan ucapan Pak polisi yang dia temui kemarin. Tapi Shea tidak menyangka, jika Bryan akan melakukannya.


"Aku tidak akan melakukannya, jika kamu tidak suka." Bryan yang melihat wajah Shea yang diam, menandakan jika Shea keberatan dengan apa yang dia lakukan. Bryan membalikkan tubuhnya, berniat untuk bangun dari tempat tidur.


"Bukan aku tidak suka," ucap Shea dengan mengapai bahu Bryan, dan menghentikan niat Bryan yang ingin bangun.


Bryan yang mendengar ucapan Shea dan merasakan tangan lembut Shea berada di bahunya, langsung berbalik, menatap Shea. "Lalu?" tanya Bryan yang ingin tahu jawaban Shea.


"Aku hanya belum terbiasa," ucap Bryan.


Bryan menarik senyum di wajahnya. "Aku akan membuatmu terbiasa."


Karena cintamu akan ada karena terbiasa, batin Bryan melanjutkan ucapannya.


Shea pun mengangguk dan membubuhi dengan senyuman tipis. Shea berpikir, tidak ada salahnya menerima kecupan Bryan, demi perkembangan anakanya.


.


.


.


.


.


.


Selamat membaca


Jangan lupa like, dan berikan vote jika kalian ada poin lebih( tapi tidak memaksa).


Up jam 12 siang


Hanya 1bab perhari, jangan di tunguin ya.


Kalau ada, aku akan infokan di IG.


Mampir ya IG: Myafa16

__ADS_1


__ADS_2