
Shea melihat ke arah jam dinding di kamarnya. Jam menunjukan pukul dua belas malam, dan tidak ada kabar sama sekali dari Bryan. Dari tadi pagi pun Shea sudah berusaha menghubungi Bryan, tapi sayangnya nomer suaminya itu di luar jangkauan.
Pikirannya masih terus berpikir positif, memikirkan jika di sana mungkin tidak ada sinyal. Namun, tetap saja sebuah rasa ketakutan menghinggapinya. Sebagi seorang istri pastinya takut saat suaminya pergi dan di sana ada wanita lain. Shea terus berpikir bagaimana dia bisa menghubungi Bryan, jika nomer teleponnya saja tidak bisa di hubungi.
Saat memikirkan bagaimana cara menghubungi suaminya, terlintas satu nama yang mungkin bisa menjadi tempatnya bertanya, bagaimana keadaan Bryan? Melihat ke layar ponselnya, Shea mencari satu nama di kontak teleponnya.
Kak Alex, semoga saja dia bisa memberikan informasi.
Shea berpikir, jika Alex bisa membantunya untuk tahu keadaan Bryan. Namun, baru saja dia akan mengusap layar ponselnya, dia menghentikan jarinya.
Kalau kak Alex bersama Helena dan Bryan, berarti nomer teleponnya tidak akan bisa di hubungi juga.
Perasaan Shea semakin tidak menentu saat mendapati kenyataan jika mungkin dia akan mendapat jawaban yang sama saat menghubungi Alex. Perasaannya semakin di dalam dilema yang begitu besar.
Menghela napasnya, dia memantapkan dirinya, untuk mencoba lebih dulu menghubungi Alex. Dia tidak mau rasa penasarannya menghantuinya.
Mencoba lebih baik dari pada mati penasaran, pikirnya dalam hati.
Mengusap layar ponsel yang tertera nama Alex, Shea menempelkan ponselnya di telinganya. Mata Shea membulat, saat mendengar jika sambungan telepon tidak bermasalah, dan tersambung. Cukup lama Shea menunggu sampai terdengar suara Alex menyapanya.
"Halo, Se."
"Halo, Kak." Shea menyapa balik Alex.
"Ada apa kamu menghubungi aku malam-malam?" Alex merasa heran saat malam-malam teleponnya berdering, dan ternyata Shea lah yang menghubunginya.
"Apa Kak Alex sedang di proyek dengan Bryan?" Ragu-ragu Shea menanyakan apa yang ingin dia tanyakan.
"Proyek?" tanya Alex bingung. Dia tidak mengerti proyek apa yang dimaksud oleh Shea.
"Proyek pembangunan hotel Davis? Bukannya kalian sedang meninjau proyek itu?" Sebenarnya Shea pun merasa kaget saat mendengar nada suara Alex yang tampak kaget dengan pertanyaannya, tapi dia berusaha melanjutkan pertanyaannya.
"Bukannya peninjauan itu akan dilaksanakan minggu depan?"
Seperti mendapatkan hantaman di dada, Shea begitu terperangah mendengar ucapan Alex. Pikirannya melayang memikirkan siapa yang di sini berbohong.
Tidak mungkin Bryan berbohong.
Shea masih menepis semua pikiran buruknya tentang suaminya. Dia masih percaya, pasti ada kesalahpahaman di sini. "Tadi pagi Bryan pergi meninjau proyek."
"Tadi pagi?" tanya Alex.
"Iya."
Alex yang mendengar ucapan Shea terdiam. Memorinya mengingat jika tadi Helena bilang jika dia tidak bisa ke kantor karena sakit. Apa mungkin, Helena sengaja pergi ke sana tanpa aku? Alex benar-benar menaruh curiga pada pada Helena.
"Kak ... " panggil Shea.
__ADS_1
"Iya." Alex langsung beralih kembali pada Shea saat pikirannya memikirkan Helena.
"Aku akan coba menanyakan pada Felix, nanti aku akan menghubungimu kembali."
"Baiklah."
Alex langsung mematikan sambungan telepon dengan Shea dan beralih mencari nomer ponsel Felix yang sudah dia simpan. Alex beruntung, Felix membagikan nomer teleponnya waktu pertama kali bertemu, jadi dengan mudah dia bisa menghubunginya.
Beberapa saat Alex menunggu sampai saat suara Felix terdengar. "Hai, Lex."
"Hai, juga."
"Ada apa kamu menghubungi aku malam-malam?" Felix juga tak kalah kaget saat malam-malam teleponnya berdering.
"Apa Bryan pergi untuk mengecek proyek pembangunan hotel?" Tanpa berlama-lama Alex langsung bertanya.
"Iya, apa kamu tidak ikut?" Felix sedikit heran karena Alex justru bertanya padanya. Padahal dia tahu, jika harusnya Alex sekarang berada di puncak bersama dengan Bryan dan Helena.
"Bukannya peninjauan akan dilaksanakan minggu depan?"
"Aku sudah menghubungi waktu itu, jika peninjauan akan dilakukan hari ini." Felix menjelaskan pada Alex tentang jadwal kunjungan ke proyek hotel Davis.
Dari yang Felix jelaskan dan dari yang Helena katakan tadi pagi, dia mengambil kesimpulan jika semua ini adalah rencana Helena. Sial aku melepaskan Helena begitu saja. Alex merutuki kesalahannya karena melepas Helena hingga bisa pergi ke proyek bersama Bryan.
"Sepertinya ini rencana Helena." Dengan napas kasar Alex mengatakan pada Felix.
"Shea menghubungi aku, mungkin karena Bryan sulit dihubungi dan belum pulang sampai detik ini."
"Astaga!" Felix tak kalah panik membayangkan Shea yang begitu gelisah. Felix sudah menduga Shea akan berpikir macam-macam jika tahu Bryan dan Helena berada di puncak bersama.
"Setelah ini aku akan menghubunginya."
"Baik." Felix merasa lega Alex akan menyelesaikan masalah. Namun, pikiran Felix kembali memikirkan apa yang terjadi pada temannya itu. Apa mungkin temannya itu akan tergoda dengan wanita yang pernah dia cintai itu.
***
Shea mengusap wajahnya kasar. Mendapati Alex tidak di sana membuatnya benar-benar gelisah. Perasaannya semakin takut. Apalagi dia tahu, Helena tampak agresif. Bayangannya semakin tidak menentu saat mengingat beberapa film yang dia nonton tadi siang. Bagaimana seorang wanita menggoda suami orang secara terang-terangan? Bagaimana mereka mengunakan cara-cara licik untuk menjebak? Rasanya Shea semakin stress membayangkan semua itu.
Untuk sedikit menenangkan pikirannya, akhirnya Shea memilih untuk keluar dari kamar. Tempat yang di tujunya adalah lemari pendingin. Membuka lemari pendingin, dia mengambil satu kotak es krim. Pikirnya mungkin ini akan sedikit meredakan perasaannya yang benar-benar tidak menentu.
Duduk di sofa di ruang keluarga, Shea menikmati es krimnya. Mulutnya berusaha menelan es krim, karena rasa sesak yang begitu dirasa memang membuatnya susah untuk menelan es krim yang berada di mulutnya.
Saat Shea sedang menikmati es krimnya, asisten rumah tangga menghampiri Shea. "Bu Shea, ada yang saya bisa bantu?" Asisten rumah tangga yang mendengar ada suara di dapur pun keluar untuk mengecek. Ternyata dia melihat majikannya yang sedang menikmati es krim di ruang keluarga.
"Tidak, Bi, saya hanya ingin makan es krim saja, Bibi bisa kembali ke kamar saja." Untuk waktu ini Shea merasa ingin sendiri. Dia tidak mau orang lain melihat dirinya yang begitu cemas.
"Baik, Bu." Asisten rumah tangga pun berlalu meninggalkan Shea.
__ADS_1
Shea melanjutkan memakan es krim yang berada di tangannya. Walaupun sebenarnya tidak sama sekali melegakan hatinya, tetap saja dia berusaha menenangkan perasaannya sendiri.
Telepon berdering membuat Shea cepat-cepat beralih. Dia masih berpikir keajaiban Bryan menghubunginya. Namun, Shea harus kecewa saat mendapati Alex yang menghubunginya.
Mengusap layar ponselnya dan menempelkan di telinganya, dia menyapa Alex. "Ya, Kak."
"Se, ternyata peninjauan benar dilakukan hari ini, kemarin Helena tidak memberitahu aku, jadi aku tidak tahu. Besok pagi-pagi aku akan ke sana untuk mengecek keberadaan Bryan dan Helena." Sebenarnya Alex bingung menyusun kata-kata yang pas agar bisa menenangkan Shea. Hingga kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
Jadi benar Bryan hanya pergi berdua dengan Helena?
Batin Shea benar-benar tidak tahu harus bagaimana menerima kenyataan ini. Sebagai manusia normal, bisa saja suaminya akan tergoda pada kemolekan tubuh Helena. Apalagi Bryan yang dulu begitu memuja kecantikan tubuh wanita.
Aku tidak boleh berpikir buruk tentang Bryan! Dia masih berusaha menepis pikiran buruknya.
"Se ... " panggil Alex. "apa kamu baik-baik saja?" Pertanyaan bodoh ini sebenarnya tidak perlu Alex lontarkan, karena mendengar dari napas Shea yang begitu berat di sambungan telepon, dia sudah tahu jika Shea sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja, Kak." Shea berusaha menutupi perasaannya yang sebenarnya tidak sedang dalam keadaan baik.
"Aku janji akan ke sana besok pagi-pagi sekali. Aku akan pastikan semua baik. Sekarang pergilah tidur! Ingat kamu sedang hamil, tidak baik ibu hamil tidur malam. Jangan pikirkan Bryan, aku yakin dia menjaga hatinya."
Shea menghela napasnya yang terasa sesak. mencoba kuat dan tenang menghadapi masalahnya saat ini. "Iya, Kak, terima kasih."
Shea pun mengakhiri sambungan teleponnya dengan Alex. Melanjutkan memakan es krim, dia berusaha es krim masih bisa membantunya tenang. Namun, air matanya tak tertahan saat merasakan sesak membayangkan hal-hal buruk yang terjadi.
Aku yakin Bryan tidak akan menyakiti aku
Mengusap air matanya, dia meyakini dalam hatinya, jika suaminya tidak akan melakukan sesuatu di luar batasnya.
.
.
.
.
.
...Aku up 3 bab, walaupun ga banyak tapi lumayan banyak kata ...
...Ayo dong vote lagi, Minggu terakhir ni....
...Siapa tahu masih bisa naik lagi rangkingnya...
Siap-siap buat kejutan-kejutan dari myafa
...Jangan lupa Like, Koment, dan Vote...
__ADS_1