My Baby CEO

My Baby CEO
Menyusul


__ADS_3

Semalaman Shea tidak bisa tidur sama sekali. Walaupun dia sudah memakan es krim untuk mereda rasa gelisahnya, tapi tetap saja tidak bisa meredakan perasaanya itu. Bagiamana rasa gelisahnya bisa mereda jika sampai pagi suaminya belum pulang. Pikirannya melayang membayangkan jika suaminya menghabiskan malam dengan wanita lain.


Dengan penuh keyakinan, akhirnya sekitar pukul tiga pagi Shea menghubungi Felix. Dengan nada tegas, dia memerintahkan Felix untuk mengantarkan dirinya ke tempat proyek pembangunan.


Memakai sweater-nya dia menunggu Felix menjemput. Sebelum pergi, Shea menitipkan pesan pada asisten rumah tangga jika dia akan menyusul Bryan. Asisten rumah tangga bingung harus menjawab apa, karena ada rasa khawatir saat melepas majikannya yang sekarang sedang hamil untuk pergi. Namun, dia tidak bisa melarang saat melihat majikannya itu tampak ingin sekali pergi.


Jam masih menunjukan pukul empat pagi saat Felix sampai di rumah Shea. Sebenarnya Felix benar-benar takut menuruti keinginan Shea, tapi mendengar Shea yang meminta dengan nada memerintah, nyalinya langsung ciut.


"Kamu yakin akan menyusul Bryan?" Felix kembali bertanya saat Shea masuk ke dalam mobilnya.


"Aku sudah di dalam mobil, apa kamu pikir aku tidak yakin?." Shea menatap tajam pada Felix. Dia merasa kesal saat Felix harus mempertanyakan kesungguhannya untuk menyusul suaminya.


Ya Tuhan, kenapa dia mengerikan sekali?


Felix menelan salivanya saat melihat tatapan tajam dari Shea. Dia tahu, rasa emosi, gelisah, dan takut sedang menghantui istri Bosnya itu. Jadi dia memaklumi jika wanita yang sekarang duduk manis di kursi penumpang itu berubah jadi ganas.


"Ayo, cepat jalan!" Suara Shea dengan nada tegas memerintah Felix.


Dengan segala kepasrahan Felix akhirnya memutar kunci mobilnya. Menginjak pedal gas, dia menuju ke proyek pembangunan hotel. Dia hanya bisa berharap, tidak terjadi hal buruk pada ibu hamil di sampingnya selama perjalanan.


Di dalam perjalanan Felix melihat Shea yang masih tampak gelisah. "Minumlah! Tenangkan pikiranmu, percayalah jika Bryan tidak akan melakukan hal buruk di sana." Felix menyerahkan satu air mineral yang berada di mobilnya pada Shea.


Shea menghela napasnya yang terasa begitu berat. Menerima air mineral dari Felix, dia meminumnya. Satu teguhkan begitu melegakan tenggorokannya. "Apa dia akan melakukan sesuatu dengan Helena?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Shea dengan derai air mata yang sudah dia tidak bisa tahan lagi.


Isak tangis pun mengisi keheningan di dalam mobil. Air mata yang menandakan seberapa kegelisahan hatinya yang sudah tak bisa di bendung lagi. Dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, dia mencoba agar suara tangisnya tidak terdengar kencang.


Hati Felix merasa sangat sakit saat melihat wanita yang berada di sampingnya itu begitu terluka. Ditambah lagi keadaanya yang sedang hamil, pasti tidak baik untuk kandungannya. Namun, Felix tidak bisa menjawab pertanyaan Shea. Sebagai teman, dia tahu sepak terjang Bryan. Walaupun mungkin Bryan sangat mencintai Shea, tapi saat disuguhkan makanan lezat seperti tubuh Helena, mungkin saja dia akan tergiur.


"Jika kamu percaya padanya, buanglah pikiranmu itu!" Felix tidak punya cara lain untuk menenangkan Shea.


"Tapi aku takut," ucapnya menatap Felix. Air matanya masih terus mengalir tak bisa berhenti. Shea hanya bisa mengusap air matanya berusaha air matanya tidak terus mengalir di pipinya.


Sebagai pria, Felix sangat benci seseorang wanita menangis, karena dia tidak tahu bagaimana cara menenangkannya . Sampai detik ini saja, dia tidak pernah melihat Angel-kekasihnya menangis. Hal yang paling sering dilakukan Angel hanya merengek tanpa tangisan. Jadi boleh dibilang, Felix belum pernah menghadapi wanita yang menangis seperti Shea.


"Apa kamu ingat saat aku menemuimu sehari setelah kejadian Bryan memperkosamu? Kamu tampak kuat, padahal mungkin kamu rapuh saat itu." Felix menatap Shea yang masih terisak. "Apa dulu juga kamu takut?" tanyanya pada Shea.


"Sama, aku juga takut waktu itu. Aku takut bagaimana aku menjalani hidupku, tapi aku berusaha untuk kuat." Shea mengingat perasaan apa yang terjadi waktu itu.


"Apa yang membuatmu kuat?" Felix yang fokus pada kemudinya menatap ke arah Shea sejenak.


"Aku yakin sesuatu hal buruk menimpaku, Tuhan akan mengantikan keindahan setelahnya."


"Sekarang pikirkan hal yang sama. Jika sampai terjadi sesuatu nanti, pasti Tuhan punya rencana yang indah untukmu."


Shea mengusap wajahnya yang basah karena air mata. Isak tangisnya dia hentikan, saat mendengar ucapan Felix. Dia mengingat kembali, jika dulu dia bisa sekuat itu. Jadi kenapa sekarang tidak?


"Aku tahu, mungkin kamu terlalu lemah karena sedang hamil. Perasaan ibu hamil memang lebih sensitif. Namun, coba bayangkan, jika ibunya bersedih apa anaknya tidak akan merasa sedih." Dengan masih fokus melihat jalanan, Felix berbicara pada Shea.

__ADS_1


Mata Shea langsung melihat ke arah perutnya yang sudah membesar. Dengan mengusap perutnya dia berbicara dalam hatinya.


Maafkan mommy, Sayang. Mommy sudah membuatmu sedih.


Shea merasa bersalah telat membuat bayinya menjadi korban keegoisannya, dan membuatnya mungkin merasakan kesedihannya


Felix tersenyum melihat Shea yang sedang membelai lembut perutnya seolah sedang berbicara pada anaknya. Melihat Shea yang sudah lebih tenang, Felix merasa lega. "Percayalah, semua akan baik-baik saja."


"Terima kasih."


"Apa semalaman kamu tidak tidur?" tanya Felix. Dia yang melihat wajah pucat dan lingkaran hitam di wajah, menebak apa yang terjadi pada Shea.


"Iya, aku tidak tenang semalaman, jadi aku tidak bisa tidur." Semalam memang Shea sudah berusaha untuk tenang dan mencoba untuk tidur, tapi sayangnya matanya tidak mau terpejam.


"Sekarang tidurlah! Perjalanan masih panjang. Simpan tenagamu untuk marah pada Bryan," ucap Felix tertawa kecil menggoda Shea.


Shea yang tadinya menangis pun membalas tawa Felix dengan senyuman. "Baiklah, aku akan mencoba untuk tidur." Tangannya meraih reclining seat di samping kursi yang dia duduki. Menarik reclining seat, dia sedikit menurunkan kursi penumpang, agar tubuhnya bisa bersandar dengan nyaman.


Felix tersenyum melihat ibu hamil di sampingnya itu. Baginya dia sudah seperti Bryan yang sudah dia anggapnya saudara. Memikirkan Bryan, dia menjadi sedikit geram.


Kalau sampai kamu menghabiskan malammu dengan Helena, aku adalah orang yang pertama yang akan memukulmu.


Felix sudah merencanakan apa yang akan dia lakukan jika Bryan sampai melukai Shea kembali.


***


Alex hanya bisa berharap, jika Bryan tidak akan masuk perangkap Helena. Jika sampai itu terjadi Alex tidak bisa membayangkan akan seperti apa hancurnya Shea.


Sekitar lima kilo meter dari lokasi proyek, mobil Alex harus terhenti karena jalanan di depannya macet. Alex melihat ke depan. Tepat satu mobil di depannya, ada truk bego yang sedang sibuk mengambil tanah. Menundukkan pandangannya, Alex melihat jika ternyata ada tanah longsor yang menutup akses jalan.


Cukup lama Alex menunggu beberapa orang yang sedang sibuk menyingkirkan tanah yang menutup akses jalan menuju ke puncak. Hingga akhirnya semua selesai, dan jalanan bisa di lewati lagi.


Jam menunjukan pukul tujuh pagi saat Alex sampai di lokasi proyek. Sebenarnya Alex bingung harus mencari Bryan dan Helena kemana. Setelah memutuskan memikirkan cara, akhirnya dia memilih turun dan menanyakan pada pekerja yang kebetulan lewat.


Alex menanyakan pada pekerja, di mana dirinya bisa menemukan penanggung jawab proyek. Hingga akhirnya, pekerja itu mengatakan kalau manager pelaksana tinggal di hotel melati dekat dengan lokasi pembangunan hotel.


Degan segera Alex menemui manager sesuai informasi yang dia dapat dari salah satu pekerja. Sampai di lokasi, Alex langsung turun untuk menanyakan pada resepsionis hotel keberadaan manager.


Namun, keberuntungan seolah berpihak padanya. Saat baru saja masuk ke dalam lobby hotel dia bertemu dengan Bryan, Helena, dan satu orang pria.


"Lex, kamu di sini?" tanya Helena sedikit kaget saat mendapati Alex berada di hotel tempatnya menginap.


"Kenapa? Apa kamu kaget melihat kedatanganku?" Alex menatap tajam pada Helena. Gemuruh amarah benar-benar menyelimuti hatinya. "Apa kamu pikir kamu bisa membohongi aku begitu saja?"


Helena hanya bisa menelan salivanya kasar, dia tidak menyangka jika Alex akan tahu rencananya. Apalagi Alex jauh-jauh kemari untuk menemuinya.


"Membohongi? Ada apa sebenarnya ini?" Bryan benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang di bicarakan Alex dan Helena.

__ADS_1


"Helena mengatakan padaku jika peninjauan proyek akan dilaksanakan minggu depan." Alex menatap Bryan dan mengatakan semua kebohongan Helena.


"Apa?" Dahi Bryan berkerut dalam saat mendengar ucapan Alex. Matanya beralih menatap Helena seolah mempertanyakan kebenaran yang dikatakan oleh Alex.


"Jika bukan karena Shea yang menghubungi aku, aku tidak akan pernah tahu, semua rencana licikmu." Alex semakin menatap penuh kebencian pada Helena.


"Shea?" tanya Bryan memastikan dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Alex. "Shea menghubungimu?" tanyanya kembali.


"Iya, semalam dia menghubungiku, karena dia pikir aku bersamamu."


Rasanya Bryan semakin dalam perasaan bersalah, karena ternyata istrinya khawatir dengan keadaannya. "Di sini tidak ada sinyal, jadi aku tidak bisa menghubunginya." Bryan menjelaskan pada Alex, "dan lagipula ada tanah longsor yang membuat jalanan tidak bisa di lalui."


Bryan mengingat kejadian kemarin. Sewaktu dirinya sedang menunggu Alex di restoran, hujan turun begitu lebat dan dalam kurun waktu yang cukup lama. Hingga salah satu karyawan restoran mengatakan jika jalanan lima kilo meter dari proyek pembangunan hotel terjadi longsor yang mengakibatkan jalanan tidak bisa di lewati.


Manager pelaksana yang kebetulan berada bersamanya, akhirnya menawarkan untuk menginap di hotel tempatnya menginap. Bryan yang tidak punya pilihan lain pun akhirnya menerima, karena tidak mungkin dirinya bisa pulang. Awalnya Bryan berencana untuk memesan satu kamar sendiri, tapi entah kenapa dia merasa takut hal buruk terjadi. Setelah mempertimbangkan, akhirnya dia memilih untuk tinggal satu kamar dengan managernya.


Sepanjang malam, dia mencoba menghubungi istrinya, tapi ternyata sulit sekali mendapatkan sinyal di lokasi tempatnya menginap. Bryan hanya bisa berharap jika besok pagi jalanan bisa cepat dilalui agar dia bisa segera pulang.


Saat pagi hari Bryan diberitahu oleh petugas hotel, jika jalanan sudah mulai bisa dilalui. Dengan cepat Bryan memberitahu Helena untuk bersiap, karena dia akan segera pulang.


"Dia begitu khawatir padamu," ucap Alex pada Bryan, "dan lebih lagi dengan manusia ular ini," ucap Alex menatap Helena.


"Hai, kamu mengatai aku apa? Apa kamu lupa jika aku adalah atasanmu?" Helena yang tak kalah kesal menatap tajam pada Alex.


Alex mengacuhkan Helena begitu saja. Dia seolah tidak takut sama sekali dengan ucapan Helena.


"Berhentilah kalian berdebat, aku akan segera pulang, karena Shea pasti sangat khawatir." Bryan pun berlalu meninggalkan Alex dan Helena yang masih saling melempar tatapan tajam.


"Lalu aku?" Helena bertanya pada Bryan, menanyakan nasibnya yang ditinggal oleh Bryan.


"Kamu pulang denganku," ucap Alex dengan senyum licik di wajahnya. Dia puas sekali bisa pulang dengan Helena, karena dia bisa membuat perhitungan dengan atasannya itu.


Bryan buru-buru keluar dari lobby hotel. Namun, baru saja dia keluar dari lobby hotel, dia melihat mobil Felix dan terparkir tepat di hadapannya. Mata Bryan membulat saat tahu siapa yang berada di dalam mobil. "Shea," gumamnya saat melihat istrinya duduk di kursi penumpang di samping Felix.


.


.


.


.


.


...Masih mau nambah ga hari ini?...


...Vote dulu🤭...

__ADS_1


...Jangan lupa Like, koment, dan Vote...


__ADS_2