
Pagi ini saat bangun, Shea mengingat apa yang di lakukannya semalam. "Bodohnya aku, kenapa aku menciumnya." Shea merutuki dirinya sendiri yang dengan agresifnya mencium Bryan.
Karena masih merasa malu, akhirnya Shea bangun lebih awal. Apa lagi pagi ini dia tidak mual, jadi tubuhnya begitu ringan saat bangun. Menyibak selimutnya, Shea berlalu ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Shea keluar dari kamarnya. Saat keluar dari kamar, Shea berpikir untuk untuk jalan-jalan pagi di taman apartemen.
"Emmm... ternyata enak juga menikmati udara pagi." Berjalan-jalan di taman, Shea menikmati embusan udara pagi yang begitu menyejukan. Oksigen yang masuk ke rongga paru-parunya, seakan memberikan kelegaan tersendiri bagi Shea.
Mata Shea melihat ke sekitar, dan Shea mendapati taman mulai ramai, beberapa anak-anak berlarian, dan orang tuanya menjaga mereka. Para lansia juga terlihat menyusuri jalanan taman, menambah ramai suasana taman.
Saat lelah berjalan-jalan, Shea memilih duduk di bangku taman. Menikmati lalu lalang orang yang juga sedang menikmati taman.
Baru saja Shea mendudukkan tubuhnya, dia mendengar suara ponsel yang berada di tangannya berdering. Melihat layar ponselnya Shea mendapati Bryan yang menghubunginya. Shea memang sengaja, membawa ponselnya, karena pasti Bryan akan menghubunginya.
Mengusap layar ponselnya, Shea mengangkat sambungan telepon. "Halo, Bry," jawab Shea saat mengangkat sambungan telepon.
"Kamu dimana?" Tanpa membalas sapaan Shea, Bryan langsung melontarkan pertanyaannya.
"Aku di taman."
"Untuk apa kamu kesana?"
Shea mengerutkan dahinya, saat mendengar pertanyaan dari Bryan. "Aku sedang jalan-jalan."
"Tunggu aku disana, dan jangan kemana-kemana!" Bryan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Shea yang mendengar Bryan mematikan sambungan telepon, hanya bisa mengelengkan kepalanya. Shea heran, kenapa Bryan ingin menyusulnya.
Selang beberapa saat Bryan datang menghampiri Shea. Bryan yang dari kejauhan melihat Shea duduk di bangku taman, langsung menghampirinya.
"Kenapa tidak membangunkan aku, jika kamu mau ke taman?" Bryan yang baru saja datang langsung memberikan pertanyaan pada Shea.
Bryan yang bangun tidak mendapati Shea di tempat tidur, merasa sangat kaget. Bryan pikir, Shea sedang di dapur. Buru-buru mandi, Bryan keluar menyusul Shea. Tapi saat sampai di dapur Bryan tidak mendapati Shea.
Rasa panik langsung menghampiri Bryan, saat dia tidak menemukan Shea. Kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya, Bryan langsung menghubungi Shea.
"Bisakah kamu duduk tenang," jawab Shea malas.
Bryan yang dari tadi berdiri, akhirnya mendudukkan tubuhnya di samping Shea.
"Apa kamu merasakan, udara pagi ini begitu menyejukan." Menghirup udara, Shea menghembuskan perlahan. Seakan dia membiarkan oksigen masuk ke dalam celah paru-parunya.
Mata Bryan hanya memicing saat melihat apa yang di lakukan Shea.
"Ayo, hirup udara pagi ini, agar pikiranmu sedikit jerni," sindir Shea.
Dengan malas Bryan melakukan apa yang di lakukan Shea. Bryan menghirup dan menghembuskan perlahan udara pagi.
Sejenak, Bryan mengingat kapan terakhir kali dirinya menikmati pagi. Sejak dirinya pindah ke apartemen, Bryan tidak pergi pergi ke taman saat libur kerja. Karena dia akan bangun siang, setelah malam sebelumnya dia pergi ke club.
"Apa kamu suka berada di taman?"
Shea menoleh. "Iya, di rumahku juga ada taman kecil, aku selalu meluangkan waktu untuk merawatnya." Shea tersenyum saat mengingat rumahnya.
Tapi senyum Shea surut saat dia begitu merindukan rumahnya.
"Kenapa kamu?" Bryan melihat wajah Shea berubah sedih.
"Aku hanya mengingat rumahku, sudah lama sekali aku meninggalkannya."
"Aku belum tahu dimana rumahmu," ucap Bryan. Bryan memang tidak tahu banyak tentang Shea, dan seperti apa Shea dulu.
"Apa kamu mau menamaniku ke rumah? Aku ingin mengecek keadaan rumahku."
"Tentu, aku akan mengantarmu." Bryan tersenyum, menerima ajakan Shea.
***
Setelah tadi pagi memutuskan untuk ke rumah Shea, Bryan dan Shea pergi untuk ke rumah Shea. Selama perjalanan Shea begitu bahagia. Rasa rindu yang begitu tertahan, akan dia lepas hari ini.
Bryan yang melihat senyum Shea benar merasakan bahagia. Bryan kadang bingung dengan Shea, karena hal kecil begitu membuatnya bisa sebahagia itu.
Sesuai petujuk yang dia arahkan oleh Shea, akhrinya mobil Bryan sampai di rumah Shea.
Saat memarkirkan mobilnya, Bryan melihat penampakan rumah Shea. Rumah kecil dan sederhana adalah gambaran yang bisa Bryan berikan untuk rumah Shea.
Shea yang begitu semangat untuk masuk ke dalam rumah, langsung membuka seatbelt yang melingkar di tubuhnya. Bryan pun hanya bisa mengikuti Shea.
"Shea." Saat Shea keluar dari mobil suara seseorang memanggil. Bryan dan Shea pun menoleh untuk tahu siapa yang memanggil Shea.
"Kak Alex," ucap Shea saat melihat siapa yang memanggilnya.
Bryan yang melihat seorang pria memanggil Shea, langsung menajamkan pandangannya.
"Kamu kemana saja?" tanya Alex. Alex yang tadi melihat mobil terpakir di rumah Shea, memutuskan keluar dari rumah, untuk mengecek siapa yang datang ke rumah Shea.
Rumah Alex yang berada tepat di hadapan rumah Shea membuat Alex bisa melihat siapa yang datang. Alex menunggu sejenak untuk melihat siapa yang keluar dari mobil, dan akhirnya dia mendapati Shea yang keluar dari mobil. Setelah memastikan jika itu Shea, Alex pun keluar, untuk menghampiri Shea.
"Aku...."
"Sayang," ucap Bryan. Bryan memutari mobil dan menghampiri Shea. Tangan Bryan langsung merengkuh pingang ramping Shea, dan melekatkan pada tubuhnya. "Siapa?" tanya Bryan lembut.
Shea hanya bisa tertegun saat melihat Bryan memanggilnya 'sayang'. Apalagi Bryan juga merengkuh pinggangnya, dan membuat tubuhnya melekat pada Bryan.
__ADS_1
"Ini siapa, Se?" tanya Alex yang melihat seorang pria menghampiri Shea.
"Kenalkan, Bryan, suami Shea." Bryan mengulurkan tangannya, dan memperkenalkan diri.
Alex terkesiap saat Bryan memperkenalkan diri sebagai suami Shea. "Kamu sudah menikah, Se?" tanya Alex pada Shea yang kaget.
"Apa kamu tidak dengar jika saya sudah memperkenalkan diri sebagai suami Shea." Bryan kesal saat pria itu tidak menerima uluran tangannya tapi justru bertanya pada Shea.
"Bry," tegur Shea pada Bryan. Shea beralih menatap Alex yang tampak binggung saat Bryan memperkenalkan diri sebagaia suaminya. "Iya, Kak Alex, aku sudah menikah," jelas Shea, "dan dia suamiku," lanjut Shea sedikit yang sedikit melihat Bryan.
"Bukankah kamu tidak punya pacar? Kenapa kamu bisa menikah?" Alex masih tidak terima dengan yang di dengarnya.
"Apa kamu pikir menikah harus pacaran, justru pria yang baik itu tidak perlu berpacaran dulu," ucap Bryan sedikit menyindir.
Shea membulatkan matanya saat mendengar ucapan Bryan. Shea tidak tahu, siapa yang di maksud pria baik oleh Bryan. Padahal dirinya menikah dengab Bryan bukan alasan itu.
Pintar sekali dia membuat alasan. Shea hanya bisa membatin dalam hatinya, apa yang dia ucapkan Bryan.
"Selamat, Se, atas pernikahanmu." Alex memberikan selamat pada Shea.
"Terimakasih, Kak."
"Ayo, sayang, kita tidak punya waktu banyak," ucap Bryan pada Shea.
"Aku masuk dulu ya, Kak," ucap Shea.
Alex mengangguk, dan membiarkan Shea masuk bersama Bryan.
Bryan pun menarik tubuh Shea yang berada dalam rengkuhannya. Bryan tidak mau berlama-lama bersama pria yang entah ada hubungan apa dengan Shea.
Melangkah menjauh dari Alex, dan membuka pintu, Shea masuk ke dalam rumah. Setelah menutup pintu dan sudah jauh dari jangkauan Alex, Shea melepas tangan Bryan yang berada di pinggangnya.
"Kenapa kamu kasar sekali bicara dengan Kak Alex?"
"Memangnya kenapa?" tanya Bryan enteng. Bryan meninggalkan Shea yang kesal, dan melihat-lihat rumah Shea.
Melihat Bryan yang tidak merasa bersalah, Shea menjadi malas menjawab pertanyaan Bryan. Akhirnya Shea meninggalkan Bryan dan mengecek rumahnya.
Bryan yang melihat Shea meninggalkannya, Bryan langsung mengekor di belakang Shea. "Dia siapa?" tanya Bryan.
"Tetangga." Tangan Shea mengecek beberapa barang di nakas.
"Aku tahu dia tetanggamu, tapi apa dia mantan pacarmu?" Bryan ingin tahu sejauh apa hubungab Shea dengan pria itu.
"Bukankah aku sudah bilang, jika aku tidak punya pacar," ucap Shea, "dan Kak Alex itu temanku, kami saling mengenal dari kecil."
Bryan merasa lega, saat Shea mengatakan jika pria itu adalah temannya. Tapi Bryan melihat dengan jelas wajah kecewa Alex saat tahu Shea sudah menikah, dan itu membuat Bryan takut. Apa lagi Bryan melihat jika Alex adalah pria baik-baik.
"Apa?" tanya Bryan sedikit menaikan dagunya.
"Bolehkah aku tinggal disini?" tanya Shea ragu-ragu.
"Lalu aku?" tanya Bryan dengan mata membulat.
"Ya, bersama denganmu."
Kalau aku dan Shea tinggal disini, Shea akan sering bertemu dengan pria itu.
Bryan memikirkan hal terburuk yang bisa terjadi, jika Shea tinggal dengan pria yang di kenalnya. "Tidak," ucap Bryan tegas.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau tinggal di rumah kecil?" Shea sedikit kecewa saat mendengar jawab Bryan.
"Bukan begitu, Se," jawab Bryan. Bryan menghela napasnya, saat melihat wajah kecewa dari Shea. "Kenapa kamu ingin tinggal disini?" tanya Bryan.
"Aku mau suasana rumah, Bry," ucap Shea, " tapi lupakan saja," lanjut Shea. Shea tahu jika Bryan tidak akan mau tinggal di rumahnya.
Bryan hanya diam saja tidak menjawab ucapan Shea.
Shea yang selesai mengecek keadaan rumahnya, berlalu mengambil beberapa barang yang dia butuhkan. Sedangkan Bryan menunggu Shea.
Seraya menunggu Shea, Bryan mengedarkan pandangan melihat isi rumah Shea. Mata Bryan melihat foto yang berjajar rapi. Walapun terlihat sedikit berdebu tapi foto masih terlihat jelas.
"Lucu sekali," ucap Bryan saat melihat foto Shea masih kecil. Tangan Bryan mengambil figura yang menampilkan wajah kecil Shea. "Apa nanti jika anakku perempuan akan secantik dan selucu ini?" Bryan tersenyum membayangkan anaknya akan seperti Shea. Bryan pun mengembalikan figura foto yang di pengangnya setelah puas melihat wajah Shea.
"Ayo, aku sudah selesai." Shea membawa tas berisi beberapa barang yang dia ingin bawa ke apartemen.
Bryan mengangguk dan mengikuti Shea keluar dari rumah.
Masuk ke dalam mobil, Bryan melajukan mobilnya. Selama perjalanan Shea hanya memilih diam. Sebenarnya Bryan tahu jika Shea sedang kecewa padanya.
Shea yang dari tadi memilih diam, mengerutkan dahinya saat melihat mobil Bryan tidak menuju ke apartemen. "Kita mau ke tempat Kak Selly?" tanya Shea yang melihat jalan yang di lalui mobil Bryan adalah rumah Selly.
"Tidak."
Dahi Shea mengerut dalam saat mendapati kata 'tidak' dari Bryan. "Lalu?"
Bryan hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Shea.
Shea melihat mobil Bryan masuk ke dalam komplek perumahan Selly dan Regan. Tapi Shea masih bingung akan ke rumah siapa Bryan, karena Bryan tidak mau mengatakannya.
Membelokkan mobilnya di satu rumah, Bryan menghentikan mobilnya.
"Ini rumah siapa, Bry?" Shea masih heran ke rumah siapa dirinya dan Bryan.
__ADS_1
"Ayo turun, dan kamu akan tahu." Bryan membuka seatbelt yang melingkar di tubuhnya.
Shea tidak punya pilihan lain, selain mengikuti Bryan. Membuka pintu mobilnya, Shea mengedarkan pandangannya. Senyum tertarik saat melihat rumah yang tampak sejuk karena ada beberapa tanaman di depan.
Mengikuti Bryan, Shea mengikuti Bryan dari belakang. Shea melihat dengan jelas saat Bryan membuka pintu rumah itu.
"Kenapa kamu punya kunci rumah ini?" tanya Shea yang heran.
Bryan tersenyum. "Karena ini rumahku," jawab Bryan seraya membuka pintu.
"Rumahmu?" tanya Shea memastikan kembali.
"Iya, mama membelikan aku dan Kak Selly di satu komplek, dan aku tidak menempatinya." Bryan menjelaskan pada Shea.
Shea baru mengerti, kalau rumah yang baru saja di datangi Bryan dan dirinya adalah rumah Bryan.
"Tapi sekarang aku akan menempatinya," ucap Bryan, "bersamamu," lanjut Bryan. Bryan memandang Shea lekat.
"Aku?" Shea menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu ingin tinggal dengan suasana rumah bukan?" tanya Bryan, dan Shea mengangguk. "Jadi kita akan tinggal disini."
"Lalu apartemen?"
"Aku mau menghapus semua masa laluku, Se." Bryan meraih tangan Shea, "dan pindah dari apartemen adalah hal pertama untuk menghapus semua."
Shea sadar jika apartemen adalah teman dimana Bryan bersama para wanitanya. Tapi Shea tidak menyangka, jika Bryan akan melakukannya sekarang.
"Apa kamu mau tinggal disini?"
"Aku mau," ucap Shea tersenyum.
Bryan merasa sangat lega, saat Shea mau tinggal di rumah baru bersama dengannya.
"Ayo, akan ku tunjukan isi rumah ini padamu," ucap Bryan seraya meraih tangan Shea.
Shea hanya mengikuti kemana Bryan membawanya. Menyusuri ruangan, Shea benar-benar di buat jatuh cinta dengan rumah Bryan.
"Kenapa mama membelikan rumah satu komplek dengan Kak Selly?" tanya Shea ingin tahu.
"Karena mama tidak mau anaknya jauh-jauh, jadi jika istriku dan Kak Selly hamil, mama tidak akan repot menjaga," jelas Bryan.
Shea mengangguk mengerti penjelasan Bryan.
"Dan sekarang keinginan mama akan terwujud, karena dia tidak perlu jauh-jauh menjaga anak dan menantunya." Bryan menatap Shea.
Memutar kembali ingatnya, Bryan mengingat alasan apa yang membuat mamanya membelikan rumah untuknya. Selayaknya doa orang tua yang begitu di dengar oleh Tuhan, kini hal itu menjadi kenyataan, karena mama akan menjaga anak dan menantunya yang sedang hamil bersamaan.
Rasanya Shea sangat bahagia, mendapatkan keluarga Bryan yang begitu baik padanya. Mertuanya yang begitu baik, begitu membuatnya bersyukur.
Bryan pun melanjutkan mengajak Shea berkeliling melihat rumah.
"Kapan kita akan pindah?" tanya Shea antusias.
"Rumah ini sudah siap menerimamu, kapanpun kamu mau pindah bisa."
"Besok aku sudah masuk kerja, jadi tidak mungkin," jelas Shea.
"Kenapa tidak mungkin?"
"Aku sudah banyak izin, jadi tidak mungkin aku izin lagi." Sebagai karyawan biasa, Shea merasa tidak enak terlalu banyak izin.
"Barangmu tidak banyak bukan, jadi besok biar aku saja yang membawanya kemari bersama Felix. Kamu tetaplah berkerja."
"Benarkah?" tanya Shea. Mata Shea berbinar saat Bryan akan membawa barang-barangnya.
"Nanti setelah dari sini, aku akan membantumu mengepaki barangmu," jawab Bryan, dan Shea mengangguk dengan semangat.
Bryan hanya bisa tersenyum saat Shea begitu senang saat akan pindah.
Aku berharap, semua bisa di mulai dari rumah ini.
Bryan menatap Shea, berharap hubungannya dengan Shea akan di mulai dengan rumah baru.
.
.
.
.
.
Up jam 12WIB
Jangan lupa like dan vote ya.
Sampai malam nanti, terakhir vote ya, kalau ada poin lebih bisa sebanyaknya di kasih😊 #authornyangarep.
Kalau ada bab tambahan akan di infokan ya. Jangan di tungguin😉
Happy weekend
__ADS_1