
Sesampainya di villa, Shea dan Bryan menuju kamarnya. Namun, saat melewati meja makan, Shea melihat kotak di atas meja makan.
"Punya siapa ini?" tanya Shea menatap Bryan.
Bryan menaikan bahunya tanda jika dia tidak tahu milik siapa kotak yang berada di atas meja itu.
"Tadi waktu kita pergi belum ada," ucap Shea.
"Aku akan tanyakan penjaga villa. Jangan kamu buka dulu! Takutnya memang itu milik orang lain yang tidak sengaja terkirim kemari."
"Iya, coba tanyakan, aku akan pergi ke kamar lebih dulu."
Bryan pun pergi mencari penjaga villa untuk bertanya, sedangkan Shea menuju ke kamarnya.
Shea yang kelelahan setelah berburu oleh-oleh, kembali ke kamarnya untuk meluruskan kakinya. Duduk di sofa, dia memijat kakinya yang begitu teramat lelah.
Saat sedang asik memijat kakinya, Bryan masuk ke dalam kamar dengan membawa kotak yang terdapat di atas meja makan.
"Kenapa dibawa kemari?" tanya Shea menatap kotak yang berada di tangan Bryan.
"Karena ini punyamu," ucap Bryan. Dia melangkah menghampiri Shea dan memberikan kotak pada Shea.
Dahi Shea berkerut diikuti kedua alisnya yang saling bertautan. "Punyaku?" tanyanya memastikan.
"Iya, ini dari kak Selly. Dia menitipkan pada penjaga villa tadi."
"Oh .... " Shea mengangguk mengerti seraya menerima kotak yang diberikan Bryan.
"Aku akan mandi terlebih dahulu," ucap Bryan setelah menyerahkan kotak pada Shea.
Shea mengangguk menjawab ucapan Bryan. Matanya beralih pada kotak yang berada di tangannya. Kotak berwarna merah dengan hiasan pita tampak cantik saat dilihat.
Namun, fokus Shea beralih pada kertas yang terdapat di pita. Mengambil kertas, dia membacanya.
Untuk Shea. Aku membeli ini tadinya untuk aku pakai sendiri. Namun, karena kami harus pulang mendadak, akhirnya tidak terpakai. Jadi aku mau kamu memakainya. Dari Selly.
Shea membacanya dalam hati isi tulisan yang terdapat di kertas yang dia pegang. Tangannya langsung membuka kotak. Dia ingin tahu, apa yang terdapat di dalam. Namun, baru saja tutup kotak dibuka mata Shea memicing. Dia melihat baju tidur terlipat rapi di dalam kotak.
Apa ini? Shea mengambil seraya melebarkan baju tidur dengan kedua tangannya.
Dahinya berkerut dalam melihat baju tidur yang berada di tangannya. Dia melihat baju tidur dengan bahan polyester dengan desain transparan.
"Baju apa ini? Sama saja aku tidak memakai baju," ucap Shea mencibir.
"Siapa yang tidak pakai baju?" Suara Bryan yang baru saja keluar dari kamar mandi terdengar. Kepalanya yang tertunduk karena sedang menggosok rambutnya, tidak melihat apa yang sedang Shea lakukan.
Tangan Shea langsung menyembunyikan baju tidur yang diberikan oleh Selly. Dia meletakkan baju di belakang tubuhnya, agar Bryan tidak melihatnya.
"Tidak, kamu kenapa tidak memakai baju?" tanya Shea menjawab pertanyaan Bryan.
"Memang kenapa kalau aku tidak memakai baju?"
"Tidak apa-apa," elak Shea. Dia tidak mau membahas lebih tentang Bryan yang hanya memakai handuk di pinggangnya.
"Apa yang diberikan oleh kak Selly?" Mata Bryan menatap kotak yang berada di pangkuan Shea.
"Bukan apa-apa, hanya ... hanya." Shea bingung harus menjawab apa pada Bryan.
Bryan yang melihat Shea gugup, melangkah mendekati Shea. Dia meraih kotak yang berada di pangkuan Shea.
Shea hanya bisa pasrah saat kotak diminta oleh Bryan. Untung isinya sudah aku ambil. Jika tidak, aku tidak bisa bayangkan Bryan meminta aku memakai baju tidur seperti itu.
Senyum tertarik di ujung bibir Bryan saat melihat kotak yang berada di tangannya.
__ADS_1
Mata Shea menerawang ke dalam mata Bryan yang tampak berbinar. Kenapa dia tersenyum, bukannya kotak itu kosong? Shea berpikir keras dengan apa yang dilihat Bryan.
"Mana baju tidurnya?"
Shea terperangah saat Bryan mengetahui jika kotak yang dibawanya berisi baju tidur. "Dari mana kamu tahu?" tanya Shea.
"Ini," ucap Bryan seraya menunjukan G-strings berenda pasangan dari baju tidur yang disembunyikan Shea.
Shea hanya bisa menelan salivanya karena tidak tahu jika ada G-strings di bawah baju tidur yang diambilnya tadi.
"Mana?" tanya Bryan dengan menaikan Kedua alis tebalnya.
"Ini." Mau tidak mau akhirnya Shea menunjukan baju tidur transparan yang dia sembunyikan.
Tangan Bryan langsung meriah baju tidur pemberian Selly. Merentangkan baju dengan kedua tangannya, Bryan tertawa saat melihat baju tidur di hadapannya.
Wajah Shea merona saat melihat Bryan yang melihat baju tidur itu. Walaupun dia tahu, mungkin suaminya itu sering melihat wanita dengan memaki baju seperti itu.
Bryan mendekat pada Shea. membungkukkan sedikit tubuhnya untuk menjangkau wajah Shea. "Kamu tidak perlu memakai seperti ini," ucap Bryan.
Shea bernapas lega saat mendengar jika Bryan tidak memintanya memakai baju tidur aneh dengan model transparan itu.
"Karena kamu tidak perlu memakai sehelai benang pun di tubuhmu."
Shea yang sudah terbang melayang karena senang, seketika terhempas begitu saja. Wajahnya pun pucat seketika saat mendengar ucapan Bryan.
Bryan langsung tertawa melihat wajah istrinya pucat. Dia mendaratkan kecupan di pipi Shea karena gemas. "Jadilah dirimu sendiri, dengan atau pun tidak kamu memakai baju seperti itu, bagiku kamu tetep menggoda," ucap Bryan mengedipkan matanya.
Pipi Shea menghangat, dan menyemburkan warna merah di pipinya. Sudah beberapa kali Shea melakukannya dengan Bryan, tapi ada kalanya terkadang dia masih malu.
"Tapi jika kamu mau menghargai pemberian kak Selly, paling tidak pakailah!" ucap Bryan tersenyum dan menegakkan tubuhnya.
Mengingat kakak iparnya, Shea merasa tidak enak. Kakak iparnya itu pasti akan menanyakan padanya nanti setelah kembali dari villa.
Saat memikirkan alasannya pada kakak iparnya, Shea mendengar ponselnya berbunyi. Mengambil ponselnya dia ingin melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
Shea, aku mau kamu memakai baju tidur yang aku berikan. Ini permintan ibu hamil, jadi jangan menolak.
Shea membaca pesan yang ternyata dari Selly. Dia semakin terpojok. Sebenarnya bukan masalah memakainya yang dipikirkan Shea. Namun, satu hal yaitu Bryan.
Aku memakai baju lengkap saja Bryan tergoda, apalagi memakai baju sepeti itu.
Rasanya Shea tidak sanggup membayangkan akan sebuas apa Bryan melihatnya memakai baju tidur transparan dengan G-strings.
"Cepat mandi!" Suara Bryan terdengar memerintah Shea yang masih diam di sofa.
"Iya." Shea bangun dari sofa dengan membawa baju tidur pemberian Selly. Dia akan menimbang-nimbang lagi di kamar mandi akan dipakai atau tidak baju tidur pemberian Selly itu.
***
Selesai mandi, Shea keluar dari kamar. Namun, sebelum keluar Shea mengintip dari balik pintu yang dia buka sedikit. Saat tidak menemui Bryan di kamar, dia tersenyum.
Buru-buru dia keluar dari kamar mandi. Tempat yang ditujunya adalah tempat tidur. Dia membuka selimut dan membenamkan tubuhnya ke dalam selimut.
Aku malu sekali jika Bryan melihat aku benar-benar memakai baju tidur ini.
Shea hanya berharap keputusannya memenuhi keinginan Selly akan membuat ibu hamil itu senang.
Sibuk dengan pikirannya Shea melihat pintu terbuka dan memperlihatkan Bryan yang baru masuk ke dalam kamar. "Kamu dari mana?"
Bryan tersenyum memamerkan deretan giginya. "Dari merokok di luar."
"Kamu masih merokok?" Shea menatap tajam pada Bryan.
__ADS_1
"Sayang, kamu tahu bukan tidak semudah itu," ucap Bryan.
Shea tahu kebiasaan merokok Bryan belum bisa lepas begitu saja. "Ya sudah, ganti bajumu dan gosok gigi dulu sebelum kamu mendekat padaku," ucap Shea.
"Iya." Bryan pun mengikuti perintah Shea dan berlalu ke kamar mandi.
Selesai menggosok giginya dan melepas bajunya, Bryan keluar dari kamar mandi. Namun, bukan mengambil baju di lemari, Bryan langsung menyusul Shea ke tempat tidur.
"Kenapa tidak memakai baju? Nanti kamu bisa sakit!"
"Aku tidak perlu baju," ucap Bryan mengedipkan mata. Merangkak ke atas tempat tidur dia mendekat pada Shea. Tangannya meraih selimut yang membungkus tubuh Shea.
Shea yang tidak mau Bryan melihat dirinya yang memakai baju tidur pemberian Selly, mengeratkan selimutnya.
"Kenapa?" Bryan yang melihat Shea tidak mau membuka selimutnya, bertanya.
"Tidak apa-apa."
"Buka!" ucap Bryan seraya menarik selimut yang membungkus tubuh Shea. Karena kekuatan Bryan lebih besar, akhirnya selimut tertarik.
Mata Bryan membulat sempurna melihat tubuh istrinya dengan balutan baju tidur transparan. Walaupun dengan perut yang semakin membuncit tapi tetap saja membuat tubuhnya begitu menggoda.
"Aku pikir kamu tidak akan memakainya."
"Kak Selly mengirimi aku pesan untuk memakainya. Katanya 'permintaan ibu hamil'." Shea menjelaskan alasannya.
"Apapun alasannya aku suka," ucap Bryan membenamkan bibirnya pada bibir Shea. Mencium lembut bibir manis milih istrinya.
Tangannya mulai gerilya menyusuri tubuh Shea. Hingga terdengar suara robekan yang membuat Shea mendorong tubuh Bryan. "Kenapa bajunya dirobek?" tanya Shea bingung.
"Memang gunanya untuk dirobek." Bryan mengabaikan Shea dan kembali membenamkan bibirnya. Kali ini yang dituju adalah ceruk leher milik Shea.
"Apa dibeli hanya untuk dirobek? Kalau begitu kamu hanya akan membuang uang saja." Shea yang melihat bajunya dirobek benar-benar kesal.
Bryan mendengus kesal. Saat dirinya sudah akan memulai kegiatannya, istrinya justru mengajaknya berdebat. "Kamu tahu, setiap pasangan suami istri akan jarang sekali memakai baju macam ini, apalagi mereka yang sudah punya anak."
"Apa hubungannya?" tanya Shea dengan tatapan mencibir.
"Kalau tidak ada yang pakai, perusahaan pembuat baju tidur ini akan tutup. Jadi aku membantu mereka menaikan penjualan agar kita bisa membeli kembali."
"Alasan macam apa itu?" Shea masih tidak terima dengan alasan yang Bryan berikan.
Bryan hanya bisa menahan dirinya. Dia sadar jika merobek sesuatu yang melekat di tubuh saat sedang melakukan kegiatan seperti itu adalah hal biasa. Namun, Bryan tidak bisa mengatakan jika hal itu biasa, karena akan mengingatkan Shea jika dirinya yang sering menyentuh wanita.
"Sudah lupakan! Ayo lanjutkan!" Bryan kembali membenamkan bibirnya pada tubuh istrinya yang sudah tanpa sehelai benang.
Shea hanya bisa mengikuti apa yang Bryan lakukan. Kegiatan yang menguras tenaga dan menciptakan kenikmatan, dilakukan oleh sepasang suami istri itu dengan perlahan. Berharap kegiatan mereka tidak akan menganggu si kecil yang tergoncang karena gerakan kedua orang tuanya.
.
.
.
.
.
Q : kok nangung Thor? ga di jelasin. Apalagi yang kayak es krim kemarin.
A : Aku takut imajinasiku seliar Bryan, jadi cukup segini aja ya😁
...Up jam 12 WIB...
__ADS_1
...Jangan lupa Like dan Vote...