
Shea yang mendengar ucapan Bryan hanya melirik ke arah Bryan. Shea tidak mengerti maksud dari kata-kata Bryan.
"Kalian berdua memang harus selalu memperhatikan ibu hamil." Suara Melisa memecah perdebatan kecil, anaknya. Melisa tidak keget saat Selly dan Bryan berdebat. Karena memang itu adalah hal biasa yang di lakukan Selly dan Bryan.
Shea yang mendengar ucapan Melisa menangkap, jika ucapan itu di tujukan pada Bryan dan Regan.
"Apa mama tidak melihat jika aku sudah perhatian?" Pertanyaan terdengar sebuah protes di ucapkan oleh Bryan.
"Perhatian apa?" tanya Selly yang terdengar seperti sebuah cibiran.
"Apa kakak tidak lihat, aku yang membawa Shea ke rumah sakit, aku juga yang menjaga Shea di rumah sakit." Bryan yang tidak suka di cibir pun memberikan pembelaan.
"Itu tanggung jawab namanya," ucap Selly.
"Sama saja," ucap Bryan kesal.
"Sudah-sudah, kalian kalau bertemu selalu saja berdebat." Daniel yang mendengar perdebatan kedua anaknya mencoba memisahkan.
Bryan hanya mendengus kesal. Bryan akui, setiap bertemu dengan kakaknya, dirinya selalu saja berdebat. Tapi kali ini perdebatannya melibatkan Shea, dan dirinya tidak terima.
"Sayang, sudah, cepat habiskan makanmu!" Regan sudah sangat biasa mendengar perdebatan antara istrinya dan Bryan. Jadi Regan tidak terlalu mengambil pusing saat mendengar.
Melihat orang-orang yang nampak biasa mendengar perdebatan Selly dan Bryan, Shea berpikir mungkin karena itu sudah jadi hal biasa yang di lakukan, jadi mereka semua tidak terlalu menanggapi berlebih.
"Apa kamu mau sayur lagi?" tanya Regan pada Selly. Regan yang melihat Selly masih tampak kesal, mencoba mengalihkan.
"Mau," ucap Selly dengan senyum.
Regan pun mengambilkan sayur untuk Selly, dan menuangkan di atas piring milik Selly.
"Kamu juga mau sayur kan Shea?" tanya Bryan pada Shea. Bryan yang merasa tidak terima saat Regan memamerkan perhatian pada Selly di hadapannya, akhirnya juga ikut memperhatikan Shea.
Tapi belum sempat Shea menjawab, Bryan sudah mengambilkan dan menuangkan sayur ke piring Shea.
Shea membulatkan matanya, saat sayur yang di berikan Bryan begitu banyak. "Bryan, cukup!" ucap Shea menghentikan Bryan.
"Kamu harus banyak makan sayur, agar anakku sehat di dalam kandunganmu." Tangan Bryan terus saja menuang sayur di atas piring Shea.
Melihat banyak sayur di atas piringnya, mendadak membuat Shea kenyang. Tapi rasa tidak enak pada Melisa yang sudah menyiapkan makanan, membuat Shea tidak punya pilihan untuk memakannya.
Dia yang berdebat, kenapa aku yang jadi korban.
Shea hanya bisa membatin dalam hatinya kekesalan pada Bryan.
***
Setelah selesai makan malam, Selly dan Regan memilih langsung pulang. Regan beralasan tidak mau Selly terlalu lelah.
"Shea, apa kamu sudah lebih baik?" tanya Regan pada Shea sebelum dirinya dan Selly pulang.
"Sudah, Kak."
"Baiklah, aku harap kamu bisa cepat berkerja kembali."
"Apa memberikan izin beberapa hari kakak tidak bisa?" tanya Bryan yang kesal dengan Regan.
"Aku sudah baik Bryan, dan besok juga aku juga sudah bisa berkerja," elak Shea.
Mendengar jawab Shea, Bryan benar-benar kesal. "Apa kamu tidak ingat jika kamu tidak membawa baju kerja. Jadi kamu tidak akan bisa berkerja besok."
Sejenak Shea mengingat memang dirinya tidak membawa baju kerja. "Iya, aku lupa." Shea memikirkan cara bagaimana dirinya bisa berkerja.
"Masuk kerjalah lusa. Besok gunakan waktumu untuk istirahat," ucap Regan pada Shea.
Suara Regan yang tenang, seketika membuat Shea tenang. Tadinya Shea panik memikirkan cara untuk masuk kerja, tapi sekarang Shea merasa lega, karena Regan memberikan izin kembali.
"Terimakasih, Kak."
"Iya," jawab Regan di sertai anggukan menjawab ucapan Shea.
"Ayo sayang, kita pulang," ucap Regan seraya menautkan jemarinya pada jemari Selly.
Shea yang melihat bagaimana mesranya Regan dan Selly, merasa sangat iri. Pandangan Shea langsung tertuju pada tangan Selly dan Regan, yang saling menautkan jemarinya.
Berbeda dengan Shea, Bryan memutar bola matanya malas, saat melihat kemesraan dari Selly dan Regan.
"Kami pulang dulu," ucap Selly berpamitan.
"Iya, hati-hati," ucap Melisa.
Regan dan Selly pun berlalu menuju mobilnya, dan melajukan mobilnya sesaat mereka masuk.
"Masuklah sayang, kamu juga harus istirahat," ucap Melisa pada Shea.
"Iya, Ma."
Shea dan Bryan pun masuk ke dalam rumah.
***
__ADS_1
Setelah makan malam dan Selly dan Regan pulang, Shea masuk ke dalam kamar Bryan. Melakukan rutinitasnya, Shea membersihkan wajahnya sebelum tidur.
Saat sedang membersihkan wajahnya. Shea melihat Bryan masuk ke dalam kamar. Walapun tadi siang, dirinya sudah berbagi ranjang dengan Bryan.Tapi entah kenapa, suasana malam nampak berbeda. Keheningan malam begitu terasa saat Bryan masuk ke dalam kamar.
"Kamu belum tidur?" tanya Bryan yang melihat Shea masih di depan cermin.
"Iya, setelah menbersihkan wajah aku akan langsung tidur."
Bryan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya masih melayang mengingat ucapan Selly dan tatapan Regan. Apa lagi memutar kembali ingatannya tentang bagaimana Regan marah saat tahu jika Shea masuk rumah sakit, Bryan semakin bingung dengan sikap Regan.
"Apa Regan suka memperhatikanmu di kantor?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Bryan.
Shea yang masih sibuk memakai cream wajah, menoleh saat mendapati pertanyaan dari Bryan. Mendapati pertanyaan tentang perhatian Regan, Shea sendiri bingung.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Menatap langit-langit kamar, tatapan Bryan kosong. "Aku hanya ingin tahu, sejauh apa kedekatanmu dengannya," ucap Bryan.
"Kedekatan?" Shea mengerutkan dalam dahinya, saat mendengar ucapan Bryan.
"Apa kamu menyukai Regan?" Pertanyaan kembali terucap dari mulut Bryan, sebelum Shea sempat menjawab pertanyaan sebelumnya.
Menyukai Kak Regan?
Shea hanya bisa membatin dalam hati pertanyaan itu.
Shea menyadari jika sejak awal dia berkerja, matanya langsung terpesona pada Regan. Di tambah bagaimana Regan memperlakukan Selly, memperhatikan Selly, menjadi kekaguman tersendiri di hati Shea.
"Aku hanya mengaguminya saja," jawab Shea.
Mendengar jawaban Shea. Bryan menarik senyum kecil di sudut bibirnya. "Sebuah rasa kagum, bisa berubah jadi rasa suka, jika berlebih," ucap Bryan. Berkaca pada dirinya sendiri, Bryan sadar jika dirinya berawal dari sebuah rasa kagum, kini dirinya menyukai Shea.
Shea terperjat memdengar ucapan Bryan. Dirinya sadar jika kekagumannya memang berlebih. Karena rasa iri sudah mucul saat bagaimana Regan memperhatikan Selly. "Aku sudah mengantuk," ucap Shea mengalihkan pembicaraan.
Melangkah ke arah tempat tidur, Shea mengambil posisi di sisi tempat tidur. Membelakangi Bryan, Shea memejamkan matanya.
Bryan yang melihat Shea mengalihkan pembicaraan. Menduga jika Shea memiliki perasaan pada Regan. Tapi dirinya belum yakin dengan dugaanya.
Bryan menatap punggung Shea, yang sudah merebah di atas tempat tidur.
Aku pun merasakan kekaguman denganmu, dan kekagumanku berubah menjadi rasa suka. Aku hanya takut hal itu yang akan kamu rasakan pada Regan saat kamu mengaguminya.
Bryan hanya bisa merasakan ke takutan dalam hatinya.
***
Sejenak Shea lupa kalau semalam dirinya tidur satu ranjang dengan Bryan, dan seketika membuat Shea merasakan ketakutan. Tapi saat menetralkan detak jatungnya, Shea mulai tersadar, jika dirinya tinggal di rumah mertuanya dan tidur di kamar Bryan.
"Aku lupa kalau aku tidur di rumah Mama Melisa," gumam Shea. Menatap ke arah Bryan, Shea melihat wajah pulas Bryan. Wajah yang begitu menyebalkan saat di lihatnya jika berdebat, berubah menjadi polos.
Melihat mulut Bryan yang terbuka, membuat Shea menarik senyum di wajahnya. Tangan Shea langsung memegang dagu Bryan, untuk membuat mulut Bryan tertutup. Mulut Bryan yang tadinya terbuka, akhirnya tertutup rapat.
Menyibak selimutnya, Shea berlalu ke kamar mandi. Membuka bajunya, Shea melihat bra yang dia pakai. "Sepertinya hari ini aku akan ke mall saja, untuk membeli beberapa baju dan pakaian dalam." Melihat baju dan pakaian dalam yang mulai tidak muat, membuat Shea berniat untuk membelinya nanti.
Saat sudah rapi dengan pakaiaannya, Shea keluar dari kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi, Shea melihat Bryan yang masih tertidur pulas. Melihat jam dinding yang menunjukan sudah hampir pukul tujuh, Shea akhrinya membangunkan Bryan.
"Bryan," panggil Shea seraya mengoyangkan lengan Bryan. "Bangun."
Bryan yang merasakan sentuhan di tubuhnya, langsung menarik tangan yang berada di lengannya.
Shea yang tidak menyangka Bryan akan menarik tangannya, membuat Shea tidak siap. Akhirnya tubuh Shea terhuyung ke atas tubuh Bryan.
"Aku masih mengantuk," ucap Bryan. Bryan langsung membawa Shea ke dalam pelukannya, dan membalik tubuh Shea, membuat Shea berada di sampingnya. Pelukan hangat Bryan pun berikan pada Shea.
Mendapat pelukan dari Bryan, Shea berusaha melepaskan diri. "Bryan," ucap Shea memanggil nama Bryan. Jantung Shea berdetak lebih cepat. Rasa takutnya seketika menyerangnya kembali. Bayangan-bayangan masa lalunya kembali dalam ingatannya.
Tapi saat mendengar dengkuran halus dari napas Bryan. Shea menyadari, jika Bryan sedang tertidur pulas, dan itu membuat ketakutan Shea perlahan mereda.
Berusaha melepaskan diri dari Bryan, akhirnya Shea dapat keluar dari pelukan Bryan. "Walapuan aku sudah tidak terlalu takut, tapi bukan berarti dia bisa memelukku sesuka hati," grutu Shea.
Shea yang kesal, akhirnya memilih untuk keluar dari kamar. Dia tidak mau berlama-lama bersama Bryan di kamar.
Bryan yang melihat Shea sudah keluar dari kamar, menarik senyum di wajahnya.
"Ternyata kamu sudah tidak takut denganku," ucap Bryan membuka matanya.
***
Sepanjang berjalan keluar kamar, Shea masih saja mengrutu. Perasaan begitu kesal, mengingat jika dirinya baru saja di peluk oleh Bryan. Tapi mendengar dengkuran halus dari napas Bryan. Shea yakin jika Bryan tidak sengaja melakukannya.
"Kamu sudah bangun, sayang," ucap Melisa yang melihat Shea menuruni anak tangga.
"Iya, Ma."
"Bryan mana?"
"Bryan masih tidur, Ma."
"Anak itu selalu saja susah bangun," grutu Melisa. "Tolong bangunkan Bryan lagi. Anak itu tidak akan mau bangun kalau tidak di bangunkan."
__ADS_1
Mendengar ucapan Melisa, Shea tidak bisa menolak. "Baik, Ma." Menghela napasnya, Shea kembali memutar tubuhnya kembali ke kamar.
Rasanya Shea malas sekali harus membangunkan Bryan, tapi dirinya tidak punya pilihan. Membuka pintu kamar, Shea masuk ke dalam kamar Bryan.
"Kemana dia?" Mengedarkan pandangannya Shea tidak melihat Bryan di atas tempat tidur.
"Mungkin dia mandi," ucap Shea seraya melangkah lebih dalam ke kamar Bryan.
Menuju ke tempat tidur, Shea merapikan tempat tidur.
Saat Shea sedang merapikan tempat tidur, Shea mendengar pintu kamar mandi terbuka.
"Kamu disini?" tanya Bryan.
"Iya," jawab Shea malas seraya memutar tubuhnya. "Ahhh..." teriak Shea saat melihat Bryan hanya berbalut handuk di pingangnya. Shea buru-buru membalikkan tubuhnya kembali, agar tidak melihat tubuh Bryan.
"Kenapa berteriak?" tanya Bryan yang heran mendengar teriakan Shea.
"Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk seperti itu."
"Oh..." Bryan baru mengerti apa yang membuat Shea berteriak. "Tadi aku pikir kamu tidak ada, jadi aku keluar dengan memakai handuk saja."
Shea tidak bisa menyalahkan Bryan. Karena memang dirinya tadi masuk saat Bryan sudah di dalam kamar mandi. "Ya sudah, aku akan keluar," ucap Shea. Shea melangkah membelakangi Bryan, agar tidak melihat Bryan yang hanya mengenakan handuk.
"Kenapa harus keluar?"
Shea mengerutkan dahinya mendengar ucapan Bryan. "Lalu untuk apa aku disini?"
Untuk melihat dada six pack ku. Siapa tahu kamu terpesona, batin Bryan menjawab pertanyaan Shea.
Bryan yang memang ingin Shea melihat dadanya, merasa bingung harus beralasan apa. " Untuk... untuk keluar dari kamar bersama ku."
Shea semakin bingung dengan jawabn Bryan. "Aku tidak mengerti maksudmu?"
"Maksudku, jika kamu keluar sendiri, mama akan bertanya kemana aku. Jadi lebih baik kamu menunggu aku saja."
"Benar juga, pasti kalau aku keluar mama akan bertanya," gumam Shea. "Ya sudah, cepat ganti bajumu, aku akan menunggu disini."
"Baiklah." Bryan tersenyum puas saat Shea mau menunggunya untuk menganti baju.
"Cepat!" seru Shea yang belum mendengar langkah kaki Bryan.
"Iya," jawab Bryan. "Jangan mengintip," ucap Bryan. Bryan melangkah ke lemari baju, untuk mengambil kemeja dan jas miliknya.
Shea hanya mendegus kesal, mendengar ucapan Bryan. "Siapa juga yang mau mengintipmu."
"Ya siapa tahu kamu mencuri-curi mengintip aku yang sedang menganti baju," ucap Bryan seraya memakai celannya.
Shea hanya bisa memutar bola matanya mendengar ucapa Bryan.
"Jangan mengintip," ucap Bryan kembali memperingatkan Shea.
"Kamu berisik sekali," ucap Shea yang kesal. Tanpa Shea sadari, Shea menolak, dan melihat tubuh Bryan dari pantulan cermin.
Astaga, aku melihatnya. Tapi untung dia sudah memakai celannya. Mimpi apa semalam aku melihat tubuhnya lagi.
Shea hanya mengrutu dalam hantinya, saat melihat tubuh six pack milik Bryan.
"Selesai," ucap Bryan saat menyelesaikan memakai baju.
Shea yang mendengar ucapan Bryan langsung memutar tubuhnya. Dia merasa lega, karena Bryan sudah rapi dengan bajunya.
"Sebelum berkerja bisakah kamu mengantar aku pulang dulu?" tanya Shea yang menunggu Bryan bersiap.
"Kamu mau pulang hari ini?"
"Iya. Aku mau istirahat di rumah saja."
Mendengar ucapan Shea, Bryan merasa kecewa.
Kalau kembali ke apartemen, pasti Shea akan kembali tidur di kamarnya. Bryan hanya bisa membatin apa yang akan terjadi di apartemen.
Bryan tidak punya alasan untuk menolak keinginan Shea. "Baiklah."
Shea merasa senang bisa pulang. Rasanya dirinya tidak sabar tidur di kamarnya. Dirinya tidak mau berlama-lama di kamar dengan Bryan. Walaupun saham menjadi taruhannya, Shea tetap takut jika Bryan melupakan hal itu.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan vote😉
__ADS_1