My Baby CEO

My Baby CEO
Serasa malam pertama


__ADS_3

"Apa keadaanku baik-baik saja?" tanya Bryan pada Erik.


Setelah tadi Bryan mengantar Shea, dia tidak kembali ke kantor. Dia memilih untuk memeriksakan keadaanya kesehatannya pada Erik.


"Semua baik, tinggal kita tunggu hasil laboratorium saja." Erik yang selesai memeriksa, melangkah menuju ke kursinya.


"Baiklah." Bryan pun bangkit dari ranjang periksa dan mengikuti Erik. "Aku harap hasilnya baik," ucapnya seraya menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya.


"Kenapa kamu khawatir, bukannya kamu sering melakukan pengecekan rutin?"


"Iya, tapi kali ini berbeda. Aku tidak mau Shea terkena penyakit, karena jika sampai aku terkena pasti Shea akan terkena juga." Bryan sadar jika segala hal yang dilakukan dulu pasti ada resikonya, dan dia tidak mau sampai Shea ikut menanggungnya.


Erik tersenyum menanggapi ucapan Bryan. "Tenanglah, sejauh aku memeriksamu, semua aman, dan aku yakin kali ini pun juga."


Memang sejak awal Bryan sering melakukan hubungan intim dengan para wanita, dia selalu memeriksakan diri pada Erik.


"Ya ... aku berharap begitu."


"Sebegitu besar rasa takutmu, itu menandakan sebegitu besar juga rasa cintamu pada kakak ipar."


Bryan mengangguk. "Dia wanita yang benar-benar membuatku gila. Segala hal yang ada padanya selalu bisa membuatku terpesona." Bryan mengingat wajah Shea dalam pikirkannya.


"Satu hal yang kamu lupa, dia membuatmu berubah," timpal Erik. Erik tahu pasti seperti apa Bryan dulu.


"Iya ... iya ... itu juga." Bryan mengangguk-anggukan kepalanya menjawab ucapan Erik.


Saat sedang berbincang, pintu ruangan Erik di ketuk. Menoleh ke arah pintu Erik dan Bryan melihat perawat yang membawa map masuk ke dalam.


"Ini hasil laboratorium, Dok." Perawat memberikan map pada Erik.


"Terimakasih." Tangan Erik pun menerima map berisi hasil laboratorium. Dengan perlahan, dia membuka dan membaca hasil laboratorium.


Bryan yang menunggu Erik membaca hasil laboratorium, diliputi rasa cemas. Dia benar-benar takut jika hasilnya akan buruk.


"Seperi dugaanku, semua baik," ucap Erik memberikan hasil laboratorium pada Bryan. "Tidak ada penyakit, dan virus di tubuhmu."


Menerima hasil laboratorium, Bryan membaca isinya. Walapun tidak mengerti beberapa istilah kedokter, tapi Bryan melihat hasilnya dirinya bersih dari virus dan penyakit menular. Bryan bernapas lega saat hasilnya sesuai harapannya. Rasa takutnya seketika hilang begitu saja.


"Aku rasa malam ini akan jadi malam pertama yang indah," goda Erik.


"Ini malam kedua bukan pertama," sanggah Bryan.


Erik mengangguk, dia tahu Bryan pernah melakukan hubungan intim dengan Shea, dan mengakibatkan Shea hamil. "Tapi kali ini aku rasa, malam kedua rasa malam pertama." Erik masih terus mengoda Bryan.


Bryan hanya tersenyum. Membenarkan ucapan Erik, mungkin ini akan menjadi malam keduanya tapi melakukan dengan cinta akan menjadinya seindah malam pertama.


"Oke, kalau begitu aku permisi dulu, terimakasih sudah memerikasaku." Bryan berdiri dan mengulurkan tangannya pada Erik.


"Oke, selamat menikmati malam indahmu nanti," ucap Erik seraya menerima uluran tangan Bryan.


Bryan keluar dari ruangan Erik. Senyum mengembang di wajahnya saat hasil yang dia dapatkan sesuai dengan harapannnya. Sebelum pulang, dia menghubungi Felix terlebih dahulu.


***


Saat jam kerja habis, Shea bersama Jessie bersiap untuk pulang. Keluar dari lift, Shea melihat Felix hari kejauhan. "Felix," panggil Shea. Dia melangkah menghampiri Felix yang berada di lobby kantor. " Sedang apa kamu disini?"


"Aku menjemputmu."


Shea mengedarkan pandangannya mencari Bryan. "Kemana Bryan?" Saat tidak menemukan suaminya Shea pun bertanya.


"Dia sedang meeting bersama kolega, dan nanti malam dia akan menghadir makan malam dengan kolega. Jadi dia memintamu untuk ikut juga menemaninya makan malam."


"Maksudmu, setelah dari sini kita kesana begitu?"


"Iya."


Shea mengangguk mengerti penjelasan Felix. Beralih pada Jessie, Shea berpamitan pada teman kantornya itu. "Jessie, aku pulang lebih dulu ya," ucapnya.


"Iya, hati-hati Shea."


Shea tersenyum dan mengikuti Felix untuk menuju tempat acara makan malam dengan kolega. Shea sadar suaminya adalah CEO jadi menemani Bryan akan menjadi hal wajib.


"Di mana makan malamnya?" tanya Shea di tengah-tengah perjalanan mereka.


"Makan malam akan di adakan di hotel star. Tadi Bryan juga sudah memesan satu kamar, jadi kamu bisa bersiap sebelum Bryan menjemputmu."


"Baiklah."


Setelah sampai di hotel dan memastikan Shea sudah masuk ke dalam kamar hotel, Felix pergi meninggalkan Shea.


Di dalam kamar, Shea mengedarkan pandangan melihat kamar hotel yang dipesan Bryan. Mata Shea langsung tertuju pada gaun di atas tempat tidur. Senyum tertarik saat di ujung bibirnya, saat melihat gaun indah yang di siapkan Bryan.


Seleranya, bagus juga, batin Shea. Berlalu menuju kamar mandi, dia membersihkan diri terlebih dahulu.


Malanjutkan bersiap, Shea memakai gaunnya dan memoles sedikit wajahnya. Dia tidak mau membuat Bryan malu, karena istrinya pucat tanpa pulasan make up.


Saat Shea sedang bersiap, terdengar suara ketukan pintu. Apa itu Bryan? batin Shea. Melangkah menuju pintu, dia membuka pintu kamarnya untuk melihat siapa yang mengetuk pintu. Namun, saat membuka pintu, ternyata bukan Bryan yang mengetuk, melainkan seorang petugas hotel.


"Maaf, Bu, saya diminta Pak Bryan untuk mengantarkan ibu ke roftop hotel," ucap petugas hotel.

__ADS_1


Oh dia diminta oleh Bryan. Shea baru mengerti untuk apa petugas hotel datang dan mengetuk pintu kamarnya.


"Baik." Shea menutup pintu dan ikut petugas hotel untuk ke roftop hotel.


"Silakan," ucap petugas mempersilakan Shea untuk melanjutkan sendiri menuju ke restoran yang berada di roftop hotel.


Shea mengangguk dan melanjutkan langkahnya sendiri. Saat melangkah Shea melihat restoran tampak kosong, tak ada banyak kursi di sekitar restoran.


Aneh, bukannya Felix bilang Bryan ada makan malam dengan kolega, tapi kenapa tidak ada orang?


Saat memikirkan kenapa restoran sepi, mata Shea tertuju pasa sebuah kotak besar berada di tengah-tengah. Tapi yang menjadi fokusnya adalah, kotak itu bertuliskan 'untuk Olivia Shea'.


Untuk aku? tanya pada dirinya sendiri. Karena penasaran Shea akhirnya membuka tali pita, untuk membuka isi di dalam kotak.


Shea terkejut saat kotak terbuka, karena kotak berisikan balon. Balon-balon berterbangan saat kotak terbuka. Layaknya burung, balon-balon itu pun terbang bebas ke udara, dan menghiasi langit malam.


Senyum tipis tergambang di wajah Shea, saat melihat balon-balon yang terbang tinggi. Kembali melihat kotak yang tadi dibukannya, matanya melihat ada satu balon yang belum terbang, karena terikat.


Kertas apa itu? Shea yang melihat sebuah kertas tergantung di balon yang diikat, menjadi penasaran tulisan apa yang ada di dalamnya.


Meraih kertas, dia membacanya. Surat pembatalan perjanjian pernikahan kontrak. Shea membaca tulisan yang terdapat di kertas tersebut.


Shea mendengus diiringi senyuman di wajahnya. Air matanya pun ikut mengalir saat merasakan satu kebahagiaannya. Padahal aku baru mau membahas perihal surat perjanjian, tapi dirimu sudah membatalkannya. Tak bisa Shea ungkapakan lagi perasaan senangnya saat melihat surat penjanjian nikahnya.


"Aku ingin memulai semua dari awal."


Shea yang baru saja mendapat kejutan dari Bryan kembali menyadarkan dirinya saat suara yang dia hapal terdengar di telinganya. Suara bass yang begitu indah baginya itu, membuatnya menoleh dan mencari dari sebelah mana suara itu berasal.


Suara derap langkah sepatu memecah keheningan malam. Dari sudut gelap Bryan berjalan menuju di mana Shea berdiri. Denting piano dan suara lagu pun mengirim langkah Bryan.


"Memberikan kebahagiaan yang harusnya aku berikan dari awal." Bryan melanjutkan ucapannya.


Langkah Bryan sampai di tempat di mana Shea berada, berdiri tepat di hadapan Shea, dia menatap lekat wajah istrinya. "Tuhan memberikan pertemuan buruk untuk kita, agar kita belajar bahwa awal yang buruk, tidak selamanya akan berakhir buruk. Tuhan juga seolah memberikan waktu pada kita, untuk menuju akhir bahagia."


Bryan berlutut dihadapan Shea, dan membuka sebuah kotak yang berisikan cincin. "Olivia Shea Adion, maukah kamu menuju akhir bahagia bersamaku? Melewati hal indah yang akan kita ciptakan bersama, untuk mencapai akhir bahagia."


Air mata Shea mengalir tanpa diminta. Tak terbayangkan oleh Shea, Bryan akan memberikan kejutan indah untuknya. Seolah kehilangan kata-kata, Shea hanya mengangguk.


Mendapatkan anggukan dari Shea, Bryan tersenyum. Dia meraih tangan kiri Shea. "Dulu aku tak pernah melamarmu, dan mungkin kini sudah terlambat untuk melamarmu, jadi cincin ini aku berikan untuk tanda, jika kita akan memulai semua dari awal," ucap Bryan seraya memasangkan cincin di jari manis tangan kiri Shea.


Bryan berdiri dan mendaratkan kecupan di punggung tangan Shea. "Aku mencintaimu," ucapnya menatap lekat kedua bola mata Shea.


"Aku juga mencintaimu." Ungkapan cinta yang tertunda diberikan Shea kemarin, akhirnya diberikan sekarang.


Tatapan mata keduanya membuat mereka perlahan mendekat. Pertemuan dua bibir pun tidak terelakan. Rasa rindu yang masih tersisa, dan perasaan yang sudah terlepas, membuat ciuman penuh cinta antara keduanya.


"Kenapa?" Bryan yang melihat Shea melepas ciumannya bertanya.


"Malu, jika ada yang melihat."


"Berarti jika tidak ada, kamu tidak akan malu?" Senyum tipis tertarik di bibir Bryan saat mengoda Shea.


"Jangan mulai," ucap Shea mencubit lembut perut Bryan. "Jelaskan, apa kamu sengaja membohongiku dengan alasan makan malam dengan kolega?"


"Aku tidak membohongimu, aku memang mengajakmu untuk makan malam, mungkin Felix saja yang menambahi jika aku makan malam dengan kolega."


Shea hanya melirik sedit saat Bryan malah menyalahkan Felix. Dia menambahkan gelengan kepala, karena heran dengan sikap Bryan yang tidak mau disalahkan.


"Sudah, ayo makan, kamu sudah hampir melewatkan jam makan malam." Bryan menarik lembut tangan Shea dan membawa istrinya itu ke meja makan.


Mata Shea yang melihat pemandangan indah dari atas begitu takjub. Lampu-lampu tampak indah di gelapan malam, seolah menemani indahnya sinar bulan dan bintang.


Setelah Bryan menarikan kursinya untuknya, dia mendudukkan tubuhnya di atas kursi.


"Kapan kamu menyiapkan semua?" Shea masih sangat penasaran kapan Bryan menyiapkan semua.


"Setelah mengantarmu kembali ke kantor."


"Lalu surat perjanjian itu?" tanya Shea menunjuk ke arah balon yang masih terpajang rapi dengan surat perjanjian di sana.


"Itu hanya salinan, yang asli aku simpan, tinggal menunggu tanda tanganmu saja."


"Maksudku kapan kamu menyiapkan surat itu?"


"Sudah lama, sejak aku mengatakan cinta padamu."


Shea terkesiap saat mendengar sudah selama itu Bryan menunggu. "Maafkan aku membuatmu lama menunggu."


"Kamu tahu, untukku, waktu itu tidak lama. Mungkin jika itu bukan kamu, akan butuh waktu yang lebih lama lagi, karena menerima semua yang ada di diriku tidak akan semudah itu."


Tangan Shea meraih tangan Bryan. "Terimakasih sudah memberikan waktu untukku." Shea merasa beruntung karena Bryan mau menunggunya. Mencintai Bryan yang seorang casanova bukan perkara mudah. Belum lagi ditambah dengan di awali kejadian pemerkosaan.


Shea masih beruntung dia berhadapan dengan Bryan, yang mau bertanggung jawab, dan ditambah ingin berubah. Mungkin, di luar sana masih banyak wanita yang bernasib sama dengannya, tapi sayangnya mereka tidak mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti dirinya.


Berjuang dari trauma juga di alami Shea, tapi orang-orang sekitarnya yang baik, membuatnya cepat bangkit. Dulu Shea bepikir, jika Bryan tidak akan masuk dalam daftar pria dalam hidupnya setelah melahirkan, tapi kini Bryan membuktikan jika di pantas ada di daftar milik Shea dan menjadi satu-satunya.


****


Setelah makan malam selesai, Bryan mengajak Shea kembali. Namun, dia tidak mengajak Shea kembali ke rumah melainkan ke kamar hotel. Dia tidak mau semua orang menganggunya. Apalagi adegan mama atau kakaknya yang tiba-tiba datang, dan merusak semuanya.

__ADS_1


"Setelah mengambil baju kita langsung pulang kan?" tanya Shea polos pada Bryan.


Bryan memilih tidak menjawab. Tangannya sibuk membuka pintu kamar yang ditempatinya. Mendorong pintu yang terbuka, tanganya memasukkan access card untuk menyalakan lampunya.


Melangkah masuk, Shea berniat mengambil bajunya dan bersiap pulang. Namun, matanya membulat sempurna, saat bunga bertaburan di atas tempat tidur, dan membentuk bentuk love. Di atas tempat tidur juga terdapat tulisan I love you yang terbuat dari susunan bunga.


Shea ingat betul jika tadi terakhir kali dia meninggalkan kamar hotel, tidak ada hal-hal semacam itu.


"Apa kejutannya belum habis?" Shea tersenyum saat mendapati Bryan terus saja menghujani dirinya dengan kejutan.


"Belum," ucap Bryan.


"Apa kamu masih punya kejutan untukku?"


"Iya, masih, tapi bukan untukmu."


Dahi Shea berkerut, dia langsung menoleh pada Bryan, karena kepala Bryan tepat di bahunya. "Lalu untuk siapa?"


"Untuk baby kita," ucap Bryan. Tangannya membelai lembut perut Shea, dan mengusap lembut lingkar perut Shea.


"Kamu mau apa dengan baby kita?"


"Aku mau menengoknya," ucap Bryan seraya menangkup tubuh Shea dengan kedua tangannya.


"Ach ... " teriak Shea saat merasa tubuhnya melayang. "Kenapa suka sekali mengejutkan," ucap Shea seraya memukul tubuh Bryan.


Bryan menurunkan tubuh Shea di atas tempat tidur dengan perlahan, dan membuatnya berada di bawah kungkungannya. "Maaf," ucapnya pada Shea.


Menjawab Bryan, Shea hanya mengangguk.


Bryan beralih ke perut Shea. Mendaratkan satu kecupan di perut Shea, berharap anaknya bisa merasakan kecupan itu. "Daddy akan menjengukmu, apa kamu tidak keberatan?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Shea tersenyum heran saat mendengar ucapan Bryan.


Bryan kembali ke arah Shea, dan menatap istrinya. "Kalau bertanya pada mommy, pasti jawabannya boleh," goda Bryan.


Shea merona saat Bryan mengodanya. Reaksi tubuhnya yang tidak menolak waktu itu, sudah menjelaskan jika dirinya memang tidak menolak.


"Aku suka saat wajahmu dihiasi rona merah alami," ucap Bryan mendaratkan kecupan di mana rona merah itu berasal. "Jangan tunjukan pada siapa pun wajah malumu itu kecuali padaku." Bibir Bryan mulai menyusuri telinga Shea, dan berbisik. "Kamu mengerti!"


Seperti sihir, Shea mengangguk menjawab ucapan Bryan. Memejamkan matanya, dia merasakan bibir Bryan menyusuri wajahnya.


Bryan mendaratkan satu kecupan di dahi Shea. "Aku akan menganti memori kelammu dengan memori indah." Bryan berharap, kenangan buruk yang dilakukan di masa lalu, akan terganti dengan kenangan indah hari ini.


Senyum tertarik di wajah Shea. Jika dulu dia begitu takut berhadapan dengan Bryan, kali ini ketakutannya sudah lenyap.


Melanjutkan kegiatanya, Bryan menyusuri wajah Shea, dan mendaratkan kecupan di seluruh wajah Shea. Membenamkan bibirnya, pada bibir Shea, Bryan mengecap manisnya bibir istrinya. Gaun yang sengaja, dipilihnya dengan reseleting di belakang, membuatnya mudah membukanya. Dalam satu tarikkan tangannya, Bryan melepas gaun yang melekat di tubuh Shea.


Ini kedua kalinya, Bryan melihat tubuh Shea. Namun, tetap saja membuat dirinya menelan salivanya. Tubuh putih bak porselin tanpa goresan, begitu memanjakan matanya. Jika dulu dia melihat tubuh Shea dipenuhi nafsu saja, kali ini bukan hanya nafsu saja saat melihatnya, tapi ada cinta di dalamnya.


Beralih pada pakaian yang melekat di tubuhnya, Bryan menyingkirkan apa yang melekat di tubuhnya. Shea sudah beberapa kali melihat perut seperti roti sobek milik Bryan. Namun, kali ini, dia mengulang kejadian masa lalu, dimana dia melihat seluruh tubuh pria yang sekarang menjadi suaminya itu, tanpa sehelai benang pun melekat.


"Aku akan harap ini akan jadi memori yang indah untukmu," bisiknya pada Shea saat dia ingin memulai semuanya. Mengapai kenikmatan yang sudah dinantinya sekian lama, dia mulai menyatukan tubuhnya pada tubuh Shea.


Shea sedikit tersentak kaget saat Bryan memulainya, dan membuat jemarinya mencengkram punggung Bryan, hingga mungkin kuku-kuku cantiknya akan meninggalkan luka setelahnya.


Sejenak Bryan memberi jeda, agar Shea menormalkan tubuhnya, dan menerima kedatangannya kembali. Saat melihat Shea sudah mulai relax, Bryan kembali melanjutkannya. Dengan perlahan, dia membuat irama kenikmatannya.


Suara kecapan bibir pun menghiasi kegiatan penyatuan mereka. Sesekali suara erangan lolos dari bibir Shea, dan itu membuat senyum Bryan mengembang. Saat hawa dingin dari pendingin ruangan tak mampu mendinginkan tubuh keduanya, tetesan peluh mengalir di tubuh keduanya.


Erangan Bryan, menandakan jika pelepasanya telah menghampirinya, dan dia mengakhiri penyatuan mereka setelah semburan vanilla di rahim Shea. Senyum tertarik di ujung bibirnya saat merasakan kenikmatan yang begitu dinantinya. "Terimakasih," ucap Bryan seraya mendaratkan kecupan manis di bibir Shea.


Shea hanya mengangguk, dan berfokus pada tubuhnya yang teramat lelah. Dia masih mengatur deru napasnya yang tidak beraturan.


.


.


.


.


.


Aku hanya bisa buat begini ya, pokoknya intinya itulah😜


Ambil inti cerita ya, kalau perjuangan Bryan mendapatkan hasil. Intinya ga sia-sia.


Masih setia? Atau udah mulai bosankah kalian sama cerita mereka berdua?


Tenang habis ini aku akan loncat beberapa bulan, tapi satu bab lagi lah ya...


Masak kalian ga mau lihat wajah Shea malu-malu besok pagi.


Jangan lupa like dan vote


.


.

__ADS_1


__ADS_2