My Baby CEO

My Baby CEO
Mencium


__ADS_3

Bryan merasakan badannya pegal saat dia ingin membuka mata. Merasakan lebih dalam, Bryan baru mengingat apa yang membuatnya pegal. Tangannya yang tidak melepas pelukan pada Shea dari semalam, membuat tangannya kesemutan, hingga membuatnya begitu pegal.


Menarik tangannya perlahan, Bryan tidak mau membuat Shea terbangun. Tapi sayangnya, terdengar suara lenguhan Shea, hingga membuat Bryan mengurungkan niatnya.


Shea yang semakin mengeratkan pelukannya, membuatnya menepel pada dada Bryan.


Bryan yang menyadari tubuh Shea melekat padanya, merasakan gairahnya muncul. Apalagi saat pagi hari. Sedikit sentuhan saja, akan membuat sesuatu menegang.


Menghela napasnya, Bryan hanya bisa bersabar, karena dirinya tidak tega membuat Shea terbangun dari tidurnya.


Shea yang berada di dada Bryan, membuat rambutnya berada tepat dia depan dagu Bryan.


Menghirup dalam-dalam aroma shampo milik Shea, Bryan menikmati aromanya.


Aku tidak menyangka akan dapat pelukan hangat dari Shea.


Rasanya Bryan begitu bahagia, saat mendapatkan pelukan hangat dari wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta itu.


Saat cukup lama menunggu akhirnya, Shea mengerjap. Suara lenguhannya, terdengar begitu sexy bagi Bryan.


"Kamu sudah bangun, Bry?" tanya Shea.


"Iya," jawab Bryan, "bersama yang lainnya juga," gumam Bryan.


"Apa?" tanya Shea. Shea tidak mendengar gumaman Bryan, karena nyawa Shea seolah belum terkumpul sempurna.


"Tidak," elak Bryan, "aku hanya pegal saja."


"Oh, maaf," ucap Shea seraya memudurkan tubuhnya dan memberikan Bryan ruang untuk merenggangkan otot-ototnya.


Bryan langsung melenguh dan merengangkan otot-ototnya. "Ternyata berpelukan semalaman pegal juga ya," ucapnya pada Shea.


Shea hanya merona saat Bryan mengeluh padanya.


"Sepertinya film-film romantis yang menceritakan keromantisan dengan pelukan semalaman itu sangat menyesatkan."


Shea hanya mengerutkan dahinya dalam saat mendengar ucapan Bryan.


"Di film, mereka terlihat segar saat bangun, tapi padahal kenyataanya, badan begitu pegal saat bangun." Bryan masih terus mengomentari adegan di dalam film yang berbeda dengan kenyataanya.


Shea menatap tajam pada Bryan yang mengeluhkan pelukannya semalam. "Berarti jangan memelukku kalau begitu," ucap Shea sinis.


Mendengar ucapan Shea, Bryan merasa bingung. Ucapannya berbalik padanya, dan akan membuang kesempatan berharga untuk dirinya. "Bukan begitu maksudku," elak Bryan.


"Bukannya tadi kamu mengatakan pegal saat memelukku?" tanya Shea malas.


"Iya, tapi mungkin posisi kita saja yang salah, jadi membuat tubuhku pegal."


"Maksudnya?" Shea masih tidak mengerti.


"Ya, semalam posisi kita saling berhadapan, dan aku dalam posisi miring, jadi tanganku yang satu tertidih tubuh kamu." Bryan menjelaskan.


"Lalu?"


"Nanti malam, kita coba untuk berpelukan dengan posisi aku dibawa, kamu di atas."


Mata Shea langsung membulat mendengar ucapan Bryan.


Bryan yang menyadari jika, kata-katanya salah, langsung mengingat kembali ucapannya. "Maksud aku bukan dalam artian sebenarnya kamu di atas," elak Bryan saat menyadari kata mana yang salah.


"Lalu?" Tatapan tajam, Shea berikan pada Bryan saat menanti jawaban Bryan.


"Jadi posisi miring terus setengah dada kamu di atas aku sambil memeluk," ucap Bryan, sambil mempraktekan pada tubuh Shea.


Shea yang melihat tubuh Bryan berada di atasnya, merasa sangat berdebar. Shea membeku, saat matanya saling pandang dengan Bryan.


Mata Bryan yang melihat mata indah milik Shea, hanya bisa mengaguminya. Mata yang selalu bisa membuatnya terhipnotis, yang seolah mengalihkan dunianya. Entah seberapa besar pesona Shea, hingga kadang mampu membuat Bryan benar-benar gila.


Beralih pada bibir ranum milik Shea. Bryan tak mampu menolak pesonanya. Warna merah alami tanpa tambahan lipstik, terlihat sexy saat mata Bryan melihat. Perlahan Bryan mendekatkan wajahnya pada wajah Shea.


Wajah Bryan yang terlampau dekat, membuat jarak begitu dekat. Deru napas begitu terasa antara keduanya.


Bryan yang sudah mencoba bertahan, akhirnya kalah juga. Keinginannya yang tak terbendung membuatnya ingin lebih dekat pada Shea.


Membenamkan bibirnya pada bibir Shea, Bryan mencium Shea. Rasa manis begitu terasa dari bibir Shea, membuat Bryan benar-benar menikmatinya. Memberikan sedikit gigitan kecil, Bryan membuat Shea membuka mulutnya.


Mencium dengan lembut, Bryan menikmati setiap sesapan dari bibir Shea. Hingga pertemuan antara bibirnya dan bibir Shea membuat bibir keduanya basah.


Shea yang mendapatkan ciuman di bibirnya, hanya membeku. Ingatannya kembali pada dimana pertama kali Bryan menciumnya. Ciuman rakus penuh dengan paksaan.


Tapi saat kini Shea di hadapkan pada gerakan lembut dari Bryan, Shea merasakan gelenyar aneh dalam dirinya.

__ADS_1


Shea yang tidak tahu bagaimana cara membalasnya, hanya memilih diam, dan membiarkan Bryan melakukannya.


Suara kecapan yang di ciptakan Bryan, mengisi keheningan kamar. Membuat hawa panas mulai terasa.


Bryan yang menyadari, jika ciumannya akan membuatnya meminta lebih, akhirnya melepas perlahan. Dirinya tidak mau, sampai melebih batasnya, dan membuatnya melupakan janjinya pada Shea. "Maaf," ucap Bryan.


"Iya," ucap Shea lirih.


Bryan langsung bangkit dari tubuh Shea dan beranjak dari tempat tidur. "Mandilah di kamar mandi di sini, aku akan mandi di kamar lain," ucap Bryan. Bryan pun berlalu meninggalkan Shea.


Keluar dari kamar, Bryan menuju ke kamar tamu. Di dalam kamar, Bryan merutuki kesalahannya yang dengan beraninya mencium Shea tanpa meminta izin dulu padanya.


Pasti Shea pikir aku hanya bernafsu saja padanya.


Bryan mengusap wajahnya kasar, saat mengingat apa yang sudah di lakukannya.


Bryan hanya berharap, Shea tidak akan marah dengan apa yang baru saja di lakukannya.


***


Shea yang beranjak dari tempat tidur, langsung berlalu ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Shea melihat dirinya dari pantulan cermin.


Rasanya benar-benar berbeda.


Seraya memegang bibirnya, Shea merasakan, rasa yang berbeda dari ciuman Bryan yang sekarang dengan yang dulu pernah Bryan lakukan. Sapuan lembut dari bibir Bryan, benar-benar Shea rasakan.


Wajah Shea memerah, saat mengingat jika dirinya juga menikmati ciuman dari Bryan. Walapun tadi tidak membalas, Shea merasakan kenikmatan yang di ciptakan oleh Bryan.


***


Setelah Bryan dan Shea bersiap, mereka berangkat berkerja bersama.


Di dalam mobil hanya terdapat keheningan. Shea yang masih merasa malu memilih diam, sedangkan Bryan merasa diamnya Shea karena dirinya yang lancang telah mencium dirinya.


Sesampainya di kantor Shea, Bryan memarkirkan mobilnya sebentar di depan lobby.


"Se," panggil Bryan ragu-ragu.


"Aku sudah terlambat, bisakah kita bicara nanti." Shea yang melihat jam di dasboard mobil Bryan, melihat jika jam sudah hampir menunjukan waktu masuk kerja.


"Oh, ya sudah kalau begitu." Bryan yang tadi ingin meminta maaf lagi pun akhirnya urung melakukannya.


Shea yang mendengar ucapan Bryan masih belum beranjak keluar dari mobil.


"Ada yang kamu lupakan," jawab Shea lirih.


"Apa?"


"Kiss," ucap Shea seraya menunjuk perutnya.


Bryan hanya tersenyum tipis saat Shea mengingat dirinya yang belum mencium anaknya.


Mendekatkan tubuhnya pada Shea, Bryan mendaratkan kecupan di perut Shea. "Ketemu lagi nanti dengan daddy ya," ucap Bryan sesaat setelah mendaratkan kecupan di perut Shea.


Bryan menegakkan tubuhnya. Tapi belum sempat menegak sempurna, Shea sudah mendaratkan kecupan di pipi Bryan. "Ketemu lagi nanti," ucap Shea. Shea pun membuka pintu dan keluar dari mobil.


Memegangi pipinya, Bryan tidak menyangka jika Shea akan menciumnya secara tiba-tiba.


Aku pikir dia marah, batin Bryan.


Bryan hanya bisa menarik senyumnya, saat mengingat apa yang di lakukan Shea.


Melajukan mobilnya, Bryan menuju ke kantornya. Perjalanan dengan suasana hati senang, membuat perjalanan terasa cepat.


Sesampainya di kantor, Bryan langsung masuk ke dalam ruangannya.


Felix yang melihat Bryan sudah datang langsung menyusul. Mengetuk pintu, Felix masuk ke dalam ruangan Bryan.


Felix menerawang wajah yang di tunjukan oleh Bryan. Felix tahu betul, wajah yang di tunjukan oleh Bryan setelah mendapat cacian dari papanya, dan Felix ingin tahu seberapa frustrasi Bryan hari ini.


Tapi saat Felix memperhatikan wajah Bryan. Felix melihat tidak tampak wajah Bryan yang frustrasi, justru wajah ceria yang di tunjukan oleh Bryan.


"Bry, kamu baik-baik saja?" tanya Felix pada Bryan seraya menarik kursi di depan Bryan.


"Aku baik," jawab Bryan senyum.


Felix mengerutkan dahinya saat melihat Bryan yang menjawab dengan senyuman. Felix tahu betul, jika Bryan akan sangat kacau saat setelah bertengkar dengan papanya.


"Kamu kenapa senyum-senyum?" Felix begitu ingin tahu, apa yang membuat Bryan tersenyum.


"Tidak," elak Bryan.

__ADS_1


Felix memutar otaknya saat melihat wajah ceria Bryan. Jawabannya hanya ada satu, yaitu Shea. Hanya Shea yang bisa membuat Bryan tersenyum.


"Apa kamu sudah mencicil untuk membuat anakmu mirip denganmu?" tanya Felix menebak.


Senyum di wajah Bryan langsung berubah saat Felix menanyakan tentang tidur bersama Shea.


"Dari perubahan wajahmu, berarti kamu belum mencicilnya," tebak Felix, "lalu apa yang membuat kamu tersenyum?" lanjut Felix bertanya.


"Aku baru saja mencium Shea," jawab Bryan dengan penuh semangat memamerkan pada Felix.


Melihat wajah Bryan, Felix merasa bergidik ngeri melihat wajah yang aneh dari Bryan.


"Kecupan lagi?" tanya Felix memastikan.


"Bukan." Bryan memejamkan matanya mengingat ciuman bersama Shea.


"Bisakah kamu mengubah raut wajah anehmu itu," ucap Felix seraya menaikan bahunya, mengekspresikan perasaan yang begitu geli melihat Bryan.


"Memangnya kenapa?" tanya Bryan tidak terima.


"Wajahmu begitu mengelikan, seperti seorang yang baru pertama kali mendapatkan pelepasan," jelas Felix, "terlihat sangat bodoh," lanjut Felix.


"Sial, setelah pelepasan, wajahku tetap mempesona!" seru Bryan.


Felix langsung tergelak, mendengar ucapan Bryan. "Dirimu saja baru mendapatkan ciuman saja sebodoh ini, apa lagi mendapat pelepasan." Felix meledek Bryan seraya tak berhenti tertawa.


Bryan hanya mendengus kesal saat Felix meledeknya.


"Oke-oke." Felix berusaha untuk menghentikan tawanya. "Sekarang jelaskan bagian mana yang kamu kecup?" Felix ingin tau kebodohan apa lagi yang membuat Bryan seperti pagi ini.


"Aku sudah bilang bukan, aku tidak mengecup, tapi mencium." Bryan malas sekali saat Felix meledeknya terus.


"Mencium bibir atau menempelkan saja pada bibir?"


"Mencium, menyesap, mengigit!" seru Bryan yang kesal.


"Wah ternyata perkembangamu lumanyan juga, dari kecupan naik ciuman." Felix sebenarnya ingin sekali tertawa tapi rasanya, dia tidak tega menghancurkan kebahagiaan Bryan.


"Iya," ucap Bryan. Bryan tersenyum membayangkan kembali ciuman bersama Shea.


Felix hanya bisa mengeleng melihat senyuman Bryan yang tak surut.


"Lalu kapan kamu akan membuat anakmu itu mirip denganmu?"


Pertanyaan Felix kembali menyurutkan senyuman Bryan. Bryan mengingat jika dirinya tidak berani melakukan hal itu. Bryan takut jika Shea akan marah, jika dirinya meminta.


"Aku tidak bisa mengajaknya, aku takut Shea berpikir aku hanya menginginkannya karena nafsu saja."


Felix menyadari posisi Bryan. Pertama kali Shea bertemu dengan Bryan, terjadi hal buruk, dan pasti akan menyisakan luka untuk Shea. Kalaupun Bryan mengajak pasti Shea akan sulit untuk menerima.


"Aku punya ide!" seru Felix dengan semangat.


"Apa?" tanya Bryan yang penasaran.


"Cobalah konsultasi dengan dokter, buatlah seolah itu saran dokter."


Bryan mencerna baik-baik ucapan Felix. "Apa kamu yakin berhasil?" tanya Bryan.


"Ya tidak tahu," ucap Felix seraya menaikan bahunya. "Tapi di coba tidak ada salahnya bukan?"


Menimbang ucapan Felix, Bryan mengangguk. "Aku akan coba."


Sebagai teman, Felix sebenarnya merasa kasihan. Bryan yang terbiasa dengan sentuhan-sentuhan wanita, sekarang harus menurunkan egonya dan melupakan semua itu demi membuktikan cintanya.


"Aturkan jadwal kunjungan dokter nanti sore, aku akan ke dokter setelah menjemput Shea."


"Siap, aku akan buatkan jadwal khusus untukmu." Felix berdiri dan meninggalkan ruangan Bryan.


Bryan yang melihat Felix sudah keluar, hanya menerawang ucapan Felix.


Aku sangat berharap kali ini berhasil.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Up dua bab spesial buat kalian yang udah vote di periode kemarin.


Jangan lupa berikan like dan vote kalian untuk membuat author semakin semangat.


__ADS_2