
"Bagaimana jika kita buat permainan?" tanya Selly memandang Bryan, Shea dan Regan. Setelah makan malam, mereka memilih berbincang sebentar di sofa.
"Aku tidak mau!" Bryan menolak tegas keinginan kakaknya. Dia sudah tahu, jika pasti ide kakaknya pasti sangat aneh.
Selly mendengus kesal, mendengar Bryan tidak mau. "Kamu mau bukan, Se?" Selly beralih pada Shea dan bertanya.
Shea yang merasa tidak pun mengangguk. "Iya, Kak."
Selly langsung menjulurkan lidahnya pada Bryan seolah sedang meledek adiknya, saat Shea menerima ajakannya.
Melihat kakaknya meledeknya, Bryan hanya memutar bola matanya malas. "Aku belum menang, Kak Regan belum mengemukakan pendapatnya."
"Tanpa ditanya dia akan iya," jawab Selly.
"Itu namanya tidak adil, berikan dia kesempatan untuk bicara, jangan hanya kakak saja yang jawab!" Mata Bryan menatap sinis pada kakaknya.
Selly menatap malas pada Bryan. Dia pun beralih pada Regan dan bertanya. "Sayang, kamu mau bukan?" Selly menatap suaminya itu dan menunggu jawaban darinya.
Bryan tak kalah menunggu jawaban Regan. Dia berharap kakak iparnya itu akan mengatakan tidak.
"Ini sudah malam, sebaiknya kita istirahat, apalagi kamu tadi seharian bermain di pantai, dan belum istirahat." Suara lembut Regan memberitahu istrinya.
Senyum mengembang di wajah Bryan saat ternyata kakak iparnya itu sejalan dengannya. Dia benar-benar bersyukur saat kakak iparnya itu menolak ajakan kakaknya.
"Kita bisa main besok, sekarang kita istirahat!" ajak Regan.
Bibir Bryan langsung mencibir saat ternyata Regan hanya menunda keinginan Selly. *T*idak masalah jika ditunda, yang penting malam ini aku bebas. Untuk esok, aku akan pikirkan caranya menghindari ide kak Selly.
"Baiklah, kita akan main besok. Sekarang kita istirahat." Selly berdiri dan mengulurkan tangan pada suaminya. Regan menerima uluran tangan Selly dan berdiri. "Kami istirahat dulu ya," ucap Selly pada Bryan dan Shea.
"Iya, kami pun akan beristirahat," ucap Bryan.
"Besok jangan lupa untuk bangun pagi, agar kita bisa melihat sunrise," ucap Selly saat mengingat jadwal mereka besok.
"Iya," jawab Bryan.
Selly berlalu meninggalkan Bryan dan Shea, yang masih duduk di sofa. Bersama dengan Regan, dia menuju ke kamarnya.
"Ayo, aku sudah sangat lelah," ucap Shea. Wajahnya sudah terlihat lemas, dan tidak bersemangat.
"Iya," jawab Bryan. Meraih jemari Shea, dia menarik lembut tangan istrinya. Membawanya ke dalam kamar untuk beristirahat.
Sampai di kamar, Shea mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur dan bersandar pada headboar tempat tidur. Tangannya langsung memijit kakinya yang terasa amat pegal. Kegiatan berjalan-jalan di pantai membuat kakinya begitu pegal, hingga dia ingin meredakannya.
Melihat istrinya yang begitu kelelahan, Bryan merasa tidak tega. Ikut duduk di sisi tempat tidur, tangan Bryan langsung ikut memijat kaki Shea.
"Terimakasih," ucap Shea. Wajahnya yang lemas, masih bisa menampilkan senyum manisnya.
"Tidurlah, Sayang! Aku akan memijat kakimu." Tangan Bryan membelai lembut wajah Shea.
"Apa tidak apa-apa aku tidur?" tanya Shea ragu-ragu.
"Memangnya kenapa?" Dahi Bryan berkerut dalam mendengar pertanyaan Shea.
"Tadi siang aku menggodamu, aku mau menggantinya malam ini," ucapnya lirih.
Senyum tertarik di bibir Bryan mendengar alasan istrinya. "Tidak akan enak jika dilakukan dalam keadaan tubuhmu yang lelah, jadi tidak perlu menggantinya hari ini."
"Apa kamu marah aku menggodamu tadi pagi?"
"Tidak, tapi aku akan membalasnya nanti!" ancam Bryan dengan tatapan tajamnya.
Mendapat ancaman dari suaminya, Shea justru tersenyum. "Aku akan menunggu pembalasanku."
__ADS_1
Bryan mengangguk, dan membelai pipi Shea. "Sudah, istirahatlah!"
Shea yang memang sudah sangat lelah, akhirnya merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Matanya yang mengantuk dipejamkan saat kepalanya sudah menempel di bantal.
Pijatan lembut dari tangan Bryan mampu membuat Shea merasakan kenikmatan. Kakinya yang pegal perlahan mereda. Pijatan Bryan pun mengantarkan Shea menuju ke alam mimpinya.
Bryan terus memijat lembut kaki Shea, dia berharap itu bisa meredakan apa yang Shea rasakan. Melihat istrinya yang sudah tidur, dia menghentikan dan menarik selimut untuk menutup tubuh Shea. "Selamat tidur, Sayang," ucap Bryan seraya mendaratkan kecupan di dahi Shea.
***
Suara ketukan pintu membuat Bryan dan Shea mengerjap. "Sepertinya kak Selly," ucap Shea.
Mendengar ucapan Shea, mata Bryan melihat ke arah jam dinding. Dia ingin mengetahui jam berapa sekarang. "Biarkan saja." Bryan kembali memeluk Shea dan memejamkan matanya kembali, saat melihat jam menunjukan pukul empat.
"Sayang, apa kamu lupa kalau kita mau melihat sunrise." Shea berusaha melepaskan diri dari pelukan Bryan.
Bryan mendengus kesal saat mengingat jika mereka akan melihat sunrise. "Iya." Dia melepas pelukannya dan menyibak selimut yang membungkus tubuhnya.
Terlepas dari pelukan suaminya, Shea langsung bangun. Menggulung rambutnya berbentuk bun, dia merapikan rambutnya. "Ayo," ucapnya pada Bryan.
"Iya." Dengan matanya masih mengantuk, Bryan terpaksa harus mengikuti Shea. Bangun dari tempat tidur, tangannya menarik selimut dan membungkus tubuhnya.
"Kenapa membawa selimut?" tanya Shea heran.
"Di luar dingin." Bryan menjawab seraya melangkah keluar kamar dengan menyeret selimut yang membungkus tubuhnya.
Shea hanya bisa menggeleng melihat apa yang dilakukan oleh Bryan.
"Ayo," ucap Bryan berhenti di depan pintu. Dia yang melihat Shea masih diam di tempat pun memanggilnya.
Shea mengangguk dan mengikuti Bryan keluar dari kamar. Matanya masih terus melihat Bryan yang membungkus selimut.
Aku teringat film-film di mana pemeran wanita baru saja melakukan hubungan suami istri, dan wanita itu akan ke kamar mandi dengan balutan selimut.
Saat sampai di tepi kolam. Bryan dan Shea melihat sudah ada Regan dan Selly. Tampak mereka berdua di sofa. Dengan balutan selimut, Selly duduk di depan Regan.
Aku pikir hanya Bryan yang membawa selimut.
"Aku pikir kalian tidak akan bangun," ucap Selly saat melihat Bryan dan Shea.
"Mana mungkin kami melewatkan keindahan," jawab Shea.
"Sudah ayo, kesini!" ucap Bryan. Dia yang sudah duduk, merentangkan tangannya agar istrinya itu bisa masuk ke dalam pelukannya.
"Iya." Shea langsung duduk di depan Bryan.
Mendapati istrinya sudah di depannya, Bryan memeluk dari belakang dan merapatkan selimut agar membungkus tubuhnya dan tubuh Shea.
Matahari yang belum muncul membuat Bryan yang masih mengantuk bersandar pada tubuh Shea. Dia meletakkan kepalanya tepat di bahu Shea.
Shea yang melihat suaminya mengantuk membelai pipi Bryan dengan lembut. Tanpa Shea duga, ternyata Bryan belum tidur. Bryan mendaratkan satu kecupan karena mendapati belaian lembut tangan istrinya. Shea pun hanya tersenyum dengan apa yang dilakukan oleh Bryan.
Sang surya yang menampakkan diri, membuat langit begitu cantik. Langit yang gelap perlahan berubah warna saat sang surya membiaskan cahayanya. Langit gelap pun perlahan berubah menjadi terang dengan indah. Hingga penantian yang melelahkan terbayar saat warna langit yang begitu indah memanjakan mata.
"Ayo," ucap Shea saat pada Bryan.
"Emm ... Apa sudah selesai?" Bryan yang tidak fokus, memang tidak melihat matahari yang terbit. Hingga saat pemandangan yang memanjakan mata itu berakhir, dia tidak tahu.
"Sudah."
Mendengar jika sudah selesai, Bryan melepas pelukannya, dan berdiri. Melangkah menuju ke kamarnya, dia berniat melanjutkan tidurnya.
"Aku akan membuat teh dulu," ucap Shea. Dia yang sudah tidak mengantuk akhirnya memutuskan untuk menghangatkan tubuhnya dengan meminum secangkir teh.
__ADS_1
"Iya," jawab Bryan malas, dan berlalu menuju kamar.
"Dasar!" ucap Selly yang melihat adiknya yang mengantuk dan kembali ke kamar.
"Bukan hanya Bryan yang mengantuk, aku pun juga," ucap Regan.
Selly tersenyum saat mengetahui jika suaminya ternyata juga mengantuk. "Sudah, pergilah tidur! Aku masih ingin menikmati secangkir teh."
"Baiklah." Regan berlalu setelah menjawab ucapan Selly.
Tinggallah Selly dan Shea setelah Regan dan Bryan pergi. Rasa kantuk yang sudah tak terasa, membuat mereka memutuskan untuk menikmati secangkir teh agar menghangatkan tubuh mereka.
"Beruntunglah dirimu saat Bryan yang bisa mengungkapkan rasa cintanya." Selly yang sedang memasak air untuk membuat teh, bersuara.
"Tetapi kadang aku malu, karena dia tidak tahu tempat," jawab Shea seraya menyendok gula. "Berapa?" tanya Shea menatap Selly dan menunjukan sendok berisi gula.
"Satu sendok teh saja."
Tangan Shea langsung mengambil gula sesuai takaran yang diminta oleh Selly, dan beralih mengambil teh.
Setelah air mendidih, Selly menuangkan air di cangkir yang berisi gula dan teh. Dia meraih cangkir dan memberikan satu pada Shea setelah selesai.
"Memang begitu Bryan, tidak punya rasa malu," ucap Selly melanjutkan obrolan tentang Bryan. Menarik kursi di meja makan, dia mendudukkan tubuhnya.
"Iya." Shea mengangguk dan membenarkan ucapan Selly. Dia juga ikut duduk di samping Selly.
"Berbeda dengan Regan, dia terlalu sulit untuk mengungkapkan sesuatu."
"Tetapi aku lihat, Kak Regan bisa berbicara dan tersenyum saat berada di samping Kakak."
"Iya, dia hanya bisa tertawa jika bersamaku saja. Dari kecil dia memang begitu." Selly menyelipkan tawa kecil saat membahas Regan.
"Dari kecil?" Shea sedikit binggung saat Selly membahas kisahnya yang dimulai dari kecil. "Kalian bukan teman kuliah?" tanya Shea memastikan. Dia yang pernah mendengar Bryan mengatakan jika Selly dan Regan adalah teman kuliah.
"Dia memang teman kuliahku. Bahkan teman sekolahku," ucap Selly tertawa.
"Maksudnya?" Shea masih sedikit bingung dengan cerita Selly.
"Jadi dia teman sekolahku dari kecil, hingga kuliah."
"Oh .... " Shea mengangguk mengerti.
"Apa kamu mau mendengarkan kisahku?" tanyanya menatap Shea.
"Kalau Kakak tidak keberatan."
"Tentu saja tidak."
.
.
.
.
.
...Aku nggak ada cerita Selly dan Regan, karena memang fokusnya bukan itu, tapi aku akan selipin dikit ya😊...
...Jangan lupa like dan vote...
...Up jam 12 WIB...
__ADS_1