
Sepanjang siang sampai sore, Shea masih memikirkan siapa wanita yang bersama Bryan. Ingin rasanya dia menghubungi Bryan, tapi dia tidak mau menganggu pekerjaan suaminya itu.
Shea yang menunggu, memilih menonton siaran televisi untuk mengusir kebosanannya. Sampai menjelang malam makan malam tiba. Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu pulang juga.
"Halo, Sayang," ucap Bryan seraya mengecup kening Shea. Dia langsung mendudukkan tubuhnya di atas sofa dan tepat berada di samping Shea.
Wajah Bryan tampak lesu, dan terlihat begitu lelah. Hingga akhirnya, Shea yang sudah mengebu-gebu ingin bertanya mengurungkan niatnya. "Aku akan siapkan air hangat untuk kamu mandi," ucap Shea. Dia berdiri dan melangkah meninggalkan Bryan.
"Sayang, tunggu!" ucap Bryan seraya menarik lembut tangan Shea, dan menghentikan langkah Shea.
"Kenapa?" Shea berbalik menghadap Bryan.
"Aku bertemu Helena." Satu kalimat yang lolos dari mulut Bryan.
Helena? Shea bingung dengan nama yang disebut oleh Bryan. Namun, dari wajah suaminya itu, dia bisa menyimpulkan Helena yang dimaksud Bryan adalah wanita yang pernah dia sukai.
"Helena yang menolakmu waktu itu?" tanya Shea memastikan.
"Iya, dan ternyata dia pemilik Davis Company."
Shea benar-benar terkejut saat tahu jika Bryan berkerja sama dengan wanita yang dulu dia sukai.
"Satu lagi, tetanggamu itu adalah asistennya."
Bryan mengingat dan menceritakan bagaimana tadi pagi kegiatannya sampai dia bertemu dengan Helena dan juga Alex.
Saat masuk ke dalam ruangannya, Bryan langsung memanggil Felix untuk menyiapkan berkas yang akan dibawa untuk menemui pihak Davis Company.
"Oh ya, ini oleh-oleh untukmu," ucap Bryan di tengah-tengah kesibukannya menyiapkan beberapa berkas.
"Sejak kapan kamu memberiku oleh-oleh," cibir Felix.
Bryan memutar bola matanya malas saat mendengar cibir Felix. Memang benar yang dikatakan Felix, jika dirinya tidak pernah membelikan oleh-oleh. "Itu dari Shea."
"Dari Shea," ucap Felix seraya mengintip isi di dalam paper bag. "Kalau darimu, aku pasti akan sujud syukur."
"Dariku atau pun dari Shea sama saja, jadi sekarang sujudlah!" Bryan menaikan alisnya memerintah Felix.
Felix berdecih mendengar perintah Bryan. "Tetap berbeda," elaknya.
"Apa yang beda? Aku dan Shea sudah menjadi satu kesatuan."
Mendengar ucapan Bryan, Felix hanya bisa menggeleng. "Kamu pikir negara," cibirnya kembali.
"Iya, negara cinta."
"Semenjak mencintai Shea, kata-kata aneh sering muncul dari mulutmu," ucap Felix.
"Cobalah buat jatuh cinta! Jangan hanya napsu saja."
Felix malas sekali jika harus membahas cinta dengan Bryan. "Sudah, cepat bersiaplah! Kita akan bertemu dengan dengan pihak Davis," ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Aku sudah siap, ayo berangkat!" Bryan berdiri dan melangkah keluar dari ruangannya.
Felix pun mengikuti Bryan di belakangnya, dan menuju restoran yang sudah dipesan oleh Felix.
Sesampai di restoran Bryan dan Felix menunggu. Sebagai perusahaan yang mengajak kerja sama, Bryan harus sabar menunggu. Seraya menikmati secangkir kopi, Bryan dan Felix saling berbincang.
Sesaat kemudian seorang pria datang. Karena posisi Felix yang menghadap ke arah pintu masuk, jadi pria itu dapat mengenali dengan jelas.
"Pagi, Pak Felix," ucap pria itu pada Felix.
Felix langsung berdiri, dan mengulurkan tangannya. "Selamat pagi juga, Pak Alex." Felix beralih pada Bryan.
Bryan yang menoleh melihat pria yang baru saja menyapa Felix. Matanya membulat saat mendapati pria yang merupakan tetangga Shea.
"Pak Alex, perkenalkan ini CEO Adion Company," ucap Felix beralih menatap Bryan.
Alex menoleh. Dia terkesiap saat melihat ternyata yang dimaksud dari Felix, adalah pria yang ditemui di rumah Shea dan memperkenalkan diri sebagai suami Shea. "Jadi kamu Bryan Adion," ucap Alex pada Bryan.
"Iya, aku Bryan Adion."
Alex tidak menyangka jika ternyata Bryan-suami Shea adalah pemilik Adion Company.
"Ternyata kamu kenal Pak Alex-asisten David Company?" tanya Felix menatap Bryan.
"Iya, dia tetangga Shea."
Felix mengangguk, mengerti penjelasan Bryan. "Ya sudah, ayo Pak Alex silakan duduk!" ucap Felix beralih pada Alex.
Alex pun duduk di depan Bryan dan Felix. "Maaf, CEO baru kami belum datang. Dia sedang perjalanan menuju kemari."
"CEO baru?" tanya Bryan pada Alex.
"Iya, CEO kami yang baru adalah anak dari Pak Davis."
__ADS_1
Bryan dan Felix mengangguk mengerti penjelasan dari Alex. Mendengar jika CEO baru, Bryan berharap kerja samanya akan jauh lebih mudah terlaksana. Karena berhadapan langsung dengan Davis pemilik Davis Company jauh lebih susah.
"Hai." Suara wanita terdengar menyapa.
Bryan dan Felix yang membelakangi wanita yang baru saja datang pun menoleh. Alangkah terkejutnya Bryan dan Felix melihat wanita yang baru saja datang.
"Bryan," panggil wanita itu. Dia langsung duduk di depan Bryan dan Felix. "Ternyata perusahaan yang akan berkerja sama dengan perusahaan milikku adalah perusaahaanmu?" tanyanya masih tidak percaya.
Bryan hanya membeku, dia tidak menyangka jika ternyata yang menjadi rekan bisnisnya adalah wanita yang pernah dia sukai.
"Helena, kamu sudah mengenal Pak Bryan?" Alex pun bersuara.
"Iya, dia dulu temanku kuliah."
"Kebetulan yang sangat tidak diduga ya," ucap Alex, "aku rasa, kerja sama kita akan berjalan dengan baik."
Bryan hanya diam mendengar ucapan Alex tanpa menjawab. Dia masih amat terkejut dengan apa yang ada di hadapannya.
"Iya," jawab Felix menjawab karena Bryan tidak kunjung menjawab. Dia tahu apa yang membuat Bryan diam. "Baiklah, kita lanjutkan saja pembahasan kerja sama kita." Felix mengalihkan pembicaraan mengenai pekerjaan.
Sejenak mereka semua melupakan apa yang berada di dalam pikiran mereka. Mereka memfokuskan diri untuk membahas proyek kerja sama antara Adion dan Davis Company.
Setelah menyelesaikan pembahasan, pihak Davis akan mempelajari kontrak kerja sama yang diajukan oleh pihak Adion terlebih dahulu.
Felix yang melupakan satu berkas di dalam mobil, meminta izin untuk mengambil ke mobil.
"Aku tidak menyangka jika kita bisa bertemu, Bry," ucap Helena.
"Iya." Bryan hanya menjawab singkat. Dia mengabaikan Helena yang mengajaknya bicara.
Mendengar jawaban Bryan yang singkat, Helena mendengus kesal. Alex yang menyadari ada sesuatu antara Bryan dan Helena akhirnya meminta izin untuk pergi.
"Aku permisi dulu untuk ke toilet," ucap Alex pada Helena dan Bryan.
"Pergilah!" ucap Helena seolah meminta Alex segera pergi.
Sesuai dugaan Alex, jika atasannya itu memang menginginkan dirinya untuk pergi.
"Kamu sudah banyak berubah, wajahmu semakin tampan, dan sekarang tubuhmu lebih kekar," ucap Helena pada Bryan.
"Aku tidak perlu pujian." Bryan menjawab dengan ketus.
"Wah, apa aku sedang menerima penolakan." Helena tertawa kecil saat mendengar ucapan Bryan.
Sebelum Bryan menjawab, Alex sudah kembali dari toilet, dan itu membuat Helena begitu kesal.
Saat di dalam mobil menuju ke kantornya, Bryan meluapkan kekesalannya pada Felix.
"Bagaimana kamu tidak tahu jika tenyata Helena adalah CEO di Davis Company?" tanya Bryan.
"Aku benar-benar tidak tahu jika Davis adalah ayah dari Helena," ucap Felix, "bukankah kamu tahu, jika kita tidak pernah tahu jika ternyata Helena adalah anak dari pengusaha terkenal." Felix yang tidak mau disalahkan pun membela diri.
Bryan hanya mendengus. Dia menyadari jika yang dia tahu jika Helena adalah seorang model, dan hanya berasal dari keluarga biasa. Dia tidak pernah tahu jika Helena anak pengusaha terkenal.
"Jadi yang aku lihat tadi di restoran adalah Helena?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Shea saat Bryan berhenti menceritakan pertemuannya dengan Helena.
Bryan langsung menatap Shea. "Kamu melihat aku di restoran?"
"Iya, aku tadi pergi makan siang di mal, dan aku melihatmu bersama seorang wanita."
"Kenapa kamu tidak menghampiri aku?" tanya Bryan yang takut istrinya berpikir macam-macam.
Shea tersenyum. "Apa kamu berharap aku datang dan bertanya siapa wanita itu di depan umum?"
Bryan terkesiap mendengar ucapan Shea. Dia tahu, jika istrinya buka tipe yang suka meledak-ledak. Shea adalah wanita yang jika kesal memilih untuk diam, dan menyelesaikan masalahnya di rumah. "Tapi jika kamu menghampiri aku, paling tidak kamu tidak sempat berpikir macam-macam."
"Jujur, ada ketakutan di dalam hati aku, tapi aku berusaha berpikir positif. Namun, saat kamu pulang dan langsung menceritakan sebelum aku bertanya, ketakutan dalam hatiku sudah hilang."
"Aku berusaha untuk tidak akan pernah berbohong padamu."
"Terima kasih, kamu sudah berusaha jujur. Walaupun itu pasti akan berat." Shea membelai wajah Bryan.
Bryan memejamkan matanya sejenak, menikmati sentuhan lembut tangan Shea yang begitu membuatnya hatinya tenang.
"Kamu tahu, Sayang, aku sudah berjanji cukup sekali aku menyakitimu, dan aku tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi."
"Aku percaya padamu." Shea tersenyum dan mengangguk. Menatap ke dalam bola mata tajam milik suaminya, Shea memberi keyakinan jika dia akan percaya sepenuhnya.
Bryan pun menatap Shea. Mata teduh yang selalu menenangkan jiwanya itu, tidak akan pernah dia buat sampai ada air mata mengalir.
Perlahan tatapan mata itu mengantarkan keduanya saling mendekat. Satu tempat yang dituju adalah bibir yang selalu menjadi candu.
Namun, belum sampai bibir keduanya bertemu suara benda jatuh membuat mereka berdua menghentikan aksi menukar saliva.
"Maaf, Pak, Bu," ucap asisten rumah tangga saat melihat majikannya sedang akan berciuman. Tangannya langsung mengambil tempat buah yang dia bawa dari dapur. Karena merasa tidak enak, akhirnya dia buru-buru berlalu meninggalkan majikannya.
__ADS_1
"Aku lupa kita sudah tidak tinggal sendiri," ucap Shea merutuki kesalahannya yang bercumbu di sembarang tempat di rumahnya.
Bryan tertawa melihat istrinya yang merona karena malu terpergok hendak berciuman. "Sudah ayo, kita cari tempat aman!" ajak Bryan menarik lembut tangan Shea
Shea pun tersenyum dan mengikuti Bryan yang membawanya ke tempat aman. Di mana lagi jika bukan kamar mereka.
***
Menyelesaikan kegiatan membersihkan diri dan makan malam, Bryan dan Shea kembali ke kamar. Di dalam kamar dan dalam dekapan suaminya, Shea menikmati malamnya
"Aku akan membatalkan saja kerja sama dengan perusahaan Helena." Suara Bryan mengisi keheningan antara dirinya dan Shea.
Shea yang berada di dalam pelukan Bryan menengadah. "Kenapa?" tanyanya ingin tahu.
"Aku tidak mau di kemudian hari akan menjadi masalah untuk rumah tangga kita."
Shea benar-benar ada di dalam dilema. Dia tahu persis, Bryan berharap bisa berkerja sama dengan perusahaan besar selain Maxton. Namun, saat dia mendapatkan kesempatan, dia harus melepaskan begitu saja.
Apalagi papa mertuanya belum melihat banyak kemajuan perusahaan selain dari kerja sama dengan perusahaan Regan.
"Aku tidak masalah jika kamu berkerja sama dengan perusahaan Helena." Shea tidak mau memikirkan egonya. Dia tidak bisa merelakan Bryan yang selalu dipandang sebelah mata oleh mertuanya.
"Tapi - "
"Aku percaya, kamu akan profesional dalam berkerja," potong Shea.
"Baiklah, tapi dengan syarat."
Shea menatap bingung mendengar Bryan mengajukan syarat padanya. "Apa?"
"Ikutlah aku saat aku meeting ataupun saat aku ada pertemuan dengan Helena."
Shea tertawa mendengar ide konyol Bryan. "Tidak perlu sampai seperti itu."
"Kalau begitu tidak perlu, aku tidak akan berkerja sama dengan perusahan Helena."
"Orang-orang akan berpikir aneh melihat aku ikut denganmu," elak Shea.
"Perduli apa pikiran orang, kita yang menjalani." Bryan dengan tidak mau ambil pusing pikiran orang lain. Yang terpenting baginya adalah pikiran istrinya. Dia tidak mau istrinya berpikir hal-hal yang akan merusak keharmonisan mereka.
"Baiklah." Shea memilih menuruti keinginan Bryan.
"Pintar!" ucapnya mengecup pipi Shea dan memeluk erat tubuh Shea.
Namun, saat mendapatkan pelukan suaminya, Shea berteriak. "Auch .... "
"Sayang apa aku terlalu kencang memeluk?" tanya Bryan panik.
"Bukan."
"Lalu?"
"Auch ... " teriak Shea lagi. Tangan Shea langsung menarik lembut tangan Bryan menuju ke perutnya, dan sesaat kemudian sebuah tendangan terasa di telapak tangan Bryan.
Mata Bryan berbinar saat tendangan pertama dirasakan olehnya. "Sayang," ucapnya. Mata Bryan berkaca-kaca. Rasanya senang sekali bisa merasakan gerakan dari anaknya.
"Baby kita bergerak," ucap Shea. Mata Shea pun juga tak kalah berkaca-kaca juga, karena rasa bahagianya begitu menyelimutinya.
"Iya," jawab Bryan. Dia beralih pada perut Shea. Membelai lembut perut istrinya, dia berharap anaknya merasakan juga sentuhan lembut dari tangannya. "Apa kamu ingin daddy peluk?" tanya Bryan.
Tanpa Bryan duga, satu tendangan terasa di tangannya. Matanya langsung menatap Shea. "Apa dia mendengarkan aku?" tanyanya pada istirnya.
"Aku baca dari artikel, jika bayi dalam kandungan kita bisa mendengar ucapan kita."
Bryan mengangguk. Matanya kembali beralih pada perut Shea. "Sayang, jika kamu dengar, daddy ingin mengatakan jika daddy begitu menyayangi kamu dan mommy. Sehat kamu di sana hingga waktunya tiba, karena daddy akan menunggumu." Dengan belaian lembut Bryan berkata pada anaknya.
Satu tendangan terasa di telapak Bryan lagi. Seolah menandakan jika anak di dalam kandungan menjawab ucapan Bryan.
Shea yang melihat Bryan hanya tersenyum. Rasanya dia senang sekali melihat Bryan dan anak di dalam kandungannya. Kebahagiaan yang tidak pernah Shea bayangkan setelah kejadian menyakitkan di awal pertemuannya dengan Bryan.
Bryan dan Shea tertawa bersama saat merasakan tendangan anak mereka yang di kandungan Shea.
.
.
.
.
...Balik lagi ni 1 bab panjang....
...Vote lagi ya, biar tambah-tambah gitu semangatnyaš¤...
...Buat kalian yang masuk ke grup pastiin kalian koment, ya. Karena admin ga akan tahu kalau kalian ga koment....
__ADS_1
...Jangan lupa like dan vote...