My Baby CEO

My Baby CEO
Hasil karya


__ADS_3

Setelah seharian berada di hotel, akhirnya Shea dan Bryan memutuskan untuk pulang ke rumah pada malam hari. Mereka sudah menghabiskan waktu berdua, dari melepaskan kerinduan hingga saling bercerita satu sama dengan yang lain.


"Boleh aku meminta copy dari surat pembatalan pernikahan kotrak kita?" tanya Shea saat perjalanan menuju ke rumah.


"Untuk apa?"


"Kemarin Kak Regan ingin memastikan jika aku dan kamu sudah benar-benar membatalkan."


Sebenarnya ada sedikit rasa kesal di hati Bryan saat Shea meminta copy surat pembatalan pernikahan kontraknya, tapi rasanya dia tidak bisa menyalahkan Regan yang takut jika sampai Shea terluka kembali. "Tidak perlu, aku yang akan memberikannya."


Shea hanya mengangguk. Dia sadar, jika Bryan berhak memberikan sendiri pada Regan. Apalagi sekarang mereka berdua sudah sepakat jika tidak ada rahasia lagi antara mereka berdua.


Sesampainya di rumah, Shea langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. "Seenak-enaknya kamar hotel, lebih enak kamar di rumah," ucapnya seraya merasakan nikmatnya tidur di tempat tidur.


Melihat istrinya menikmati tempat tidur, Bryan hanya tersenyum. Dia ikut merebahkan tubuhnya tepat disamping istrinya. Tanganya melingkar pada tubuh Shea, memberikan pelukan hangat. "Rasanya kita harus mencoba tempat tidur yang enak ini." Tangan Bryan mulai bergrilya dari perut Shea dan merambah naik ke atas.


Merasakan tangan Bryan yang akan menuju ke dadanya, Shea langsung mencekalnya. "Kamu benar, tempat tidur ini enak dicoba untuk tidur," ucap Shea seraya memiringkan tubuhnya, dan menarik tangan Bryan agar memeluknya.


Senyum tipis tertarik di ujung bibir Bryan. Dia tahu, istrinya sedang menghindar. "Aku tidak akan mencobanya sekarang, tapi besok," ucap Bryan berbisik tepat di telinga istrinya.


Shea memilih tidak menjawab dan juga tidak menolak. Dia mulai paham, jika suaminya akan selalu meminta hal itu padanya, sekarang, besok, dan seterusnya. Mengabaikan Bryan, Shea memejamkan matanya. Walaupun tidak banyak yang dikerjakannya hari ini, tubuhnya begitu lelah.


Untuk saat ini, sudah cukup penyatuan kita kemarin malam dan tadi pagi. Kita akan lanjutkan esok lagi, batin Bryan saat tidak ada jawaban dari Shea. Mendengar dengkuran halus dari Shea, Bryan memejamkan matanya juga, menyusul Shea ke alam mimpi.


***


Setelah kemarin Bryan dan Shea izin tidak masuk kerja. Pagi ini, mereka berdua sibuk bersiap ke kantor.


Bryan yang baru saja mandi, keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk di pinggangnya. Dengan mengosok-gosokan handuk di rambutnya, dia mengeringkan rambutnya yang basah.


Shea yang sedang merias wajahnya, melihat Bryan dari pantulan cermin. Matanya mengerjap saat melihat leher dan dada Bryan yang masih penuh dengan jejak merah.


Padahal sudah kemarin, tapi masih saja ada, batin Shea. Namun, dia mengingat jejak merah di tubuhnya. Walaupun tidak terlihat, tapi jumlahnya lebih banyak dari milik Bryan.


"Kenapa? Melihat hasil karyamu?" tanya Bryan yang menyadari jika Shea sedang melihat dirinya.


Pipi Shea merona sebelum blush on menghiasi pipinya, saat Bryan memergokinya melihat tubuhnya. "Apa yang di leher akan tertutup dengan kemejamu?"


"Entah," jawab Bryan menaikan bahunya. "Aku akan memakai kemeja dan kamu bisa melihatnya." Bryan melangkah menuju lemari dan mengambil kemejanya. Memakai kemejanya, Bryan melihat dipantulan cermin, apakah jejak merahnya kelihatan.


"Masih kelihatan." Shea yang melihat pun ikut berkomentar.


"Ya, sudah biarkan saja." Bryan melanjutkan mengancingkan kancing kemejanya.


"Jangan!" Shea yang tidak mau hasil perbuatannya di ketahui orang, tidak bisa membiarkan jejak merah di leher Bryan terlihat.


Tangan Shea mengambil pouch make up miliknya dan mengambil foundation dan mendekat pada Bryan. "Lepaskan kemejamu, aku akan olesi foundation dulu, agar tanda merahnya tidak terlihat."


"Untuk apa di tutupi, biar saja terlihat," ucap Bryan tersenyum. "Biar orang tahu seganas apa istri Bryan Adion."


Shea langsung mencubit lembut perut Bryan. "Jangan macam-macam, aku tidak mau orang melihat, apa lagi sampai klienmu melihat." Tangan Shea berusaha melepas kemeja Bryan.


"Hari ini aku tidak bertemu klien," elak Bryan.


"Ya, kalau begitu jangan sampai Felix melihat." Shea masih berusah membujuk Bryan.


"Felix sudah melihat, justru dia yang memberitahuku."


Mata Shea langsung membulat saat mendengar ucapan Bryan. "Kapan?" tanyanya ingin tahu.


"Kemarin saat dia mengantarkan baju."


Rasanya Shea ingin sekali bersembunyi di dalam selimut, untuk menyembunyikan wajah malunya. "Apa yang dia katakan saat melihatnya?"


"Dia hanya bertanya apa aku mengajarimu membuat kissmark."


"Lalu kamu jawab apa?"


"Aku jawab Shea belajar sendiri," bohong Bryan. Bryan ingat, jika dirinya tidak menjawab pertanyaan Felix, karena dia lebih memilih untuk buru-buru melihat hasil kissmark buatan Shea.


"Hah ... kamu jawab seperti itu?" Shea semakin malu mendengar jawaban Bryan.


Bryan langsung mendaratkan kecupan di pipi Shea. "Sudahlah Felix sudah tahu, jika itu hanya naluri, jadi jangan malu."


"Tetap saja." Shea menundukan kepalanya. Walaupun Bryan mengatakan jika Felix mengerti tetap saja Shea merasa malu.


"Sudah pakaikan foundation, aku tidak mau orang lihat keganasan istriku, yang ada nanti mereka iri, dan ingin memilikimu."


"Alasan apa itu?" Dengan mengoleskan foundation di leher Bryan, dai mencebikkan bibirnya.


Bryan hanya tertawa melihat istrinya yang kesal. Dia yang gemas pun mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah Shea. Rasanya cintanya seolah semakin bertambah hari demi hari.


"Sayang, apa kamu tidak lihat make up ku luntur jika kamu ciumi," elak Shea seraya mendorong tubuh Bryan.


"Biar saja." Bryan tidak menghiraukan ucapan Shea. Dia terus bertubi-tubi mendaratkan ciuman di pipi Shea.


Suara pagi terdengar sangat riuh, saat Shea berusaha melepaskan diri dari ciuman Bryan. Rumah yang memang diisi dengan mereka berdua menjadi ramai seketika.

__ADS_1


"Kalau kamu menciumiku terus, kita akan terlambat ke kantor."


Mendengar kata terlambat, Bryan langsung menghentikan aksinya. "Sudah ayo cepat kita bersiap." Bryan melepaskan Shea, dan kembali bersiap.


Shea yang terlepas dari Bryan, akhirnya buru-buru untuk menyiapkan sarapan. Meninggalkan Bryan yang masih bersiap, dia menuju ke dapur.


***


Selesai sarapan, mereka berdua langsung berangkat ke kantor. Namun, mobil Bryan yang biasa hanya berhenti di lobby, kini berbelok ke parkiran kantor Shea.


"Kenapa mobilnya ke parkiran?" tanya Shea yang bingung.


"Aku ingin bertemu Kak Regan."


"Untuk apa?"


"Menyerahkan kelengkapan surat pengunduran dirimu." Bryan mematikan mesin mobilnya, dan membuka satbelt yang melingkar di tubuhnya.


Shea meningat jika Bryan sudah mengatakannya kemarin, tapi dia tidak menyangka jika akan hari ini dia menyerahkan surat itu pada Regan. "Baiklah, ayo," ucap Shea seraya melepas seatbelt.


Keluar dari mobil Shea dan Bryan berjalan bersama menuju ruangannya. Sebagian karyawan perusahaan Regan sudah banyak yang tahu, jika Bryan adalah adik dari istri CEO mereka, jadi beberapa dari mereka menyapa Bryan.


"Maaf," ucap Shea tiba-tiba.


Bryan menoleh menatap lekat wajah Shea. Matanya menerawang apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu. "Maaf untuk apa?"


"Harusnya aku keluar dari perkerjaan ini saat aku sudah menikah denganmu, jadi aku tidak membuatmu malu."


"Kalau aku jadi dirimu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Coba bayangkan, wanita mana yang mau menyerahkan hidupnya padaku."


"Jangan seperti itu, bukannya sekarang kamu sudah berubah."


"Terimakasih sudah memberiku kesempatan."


"Iya," jawab Shea dengan anggukan.


"Em .... " Suara deheman membuat Bryan dan Shea menoleh. Saat menoleh mereka mendapati Regan yang baru saja datang.


"Sedang apa kamu di sini?" Regan yang melihat Bryan di kantornya merasa ingin tahu.


"Aku ingin menemuimu."


Regan terkesiap saat mendengar Bryan ingin menemuinya. "Ayo kalau begitu." Regan pun mengajak Shea dan Bryan untuk naik lift khusus miliknya.


Mengikuti Regan, Shea dan Bryan masuk ke dalam lift. Karena hanya ada mereka bertiga, Bryan berdiri di tengah. Dia tidak mau Shea berdiri di samping Regan.


"Kami bulan madu?" ucap Bryan enteng.


Mata Shea membulat sempurna dan mulutnya mengangga merasakan kaget dengan ucap Bryan.


Kalau mengelak pun mau mengelak apa, memang kenyataanya begitu.


Rasanya Shea teramat malu, saat dengan polosnya Bryan mengatakan jika mereka baru saja menghabiskan waktu bersama.


"Oh .... " Regan hanya mengangguk. Tanpa melanjutkan pertanyaan lebih detail Regan sudah mengerti.


Saat lift terbuka, Shea merasa sangat lega, karena dia bisa menghindar dari rasa malunya. Melangkah menuju mejanya, Shea langsung meletakkan tasnya di atas meja, sedangkan Bryan dan Regan masuk ke dalam ruangan Regan.


Melangkah masuk mengekor di belekangang Regan, Bryan masuk ke dalam ruangan Regan. Dia langsung duduk tepat di meja kerja Regan.


"Apa yang penting hingga membuatmu kemari?" tanya Regan seraya mendudukan tubuhnya di atas kursi.


"Aku dengar Kak Regan minta surat pembatalan pernikahan kontrak saat Shea mengajukan pengunduran diri?" Bryan memastikan kembali pada Regan.


"Iya."


"Apa ada hubunganya surat itu dengan pengunduran diri Shea?" Suara Bryan terdengar sedikit menyindir.


"Aku yang membuatnya sampai menjadi korbanmu, jadi aku mau pastikan jika dia benar-benar tidak akan salah melangkah."


Bryan hanya mendengus saat mendengar ucapan Regan. "Terimakasih sudah perduli pada Shea, tapi aku rasa tidak perlu khawatir, karena aku akan bertanggung jawab penuh pada Shea."


"Bagus, kalau kamu sudah merasa Shea tanggung jawabmu."


"Ini," ucap Bryan seraya menyodorkan surat pembatalan penikahan kontranya, dan yang diberikan Bryan adalah copy-nya. "Jadi mulai sekarang tidak perlu Kak Regan merasa bertangung jawab."


Tangan Regan mengambil surat pembatalan yang diberikan oleh Bryan. Dia langsung membaca isi dari surat yang diberikan oleh Bryan. "Biarkan hari ini dia menyelesaikan perkerjaanya, besok dia sudah bisa berhenti berkerja."


"Baiklah." Bryan merasa lega, saat ternyata Regan tidak mempersulit Shea yang akan mengundurkan diri. "Kalau begitu aku permisi." Bryan berdiri dan bersiap untuk pergi.


"Bry," panggil Regan.


Bryan menoleh dan melihat ke arah kakak iparnya.


"Jika kamu melukai Shea, kamu akan berhadapan dengan aku dan Selly." Suara Regan terdengar tegas.


Bryan hanya menarik senyumnya. "Hal itu tidak akan terjadi." Bryan kembali melangkah meninggalkan ruangan Regan. Saat baru keluar Bryan melihat Shea yang sudah mulai berkerja. Dia pun menghampiri Shea. "Aku kembali ke kantor dulu," ucapnya pada Shea.

__ADS_1


"Iya."


"Nanti siang makanlah di kantor, karena sepertinya hari ini perkerjaaku akan sangat banyak."


"Baiklah, tapi jangan sampai lupa makan."


Bryan mengangguk, mengerti yang di ucapkan Shea. Melanjutkan langkahnya Bryan menuju kantor.


***


Selang beberapa saat setelah kepergian Bryan, Regan memanggil Shea. Dia sudah bisa menebak, jika Regan akan membahas tentang Bryan.


"Duduk!" perintah Regan.


Shea yang diminta duduk pun langsung duduk. "Ada apa Bapak memanggil." Sebenarnya Shea sudah tahu, karena Regan dari tadi melihat ke arah mata Shea.


"Bryan sudah memberikan surat pembatalan pernikahan kontrak antara kalian." Suara Regan memulai pembicaran.


Terbakan Shea benar, jika Regan akan membahas masalah surat itu. "Iya, kami sudah sepakat membatalkan pernikahan kontrka kami."


"Aku senang mendengarnya, jadi aku harap semua akan baik ke depan."


"Iya, saya juga berharap begitu."


"Kamu bisa berhenti mulai besok, jadi hari ini selesaikan perkerjaanmu."


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu."


"Se," panggil Regan dan membuat Sea menoleh. "Jika Bryan menyakitimu, masih ada aku dan Selly."


Shea mengangguk, dan keluar dari ruangan Regan.


Aku harap kamu akan bahagia dengan Bryan, karena sebelum kamu benar-benar bahagia aku akan selalu dihantui rasa bersalah.


***


Setelah jam kerja berakhir, Shea bersiap merapikan semua barangnya. Perkerjaan yang selama ini ditanganinya pun sudah dia berikan pada Jessie.


"Aku pasti akan merindukanmu," ucap Jessie pada Shea.


"Kita masih bisa bertemu, masih bisa jalan-jalan bersama." Shea tersenyum pada Jessie.


"Iya, kamu benar, kita masih bisa bertemu di luar untuk jalan-jalan."


Shea pun memeluk Jessie. Pelukan persahabatan, walaupun persahabatan mereka baru terjalin belum lama.


Melepas pelukan Jessie, Shea melihat meja kerjanya kembali. Helaan napas terasa berat saat mengingat jika dia sudah sangat mencintai perkerjaannya. Namun, cintanya pada Bryan jauh lebih besar. Shea tahu, jika berkerja pada Regan akan menimbulkan koflik baru pada hubunganya dengan Bryan, dan Shea tidak mau itu terjadi.


"Apa semua sudah selesai?" Regan yang baru saja keluar dari ruanganya bertanya pada Shea.


"Sudah, Pak."


"Baiklah, terimakasih sudah menjadi bagian Maxton Company. Semoga keputusanmu untuk berhenti berkerja dapat memberikan kebaikan untukmu." Regan mengulurkan tangannya pada Shea.


"Terimakasih, Pak, sudah juga sudah menerima saya dan memberi saya kesempatan untuk berkerja." Shea menerima uluran tangan Regan.


"Baiklah, saya pergi lebih dulu, selesaikan apa yang mau kamu selesaikan."


"Iya, Pak."


Regan melangkah menuju lift dan meninggalkan Shea dan Jessie. Melihat Regan yang sudah pergi, Shea kembali merapikan barangnya. Membawa beberapa barangnya dalam sebuah kotak, Shea menuju ke lobby bersama dengan Jessi.


Sampai di lobby Shea bertemu dengan Chika. "Kamu bawa apa itu?" tanya Chika.


"Aku sudah mengundurkan diri, dan ini barang-barangku."


"Kamu mengundurkan diri?" Ada raut kecewa di wajah Chika.


"Hai, aku hanya berhenti berkerja, bukan berhenti berteman," goda Shea.


"Iya, tapi aku sedih, karena kita sama-sama melamar pekerjaan disini, sedangkan kamu sudah lebih dulu keluar."


Shea ingat betul bagaimana dia dan Chika memulai berkerja di perusahaan ini. "Kita masih bisa bertemu di luar." Shea tersenyum dan menenangkan Chika.


"Iya, kamu benar," ucap Chika, "selamat menikamti jadi ibu rumah tangga, dan aku akan merindukanmu." Chika memeluk Shea.


"Terimakasih."


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote


__ADS_2