
Dokter membalikkan tubuh bayi dengan posisi kepala di bawah. Menepuk paha bayi, dokter mencoba untuk membuat bayi menangis. Sekitar tujuh menit dua belas detik akhirnya suara tangisan bayi terdengar. Suara merdu menandakan jika dia masih akan bertahan untuk kedua orang tuanya, terdengar mengisi keheningan ruang operasi.
"Anak kita menangis," ucap Bryan mengecup pipi Shea meluapkan rasa bagiannya. Dia tidak menyangka jika anaknya akan kembali kepelukkan mereka.
Shea pun menangis, merasakan kebahagian yang begitu teramat besar. Dia tidak menyangka jika Tuhan benar-benar memberikan keajaiban padanya dan mengembalikan anaknya.
Perawat langsung membersihkan bayi laki-laki yang baru saja dilahirkan oleh Shea, sedangkan dokter melanjutkan proses operasi menutup kembali perut Shea dan berlanjut membersihkan tubuh Shea. Proses operasi yang memakan empat puluh lima menit itu akhirnya selesai dengan lancar.
Setelah semua proses selesai, bayi diletakan di atas dada Shea untuk melakukan metode skin to skin, menempelkan bayi di atas tubuh ibunya untuk memberikan kehangatan.
Saat bayi berada di atas dadanya, air mata Shea tak tertahan lagi. Bayi laki-laki yang hanya berbobot dua koma dua kilo itu terasa sangat kecil saat berada di atas dada. Kulit keriput anaknya seperti kulit jeruk. Namun, Shea bersyukur anaknya masih bisa selamat setelah melalui proses menegangkan.
Bryan yang melihat anaknya merasakan kebahagiaan yang teramat besar. Buah hati yang dia tunggu berbulan-bulan sudah berada di depan mata. Di atas dekapan dada sang istri, anaknya mencari kehangatan.
Proses menempelkan di atas dada berlangsung selama sepuluh menit, karena setelah itu bayi di bawa ke ruang anak untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Shea pun akhirnya dipindahkan ke ruang rawat setelah melakukan proses panjang operasi.
***
Saat di ruang rawat, Bryan dan Shea sudah disambut oleh Melisa, Daniel, dan Felix. Kecupan hangat dari Melisa menandakan jika dia senang menantu dan anaknya selamat. "Mama bersyukur kalian selamat."
Bryan menghela napas saat mendengar ucapan mamanya. "Sebenarnya hampir tidak, Ma," ucapnya.
"Maksudnya?" tanya Melisa.
"Tadi bayinya sempat tidak menangis."
Melisa terkesiap dengan ucapan Bryan. Memang cukup lama tadi mereka mendengar tangisan bayi, tapi mereka tidak menyangka jika ternyata suara tangisan itu tidak terdengar karena bayi tidak menangis. Melisa pikir memang prosesnya belum selesai. "Lalu?" tanyanya penasaran.
"Dokter membalikan tubuhnya dan menepuknya hingga akhirnya suara tangisnya terdengar." Bryan menceritakan dengan kelegaan yang teramat dirasanya.
"Mama tidak bisa membayangkan seberapa tegangnya di dalam ruang operasi."
"Rasanya luar biasa," ucap Bryan seraya menatap Shea dengan senyuman. Senyuman kebahagian yang hanya bisa mereka rasakan berdua.
"Ya terpenting semua selamat, dan kalian sekarang sudah menjadi orang tua." Daniel pun ikut berbicara. Sebagai seorang kakek dia merasa sangat senang. Apalagi dia mendapatkan cucu laki-laki.
"Iya, Pa," jawab Bryan.
__ADS_1
"Apa kalian sudah mempunyai nama untuk anak kalian?" tanya mama Melisa pada Shea dan Bryan.
"Justin Elvaro." Bryan menyebut nama anaknya seraya menatap ke arah istrinya.
Shea pun hanya tersenyum mendengar nama anaknya yang dipilih Bryan. Memang mereka sudah menyiapkan dua nama untuk anak mereka, dan karena anak mereka laki-laki mereka mengunakan satu nama yang sudah mereka sepakati.
"Justin Elvaro Adion." Daniel menambahkan nama keluarga di belakangnya.
"Iya-iya," jawab Bryan mengalah dan membiarkan papanya menyematkan nama Adion di belakang nama anaknya.
"Sudah, mama akan melihat baby El dulu." Melisa pun menarik lembut tangan suaminya dan membawanya menuju ke ruang bayi.
Bryan dan Shea tersenyum melihat orang tua mereka yang begitu senang saat ingin menemui cucunya. Apalagi nama panggilan yang mamanya sematkan untuk anak mereka, membuat keduanya senang.
Di ruang perawatan, tersisa Felix yang masih berdiri melihat Bryan dan Shea. "Selamat untuk kalian sudah menjadi orang tua," ucap Felix seraya menepuk bahu Bryan.
"Terima kasih."
"Baiklah, aku juga akan melihat anak kalian, aku ingin lihat semirip apa dia denganmu," ucap Felix menatap Bryan seraya menaikan alisnya.
Felix hanya bisa menaikan bahunya dan berlalu meninggalkan Bryan dan Shea menuju ke ruang bayi.
Bryan hanya mendengus kesal mendengar Felix yang berlalu begitu saja. "Aku yang buat, ya harusnya mirip aku," gerutunya.
"Iya kamu yang buat sendiri, tanpa aku," sindir Shea.
Bryan terkesiap mendengar ucapan Shea. Dia menelan salivanya mengingat jika memang hanya dirinya yang dulu bekerja membuat anaknya. Karena waktu itu dia memperkosa Shea. "Nanti yang kedua kita kerja berdua ya," ucap Bryan seraya mengedipkan mata.
Baru saja Shea merasakan sakitnya melahirkan, suaminya sudah membahas anak kedua. Rasanya Shea tidak kuat membayangkannya.
"Tapi, jangan dulu, aku tidak kuat harus melihat kamu tersiksa lagi." Sebelum Shea menjawab Bryan sudah kembali berbicara. Dia tidak bisa membayangkan jika harus melihat hal-hal menegangkan seperti di ruang operasi. "Nanti kita buat saja, tapi jangan sampai jadi."
Shea hanya menggeleng mendengar ucapan Bryan. Saat membicarakan anaknya, Shea teringat dengan anaknya yang sekarang sedang di rawat di inkubator. "Apa anak kita akan baik-baik saja?" tanya Shea.
"Seperti yang dijelaskan dokter tadi jika anak kita akan di inkubator sampai keadaannya baik dan berat badannya cukup." Bryan menjelaskan kembali pada Shea.
Setelah tadi proses operasi selesai, dokter menjelaskan pada Bryan jika bayinya akan dirawat di Rumah sakit sampai berat badannya cukup dan semua organ dalam tubuhnya berkembang dengan baik. Karena dilahirkan dengan usia tiga puluh tiga minggu, bayi Bryan dan Shea termasuk ke dalam kategori prematur.
__ADS_1
"Kalau begitu aku mau tetap di sini bersama bayi kita," ucap Shea dengan nada penuh permohonan.
"Iya, kita akan di sini. Kita akan menemani anak kita di sini," ucap Bryan seraya mendaratkan satu kecupan di dahi Shea.
***
Dari balik kaca Helena melihat bayi kecil di dalam inkubator. Bayi yang lahir sebelum waktunya itu terasa sangat kecil. Kulitnya yang keriput seolah begitu rawan jika disentuh.
"Lihatlah, bayi itu selamat." Suara Alex yang terdengar saat Helena sedang melihat anak Bryan dan Shea.
"Iya." Helena merasa senang karena ternyata bayi Shea lahir dengan selamat. "Mungkin hanya wanita bodoh yang dengan berani merusak rumah tangga orang." Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Helena. Rasanya Helena menyesali dirinya sendiri yang hampir saja merusak rumah tangga Bryan dan Shea. Bryan yang harusnya jadi penguat dalam hidup Shea, akan dia rebut begitu saja.
"Bersyukurlah kamu belum masuk ke dalam golongan wanita-wanita bodoh itu," jawab Alex santai.
Helena hanya memutar bola matanya malas. Di saat dirinya sedang menyesalinya Alex tetap saja tampak menyebalkan. Namun, dia mengabaikannya. Dia malas sekali berdebat dengan asistennya yang kurang ajar itu.
Saat melihat anak Bryan dan Shea, Helena dan Alex melihat orang tua Bryan datang. Mereka juga ingin melihat cucu mereka.
"Lihatlah, kecil sekali dia!" ucap Melisa sedih.
"Sudahlah, yang penting anak kita selamat. Nanti kita bisa kasih gizi yang cukup untuk membuatnya gemuk." Daniel mencoba menenangkan istrinya.
"Iya, kamu benar."
Empat orang berdiri di balik kaca melihat bayi mungil yang sedang tertidur di dalam inkubator. Sesekali mereka mengomentari saat si kecil bergerak.
.
.
.
.
.
...Jangan lupa like, koment, dan vote....
__ADS_1