
Hoek...hoek....
Suara muntah Shea terdengar.
Bryan yang sedang di ruang tamu mendengar suara muntah Shea dari dapur. Melangkah menghampiri Shea, Bryan memastikan, jika Shea baik-baik saja. Tangan kokoh Bryan mencoba memijat tengkuk Shea. Berharap itu akan meredakan mual yang dirasa oleh Shea.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Bryan pada Shea.
Shea mengangguk menjawab Bryan. Sudah dua hari ini sejak Shea tidur dengan Bryan, dia mual hanya di sore hari atau malam hari menjelang makan malam.
Sebenarnya Shea lebih bersyukur, saat ternyata mualnya datang saat sore atau malam, karena itu tidak menganggu aktifitasnya.
"Apa sebaiknya kita tidak perlu pergi?" Bryan yang melihat kondisi Shea merasa tidak tega.
Ini lah yang Shea tidak suka. Karena mualnya dan muntahnya datang di sore hari, dirinya merasa lemas. Padahal hari ini Shea harus datang ke acara ulang tahun Maxton Company.
"Aku rasa, aku baik-baik saja."
"Baiklah kalau begitu, aku akan buatkan teh herbal untukmu, agar kamu lebih baik sebelum kita berangkat."
"Terimakasih."
"Jangan berterimakasih, sebelum aku melakukan apa pun." Bryan menuntun Shea untuk duduk di kursi.
Melangkah meninggalkan Shea. Bryan membuatkan teh herbal untuk Shea. Sebenarnya Bryan merasa senang saat Shea mual di sore atau malam hari, jadi dirinya punya alasan bisa tidur dengan Shea. Tapi tetap saja, jika dirinya sangat tidak tega saat melihat Shea muntah.
"Minumlah!" Bryan meletakkan secangkir teh herbal pada Shea.
"Apa aku sudah boleh berterima kasih?"
"Silakan."
Shea mendengus di sertai senyuman kecil di ujung bibirnya. "Terimakasih."
"Sama-sama." Bryan pun tersenyum menjawab ucapan Shea.
Setelah merasa lebih baik, Shea kembali ke kamarnya, bersiap untuk datang ke acara ulang tahun perusahaan tempatnya berkerja.
Berlalu ke kamar mandi Shea membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah selesai mandi, Shea merias dirinya di depan meja rias.
Melihat wajahnya dari pantulan cermin yang begitu pucat, Shea memoles wajahnya agar terlihat lebih segar. Tangan Shea mulai mengolekkan pelembab pada wajahnya, dan berlanjut pada foundation, dan bedak. Lipstik merah pun Shea goreskan di bibir indahnya. Seraya mengecap-ngecapkam bibirnya, Shea memastikan jika lipstik terpoles sempurna di bibirnya.
Memastikan wajahnya sudah terlihat segar, Shea beralih mengambil gaun yang di belinya kemarin. Gaun brokat warna putih tanpa lengan membungkus tubuh Shea dengan indah.
Setelah selesai Shea keluar untuk menemui Bryan, yang pasti sudah menunggunya.
Bryan yang duduk di sofa ruang tamu, berdiri saat terdengar Shea keluar dari kamarnya. Dengan setelah jas warna hitam, Bryan tampil dengan gagah.
Saat melihat Shea menghampiri Bryan, mata Bryan terhipnotis dengan kecantikan Shea. Gaun sederhana tapi tetap cantik di pakai oleh Shea. Tapi mata Bryan tertuju pada lengan Shea yang terekspos.
"Kenapa gaunmu itu tanpa lengan seperti itu?" protes Bryan. Bryan merasa tidak rela jika ada pria yang melihat lengan putih milik Shea.
"Memang modelnya seperti ini," ucap Shea.
"Ganti saja, itu jelek sekali." Bryan tidak mau mengatakan alasannya sebenarnya.
Shea memutar bola matanya malas, saat mendengar ucapan Bryan. "Apa kamu tahu, aku harus merogoh kocek sebesar dua puluh lima juta untuk gaun ini, dan kamu bilang ini jelek." Shea benar-benar merasa kesal saat mendengar ucapan Bryan.
"Aku tidak perduli berapa harganya." Bryan masih dengan pendiriannya, jika dirinya tidak mau Shea memakai gaunnya.
"Terserah padamu, aku tidak mau." Shea pun tak mau kalah dengan Bryan. Shea melipat tangannya di dadanya, merajuk saat Bryan memintanya untuk menganti gaunnya.
Bryan tidak bisa berbuat apa saat Shea tetap dengan keinginannya. "Baiklah, baiklah."
Akhirnya Bryan dan Shea memutuskan untuk berangkat. Bryan tidak mau sampai Shea berubah pikiran dan tidak mau berangkat, jika dirinya melarang.
Menuju ke tempat pesta Shea memilih diam. Dia masih kesal dengan Bryan.
"Kenapa diam?"
"Tidak kenapa-kenapa," jawab Shea ketus.
"Maaf," ucap Bryan. Bryan tahu Shea masih begitu kesal.
Mendengar kata 'maaf' dari Bryan Shea menghela napasnya kasar. Shea berusaha mengatur emosinya. "Iya." Shea menoleh sejenak, dan menjawab permintaan maaf Shea.
Mata Bryan langsung memicing saat melihat ada yang aneh dengan Shea. "Coba putar wajahmu kemari," ucap Bryan.
Shea pun memutar wajahnya saat Bryan memintanya berputar. "Kenapa?" Shea merasa bingung dengan Bryan.
"Berapa banyak lipstik yang kamu pakai?" Bryan baru menyadari, jika lipstik merah milik Shea terlihat begitu menyala. Mungkin karena tadi Bryan sibuk mengomentari gaun Shea, hingga Bryan tidak memperhatikan lipstik milik Shea.
Mendengar pertanyaan Bryan tentang lipstiknya, tangan Shea langsung meraih kaca depan mobil, dan melihat dirinya dari pantulan kaca.
"Kenapa merah menyala seperti ini," ucap Shea saat menyadari warna lipstiknya.
"Kamu yang memakai, tapi kamu balik bertanya." Bryan dibuat heran dengan pertanyaan Shea.
"Bukan begitu, tadi aku merasa hanya mengoleskan sedikit," elak Shea. Shea melihat kembali bibirnya dalam pantulan cermin. "Ini lipstik baru yang aku beli kemarin, jadi aku belum tahu warna apa yang akan tercipta saat di luar ruangan," ucap Shea menjelaskan pada Jeje.
Bryan bukan lagi mendengarkan penjelasan Shea, tapi matanya terfokus pada bibir Shea. Shea yang sedang mengecap-ngecapkan bibirnya, membuat Bryan menelan ludahnya kasar.
Jika aku menciumnya, pasti akan nikmati sekali.
Pikiran Bryan melayang membayangkan akan dia apakan bibir Shea yang begitu terlihat sexy itu.
"Apa kamu tidak ada tisu?"
__ADS_1
Suara Shea seketika menyadarkan Bryan yang sedang berimajinasi dengan bibir milik Shea.
"Tisu?" Mata Bryan pun mencari dimana tisu berada. "Itu tisu?" Bryan menujuk tempat tisu.
"Iya, aku tahu, tapi ini habis."
"Kalau habis, berarti tidak ada tisu."
Wajah Shea langsung panik, saat mendapati jika di mobil tidak ada tisu. "Lalu bagaimana?"
"Apa yang bagaimana?" tanya Bryan. Tangan Bryan pun fokus pada kemudinya, karena dirinya sedang memarkirkan mobilnya.
"Tidak ada tisu, bagaimana aku menghapus lisptik ini?" tanya Shea panik.
Bryan baru tahu apa alasan Shea mencari tisu. "Ini sudah sampai, kamu bisa ke toilet dan menghapusnya di sana."
"Tidak mau, kalau aku keluar, pasti aku akan berpapasan dengan orang, dan aku akan sangat malu dengan bibir merah seperti ini."
Bryan hanya mengela napasnya kasar, merasa binggung harus berbuat apa. "Lalu harus bagaimana?"
"Bisakah kamu masuk dan ambilkan aku tisu di toilet," ucap Shea lirih.
Mata Bryan membulat saat mendengar ucapan Shea. Bryan tidak bisa bayangkan CEO Adion Company mengambil tisu di toilet dan membawanya keluar. "Tidak mau." Bryan menolak tegas permintaan Shea.
Shea merasa bingung saat mendengar jika Bryan menolak permintaanya. "Lalu bagaimana aku menghapusnya."
"Coba kamu transfer ke tanganmu, biasanya saat lipstik berpindah, warnanya akan berkurang." Bryan memberikan ide pada Shea.
"Tidak mau," tolak Shea tegas.
"Kenapa?" Bryan benar-benar pusing dengan Shea yang menolak idenya.
"Gaunku putih, jika tanganku terkena lipstik, dan aku tidak sengaja mengenai gaunku bagaimana?"
Rasanya Bryan gemas sekali dengan alasan Shea.
Dasar wanita, entah apa yang ada di pikirannya, hal semudah itu dibuat sulit.
Bryan hanya bisa meluapkan kekesalannya dalam hatinya. Tapi saat merasakan kekesalannya, terlintas ide di kepala Bryan. "Kamu transfer lipstik milikmu padaku saja."
Shea yang sedang memikirkan cara bagaimana lipstiknya bisa terhapus, langsung menoleh saat mendengar ucapan Bryan. "Maksudmu aku harus menciummu?" tanya Shea ragu-ragu.
"Iya," jawab Bryan santai.
Shea merasa kaget dengan jawab Bryan. "Bukan aku tidak mau mencium dan mentransfer lipstik yang aku pakai. Tapi apa kamu sadar, jika warna lipstik milikku menempel di pipimu, dan kamu akan jadi tontonan orang."
"Memang siapa yang memintamu menciumku di pipi?" tanya Bryan santai.
Shea semakin bingung dengan ucapan Bryan. "Lalu?"
"Dimana?" tanya Shea yang begitu penasaran.
"Di dada." Bryan tersenyum dalam hatinya saat mengatakan pada Shea, dimana Shea harus menciumnya.
Shea mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Bryan. "Aku tidak mau," elak Shea pada Bryan.
"Ya, sudah kalau tidak mau. Kalau begitu ayo turun." Bryan membuka seatbelt yang melingkar di tubuhnya, dan berniat untuk turun.
Pikiran Shea melayang, dirinya menimbang ucapan Bryan.
Jika aku keluar dengan lipstik merah menyala seperti ini, aku malu sekali. Tapi mencium Bryan di dada?
Shea bertanya dalam hatinya, dan menimbang tawaran Bryan. "Iya, aku mau." Akhirnya Shea memutuskan untuk menerim ide Bryan.
Senyum tertarik di ujung bibir Bryan.
Jangan salahkan aku yang memanfaakan keadaan, karena kenyaataanya kamulah yang membuat aku mendapatkan kesempatan.
Rasanya Bryan benar-benar merasa senang. Karena ternyata Shea menerima idenya.
Tangan Bryan langsung membuka kancing jasnya, dan menyibak dasi yang terpasang di kerah kemejanya. Membuka kancing kemejanya, Bryan mempelihatkan dadanya.
Bryan memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Shea. "Cepat sebelum aku berubah pikiran," ucap Bryan pura-pura mengancam.
Membuka seatbelt, Shea dengan ragu-ragu mendekatkan tubuhnya pada Bryan. Shea meyakini jika hanya cara ini yang bisa di lakukannya sekarang.
Mata Shea melihat dada Bryan dari celah kemeja yang di pakai Bryan. Dengan ragu-ragu, Shea mendaratkan kecupan di dada Bryan. Aroma maskulin begitu menyeruak dari tubuh Bryan.
Memundurkan tubuhnya, Shea mengecek apakah lisptik sudah tertransfer di dada Bryan. "Lipstiku tidak menempel," ucap Shea saat melihat dada Bryan masih bersih tanpa noda lipstik.
"Bagaimana lipstikmu bisa menempel jika kamu hanya mengecup saja," sindir Bryan. "Cium yang benar!" Bryan meminta Shea kembali mengulanginya.
Shea hanya bisa mendengus kesal saat harus mengulang kembali.
Mendekatkan wajahnya, Shea mendekat pada dada Bryan. Kali ini Shea lebih lama menempelkan bibirnya di dada Bryan. Tapi saat bibirnya lebih lama di dada Bryan, Shea merasakan debaran jantungnya begitu berdetak lebih kencang.
Saat mencium dada Bryan, Shea menikmati aroma maskulin dari parfum yang di pakai Bryan. Shea baru kali ini benar-benar menikmati aroma maskulin dari Bryan. Entah kenapa, perasaan Shea menjadi sangat tidak menentu.
Tapi Shea menepis perasaanya, dan memfokuskan pada kegiatannya untuk memindahkan warna bibirnya.
Bryan yang merasakan bibir Shea menempel di dadanya, hanya bisa meresapi dan menikmati. Rasanya sudah lama tubuhnya ini tidak merima kecupan-kecupan dari wanita.
Shea memundurkan tubuhnya perlahan, dan mengecek apakah lisptiknya menempel.
Saat melihat lipstiknya menempel Shea menarik senyum di wajahnya. Shea langsung melihat bibirnya dari pantulan cermin. Tapi sayangnya, warna merah lipstiknya masih terlihat jelas.
Memutar kembali tubuhnya, Shea kembali pada dada Bryan. Shea ingin mengulang kembali mencium dada Bryan agar lipstiknya menempel kembali.
__ADS_1
Sebenarnya Shea merasa malu. Tapi dirinya tidak ada pilihan lain.
Bryan yang melihat Shea mengulang mencium dadanya kembali, hanya bisa merasakan keberuntungan berulang kali.
Memejamkan matanya, Bryan meresapi ciuman Shea di dadanya. Gelora dalam hatinya seketika muncul. Dirinya yang sudah lama tidak di sentuh dan tidak menyentuh, merasakan geloranya muncul.
Ingin sekali Bryan mendorong Shea, dan membalas apa yang sedang Shea lakukan. Tapi logikanya masih jalan, menyadarkannya, jika perjuangannya sudah sejauh ini, dan jika sampai Bryan melakukannya, dirinya akan kehilangan Shea selamanya.
Shea yang sudah memberikan ciuman kembali melihat bibirnya dari pantulan cermin. Senyum tertarik di bibir Shea saat mendapati warna bibirnya sudah tidak menyala seperti di awal.
"Sudah," ucap Shea semangat. Shea senang saat ide Bryan ternyata bisa membuat warna lisptiknya berkurang. "Ayo kita turun," lanjut Shea berucap pada Bryan.
Rasanya Bryan hanya bisa merutuki kesalahan idenya. Karena kini Bryan tersiksa dengan sesuatu yang terbangun. "Kamu masuklah dulu, aku akan merapikan bajuku." Bryan memberi alasan pada Shea. Tangan Bryan mengancingkan kembali kemejanya.
"Baiklah, aku akan menunggumu di dalam." Shea pun membuka pintu mobil, dan keluar menuju tempat pesta.
Melihat Shea keluar, Bryan merasa lega.
"Sampai kapan aku harus bertahan seperti ini." Rasanya Bryan benar-benar tersiksa saat tidak bisa menyentuh Shea.
Tapi bukan hanya itu saja yang membuat Bryan tersiksa. Karena sentuhan-sentuhan Shea, begitu membangkitkan gairahnya dan membuatnya semakin tersiksa.
"Aku harus kuat." Bryan menyakinkan dirinya sendiri.
Mata Bryan beralih pada bagian bawah miliknya, dan Bryan mendengus kesal.
"Sepertinya aku harus menunggu sebentar sampai dia tertidur kembali." Bryan hanya bisa mengela napasnya, saat menikmati kemalangannya.
***
Shea yang masuk lebih dulu ke tempat pesta, mengedarkan pandangannya mencari pemilik acara. Dari kejauhan Shea melihat dua pasangan sedang menyalami para tamu, ada Selly dan Regan sebagai CEO Maxton Company dan ada Andrew dan Lana Maxton sebagai owner dari Maxton Comopany.
"Shea," panggil Selly dan menautkan pipinya. "Bryan mana?" tanya Selly.
"Bryan masih di mobil, sebentar lagi pasti akan datang." Shea menjawab pertanyaan Selly.
Shea beralih pada Andrew Maxton. "Selamat, Pak atas ulang tahun Maxton Company." Shea mengulurkan tangan pada Andrew Maxton dan bergantian pada Regan.
"Terimakasih, Se...." Andrew Maxton yang ingin mengucapkan nama Shea, terhenti saat lupa nama Shea.
"Shea, pa," ucap Regan mengingatkan pada papanya.
"Iya, Shea." Andrew Maxton tersenyum pada Shea.
"Kamu cantik sekali," ucap wanita yang berdiri tepat di samping Andrew.
"Terimakasih."
"Selamat, Paman." Suara Bryan pada Andrew Maxton, membuat semuanya menoleh pada Bryan. Bryan langsung mengulurkan tangannya pada Andrew Maxton.
"Terimakasih Bryan." Andrew menerima uluran tangan Bryan.
"Selamat, Kak." Bryan beralih pada Regan.
"Terimakasih."
"Dari mana kamu? Membiarkan Shea sendiri?" tanya Selly ketus pada Bryan.
Bryan yang mendapatkan pertanyaan dari Selly sedikit salah tingkah. Dirinya tadi yang menunggu sesuatu tertidur, membuat Shea masuk ke acara pesta sendiri. "Aku mengecek mobilku dulu." Bryan memberikan alasan pada Selly.
Selly hanya menelisik dari bola mata Bryan, mencari kebenaran ucapannya.
"Apa mama sudah datang?" Bryan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Belum."
"Se, mau minum?" tanya Bryan pada Shea.
Shea tahu, jika Bryan sedang menghindar dari Selly. Akhirnya Shea memilih mengangguk.
"Permisi, aku ambil minum dulu," ucap Bryan. Bryan pun meninggalkan Shea bersama Selly.
.
.
.
.
.
Selamat membaca.
Jangan lupa like dan vote
up jam 12 WIB
Nb: ini sudah 2000kata, jadi aku harap kalian sabar ya nunggu bab berikutnya. Aku sih pengen up 2 bab atau lebih. Tapi aku hanya penulis pemula yang kadang otaknya ga sampai, hehe..
Kemarin sempat buat tapi sekarang belum bisa lagi.
Kalau kebetulan up doubel aku akan kabarin di IG myafa16
Terimakasih buat kalian yang udah baca. Kalian buat aku selalu semangat.
Myafa.
__ADS_1