My Baby CEO

My Baby CEO
Biarkan menjadi kejutan


__ADS_3

Meninggalkan restoran tempat pertemuan bisnis, Bryan dan Shea menuju ke Rumah sakit. Sepanjang perjalanan senyum tergambar di wajah Bryan. Satu alasannya yang membuatnya bahagia adalah, dia akan melihat anaknya lewat layar USG.


"Sepertinya Helena tidak suka melihat aku?" Suara Shea terdengar di tengah-tengah perjalanan. Tatapannya dia tujukan pada suaminya yang sedang sibuk menyetir.


"Urusanku dengannya hanya tentang pekerjaan, jadi selebihnya abaikan saja," jawab Bryan menoleh sejenak pada istrinya sebelum kembali pada kemudinya.


Shea menarik senyum kecil di ujung bibirnya. Walaupun nanti ke depan rumah tangganya akan dihiasi dengan kehadiran wanita lain, tapi melihat suaminya, Shea tidak perlu meragukan lagi.


Dia selalu tahu bagaimana menjaga hatiku, lalu apa yang aku takutkan?


Pertanyaan dalam hatinya, membuat senyum yang tadinya hanya terlihat sedikit kini semakin terlihat sempurna, hingga membuat senyuman indah di wajah Shea.


"Apa kamu tahu jika usia lima bulan kita bisa melihat jenis kelamin anak kita," ucap Shea mengalihkan pembicaraan.


"Oh ya, berarti kita akan lihat dia perempuan atau laki-laki?" Bryan begitu bersemangat mendengar cerita dari Shea jika dia akan melihat jenis kelamin anaknya.


"Iya," jawab Shea dengan anggukan. "Kamu mau anak laki-laki atau perempuan?" Shea menatap kembali suaminya, dan ingin tahu jawabannya apa yang diberikan oleh suaminya itu.


"Emmm ... aku pilih keduanya."


"Mana bisa begitu," jawab Shea melirik Bryan.


"Bisa saja, kalau kamu hamil anak kembar."


"Tapi aku tidak ada keturunan anak kembar," jawaban Shea, "apa kamu ada?" Matanya menatap Bryan lekat.


Bryan menaikan alisnya dan bola matanya juga ikut naik seakan dia sedang memikirkan pertanyaan Shea. "Sepertinya tidak ada."


"Kalau tidak ada ya tidak bisa."


"Ya ... sayang sekali," jawab Bryan kecewa, "bagaimana kalau kita buat lagi secepatnya saja, agar jaraknya tidak jauh?"


Shea terperangkap mendengar permintaan suaminya. Dia tidak bisa membayangkan mengurus anak dengan perut yang akan membesar juga.


Bryan langsung tergelak melihat wajah Shea yang berubah saat dia meminta untuk membuat anak lagi. "Jangan memasang wajahmu seperti itu," ucap Bryan, "aku tidak benar-benar serius dengan ucapku."


Bibir Shea mencebik karena ternyata suaminya hanya menggodanya.


"Kita akan menunda memiliki anak dulu, sampai .... " Bryan menghentikan ucapannya.


"Sampai apa?" tanya Shea penasaran.


"Sampai aku puas menghabiskan malam denganmu tanpa harus pelan-pelan lagi." Bryan yang menjaga anaknya agar tetap aman di dalam kandungan Shea, selalu memasang mode pelan saat merengkuh kenikmatan bersama istrinya.


Pipi Shea merona saat Bryan membahas ritme kegiatan malam mereka. Dia menyadari jika mereka melakukan dengan hati-hati agar kandungan Shea tetap aman.


***


Sesampainya di Rumah sakit. Bryan yang sudah mendaftarkan diri sejak tadi sebelum berangkat ke Rumah sakit langsung menunggu di depan ruang dokter kandungan. Karena masih ada pasien di dalam ruangan dokter, akhirnya Bryan dan Shea menunggu sebentar.


Saat terlihat pintu di buka, Bryan dan Shea berdiri dan bersiap untuk masuk ke dalam ruangan dokter, bergantian dengan pasien sebelumnya.


Namun, mereka berdua terkejut saat mendapati Selly yang keluar dari ruangan dokter kandungan.


"Kakak," panggil Bryan.


Selly yang baru saja keluar dari ruangan dokter begitu kaget melihat adik dan adik iparnya. "Kalian di sini?" Selly yang menetralkan kekagetannya langsung melempar pertanyaan.


"Iya, Shea mau memeriksakan kandungan."


"Kakak sedang apa, bukannya ini bukan jadwal kakak periksa kandungan?"


"A-ku, aku sedang memeriksakan kesehatanku saja, kemarin aku sedikit pusing, jadi aku ingin meminta obat pada dokter." Selly menjelaskan pada Shea.


Shea mengangguk mendengar penjelasan kakak iparnya. "Di mana kak Regan?" tanya Shea.

__ADS_1


"Dia sedang banyak pekerjaan, jadi dia tidak bisa mengantar."


"Kalau begitu Kakak tunggu saja kami memeriksakan kandungan, nanti kita bisa pulang bersama." Bryan menawari kakaknya.


"Aku kemari dengan supir, jadi aku akan pulang sendiri," ucap Selly, "lanjutkan saja kalian periksa, aku akan pulang lebih dulu," ucap Selly seraya menyelipkan senyuman di wajahnya.


"Baiklah kalau begitu. Kakak hati-hati," Bryan.


"Iya," jawab Selly. Dia pun beralih pada Shea dan menautkan pipinya pada Shea. "Besok jadwal senam, jangan lupa datang ke rumah." Sejak kejadian di taman, Regan melarang Selly dan Shea untuk ikut kelas senam ibu hamil di luar.


"Iya, besok pagi aku akan ke rumah."


"Bye," ucap Selly seraya melambaikan tangan dan berlalu meninggalkan Bryan dan Shea.


Bryan dan Shea langsung masuk ke dalam ruangan dokter kandungan, setelah Selly pergi.


Saat mereka masuk ke ruangan dokter, mereka sudah disambut oleh sapaan ramah disertai senyuman dari dokter Lyra. "Selamat siang, Pak, Bu," sapanya.


"Siang, Dok." Shea membalas sapaan dokter seraya menerima uluran tangan dokter Lyra.


"Silakan duduk!"


Menarik kursi di depan meja praktek, Bryan dan Shea mendudukkan tubuh mereka di atas kursi.


"Bagaimana keadaan Bu Shea, apa ada kendala selama kehamilan?"


"Sepertinya tidak ada kendala berlebih, rasa mual juga sudah mulai hilang, Dok, hanya napas saya saja sudah mulai berat."


"Iya, seiring bertambahnya usia kandungan memang akan membuat sedikit merasakan napas yang berat."


Shea mengangguk-angguk, mendengarkan penjelasan dokter.


"Mari kita lihat kondisi dari baby-nya." Dokter berdiri dan menuju ke ranjang periksa.


Perawat mulai memberikan gel untuk di perut Shea dan dokter mulai memeriksa dengan alat USG.


Bryan dan Shea begitu tidak sabar untuk melihat anak mereka dari layar USG.


Saat dokter mulai mengarahkan alat USG terlihat bentuk tubuh di layar USG. Tubuh bayi terlihat jelas sudah berbentuk sempurna, tetapi ukurannya lebih kecil.


Bryan saling menatap dengan Shea, seolah matanya mengungkapan rasa bahagia mereka.


"Panjangnya sudah 22cm dan dan beratnya sekitar 360gr. Anggota tubuhnya juga sudah terbentuk sempurna," jawab dokter, "saya rasa semuanya sehat," lanjut dokter menjelaskan.


Mendengar penjelasan dokter Bryan dan Shea merasa lega. Mereka senang karena ternyata anak mereka sehat.


"Tapi ternyata kita tidak bisa melihat jenis kelaminnya, karena tangannya menutupi." Dokter Lyra yang melihat dari layar USG tangan bayi menutupi alat kelamin, menjelaskan pada Shea dan Bryan.


"Tidak apa-apa, Dok, biarkan menjadi kejutan," ucap Shea. Baginya, mendengar anaknya sehat lebih dari cukup. Masalah anaknya lahir dengan jenis kelamin apa, baginya tidak masalah.


"Baiklah, kalau begitu." Dokter pun mengakhiri pemeriksaan.


Shea kembali ke tempat duduknya bersama dengan Bryan. Setelah itu dokter memberikan resep vitamin pada Shea, untuk di konsumsi selama kehamilannya.


Selesai pemeriksaan, Bryan dan Shea keluar dari ruangan dokter, dan menuju ke apotek sebelum pulang.


**


Pagi ini sesuai jadwal Shea, dia akan yoga bersama Selly. Di antar oleh Bryan, dia menuju ke rumah Selly.


"Kamu hati-hati ya," ucap Shea mendaratkan kecupan di pipi Bryan.


"Semakin hari kamu semakin mengemaskan sekali," ucap Bryan seraya mencubit lembut pipi Shea. Melihat istrinya yang sudah tidak malu-malu, membuat Bryan semakin tergila-gila pada istrinya itu.


"Kamu yang mengajari aku." Senyum tertarik di bibir Shea.

__ADS_1


"Kalau begitu nanti malam aku akan mengajari dirimu, agar kamu lebih pintar," goda Bryan.


"Masih pagi, kenapa membahas yang terjadi malam-malam?" tanya Shea malas.


Bryan tertawa. "Sudah sana! Kita lanjutkan pembahasan nanti sekaligus praktek." Bryan langsung mendaratkan kecupan di perut dan pipi Shea, sebelum benar-benar meminta istrinya untuk pergi.


"Bye," ucap Shea seraya membuka pintu.


Shea masuk ke dalam rumah Selly setelah melihat mobil Bryan melaju, dan sudah jauh dari jangkauan. Masuk ke dalam rumah, Shea berpapasan dengan Regan yang baru saja ingin keluar dari rumah. "Baru akan berangkat, Kak?" tanya Shea. Dia tahu jika Regan selalu berangkat lebih awal dari Bryan, dan melihat Regan berangkat lebih siang, membuat Shea sedikit terheran.


"Iya," jawab Regan, "Bryan sudah berangkat?" tanyanya.


"Sudah, Kak."


"Bagaimana kondisi kehamilanmu?"


"Baik, Kak, kemarin aku baru saja periksa."


"Syukurlah, kalau begitu aku berangkat dulu, temui saja Selly, dia sudah bersiap di taman belakang," ucap Regan.


"Baiklah."


Shea langsung masuk ke dalam rumah dan menuju ke taman belakang sesuai dengan yang diberitahu oleh Regan. Saat di taman belakang Shea melihat Selly sudah duduk manis di atas matras.


"Hai, Se," panggil Selly.


"Hai, Kak."


"Ayo duduk di sini! Kita tunggu pelatihnya datang," ucap Selly seraya menepuk matras.


Dengan perut yang mulai membesar, duduk di lantai membuat Shea harus perlahan saat duduk. Perut yang mengganjal membuatnya kesulitan untuk duduk di lantai.


"Bagaimana keadaanmu kemarin?" tanya Selly.


"Baik, Kak," jawab Shea, "keadaan kakak sendiri bagaimana? Apa masih pusing?" lanjutnya bertanya.


"Sudah sedikit lebih baik," jawab Selly dengan senyuman.


"Syukurlah."


"Aku senang sekali kita bisa senam bersama." Selly mengungkapkan rasa senangnya karena ada teman saat bersenam. Dia tidak bisa bayangkan jika harus sendiri melakukan senam hamil.


"Iya terkadang suka lucu, kenapa kita bisa secara bersama-sama hamil." Shea ingat pertama kali Shea berkunjung ke rumah Selly untuk merayakan kehamilan Selly. Namun, justru malah dirinya mendapatkan kabar mengejutkan jika dirinya hamil.


"Iya, mungkin dengan begitu kita bisa saling berbagi."


"Kakak benar, kita bisa saling berbagi, nanti saat kak Selly butuh bantuan aku, aku akan menjaga anak Kak Selly." Shea membayangkan bagaimana serunya mereka akan saling menjaga anak mereka bergantian.


"Iya, dan saat kamu nanti butuh bantuan, jangan sungkan untuk menitipkan padaku."


Mereka berdua tertawa membayangkan keseruan yang akan terjadi. Hubungan yang berawal dari Bryan menjadikan mereka layaknya kakak dan adik. Tidak ada kecangungan antara mereka untuk saling berbagi.


Saat pelatihan datang, mereka berdua memulai senam hamil. Kegiatan yang akan membuat tubuh mereka berdua sehat, dan akan berakibat baik untuk janin di kandungan mereka.


.


.


.


.


.


...Jangan lupa like dan vote...

__ADS_1


__ADS_2