My Baby CEO

My Baby CEO
Ada kamu


__ADS_3

Saat masih di depan pintu bioskop, Bryan dan di kagetkan dengan suara memanggil dari belakang mereka.


"Pak, Bu."


Suara terdengar lembut, tapi membuat Bryan dan Shea terjingkat dan saling memeluk, karena ketakutan.


"Maaf, Pak, Bu, saya mengagetkan kalian." Pertugas keamanan meminta maaf saat membuat Shea dan Bryan ketakutan.


"Bapak, kenapa tiba-tiba disini?" tanya Shea seraya melepas pelukannya pada Bryan.


"Saya sudah ada disini saat Bapak dan Ibu tertawa." Petugas kebersihan pun menjelaskan.


Shea dan Bryan yang tadi fokus berlari, tidak menyadari jika ada orang yang di belakang mereka.


"Bapak dan Ibu, baru saja melihat film komedi ya?"


Bryan dan Shea saling pandang saat mendapatkan pertanyaan dari petugas kebersihan. Seketika tawa mereka kembali terdengar saat mengingat jika mereka sebenarnya menonton film horor.


Petugas kebersihan begitu bingung saat melihat Bryan dan Shea tertawa. "Saya permisi dulu." Akhirnya petugas kebersihan memilih meninggalkan Shea dan Bryan yang masih tertawa.


Saat sudah sangat lelah tertawa, mereka menghentikan tawa mereka.


"Pak," panggil Bryan pada petugas keamanan.


"Iya." Petugas keamanan berbalik dan menatap Bryan.


"Tolong bersihkan pop corn yang tercecar di dalam bioskop," ucap Bryan. Tangan Bryan merogoh dompet di saku kantungnya dan mengambil beberapa lembar uang.


"Ini," ucap Bryan memberikan pada petugas kebersihan.


"Tidak perlu, Pak, memang sudah tugas saya." Petugas kebersihan menolak uang yang diberikan Bryan.


"Tidak apa-apa, terima saja!" Bryan kembali memberikan uangnya pada petugas kebersihan.


"Terimakasih, Pak."


Shea dan Bryan pun berlalu meninggalkan petugas kebersihan.


Petugas kebersihan masuk ke dalam bioskop untuk membersihkan tumpahan pop corn yang diminta oleh Bryan. Tapi baru saja dia masuk, dia sudah terjingkat, saat mendengar suara tawa hantu yang menggelegar mengisi keheningan bioskop.


Mereka habis menonton film horor, tapi kenapa mereka tertawa.


Petugas kebersihan merasa bingung dengan apa yang terjadi pada Bryan dan Shea.


***


Keluar dari bioskop Shea dan Bryan masih tertawa, mengingat kekonyolan mereka yang baru saja keluar dari bioskop.


Bryan tidak menyangka, niatnya ingin berduaan dengan Shea harus bubar karena dirinya yang salah memilih film. Tadi Bryan pikir, Shea akan memeluknya saat ketakutan, dan itu akan jadi sangat romantis. Tapi ternyata dugaannya salah, dirinya dan Shea malah ketakutan hingga kabur dari bioskop.


"Sepertinya kamu bermandikan pop corn." Bryan mengambil beberapa pop corn yang menempel di rambut Shea.


"Kamu juga." Shea pun mengambil pop corn yang menempelkan.


Menatap Shea yang sedang membersihkan pop corn di rambutnya, Bryan merasa kebahagiaan begitu melingkupi hatinya. Tawa Shea yang lepas tadi memperlihatkan wajah cantik Shea begitu terpancar.


"Jangan lagi kamu membeli tiket bioskop terlalu banyak, cukup dua saja!" seru Shea memberikan peringatan.


"Iya, aku janji lain waktu aku tidak akan membeli banyak tiket." Bryan benar-benar merutuki kesalahannya, karena kencan pertama mereka harus gagal dengan insiden lari dari dalam bioskop.


"Aduh perutku sakit." Shea memegangi perutnya.


"Apa yang sakit? Apa karena tadi lari?" Bryan merasa panik saat melihat Shea.


"Seperti tidak, aku kan tidak lari kencang."


"Lalu kenapa?"


"Mungkin karena tadi aku tertawa."


"Kamu yakin? Apa kita perlu periksakan ke dokter."

__ADS_1


"Tidak, aku rasa tidak apa-apa. Mungkin hanya kram karena tertawa saja." Shea menenangkan Bryan yang sudah mulai panik.


"Baiklah, kalau kamu merasa baik-baik saja."


Shea tersenyum disertai anggukan. "Aku mau makan." Shea menatap Bryan.


"Kamu mengemaskan sekali." Bryan yang melihat wajah Shea, merasa sangat gemas. Mencubit pipi Shea lembut, Bryan mengungkapkan rasa gemasnya.


Shea hanya mencebikkan bibirnya saat Bryan mencubit pipinya.


"Sudah, ayo." Bryan merengkuh pinggang Shea dan mengajaknya untuk makan.


Bryan dan Shea berkeliling, memilih-milih restoran mana yang diinginkan oleh Shea. Setelah mendapatkan restoran yang diinginkan, Shea dan Bryan masuk ke dalam restoran.


Saat melihat menu makanan, Shea memesan beberapa makanan. Bryan yang melihat Shea yang memilih banyak makanan, hanya bisa menelan salivanya.


"Apa benar, kamu tidak mau di periksa ke dokter?" Bryan memastikan kembali pada Shea.


"Iya, aku tidak apa-apa."


Percuma bertanya pada Shea, lebih baik aku langsung membawanya nanti ke dokter.


Akhirnya Bryan memilih merencanakan sendiri saat Shea tetap tidak mau ke dokter.


Beberapa saat kemudian, makanan yang di pesan Shea datang. Pelayan menghidangkan di meja makan seluruh makanan. Meja yang tadinya kosong, seketika menjadi penuh.


Bryan menggeleng melihat makanan tersaji di atas meja.


"Apa kamu yakin akan habis memesan segitu banyak makanan?" Mulut Bryan terasa gatal sekali untuk tidak mengomentari Shea.


"Bukannya ada kamu." Shea menjawab dengan enteng.


Mata Bryan membulat sempurna saat mendengar ucapan Shea.


Kenapa aku yang jadi tumbal.


Shea langsung memakan hidangan yang berada di hadapannya. Mencicip satu persatu makanan, Shea memastikan makanan itu enak di lidahnya.


Bryan yang memperhatikan Shea, seketika merasakan kenyang saat melihat istrinya itu makan dengan lahap.


Dari semua makanan yang Shea pesan, hanya setengah yang dimakan oleh Shea.


"Sisanya kamu habiskan." Shea meletakkan dan membalikkan sedok, tanda dirinya sudah selesai makan.


Mata Bryan membulat sempurna diiringi dahi yang berkerut dalam, saat melihat ulah Shea yang hanya makan setengah dari yang dia pesan. Walapun hanya setengah, tapi makanan yang ada di hadapan Bryan cukup banyak.


"Apa kamu tidak suka makan sisa dari aku?" Wajah Shea berubah saat melihat Bryan hanya melihat makanan dihadapannya, dan tidak segera menyentuhnya.


"Aku suka makan sisa darimu." Bryan meraih sendok dan mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Apa kamu tidak ingat, jika dulu aku makan omelet milikmu."


Memutar Ingatannya, Shea mengingat jika dulu Bryan memakan omelet miliknya saat dirinya sedang kesal. Dulu Shea meninggalkan makan dan ternyata Bryan menghabiskannya.


Dengan memaksakan diri, akhirnya Bryan memakan semua makanan yang ada di hadapannya. Sebenarnya Bryan tidak sanggup memakan makanan di hadapannya. Tapi mata Shea yang terus mengawasinya, membuatnya begitu takut.


Saat sedang makan, seseorang menepuk bahu Bryan. "Bry, kamu disini?"


Tepukan bahu, seketika membuat Bryan kaget, dan membuat sup yang baru saja hendak dia makan tumpah dan terciprat ke wajahnya.


Bryan yang kesal, menoleh ke arah belakang. Sebenarnya dari suaranya saja, dia sudah tahu siapa. Tapi rasanya Bryan ingin melihat wajah menyebalkan orang yang sudah dengan sengaja mengagetkannya.


"Hai," sapa Felix tanpa dosa saat melihat Bryan menoleh. Saat melihat Bryan yang terkena cipratan sup, Felix hanya bisa menahan tawa. "Maaf."


Bryan hanya menatap sinis pada Felix. Dia benar-benar kesal, temannya ini mengganggunya.


"Bry, wajahmu basah, terkena tumpahan sup." Shea yang melihat Bryan langsung mengelap wajah Bryan.


"Wah, romantisnya," ucap Felix seraya menarik kursi dan duduk di kursi di antara Bryan dan Shea.


"Mau apa kamu kemari?" tanya Bryan bersungut-sungut pada Felix.


"Jalan-jalan seperti dirimu." Felix menjawab dengan senyum licik. Felix yang ada janji dengan kekasihnya, tida sengaja melihat Bryan dan Shea dari kejauhan. Karena kekasihnya belum datang, akhirnya Felix memutuskan untuk menghampiri Bryan dan Shea.

__ADS_1


Bryan menatap tidak suka dengan kehadiran Felix. Dia tahu betul mulut Felix terkadang menyebalkan, dan akan merusak suasana hatinya. Apa lagi sekarang dirinya sedang berkencan.


Felix tahu, jika Bryan sedang menatapnya tidak suka. Tapi dirinya senang sekali menggoda Bryan. Mata Felix beralih pada meja di hadapannya. "Apa kalian makan sebanyak ini?" Felix terheran-heran melihat makanan di hadapannya.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Felix.


"Bry, kamu tidak takut gendut makan sebanyak ini?" Felix tahu betul jika Bryan sangat menjaga tubuhnya.


Kenapa dia mengatakan itu? batin Bryan.


Shea hanya menatap tajam saat tahu Bryan tidak suka makan banyak. Bryan yang mengetahui Shea mulai kesal, beralih memberi kode pada Felix untuk menghentikan pertanyaannya.


"Apa matamu sedang sakit?" tanya Felix yang melihat Bryan mengedipkan matanya.


Bryan benar-benar merasa geram saat Felix tidak mengerti kode yang dia berikan.


Melihat wajah Shea yang sudah semakin terlihat malas, Bryan tidak bisa berbuat apa-apa. "Diamlah! Aku ingin melanjutkan makan."


"Tapi ...."


Belum selesai Felix berbicara, Bryan menatap tajam pada Felix, dan akhirnya membuat Felix menghentikan niatnya untuk melanjutkan ucapannya.


Bryan melanjutkan makannya dengan hikmat. Tidak ada suara. Felix dan Shea hanya menjadi penonton, dan memperhatikan Bryan yang sibuk menghabiskan makanan di hadapannya.


Apa setelah dia menjadi bodoh, dia juga menjadi rakus. Ternyata jatuh cinta sungguh membuatmu berubah, Bry.


Felix hanya bisa mengeleng melihat Bryan menghabiskan makanannya.


Setelah makanannya, Bryan merasa sangat kenyang sekali. Perutnya serasa mau meledak saat harus menghabiskan setengah dari yang Shea makan.


Bagaimana Shea bisa makan tanpa rasa kenyang berlebih.


Mata Bryan mengawasi Shea yang tampak biasa saja setelah menghabiskan makanannya. Berbeda dengan dirinya yang begitu kekenyangan.


"Terimakasih sudah mau menghabiskan makanannya." Dengan senyuman mengembang di wajah Shea, dia mengucapkan terimakasih.


"Iya," jawab Bryan dengan memaksakan senyumnya.


Felix baru tahu apa alasan Bryan makan sebanyak itu. Senyum pun tertarik di ujung bibir Felix, saat melihat wajah terpaksa Bryan.


"Ayo pulang," ajak Bryan pada Shea. Bryan sudah malas karena kencannya hari ini gagal. Pertama dirinya yang ingin menonton harus gagal karena kabur, dan kedua dirinya ingin menikmati makan bersama Shea, tapi Felix malah datang.


"Kamu baru selesai makan, kenapa mau pulang?" Shea merasa bingung saat Bryan mengajaknya pulang.


Aku malas, kalau Felix ada di sini.


"Mungkin Bryan ingin melanjutkan kencan kalian di rumah." Felix menjawab pertanyaan Shea. Felix melirik Bryan, dan tersenyum.


"Bagus kalau kamu tahu." Bryan berdiri dan bersiap untuk pulang.


Wajah Shea merona, saat mendengar ucapan Felix. Melihat Bryan sudah berdiri, Shea tidak punya pilihan.


"Aku pulang dulu, Felix."


"Iya, selamat menikmati kencan kalian." Felix menggoda Shea dan Bryan.


Shea memaksakan dirinya untuk mengangguk, dan ikut Bryan untuk pulang.


.


.


.


.


Jangan lupa Like dan Vote


Ketemu besok jam 12 lagi.


Selamat malam minggu.

__ADS_1


__ADS_2