My Baby CEO

My Baby CEO
Dua sama


__ADS_3

Setelah sarapan Shea mengantarkan Bryan ke depan untuk berangkat berkerja. Dulu Shea hanya bisa melihat Selly yang selalu mengantarkan Regan sampai depan rumah, jika Regan berangkat berkerja. Namun, kini dia melakukan seperti yang Selly lakukan. Rasa iri yang dulu hadir pun semakin hari semakin hilang, karena Bryan menjadi sosok lain yang begitu amat perhatian padanya.


"Ingat jangan menuruti kegilaan Kak Selly," ucap Bryan seraya mendaratkan satu kecupan di pucuk rambut Shea.


"Memangnya apa yang akan dilakukan Kak Selly?" Shea tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bryan.


"Dia akan memberikan ide-ide gila padamu, jadi jangan mau menurutinya."


Shea hanya menatap Bryan, dia seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bryan. "Apa sama seperti dirimu?"


"Aku?" tanya Bryan menujuk ke arah dirinya, dan Shea mengangguk.


"Aku tidak merasa memberikan ide gila," elaknya.


"Surat perjanjian pernikahan, bukankah itu termasuk ide gilamu?" Ucapan Shea penuh dengan sindirian.


Tubuh Bryan langsung lemas, ketika Shea membahas ide gilanya membuat surat perjanjian pernikahan. Bryan menyadari itu memang adalah hal gila yang dilakukan oleh dirinya.


Shea seketika langsung tertawa dan menangkup wajah Bryan dengan kedua telapak tangannya. "Kenapa wajahmu seperti itu? Aku hanya bercanda ... lagi pula semua sudah berakhir, kan?"


"Aku baru menyadari jika aku sama gilanya dengan kak Selly." Bryan pun tertawa dan berbalas tawa dari Shea.


"Sudah, cepat berangkatlah!" Shea mendorong lembut tubuh Bryan agar secepatnya berangkat kerja.


"Pagi." Selly menurunkan kaca mobilnya, dan menyapa Bryan dan Shea.


Bryan yang sedang membuka pintu mobilnya menoleh untuk memastikan suara siapa, dan seperti dugaanya itu adalah kakaknya. "Panjang umur sekali dia, padahal baru saja kita membicarakannya," bisik Bryan pada Shea.


"Hush .... " Shea memberikan cubitan kecil pada Bryan dan menegurnya. Bryan dan Shea masih diam di tempat menunggu Selly yang tampak akan turun dari mobil.


"Kamu hati-hati ya," ucap Selly mendaratkan satu kecupan pada Regan, dan keluar dari mobil.


"Iya," jawab Regan. Melihat Selly keluar, dia langsung melajukan mobilnya menuju ke kantornya.


Selly menghampiri Bryan dan Shea. "Kamu belum berangkat?" tanya Selly pada Bryan.


"Ini baru mau berangkat," jawab Bryan. Bryan beralih pada Shea, dan kembali mendaratkan kecupan di pucuk rambut Shea. Satu kecupan tambahan lagi dia berikan di perut Shea.


"Sejak kapan kamu jadi romantis," cibir Selly.


"Kenapa? Memangnya Kak Regan saja yang boleh romantis." Bryan menjawab seraya melirik malas pada kakaknya.


"Tidak juga, tapi aneh saja kalau melihatmu romantis." Selly terus saja mengoda adiknya.


"Sudah ... sudah, cepat berangkat! Nanti kamu terlambat." Shea mendorong Bryan untuk masuk ke dalam mobil.


"Jangan ikuti kegilaanya ya," bisik Bryan kembali mengingatkan Shea.


"Berisik."


Bryan kembali mendaratkan ciuman di pipi Shea karena merasa gemas dengan istrinya itu. Buru-buru dia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil.


Shea yang melihat Bryan melajukan mobilnya melambaikan tangannya. Senyum mengembang di wajah Shea saat mengantarkan suaminya pertama kali.


"Wah ... seperti melihat pengantin baru," goda Selly.


Mendengar Selly mengodanya, Shea hanya tersenyum. "Pengantin lama rasa pengantin baru," timpal Shea tertawa, dan berbalas tawa dari Selly. "Ayo masuk, Kak," ajak Shea.


Selly pun mengikuti berjalan menuju ke dalam rumah bersama Shea. Selly yang kemarin mendapat cerita dari Regan, jika Shea sudah berhenti berkerja, langsung menghubungi Shea. Selly ingin mendengar cerita dari Shea, bagaimana bisa mereka akhirnya memutuskan kontrak pernikahan.


"Kakak mau minum apa?" tanya Shea seraya membuka lemari pendingin. "Aku baru saja membuat smoothies pisang dan strawberry, apa kakak mau coba?"


"Wah sepertinya enak, walaupun sebenarnya masih terlalu pagi," jawab Selly diiringi senyum.


"Tidak masalah menurut aku mau pagi atau malam, karena semalam saja, aku makan es krim tengah malam."


"Semalam kamu makan es krim?"


"Iya," ucap Shea seraya melangkah dan memberikan smoothies pisang dan strawberry pada Selly. "Karena di rumah tidak ada stok akhirnya Bryan mengantarkan aku keluar." Shea menarik kursi dan mendudukan tubuhnya.


"Di mana malam-malam kamu mencari es krim."


"Restoran cepat saji," jelas Shea seraya menyendok smoothies pisang dan strawberry miliknya ke dalam mulut.


"Bryan mau mengantarmu?"


"Mau." Shea menjawab disertai dengan anggukan.


"Padahal dia adalah orang yang susah jika diminta untuk mengantar seseorang," jelas Selly. Tangan Selly pun bergerak memasukan smoothies ke dalam mulutnya.


"Oh ya? Dulu dia tidak mau mengantar?"


"Mengatar aku lebih tepatnya, karena saat mengantar mama dia tetap mau." Selly tertawa saat mengingat jika Bryan tidak bisa menolak permintaan mamanya. "Bicara tentang mama, pasti dia senang jika kalian sudah memutuskan kontrak pernikahan kalian."


"Aku juga berharap begitu." Shea sadar, jika ide konyol Bryan membuat surat perjanjian kontrak dengannya, membuat banyak orang kecewa, terlebih lagi mertuanya. Namun, waktu itu Shea menyetujuinya, jadi tidak ada alasan mertuanya itu melarang karena kedua belah pihak menginginkannya.


"Bagiamana kalau kita buat perayaan kecil." Selly memberikan ide pada Shea.


Mendengar ide, Shea teringat dengan ucapan Bryan, tapi kali ini dia akan melupakan ancaman Bryan, karena ide Selly bukanlah ide buruk. "Boleh, Kak."


"Kita pesan saja makanan di restoran, jadi kita tidak perlu repot."


"Aku setuju."


Mendapati Shea yang sejalan dengannya, Selly langsung mengambil ponselnya dan menghubungi pihak restoran.


***


Saat jam makan siang, tiba-tiba Bryan pulang ke rumah. Dia yang ingin makan siang bersama dengan Shea. Namun, baru saja dia masuk rumah, dia melihat Selly yang masih berada di rumahnya. "Kenapa kakak masih di sini?" tanya Bryan.


"Kenapa memangnya?" Selly balas bertanya.


Seperti tidak punya rumah saja, batin Bryan. Dia langsung melakangkah mendekat pada Shea, dan duduk di sofa tepat di samping Shea.

__ADS_1


"Kamu kenapa pulang?" tanya Shea.


"Aku mau makan siang bersama denganmu."


"Memangnya di dekat kantormu tidak ada restoran," sindir Selly.


"Kakak sendiri kenapa di sini, memangnya Kakak tidak punya rumah?" Bryan balas bertanya pada Selly.


"Bry," panggil Shea.


Mendapat panggilan nama, Bryan menatap malas pada Shea. "Sayang." Bryan membenarkan panggilannya.


"Sayang," cibir Selly. Selly menahan tawanya ketika mengoda Bryan. Entah kenapa dia suka sekali melihat Bryan kesal. Apa lagi jika bersangkutan dengan Shea.


"Memangnya Kakak saja yang bisa memanggil sayang." Bryan merengkuh pinggang Shea dan menariknya mendekat.


Melihat Bryan yang sudah jauh berubah rasanya Selly senang sekali. Serasa melihat Bryan yang dulu, sebelum dia berubah jadi penjahat wanita.


"Kamu mau makan?" tanya Shea. Dia yang merasa tidak enak dengan kakak iparnya berusaha melepas tangan Bryan.


Merasakan tangannya terlepas, Bryan tahu jika Shea sedang malu dengan Selly. "Sebaiknya Kak Selly pulang saja, aku dan Shea akan makan siang berdua." Bryan beralih pada Selly dan mengusir Selly.


"Sayang, kenapa Kak Selly diusir?"


"Aku mau makan berdua denganmu," jawab Bryan datar.


"Tapi Kak Selly juga akan makan di sini, tadi kami sudah memesan makanan."


Bryan hanya bisa mendengus kesal saat tahu ternyata rencananya gagal. Dia yang berusaha untuk pulang makan siang, harus rela makan bersama kakaknya juga.


Senyum kemenangan terlihat di wajah Selly. Dia puas sekali saat menang dari Bryan, dan membuat adiknya itu kesal.


Mau tidak mau Bryan akhirnya mengikuti Shea yang akan mengajak Selly untuk makan siang. Menuju ke meja makan, Bryan duduk di samping Shea.


"Nanti malam kita akan ada acara, Bry," ucap Selly pada Bryan.


"Acara apa?" tanya Bryan memastikan kembali.


"Acara makan malam."


"Dalam rangka apa makan malam?"


"Karena kalian sudah membatalkan perjanjian pernikahan kalian."


"Kami sudah merayakan, jadi tidak perlu dirayakan lagi." Bryan yang mendengar ucapan Selly pun menjelaskan.


"Iya tapi mama dan papa belum?"


"Kakak undang mama dan papa juga?" Mata Bryan melotot saat mendengar jika kedua orang tuanya akan diundang. Bryan ingat jika terakhir makan malam, acara itu berantakan.


"Iya, mama dan papa harus tahu jika kalian sudah membatalkan perjanjian pernikahannya."


"Tapi - "


"Sayang, yang dikatakan Kak Selly benar. Mama dan papa pasti senang jika kita sudah membatalkan penjanjian kita." Shea mememotong ucapan Bryan.


Shea merasa lega saat Bryan mendengarkanya. Mereka bersama-sama melanjutkan acara makan siang mereka.


Selesai makan siang, Bryan kembali ke kantornya. Bersamaan dengan Bryan, Selly juga pulang. Selly berencana untuk kembali setelah dirinya tidur siang. Maklum semenjak hamil, dia selalu mengantuk di siang hari.


"Kamu juga tidur ya, istirahat!" ucap Bryan sebelum kembali ke kantor.


"Iya."


Bryan melanjukan mobilnya untuk mengantarkan Selly terlebih dahulu sebelum dirinya kembali ke kantor.


***


Sore hari sesuai rencana, Shea akan mengadakan acara makan malam dengan keluarga di rumahnya. Dibantu Selly dia menyiapkan semuanya.


Saat sedang menyiapkan, terdengar suara bel rumah Shea. "Biar aku yang buka," ucap Selly. Dia melangkah menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


Membuka pintu dia melihat mama dan papanya yang datang. "Ma, Pa," ucap Selly seraya menautkan pipinya dengan mamanya dan beralih dengan papanya.


"Ada acara apa sampai mengudang mama dan papa kemari?" Daniel bertanya pada putrinya.


"Sudah, papa dan mama masuk terlebih dahulu." Selly mengajak kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam.


Saat masuk Melisa dan Daniel melihat meja susah penuh dengan makanan. Tampak juga Shea yang sibuk merapikan.


"Ma, Pa," ucap Shea saat melihat mertuanya. Dia langsung menautkan pipi pada mama mertuanya dan menyalami papa mertuanya.


"Bagaimana keadaan cucu mama?" tanya Melisa seraya membelai lembut perut Melisa.


"Baik, Ma."


"Syukurlah." Melisa sangat senang saat ternyata cucunya sehat.


Selang beberapa saat, Bryan dan Regan datang secara bersamaan. Makan malam akhirnya dimulai saat anggota keluarga sudah lengkap.


"Mama bahagia jika kita bisa berkumpul seperti ini," ucap Melisa. Kebahagiaan yang tak ternilai harganya bagi Melisa melihat anak-anaknya berkumpul dan akur.


"Karena itu mama diundang agar bisa merasakan bahagia," jawab Selly.


"Sebenarnya kenapa kalian mengundang mama dan papa?" Sedari tadi Melisa begitu penasaran.


Shea yang mendengar mertuanya bertanya langsung menatap Bryan, seolah memberikan isyarat untuk memberitahukan pada kedua orang tuanya.


"Ma, Pa, ada yang ingin Bryan dan Shea beritahu," ucap Bryan.


Melisa dan Daniel mendengarkan anaknya yang mulai berbicara. Ada perasaan takut saat tahu ada yang ingin dibicarakan.


"Kami sudah membatalkan perjanjian pernikahan kami." Bryan dengan tegas mengatakan hal itu.

__ADS_1


Mata Melisa berbinar saat mengetahui hal yang selama ini dia inginkan terjadi. Melisa langsung berdiri, menghampiri anak dan menantunya. Dia meretangkan tangannya memeluk Bryan dan Shea dari belakang. "Mama senang mendengarnya." Dia mendaratkan satu kecupan di pucuk rambut Bryan dan Shea bergantian.


Posisi Bryan dan Shea yang duduk di kursi, membuat mereka menengadah melihat ke arah mamanya. Perasaan lega di hati mereka saat melihat mamanya begitu senang.


"Papa senang dengan keputusan kalian membatalkan penjanjian pernikahan kalian. Papa harap ini menjadi awal baru, dan akan memberikan kalian kebahagia lebih." Daniel merasa senang saat melihat putranya sudah banyak berubah.


Bryan dan Shea mengangguk. Berharap doa yang diberikan orang tuanya di dengan oleh Tuhan.


Makan malam mereka lanjutkan, setelah pengumuan pembatalan perjanjian Shea dan Bryan. Rasanya senang saat hanya kebahagiaan yang tersisa diantara mereka.


***


Acara makan malam telah usai. Bryan dan Shea kembali ke kamar. Bryan mandi dan Shea membersihkan wajahnya.


Mengistihatkan tubuhnya, Shea dan Bryan merebah di atas tempat tidur. Pelukan hangat meraka berikan satu dengan yang lain. Menyalurkan rasa cinta dan bahagia.


"Besok pagi akan ada asisten rumah tangga yang baru, yang akan menetap di sini." Bryan membelai rambut Shea dan memberitahu Shea.


Selama ini asisten rumah tangga memang datang untuk membersihkan rumah saja, dan tidak menetap.


"Syukurlah, jadi aku tidak akan sendiri lagi." Shea merasa senang saat rumah tidak dihuni dirinya saja saat Bryan pergi berkerja.


"Iya, aku juga tidak tenang meninggalkanmu sendiri di rumah." Bryan mengeratkan pelukannya pada Shea.


"Oh ya, tadi aku dan Kak Selly berencana untuk babymoon, dan dia mengajak kita sekalian untuk ikut," ucap Shea pada Bryan.


Bryan terkesiap saat Shea mengatakan ide kakaknya. Kali ini, ide kakak sangat bagus. Bryan hanya bisa berkata dalam hatinya. Menyetujui ide yang diberikan Selly.


"Tapi aku bilang tidak bisa."


Dahi Bryan berkerut dalam. "Kenapa tidak bisa?"


"Karena kamu tidak bisa meninggalkan perkerjaan lama-lama."


"Siapa yang bilang aku tidak bisa meninggalkan perkerjaan lama-lama?"


"Aku, aku yang bilang ... bukannya memang kamu sedang banyak sekali perkerjaan?"


Bryan menyadari jika memang dirinya sedang banyak sekali perkerjaan. "Aku akan segera selesaikan perkerjaan, jadi kita akan pergi bersama Kak Selly."


Senyum mengembang di wajah Shea, saat Bryan akan berusaha menyelesaikan perkerjaan dan pergi untuk babymoon. Shea sudah tidak sabar bisa berjalan-jalan dan menlepas kepenatannya.


"Kita akan pergi kemana?"


"Pantai."


"Apa yang akan kita lalukan disana nanti?"


"Karena kita akan ke pantai, kita akan berjalan-jalan di tepi pantai, melihat


sunset dan sunrise." Shea menjelaskan pada Bryan apa yang akan di lakukan di sana.


"Hanya itu?"


"Memangnya apa lagi?"


"Lalu waktu kita berdua, tidak ada?"


Shea mengerti waktu berdua apa yang dimaksud Bryan. "Karena kita disana empat hari jadi kita bisa menghabiskan waktu satu sehari untuk berdua di hotel."


"Tidak mau!"


"Kenapa tidak mau?" Shea merasa bingung dengan penolakan Bryan.


"Kalau kita di sana empat hari, jadi empat hari itu juga kita akan menghabiskan waktu berdua saja di kamar hotel, agar kita puas melakukannya." Bryan tersenyum membayangkan empat hari hanya di habiskan dengan Shea.


Shea menelan salivanya kasar mendengar ucapan Bryan. Kalau acaranya cuma kegiatan itu saja, buat apa jauh-jauh pergi ke pantai. Shea hanya bisa mengerutu dalam hatinya. Dia sudah tahu kegiatan itu sangat melelahkan, dan sudah di pastikan akan dia tidak akan bisa melihat sunset dan sunrise.


"Dua hari ... Bagaimana?"


"Kenapa hanya dua?"


"Agar adil, jadi dua sama. Dua hari jalan-jalan dan dua hari menghabiskan waktu berdua."


"Tidak bisa!"


"Kenapa tidak bisa? Kalau empat hari kita hanya pindah tempat untuk melakukannya, untuk apa ke sana." Tangan Shea melepas pelukan Bryan. Dia benar-benar kesal dengan Bryan.


Bryan yang melihat istrinya kesal mulai bingung. "Bukan begitu maskud aku." Bryan mencoba menarik kembali Shea dalam pelukannya.


"Lalu?"


"Aku mau menikmati waktuku berdua dengan suasana berbeda." Bryan menjelaskan.


"Tapi aku juga mau jalan-jalan."


"Baiklah-baiklah, dua hari jalan-jalan dua hari menghabiskan waktu di hotel." Akhirnya Bryan mencoba mengikuti acara yang dibuat Shea.


"Benarkah?" tanya Shea berbinar.


"Iya tapi dengan syarat?"


"Apa?"


"Kita lakukan sekarang untuk gantinya," ucap Bryan seraya membenamkan tubuhnya dan Shea di dalam selimut.


Shea sudah tahu kemana suaminya akan membawanya. Kemana lagi jika bukan menuju kenikmatan dunia yang begitu membuat candu. Seolah tak adakan ada kata puas untuk berhenti melakukannya.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan vote


__ADS_2