My Baby CEO

My Baby CEO
Memberikan kesempatan


__ADS_3

Sesampainya di mall, tempat pertama yang di tuju Shea adalah toko pakaian dalam. Shea ingin menganti pakain dalam yang di beli Bryan, karena Shea merasa tidak nyaman saat memakai bra menyusui.


"Bukannya kemarin aku sudah belikan?" protes Bryan yang melihat Shea ingin masuk ke dalam toko pakaian dalam.


"Yang kamu belikan adalah bra menyusui, sedangkan aku belum perlu mengunakannya," ucap Shea mengingatkan apa yang Bryan beli.


"Lalu untuk apa kemarin aku membelinya," ucap Bryan kesal. Bryan hanya memutar bola matanya malas, saat tahu jika apa yang di belinya tidak di gunakan oleh Shea.


"Aku akan menyimpannya, dan memakainya nanti," jawab Shea yang melihat Bryan tampak kesal. "Sudah, ayo." Shea melangkah masuk ke dalam toko pakaian dalam, dan meninggalkan Bryan di belakangnya.


Walapun di liputi rasa kesal, Bryan hanya bisa mengikuti Shea yang masuk ke dalam toko pakaian wanita. Tapi seketika mata Bryan membulat, saat melihat kerumunan wanita sedang melingkar. Bryan tidak tahu apa yang sedang para wanita itu lakukan dan cari, karena Bryan hanya melihat punggung para wanita itu. "Mereka sedang apa?"


Shea langsung melihat kemana mata Bryan tertuju, dan Shea melihat kerumunan para wanita disana. "Wah diskon," ucap Shea antusias. Shea langsung melangkah menuju tempat dimana para wanita sedang berjejal berebut barang diskon, tanpa menjawab pertanyaan Bryan.


"Kamu mau kemana?" tangan Bryan seraya menarik tangan Shea lembut.


Pertanyaan Bryan dan tarikan tangan Bryan sontak membuat Shea berhenti. "Aku mau kesana."


"Kesana?" tanya Bryan memastikan. Tangan Bryan pun menujukan ke arah kerumunan yang ada jauh di hadapannya.


"Iya." Shea melanjutkan kembali langkahnya, tapi sayangnya langkahnya terhenti kembali, saat Bryan menariknya. "Apa?" tanya Shea kesal, saat melihat Bryan dari tadi menghalangi dirinya untuk bergabung berburu diskon.


"Untuk apa kamu kesana?"


Shea hanya mendengus kesal mendengar pertanyaan Shea. "Apa kamu tidak lihat, jika disana ada diskon?"


"Aku tidak mau tahu apa yang ada disana, tapi apa kamu sadar itu akan membahayakan dirimu? Kamu bisa terjatuh saat berdesak-desakan, dan itu sangat bahaya untuk dirimu dan anak dalam kandunganmu." Bryan yang begitu kesal dengan Shea, menatap Shea dengan wajah serius.


Walaupun mungkin yang di katakanya Bryan benar. Tapi Shea masih tidak percaya, jika kata-kata itu keluar dari mulut Bryan.


"Jika kamu tidak mau mengunakan uang yang aku berikan, kamu bisa mengunakan uang milikku." Tangan Bryan langsung mengambil dompetnya di dalam saku jas miliknya. Bryan selalu tahu, jika Shea selalu berhemat, dan tidak akan mengunakan uang yang sudah dia berikan.


"Tidak-tidak," ucap Shea melarang Bryan mengambil dompetnya. "Tidak perlu kamu memberikan uang lagi padaku, aku tidak akan ikut berburu diskon, dan aku akan mengunakan uang dari dirimu." Shea tidak mau menerima terlalu banyak uang dari Bryan. Baginya, uang yang diberikan Bryan sudah sangat banyak.


"Baiklah kalau bagitu." Bryan merasa lega, saat Shea mau mendengarkannya.


Akhirnya Shea membeli beberapa pakaian dalam, mengunakan uangnya. Sebenarnya Shea sadar, jika tanpa diskon, membeli beberapa barang mengunakan uang dari Bryan tidak akan menguras banyak uang miliknya. Tapi terkadang Shea merasa sangat sayang, jika menghabiskan banyak uangnya. Dirinya tidak tahu ke depan hidupnya akan seperti apa. Jadi berhemat adalah jalan satu-satunya, untuk menyelamatkan hidupnya kelak.


Selesai dari toko pakaian dalam, Shea menuju butik untuk mencari pakaian kerja. Shea memilih beberapa pakaian kerja untuknya. Shea merasa dirinya sudah terlalu sesak, jika memakai pakaian lamanya.


Mencari beberapa pakaian, Shea memilih beberapa pakaian yang memiliki potongan lebar. Shea sadar betul, jika perlahan perutnya lambat laun akan membesar, dan akan sulit jika memakai pakaian yang terlalu ketat.


"Sudah dapat?" tanya Bryan. Bryan yang merasa lelah saat mengikuti Shea kesana kemari, memilih duduk untuk menunggu Shea. Bryan benar-benar merasa heran dengan Shea, karena Shea bisa mengelilingi butik untuk mencari beberapa pakaian, tanpa merasa lelah.


"Belum, sebentar lagi, aku mau mencari dress untuk aku pakai sehari-hari."


Bryan hanya bisa menghela napasnya, saat harus menunggu Shea kembali.


"Kalau bukan karena aku mencintaimu, aku tidak akan sebodoh ini mau menungguimu," gumam Bryan saat melihat Shea yang sedang sibuk mencari dress. Bryan mengingat, jika dirinya selalu malas saat mengantar kakak dan mamanya berlanja, dan akhirnya Regan lah yang selalu mengantar kakak dan mamanya belanja.


Sedikit teringat Regan, rasanya Bryan ingin menertawakan dirinya sendiri. Dulu dirinya selalu mengatakan, jika Regan adalah pria bodoh yang mau menemani istrinya berjam-jam untuk berbelanja. Tapi kini, dirinya sendiri melakukan hal yang sama dengan Regan.


"Bagus tidak?" tanya Shea menunjukan dress putih dengan motif bunga-bunga kecil pada Bryan.


Melihat Shea sedang menunjukkan baju yang akan di beli Shea, Bryan langsung terpesona. Kulit putih milik Shea berpadu dengan dress bunga membuat Shea semakin cantik. "Cantik." Hanya satu kata yang bisa terucap dari mulut Bryan.


"Apa benar dress-nya cantik?" tanya Shea memastikan.


Yang cantik kamu, bukan dress-nya. Jika dress itu bukan kamu yang memakai, dress itu akan tampak biasa saja.


Bryan hanya bisa memuji Shea dalam hatinya. Betapa cantiknya Shea, selalu saja menjadi daya tarik tersendiri bagi Bryan. "Iya cantik dress-nya." Mulut Bryan yang tak berani memuji Shea, hanya bisa berkata lain.


"Baiklah, aku akan membelinya." Dengan semangat Shea kembali ke ruang ganti, dan keluar untuk membayar beberapa barang yang sudah dia beli.


Setelah selesai melakukan pembayaran, Shea membawa beberapa paper bag di tangannya. Tangannya begitu kesulitan saat membawa paper bag di tangannya. "Apa kamu tidak membantuku," ucap Shea mendengus kesal.


"Berikan padaku," ucap Bryan meraih paper bag yang di bawa oleh Shea.


Dengan senang, Shea memberikan semua paper bag yang ada di tangannya. "Terimakasih."


Bryan tampak bingung saat Shea memberikan semua paper bag padanya. Bryan bisa hitung ada sekitar tujuh paper bag besar dan satu paper bag kecil yang Shea berikan. "Apa semua harus aku yang bawa?" protes Byran.

__ADS_1


"Kamu keberatan, ya sudah aku akan membantu membawa." Tangan Shea langsung meraih satu paper bag kecil, untuk di bawanya. Shea langsung berlalu begitu saja, meninggalkan Bryan.


Mata Bryan hanya bisa membulat, melihat Shea hanya meraih satu paper bag kecil. Bryan masih terpaku dan tidak beranjak sama sekali. "Satu?" tanya Bryan pada dirinya sendiri. "Apa begini rasanya jadi budak cinta, aku serasa tidak punya tenaga untuk menolak." Dengan langkah gontai, Bryan mengikuti Shea yang berjalan di hadapannya.


Shea yang berjalan di depan Bryan, langsung berhenti. "Aku lapar kita makan dulu ya."


"Iya, tapi setelah kita taruh barang belanjaanmu dulu ke mobil." Bryan pikir, tidak akan nyaman dirinya makan dengan membawa sebegitu banyak barang belanjaan.


"Tapi aku lelah, bisakah aku menunggu disini saja?"


Melihat wajah Shea yang memohon, rasanya sulit untuk Bryan menolaknya. "Baikah, tunggu di restoran, aku akan menaruh barang-barangmu lebih dulu."


"Baiklah."


Mendengar jawaban Shea Bryan berlalu menuju ke parkiran, untuk menaruh barang belanjaan milik Shea. Sedangkan Shea langsung menuju restoran.


Shea duduk di restoran menunggu Bryan. Sambil menunggu, Shea memesan makanan terlebih dahulu. Perutnya yang lapar, ingin minta segera di isi.


"Sudah pesan makanan?" Bryan yang selang beberapa waktu datang, langsung bertanya pada Shea.


"Sudah," jawab Shea. Bryan yang masih berdiri membuat Shea menengadah.


Bryan mengangguk saat Shea mengatakan sudah memesan makanan. Menarik kursi, Bryan duduk tepat di hadapan Shea.


Saat pesanan makanan datang, Bryan dan Shea memulai makan mereka. Shea yang sudah sangat lapar, langsung memakan makanannya.


"Pelan-pelan," tegur Bryan saat melihat Shea begitu lahap saat makan.


"Kamu tahu, aku sangat lapar," ucap Shea ketus.


Bryan sadar jika Shea sedang hamil, dan pasti Shea akan sangat lapar, mengingat bagaimana dia berjalan- jalan dan berbelanja, membuat tenaganya terkuras.


"Se..." panggil Bryan pada Shea


"Em..." Shea yang masih sibuk makan, hanya menjawab dengan deheman.


"Apa kamu pernah punya pacar?" tanya Bryan.


Mendapati pertanyaan dari Bryan, Shea yang sedang makan, langsung menengadah. "Tidak."


Pertanyaan itu seketika membuat Shea terdiam. "Menyukai?" Pertanyaan itu pun kembali Shea pertanyakan. Shea sedikit berpikir apa dia menyukai seseorang.


Bryan yang melihat ekspresi Shea, bisa mengartikan jika Shea menyukai seseorang. "Apa kamu menyukai Kak Regan?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Bryan. Entah kenapa itulah yang ada di pikiran Bryan.


"Aku sudah bilang bukan, kalau aku hanya kagum." Shea mengingatkan kembali apa yang pernah dia katakan pada Bryan.


"Apa yang membuatmu kagum dengan Kak Regan?" Walaupun menahan gemuruh rasa cemburunya, Bryan ingin tahu, apa yang di lihat Shea dadi sosok Regan.


"Bagaimana cara Kak Regan memperhatikan Kak Selly, itu yang membuatku kagum, dan terkadang membuatku iri." Shea menyadari jika kadang dia suka memperhatikan Regan dan Selly.


Mendengar ucapan Shea, Bryan sadar bahwa semua wanita pasti akan menyukai pria seperti Regan. Pria yang selalu menuruti keinginan wanita, selalu memanjakan wanita, karena itulah yang di lihatnya dari sosok Regan.


"Jika kamu tidak mendapatkan pria yang sama dengan Kak Regan, apa kamu akan menerimanya?" Bryan merasa tidak sebanding, jika harus bersaing dengan Regan.


Shea menarik senyum di ujung bibirnya. "Bukankah kamu bilang jangan suka membanding-bandingkan," ucap Shea mengingatkan ucapan Bryan. "Jadi aku rasa aku tidak masalah jika mendapatkan orang yang berbeda. Karena setiap orang punya caranya masing-masing."


Mendengar ucapan Shea, Bryan merasa lega, karena Shea tidak memandang Regan sebagai acuannya mendapatkan pria.


"Se, ada yang aku ingin bicarakan denganmu," ucap Bryan memberanikan diri.


"Bukankah dari tadi kamu sudah bicara?" tanya Shea yang aneh mendengar ucapan Bryan.


"Se..." Wajah Bryan tampak serius saat mendengar pertanyaan Shea.


"Oke-oke, katakan," ucap Shea yang melihat wajah serius Bryan.


"Se, aku..." Mungkin Bryan pernah mengatakan kata-kata cinta pada seseorang, dan itu sudah cukup lama. Jadi Bryan benar-benar merasa sangat bingung, saat harus mengulangnya.


"Aku apa?" tanya Shea yang menunggu ucapan Bryan.


"Aku mencintaimu." Satu kalimat yang begitu berat di ucapkan Bryan, akhirnya bisa di ucapkan oleh Bryan.

__ADS_1


Shea terperangah saat mendengar ucapan Bryan. Rasanya Shea tidak percaya apa yang baru saja dia dengar. Menyadarkan dirinya, Shea mencerna baik-baik apa yang di ucapkan Bryan.


"Apa kamu menyatakan cinta untuk membuatku menyerahkan diriku sendiri, dan kamu tidak akan kehilangan saham milikmu?" tanya Shea menatap tajam pada Bryan.


Bryan terkesiap, saat mendengar ucapan Shea yang lebih terdengar seperti tuduhan. "Apa aku seburuk itu di matamu?"


"Iya, karena itu yang aku lihat selama ini," ucap Shea datar. Shea mengingat terakhir kali, melihat Bryan membawa wanita adalah di waktu malam pertama mereka, dan sejak saat itu dirinya tidak pernah melihat lagi. Shea sadar betul, pria seperti Bryan bisa melakukan segala hal untuk mendapatkan kepuasan itu.


Bryan hanya bisa terdiam, mendengarkan ucapan Shea. Bryan menyadari jika memang apa yang di lakukan Bryan pertama kali pada Shea, akan meninggalkan bekas di hati Shea. Semua perlakuan buruknya, memang mencerminkan bagaimana dirinya. "Maafkan aku, Se..."


"Maaf untuk apa?" tanya Shea pada Bryan.


"Maaf untuk semua yang telah aku lakukan padamu."


"Bukannya aku sudah memaafkannya waktu itu."


Bryan sadar jika Shea sudah maafkan dirinya. Tapi rasanya masih banyak penyesalan di hati Bryan.


"Semua orang pernah melakukan salah, dan semua orang berhak mendapatkan maaf," ucap Shea. "Aku memang tidak pernah bisa lupa, bagaimana dirimu dulu memperlakukan aku pertama kali, tapi aku juga tidak lupa apa yang sudah kamu lakukan selama ini." Shea menyadari, jika Bryan beberapa hari ini memberikan perhatian lebih.


Bryan hanya terpaku dengan ucapan Shea. Sorot mata Shea yang teduh, seolah menghipnotis dirinya. "Kalau begitu maafkan aku yang telah berani mencintaimu." Bryan sadar jika tidak akan mudah Shea jatuh cinta pada dirinya, walaupun Shea sudah memaafkan dirinya.


"Apa hanya segitu usahamu?"


Bryan yang sudah tertunduk lesu, seketika menengadah melihat Shea.


Bryan tidak percaya melihat senyum kecil di wajah Shea.


"Aku selalu memperhatikan setiap perubahan dalam dirimu, dan aku sadar jika kamu sudah banyak berubah." Shea yang memperhatikan Bryan hari demi hari menyadari, jika Bryan jauh dari pertama kali dia melihatnya. Shea merasakan juga, jika rasa takutnya sudah jauh berkurang saat melihat sikap Bryan.


Mendengar ucapan Shea, Bryan serasa mendapat secerca harapan. "Apa kamu menerima cintaku?"


Shea hanya mendengus di iringi senyuman. "Apa akan semudah itu aku jatuh cinta padamu, hanya karena melihat perubahan kecil dari dirimu?" tanya Shea pada Bryan. Shea mengeleng dan masih dengan senyumannya.


Bryan benar-benar serasa naik roller coaster, perasaannya di jungkir balik begitu saja oleh Shea. "Jadi kamu tidak menerima cintaku?" tanya Bryan.


"Tidak semudah itu aku jatuh cinta, tapi aku memberikan kesempatan padamu untuk membuatku jatuh cinta." Shea meyakini jika memberikan kesempatan pada Bryan, tidak ada salahnya.


Mata Bryan langsung berbinar saat mendengar ucapan Bryan. Perasaan bahagia langsung menghinggapi hatinya. Bryan tidak menyangka jika Shea akan memberinya kesempatan.


"Tapi ada syaratnya."


Syarat? batin Bryan sedikit kaget. Tapi bagi Bryan syarat apa pun akan dia lakukan, untuk mendapatkan Shea. "Apa?"


"Jangan pernah menyentuhku, sampai aku benar-benar menyatakan cinta." Shea menyadari, jika Bryan adalah pria yang suka menjajahi para wanita. Jadi Shea tidak mau terperangkap dalam jebakan cinta yang di ciptakan oleh Bryan, hanya untuk memenuhi kepuasan Bryan.


Bryan hanya menelan salivanya saat mendengar persyaratan Shea. Tapi Bryan lebih merelakan hal itu untuk mendapatkan Shea. "Aku akan buktikan, jika aku mencintaimu tulus, bukan karena keinginan nafsu belaka."


Dalam hati Shea memang belumlah percaya dengan apa yang di katakan Bryan. Nafsu adalah bagian dari diri Bryan, dan itu tidak akan mudah di lepas. Tapi mendengar janji Bryan, Shea hanya bisa mengangguk. "Baiklah, dan jika kamu tidak bisa membuatku percaya jika cintamu tulus, jangan menyalahkan aku, jika aku tidak mencintaimu."


Bryan pun mengangguk. Dirinya akan benar-benar berusaha untuk membuktikan, jika cintanya pada Shea benar-benar tulus. Kesempatan ini, tidak akan Bryan sia-siakan begitu saja.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat membaca..


Terimakasih sudah setia menunggu


My Baby CEO.

__ADS_1


Perjuangan Daddy Bryan baru di mulai😉


Jangan lupa like dan vote, biar author tambah semangat😊


__ADS_2