
Sesuai rencana, hari ini Bryan akan pulang. Perasaannya begitu senang, saat membayangkan dirinya bisa bertemu dengan Shea. Rindu yang sudah ditahannya selama tiga minggu akhirnya akan dia lepas hari ini.
Sebelum menaiki pesawat, Bryan menyempatkan diri untuk menghubungi Shea. Mengambil layar ponselnya, Bryan mengusap layar ponselnya.
"Halo." Suara merdua Shea terdengar saat sambungan telepon tersambung.
"Halo, Sayang, sepertinya kamu lupa kata 'sayang'."
"Iya, maaf." Suara tawa Shea terdengar lirih, saat dia melupakan sesuatu hal.
"Coba ulangi!"
"Halo, Sayang." Shea mengulangi kembali sapaanya untuk menyenangkan Bryan.
Bryan tersenyum tipis, saat mendengar panggilan untuk dirinya. Panggilan itu sudah menjadi sumber energi baginya. "Kamu dimana?"
"Aku sedang di toliet, karena aku tidak enak mengangkat teleponmu saat jam kerja." Shea yang tadi disibukan dengaj perkerjaannya, mendengar suara ponselnya berdering. Karena tidak mau menganggu Jessie yang sedang berkerja, akhirnya Shea memilih toilet untuk mengangkat telepon.
Bryan baru ingat jika sekarang di tempat Shea berada sedang sore hari, dan belum jam waktu Shea pulang berkerja.
"Aku hanya mengabari, jika aku tidak bisa pulang."
"Kenapa?" Suara Shea tampak kaget dan bercampur sedih saat mendengar Bryan membatalkan lagi kepulangannya.
"Iya, masih ada beberapa yang harus aku urus." Bryan menahan tawanya saat mendengar pertanyaan Shea. Sebenarnya Bryan tidak tega, tapi mau bagaimana lagi, Bryan ingin memberikan kejutan pada Shea.
"Bukannya kamu janji besok akan menemani aku ke dokter, kenapa sekarang kamu membatalkannya lagi." Shea benar-benar merasa kecewa saat Bryan membatalkan kembali rencananya pulang. Padahal dirinya sudah menunggu Bryan.
"Sayang, maaf, besok pergilah sediri dulu ke dokter, nanti biarkan Felix mengantarmu."
"Kenapa kamu jahat sekali." Suara Shea terdengar berat, seolah dia sudah bersiap untuk menangis.
Aku harus kuat.
Bryan hanya memantapkan hatinya pada rencananya. Dirinya ingin memberikan kejutan pada Shea, dan tidak mau merusak rencananya. "Sayang, aku mohon mengertilah."
"Terserah padamu saja!" Shea benar-benar kecewa pada Bryan. Dia sudah tidak tahu harus menjawab apa permintaan Bryan.
Apa tiga minggu diriku kurang mengerti. Shea menahan tangisnya, mencoba kuat. Namun, sebesar apa usahanya menahan tangis, air matanya mengalir juga, tapi Shea berusaha tetap tenang, dan tidak mau Bryan mendengarnya.
Ingin rasanya Bryan berhenti mengerjai Shea, tapi rencananya sudah berhasil, dan dia tidak mau mengagalkannya hanya karena kasihan pada Shea.
"Ya sudah, aku mau kembali berkerja," ucap Shea dengan malas.
"Baiklah, tapi berikan aku kecupan dulu."
"Tidak mau!" Shea menolak keras keinginan Bryan. Dirinya masih tidak terima dengan keputusan Bryan.
"Kenapa?"
"Kalau mau kecupan, pulanglah!"
Lihat saja jika aku pulang, aku tidak mau hanya kecupan saja.
Bryan hanya tersenyum tipis dan berkata dalam hatinya apa yang dia inginkan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan meminta kecupan jika pulang nanti."
Shea hanya mendengus kesal dan itu terdengar dari sambungan teleponnya. Gemuruh di hatinya, memang tidak bisa di tutupi, saat napasnya terasa berat.
"Sampai jumpat kalau begitu!" Shea yang kesal langsung mematikan sambungan teleponnya.
Bryan yang mendengar sambungan telepon terhenti hanya bisa tersenyum.
Tunggu aku sayang, batin Bryan seraya Bryan melangkah menuju ke dalam Bandara.
***
Tepat jam empat sore, pesawat Bryan melandas. Bryan yang di jemput Felix pun mencari keberadaan Felix. Saat melihat Felix dari kejauhan, dengan menarik kopernya Bryan menghampiri Felix.
"Hai," sapa Bryan seraya mengarahkan kepalan tangan pada Felix.
"Hai, Bry." Felix menyapa Bryan seraya membalas kepalan tangan Bryan, dan mereka saling beradu kepalan tangan.
__ADS_1
Setelah memasukkan kopernya ke dalam bagasi, Bryan masuk ke dalam mobil. Rasanya dia sudah tidak sabar bertemu dengan Shea.
"Sepertinya kita harus ke rumah papamu lebih dulu," ucap Felix saat menghidupkan mesin mobil.
"Apa papa sudah tahu?"
"Tadi pagi polisi sudah mengamankan Kevin, dan tadi barusan Paman Matin datang ke rumah." Felix menjelaskan semua pada Bryan.
Bryan merasa bingung. Jam sudah menunjukan pukul tiga, dan sebentar lagi Shea akan pulang, dan dia akan ke dokter kandungan. Niatnya untuk memberikan kejutan pada Shea benar-benar akan berantakan, jika dirinya harus pergi ke rumah papanya.
Akan tetapi Bryan tidak punya pilihan, karena memang papanya sudah tahu semuanya, dan dirinya harus menjelasan semua sebelum papanya berpikir macam-macam padanya.
"Setelah kamu mengantarku ke rumah, tolong antarkan Shea ke dokter. Jangan katakan jika aku sudah pulang, nanti aku akan usahakan ke Rumah sakit."
"Baiklah."
Felix pun melajukan mobilnya menuju ke rumah kedua orang tua Bryan. Matanya terus fokus pada jalanan di hadapannya.
"Apa Rio yakin Kevin akan mendekam di penjara cukup lama?" Bryan menoleh pada Felix dan menanyakan perihal kasus korupsi yang dilakukan oleh Kevin.
"Rio bilang bisa lima tahun penjara." Felix menoleh sejenak pada Bryan sebelum kembali ke kemudinya.
"Aku rasa waktu segitu cukup untuk memberinya efek jera."
"Tapi menurutku, dia tidak akan jera."
"Kamu benar, Kevin bukan orang yang mudah menyerah, dan kita perlu waspada." Bryan sadar betul siapa lawannya. Dengan perencaan yang matang dalam korupsinya sampai cukup lama terhendusnya, Bruan sadar jika Kevin adalah lawan yang perlu dia perhitungkan.
Sesampainya di rumah, Bryan turun dari mobil. Dia sengaja tidak menurunkan kopernya. Karena nanti dirinya akan pulang juga.
"Pastikan Shea aman, dan tidak tahu aku sudah pulang."
"Siap." Felix pun melajukan mobilnya, setelah Bryan turun.
Bryan masuk ke dalam rumah. Perasaannya benar-benar campur aduk. Dia menyadari, jika dia memiliki bukti, tapi membuat papanya percaya bukan perihal mudah.
Saat baru saja masuk rumah, dia melihat pamannya dengan sorotan mata tajam menatapnya. Terlihat jelas gemuruh di dalam hatinya, sedang menahan geramnya pada Bryan.
"Bryan, kamu sudah pulang," ucap Melisa menghampiri Bryan. Melisa menautkan pipinya pada pipi Bryan.
"Suruh anak kakak itu untuk menjelaskan kenapa menuduh Kevin korupsi?" Suara Martin terdengar kencang dan penuh emosi.
"Bry .... " Melisa merasa takut, saat Bryan akan jadi sasaran.
Bryan menatap Melisa, seolah menenangkan mamanya, bahwa semua akan baik-baik saja.
Dengan langkah tenang Bryan duduk bersama dengan papa dan pamannya. Dia berusaha mengatur detak jantungnya yang teramat takut pada papanya.
"Apa kakak tahu, Kevin berjuang untuk perusahaan kakak, tapi apa balasannya, anak kakak yang tidak tahu diri ini menuduhnya sembarangan." Martin berucap pada Daniel tapi menatap tajam pada Bryan.
"Aku tidak menuduh tanpa bukti, Paman." Bryan meletakkan berkas berisi bukti-bukti korupsi yang di lakukan oleh Kevin. "Ini buktinya, silakan dibaca," ucap Bryan seraya menunjuk berkas yang berada di atas meja.
Tangan Martin langsung mengambil berkas di atas meja, tapi belum sampai tangannya meraih berkas, Daniel lebih dulu meraih berkasnya.
Daniel membuka berkas lembar demi lembar. Meneliti dengan seksama setiap tulisan dan nominal transaksi.
Ketengangan mulai terasa saat Daniel diam dan membaca berkas. Martin yang berada di depan Daniel pun seolah menutup rapat mulutnya.
"Ini." Daniel menyerahkan pada Martin berkas yang baru saja di lihatnya.
Martin membuka berkas yang diberikan oleh Kakaknya. Transaksi dan beberapa bukti chat menjadi bukti korupsi yang dilakukan oleh anaknya.
"Ini tidak mungkin." Martin tetap berusah mengelak dengan bukti yang diberikan Bryan.
"Apa bukti itu belum jelas kamu baca?" Suara Daniel menjawab ucapan adiknya.
"Kak, percayalah anakku tidak mungkin melakukannya. Kamu tahu bukan dari kecil dia anak yang baik, dia selalu menjadi kebanggaan." Martin terus membela Kevin.
"Apa anak yang baik tidak bisa korupsi?" sindir Bryan.
"Diam kamu Bryan!" Martin benar-benar emosi pada Bryan. Beralih pada Daniel, Martin mencoba meyakinkan Daniel. "Kak, mungkin saja ini hanya tipuan Bryan, agar kakak mengangapnya anak baik yang bisa melindungi aset perusahaan."
Bryan membulatkan matanya dan menautkan kedua alis tebalnya. Dia tidak menyangka jika pamannya bisa berkata seperti itu. Padahal sudah jelas bukti yang dia bawa.
__ADS_1
"Apa kakak tidak ingat, siapa yang menangani proyek di luar negeri jika bukan Kevin. Kakak ingat bukan, kalau Bryan disana hanya ke club saja."
Mendengar ucapan pamananya, Bryan hanya bisa mengeleng. Dia tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut pamannya.
Ternyata mereka musuh dalam selimut. Segala apa yang aku lakukan ternyata dilaporkan pada papa. Luar biasa!
Bryan benar-benar tidak menyangka jika ternyata yang mengosok pikiran papanya hingga membenci dirinya adalah paman dan sepupunya sendiri.
"Sepertinya kamu harus belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah." Daniel menatap pada Martin, "jangan pungkiri bukti yang ada," imbuhnya.
"Kak ...."
"Kalau Kevin mau mengakui semua perbuatannya aku akan pertimbangkan untuk mengeluarkannya dalam penjara, tapi jika dia tidak mengakuinya, aku akan membiarkan dia mendekam di penjara."
Martin sudah tidak bisa meyakinkan kakaknya lagi. Apa lagi bukti sudah sangat kuat mengarah pada Kevin. Martin benar-benar geram pada anaknya itu. Dia tidak menyangka anaknya akan melakukan itu semua.
"Baiklah, kalau itu keinginan kakak." Martin berdiri dan berlalu keluar dari rumah kakaknya.
"Papa bangga padamu," ucap Daniel menepuk bahu Bryan.
Satu kalimat yang sangat sakral keluar dari mulut papanya, dan Bryan tidak menyangka akan hal itu. Setelah sekian tahun papanya tidak memujinya, rasanya Bryan bahagia saat pujian datang dari mulut papanya.
"Terimakasih, Pa."
"Perusahaan suatu saat akan jadi milikmu, jagalah baik-baik, itu akan menjadi bekal anak-anakmu kelak. Jadi berkerjalah lebih keras, agar perusahaan bisa semakin besar."
Sebuah nasehat yang sudah lama Bryan tidak pernah Bryan dengar lagi setelah dirinya hanya sibuk dengan keinginnya, kini dia mendengarnya kembali.
Dulu Bryan pikir sebuah nasehat adalah sebuah tuntutan yang begitu membebaninya. Namun, kini dia sadar, jika sebagai orang tua, menjadi hal wajah saat menasehati anaknya.
Mungkin suatu saat nanti dirinya juga akan merasakan hal yang sama dengan yang di rasakan oleh papanya. Apa lagi sekarang Shea sedang mengandung anaknya.
"Maafkan papa yang selalu meremehkanmu." Daniel sadar jika selama ini yang dilakukannya salah.
Sebagai orang tua, dia ingin anaknya menjadi lebih baik. Namun, dia lupa jika anak tidak akan menjadi baik saat di bandingkan.
Dengan apa yang sudah dilakukan Bryan untuk perusahaan yang baru saja kehilangan uang sebegitu banyak, sudah membuktikan jika Bryan bertangung jawab penuh pada perusahaan.
"Bryan mengerti, Pa. Maafkan Bryan juga." Bryan pun memeluk papanya. Pelukan yang sudah cukup lama dia tidak rasakan.
Melisa yang melihat suami dan anaknya merasa sangat senang. Selama ini Melisa tahu, jika suaminya begitu sangat kecewa dengan Bryan, hingga kadang mulut suaminya membandingkan Bryan dengan orang lain.
Akan tetapi, melihat kedua pria yang begitu dicintainya saling meminta maaf, Melisa merasa sangat lega. Dia berharap, keluarganya akan bahagia setelah ini.
Melisa pun ikut memeluk putranya. "Anak mama sudah besar," ucap Melisa.
"Ma ...." Bryan pun merasa kesal saat mamanya memperlakukannya seperti anak kecil. "Aku akan punya anak, jangan anggap aku anak kecil lagi." Bryan berusaha melepas pelukan mamanya.
"Di mata mama kamu tetap anak kecil."
Bryan hanya mendengus saat mamanya mengatakan dirinya anak kecil. Satu hal yang Bryan sadari, setiap anak akan tetap di anggap anak kecil bagi orang tua mereka, walapun mungkin usia mereka sudah dewasa.
Mengingat anak, Bryan teringat akan Shea yang sedang memeriksakan kandungannya.
"Bryan harus pergi, karena Shea sedang di Rumah sakit memeriksakan kandungannya." Bryan berdiri tegap, dan bersiap meninggalkan rumahnya.
"Ya, semoga kandungan Shea baik-baik saja. Salam mama untuk Shea."
"Iya." Bryan mengecup pipi mamanya dan berlalu meninggalkan rumah.
.
.
.
.
Up jam 12.00 WIB
Jangan lupa like dan Vote
(Hari ini terakhir Vote, yuk vote sebanyak-banyaknya.)
__ADS_1
Kalian bisa ambil poin di pusat misi.