
Bryan yang masuk ke dalam hotel, menemui Davis, Helena, dan Alex untuk berpamitan.
"Maaf, Pak, saya pamit pulang lebih dulu, karena istri saya sudah kelelahan," ucap Bryan seraya mengulurkan tangan pada Davis.
"Tidak apa-apa Pak Bryan, saya mengerti jika memang ibu hamil mudah lelah." Davis menerima uluran tangan Bryan.
"Terima kasih," ucap Bryan. Dia beralih pada Alex dan Helena yang berada di samping Davis dan mengulurkan tangan.
Menyelesaikan berpamitan dengan pemilik acara, Bryan buru-buru menyusul istrinya yang menunggu di mobil.
"Bry," panggil Helena yang mengejar Bryan.
Bryan yang mendengar namanya dipanggil berhenti dan menoleh. Melihat Helena yang memanggil, sebenarnya dia malas, tetapi dia sudah terlanjur berhenti, jadi mau tidak mau dia berhenti.
"Bry, aku mau bicara." Helena yang berdiri di depan Bryan menatap lekat bola mata Bryan.
"Bicaralah!" Raut wajah malas masih terlihat jelas di wajah Bryan.
"Bry, aku mau minta maaf tentang penghinaan yang aku lakukan waktu dulu." Akhirnya Helena memberanikan diri untuk mengatakan niatnya memanggil Bryan.
Kata 'waktu dulu' yang diucapkan Helena sudah sangat Bryan mengerti apa maksudnya. "Lupakan," ucapnya langsung berlalu.
"Bryan," panggil Helena seraya menarik tangan Bryan dan membuat pria di hadapannya itu menoleh.
"Lepaskan tanganmu!" Bryan menatap tajam pada tangannya yang di genggam Helena.
Helena melepaskan tangannya dari tangan Bryan. "Bry, dengarkan aku! Waktu itu aku tidak benar-benar mengatakan hal itu dari hati." Helena mencoba menjelaskan kembali
"Aku bilang lupakan! Jadi lupakan saja, itu hanya masa lalu."
"Tapi aku dengar dari teman-teman kamu berubah sejak saat itu. Kamu suka ke club dan bersama dengan para wanita." Setelah bertemu kembali dengan Bryan, Helena mencari informasi tentang pria yang pernah dia tolak itu. "Apa kamu sedih waktu itu?"
"Carilah informasi yang benar! Buktinya aku baik-baik saja dan bahagia sampai detik ini," ucapnya ketus.
Helena memang melihat jelas bagaimana kebahagiaan Bryan dan istrinya. Namun, rasanya dia tidak rela jika Bryan bahagia dengan wanita lain.
"Kalau kamu sudah selesai bicara, aku permisi." Bryan berlalu meninggalkan Helena.
"Bry, Bryan," panggil Helena kembali.
"Berhentilah mengganggunya!" ucap Alex yang tiba-tiba datang. Berdiri di samping Helena, dia menatap punggung Bryan yang pergi.
Helena yang melihat Alex di sampingnya, mendengus kesal. "Tidak perlu ikut campur!"
Alex mengabaikan ancaman Helena. Dengan tenang dia menjawab ancaman Helena. "Aku akan ikut campur jika itu menyangkut Shea."
"Apa kamu kakaknya yang harus ikut campur urusan Shea?" tanya Helena sinis.
"Anggap saja begitu," ucap Alex. Memasukkan tangannya ke saku celananya, dan pergi meninggalkan Helena yang masih begitu kesal.
"Sepertinya dia akan menjadi pengganggu," gumam Helena.
***
Bryan yang tadi sampai di mobil, mendapati istrinya sudah tertidur. Tanpa membangunkannya dia langsung melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan, istrinya itu pun tidak bangun sama sekali. Hingga sampai di rumah, saat dia ingin mengendong untuk masuk ke dalam rumah, Shea terbangun.
"Apa sudah sampai?" tanya Shea saat membuka matanya.
"Sudah."
"Aku bisa jalan sendiri." Shea yang tahu jika suaminya akan menggendongnya pun menjawab.
"Baiklah." Bryan membiarkan istrinya untuk berjalan sendiri.
Melangkah bersama, mereka masuk ke dalam rumah. Tampak rumah sudah sepi, karena asisten rumah tangga sudah tidur. Lampu pun terlihat hanya temaram saat Bryan dan Shea masuk. Saat melangkah menuju ke kamarnya, Shea berbelok ke dapur tanpa berkata apa-apa pada suaminya. Bryan pun akhirnya menghentikan langkahnya untuk tahu apa yang dilakukan istrinya.
Tampak Shea membuka lemari pendingin dan mengambil sekotak es krim dan mengambil sendok. Membawa es krim di tangannya, dia kembali menghampiri Bryan yang menunggunya. "Es krim," ucap Shea memamerkan es krim pada Bryan.
Bryan sudah sangat hapal dengan hobi baru Shea yang suka sekali makan es krim. "Ya sudah ayo!" ajaknya menuju ke kamarnya.
Sampai di kamar Shea yang tidak sabar untuk makan es krimnya pun langsung mendudukkan tubuhnya, dan membuka box es krim. Menyendok es krim, dia memasukkan ke dalam mulutnya. Sensasi dingin dan manis selalu jadi candu baginya.
Bryan hanya bisa menggeleng, melihat istrinya. Mengabaikan Shea yang sibuk makan es krim, dia melepas jas dan kemejanya. Namun, baru saja sampai pada melepas kancing kemejanya, dia sudah sangat gemas melihat bibir istrinya terkena es krim.
"lihatlah bibirmu itu," ucap Bryan seraya mendudukkan tubuhnya tepat di samping Shea.
__ADS_1
Mendengar ucapan suaminya, tangannya langsung mengusap bibirnya. Namun, belum sempat tangannya sampai di bibir, tangan Bryan sudah mencekalnya. "Biar aku saja yang bersihkan," ucapnya. Mendekat pada Shea, dia membenamkan bibirnya di bibir Shea. Menyesap bibir istrinya, dia merasakan manis alami dari bibir yang bercampur dengan manisnya es krim.
Ciuman lembut, bukan hanya sekedar aksi membersihkan sisa es krim di bibir lagi. Namun, kini menjadi aksi saling membalas yang memberikan kenikmatan.
Melepas ciuman, Shea tersenyum dengan ulah jahil suaminya yang membersihkan es krim dengan menciumnya. "Apa manis?" tanyanya.
"Semakin manis saat terdapat es krim di bibirmu." Senyuman menghiasi wajah Bryan saat berucap.
"Oh, ya, sepertinya aku harus cobanya."
"Tentu," ucap Bryan seraya meraih sendok es krim dan langsung memasukkannya ke dalam mulut. Namun, dia menyisakan es krim di sudut bibirnya.
Tanpa menunggu, Shea membenamkan bibirnya di bibir Bryan, dan melakukan hal yang sama dengan apa yang Bryan lakukan tadi. Ciuman hanya terjadi beberapa detik karena Shea buru-buru melepasnya. "Tidak manis," ucapnya.
"Oh ya?" Dahi Bryan berkerut saat mendengar ucapan Shea.
"Aku tahu seperti apa yang manis," ucap Shea dengan senyum liciknya. Tangannya meraih sendok, dan mengambil es krim di dalam box yang dari tadi dia bawa. Dia menuangkan es krim di leher Bryan, dan membiarkannya mengalir ke dada.
Mendekatkan bibirnya di dada bidang milik Bryan, dia menyesap manisnya es krim yang menempel pada tubuh suaminya. Bibir Shea terus menyesap manisnya es krim hingga menuju ke leher di mana tempat es krim berpusat.
Bryan hanya bisa menikmati sensasi yang diciptakan oleh Shea. Dinginnya es krim dengan sapuan bibir lembut Shea, begitu membuatnya mengila, hingga kata 'nikmat' tak cukup mewakili apa yang dirasanya.
"Merah," ucap Shea tersenyum. Ternyata tanpa sadar kecupannya membuat tanda kissmark di leher Bryan.
"Siapa yang mengajarimu seperti itu?" tanya Bryan seraya menari lembut pinggang Shea.
"Kamu!" ucapnya dengan tegas dan diselipi dengan tawa kecil.
Bryan hanya bisa menggeleng mendengar ucapan Shaea. "Kalau begitu kita mulai pelajaran barunya." Tangan Bryan langsung menangkup tubuh Shea dan membawanya dalam gendongannya. Meletakkan tubuh istrinya di atas tempat tidur, dia meraih es krim dari tangan Shea. "Ayo kita nikmati es krim dengan cara berbeda," ucapnya.
Kegiatan malam yang selalu membuat candu, tak akan habis untuk dieksplor. Mencari cela-cela kenikmatan dan merengkuhnya bersama. menciptakan sensasi berbeda untuk membuat mereka saling mengila.
***
Pagi ini sepasang suami istri masih meringkuk di bawah selimut dan saling memeluk, mencari kehangatan dalam pertemuan kulit tanpa penghalang.
Saat matahari mulai mulai masuk kedalam celah tirai yang tersingkap, membuat Shea mengerjap. "Jam berapa ini?" gumamnya. Matanya langsung mencari jam dinding. "Jam sembilan," ucapnya. Tangannya langsung mengoyang-goyangkan tubuh Bryan. "Sayang sudah siang, bukannya hari ini kita janji untuk jalan-jalan?"
"Iya, tapi nanti," ucap Bryan seraya mengeratkan pelukannya.
"Bukannya tadi malam aku sudah memberimu kesenangan." Bryan membenamkan kepalanya di ceruk leher Shea, dan membuat istrinya itu tertawa dan menjauh dari kepala Bryan.
"Ayo, aku mau jalan-jalan." Suara Shea sudah terdengar kesal.
"Iya, iya." Bryan akhirnya menuruti keinginan Shea. Melepas pelukannya, dia membuka ruang untuk Shea bangun.
"Aku akan mandi, dan jangan sampai aku kembali kamu tidur lagi!" Shea memberikan peringatan keras pada suaminya itu.
"Iya, Nyonya," goda Bryan.
Shea hanya tertawa dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan setelah Shea berlalu ke kamar mandi, Bryan menarik selimut dan kembali membungkus tubuhnya. Ternyata dia mengabaikan peringatan keras dari istrinya.
***
Setelah bersiap dan berlanjut sarapan yang mungkin sudah terlalu siang, Bryan dan Shea menuju ke taman hiburan. Sudah beberapa hari Shea sudah meminta Bryan untuk membawanya ke taman hiburan.
"Apa yang kamu akan lakukan di taman hiburan. Semua mainan tidak bisa kamu naiki." Bryan masih heran dengan apa yang diinginkan oleh istrinya itu.
"Memannya aku bilang kalau aku akan menaiki wahana?" Shea justru bertanya balik pada Bryan.
"Tidak."
"Itu kamu ingat, jika aku tidak bilang begitu."
"Lalu kamu mau apa di taman hiburan?" Byran menoleh sejenak pada Shea dan bertanya.
"Aku mau membeli gulali," jawab Shea.
Dahi Bryan berkerut dalam mendengar niatan sebenarnya dari Shea. Dia tersenyum, moment seperti ini adalah moment berharga bagi seorang suami untuk menemani istirnya, dan dia tidak akan melepaskan begitu saja.
Sampai di taman hiburan, mereka langsung mencari penjual gulali. Dari kejauhan terdapat anak kecil yang berjajar rapi mengantri gulali.
"Aku akan menunggu di sini, kamu belikan aku satu gulali," ucap Shea seraya menunjuk kursi yang tersedia di taman hiburan.
Sebenarnya Bryan tidak masalah, tetapi mengantri bersama anak-anak, rasanya dirinya malu sekali. Namun, dia tidak bisa juga membiarkan Shea untuk mengantri. "Ya sudah." Bryan pun berlalu dan ikut mengantri bersama dengan anak-anak kecil.
__ADS_1
"Paman," panggil seorang anak kecil seraya menarik baju Bryan.
"Apa?" tanya Bryan menundukkan pandanganya.
"Apa Paman juga mau gulali?"
"Bukan, tapi bibi yang di sana yang ingin gulali." Bryan berucap seraya menunjuk pada Shea yang tengah asik duduk.
Anak kecil itu pun melihat ke arah Shea. "Apa di perut bibi itu ada adik kecil?" tanyanya pada Bryan.
"Bagiamana bisa kamu tahu?"
"Karena adik kecilku juga ada di perut mama."
Bryan tersenyum mendengar celoteh anak kecil yang mungkin usianya sekita lima tahun itu. Dia membayangkan akan selucu apa anaknya nanti saat nanti sudah besar. Membayangkan akan hal itu, rasanya Bryan sudah tidak sabar menanti buah hatinya bersama Shea.
"Pak, mau pesan berapa?"
Suara penjual gulali pun membuat Bryan tersadar dari lamunannya. Dia tidak sadar jika anak kecil yang di depannya tadi sudah pergi. "Satu saja."
Mendapatkan gulali di tangannya, Bryan kembali menghampiri Shea. "Ini," ucapnya memberikan gulali pada Shea.
Dengan senyum merekah di wajahnya dia menerima gulali yang diberikan oleh Bryan. Dia langsung memasukan gulali ke dalam mulutnya.
"Sejak hamil kamu suka sekali makan manis." Suara Bryan terdengar dan menghentikan kegiatan Shea yang sedang sibuk memakan gulali. "Kurangilah! Agar tidak menganggu kesehatanmu."
"Iya aku tahu." Shea menyadari, hobinya makan manis akan berdampak buruk untuk kesehatannya.
"Aku tahu apa yang manis, tapi tidak akan menganggu kesehatanmu."
"Apa?" Shea menatap penuh rasa penasaran.
"Aku."
Seketika Shea tertawa terbahak mendengar ucapan Bryan. "Padahal kamu penyebab kesehatanku terganggu juga."
"Bagaimana bisa?" Bryan melirik tajam pada Shea, sedikit heran dengan ucapan Shea.
"Iya ... coba bayangkan, membuatku kurang tidur, akan membuatku anemia dan tidak baik untuk kesehatanku, membuatku kelelahan juga tidak baik untuk kesehatanku."
Bryan terdiam. Dia sadar jika kegiatannya olah raga malam itu akan membuat Shea kelelahan.
"Satu lagi," tambah Shea.
"Apa?" tanya Bryan begitu penasaran.
"Membuatku selalu jatuh cinta, juga tidak baik untuk jantungku yang terus berdebar," ucap Shea kembali seraya memegangi dadanya menunjukan di mana jantungnya berada.
Wajah Shea seketika berubah mengemaskan.
Bryan yang tadinya ingin memberikan Shea gombalan justru dirinyalah yang mendapat gombalan dari istrinya. "Ich .... " Bryan yang gemas mencubit lembut pipi Shea. Belakangan ini istrinya benar-benar membuatnya heran dengan tingkah lucu, manja, dan menggodanya.
Tawa mereka yang renyah seperti kerupuk kulit pun terasa ringan di telinga. Suatu hal kecil yang telah terjadi diantara mereka, terkadang memberikan kebahagian luar biasa.
.
.
.
.
.
...Baca juga ke karya lain aku...
...Terjebak cinta majikan...
...Jodoh cinta lama...
...Jangan lupa Like dan Vote...
...Tinggalkan jejak komentar kalian juga...
...IG: Myafa16...
__ADS_1
...FB : Myafa...