My Baby CEO

My Baby CEO
Tergila-gila


__ADS_3

Berdiri di depan cermin Shea melihat perutnya yang sudah mulai terlihat besar. Seraya membusungkan perutnya, dia mengukur seberapa besar perutnya. Senyum tertarik di ujung bibir Shea saat merasa perutnya yang sudah tampak besar.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Bryan yang melihat Shea di depan cermin. Tangannya mengusap-usap rambutnya yang basah sehabis mandi.


"Lihat perutku tampak besar sekali." Shea memperlihatkan perutnya pada Bryan dari pantulan cermin.


Melihat istrinya sedang memerkan perutnya, Bryan merasa gemas. Melangkah menghampiri Shea, dia memeluk istrinya dari belakang. "Lihat kedua tanganku sudah mulai susah untuk bertemu dan saling bertautan," goda Bryan.


Shea menundukan pandangannya, melihat kearah tangan Bryan. "Padahal baru empat bulan, tapi sudah susah, bagaimana jika sudah sembilan bulan."


"Aku akan lebih ke atas jika sudah sembilan bulan, jadi aku tetap akan bisa memeluk," ucap Bryan seraya menaikan tangannya ke atas dan berada tepat di dada Shea.


"Jangan macam-macam," tegur Shea saat tangan nakal Bryan mulai bergrilya ke dadanya. Dia memberikan cubitan lembut di tangan Bryan dan berusaha untuk melepaskannya.


Bryan tertawa saat istrinya itu mencubitnya dan melarangnya memegangi dua gundukan miliknya, yang mungkin kini ukuranya sudah lebih besar dari dulu. "Kamu tahu, ukurannya yang bertambah besar, membuat aku semakin tergila-gila."


Shea hanya mengelang saat suaminya itu membahas ukuran dadanya di pagi hari. "Sudah, ganti bajumu sana!" Suara lembut Shea memerintah.


"Lihatlah, baru membahas ukuran dada saja, dia sudah mulai bangun," ucap Bryan seraya mendekatkan tubuhnya.


Mata Shea membulat saat merasakan ada sesuatu yang mengajal di belakangnya, dan dia sudah tahu apa itu. "Sudah hentikan membahas ukuran dadaku! Semakin kamu membahasnya, maka dia akan terus bangun dan kamu akan kesulitan meredakannya."


"Bukannya ada kamu," Bryan memeluk Shea, dan mendaratkan kecupan di bahu Shea. Menyusuri leher putih milik istrinya, dia memberikan kecupan-kecupan lembut dengan bibirnya. "Rasanya aku ingin menghabiskan waktu bersamamu," tambahnya.


"Ingat, perkerjaanmu banyak!" Shea melepas paksa pelukan Bryan. Dia melangkah menuju ke lemari untuk mengambil baju, dan meninggalkan Bryan yang masih setia berdiri di tempat di mana Shea meninggalkannya.


Bryan menghela napasnya, saat Shea berlalu begitu saja. Dia tahu apa yang membuat istrinya itu marah. Apa lagi kalau bukan masalah babymoon yang sudah tertunda selama satu bulan. Perkerjaan Bryan yang belum selesai mengharuskan Bryan menunda acara babymoon yang di recanakan oleh Shea.


"Sayang, jangan marah," ucap Bryan melangkah menghampiri Shea.


Wajah Shea yang tadi tersenyum membahas kehamilan berubah muram saat teringat perkerjaan Bryan. Tanpa menjawab ucapan Bryan, tangannya terus bergerak mengambil kemeja untuk Bryan.


"Aku tahu kamu marah karena kita belum bisa babymoon." Bryan mencoba untuk merayu Shea yang terlampau kesal karena dirinya yang sudah menunda selama satu bulan.


Shea mengabaikan Bryan yang berbicara. Tangannya membuka kancing kemeja dan memakaikan kemeja pada Bryan. Sejak hamil, Shea suka sekali bagian membuka kancing dan memasangkan kacing. Hingga akhirnya memakaikan Bryan kemeja, menjadi hobi barunya.


Meminta Bryan memasukan tangannya ke dalam lengan kemeja, dia memakaikan dan merapikan kemeja untuk Bryan. Berlanjut, dia mengancingkannya satu persatu kancing kemeja yang dipakai suaminya itu.

__ADS_1


"Aku janji setelah perkerjaanku selesai, kita akan pergi." Bryan menatap lekat pada istrinya dan kembali memberikan penjelasan.


"Kata-kata itu sudah keluar dari mulutmu sudah sejak satu bulan yang lalu," ucap Shea seraya mengancingkan kancing teratas dari kemeja yang dipakai Bryan. Suara penuh sindiran terdengar begitu menakutkan.


Bryan hanya bisa menelan salivanya kasar. Sejujurnya dia pun juga ingin pergi. Namun, gara-gara proyek korupsi yang dilakukan Kevin, membuat dirinya harus berkerja extra membenahinya. Hingga satu bulan ini, dia sibuk berkerja. "Aku janji ini yang terakhir aku berjanji. Minggu depan kita akan pergi babymoon"


Shea menghela napasnya. Emosinya yang memang tidak stabil membuat dirinya tidak bisa mengontrol diri. Sebenarnya Shea sadar jika Bryan teramat sibuk, tapi rasa kesalnya mendominasi hingga membuat dirinya lebih mudah marah. "Oke ini terakhir kali kamu berjanji. Jika kamu tidak memenuhinya, aku tidak akan mau memberimu lagi."


Mata Bryan membulat sempurna saat mendengar ucapan Shea yang memberikan ancaman padanya. Dia tahu maksud dari tidak memberi yang diucapakan Shea. "Iya, aku janji." Untuk sementara waktu Bryan hanya bisa menuruti Shea.


"Baiklah, aku akan menunggu janjimu," ucap Shea. Tangannya kembali memakaikan dasi di kerah kemeja yang dipakai Bryan.


"Kalau begitu, berikan aku senyumanmu." Bryan menatap lekat Shea dan merayunya.


Shea pun tersenyum. Dirinya benar-benar tidak bisa marah pada Bryan. Apa lagi melihat suaminya itu memohon.


***


Di kantor Bryan disibukkan dengan perkerjaan. Banyak yang harus dia selesaikan sebelum menuruti keinginan Shea untuk babymoon. "Apa masih banyak data yang masih harus kita periksa?" Selama satu bulan, Bryan disibukkan dengan data keuangan kantornya.


Bersama dengan Felix, Bryan mengecek beberapa berkas. "Aku rasa sudah cukup. Semua sudah selesai," ucap Felix.


"Apa kamu jadi pergi babymoon?" tanya Felix dengan diiringi sedikit tawa. Dia sudah tahu sebenarnya kemana Bryan akan pergi. Karena sudah dalam satu bulan Bryan dibuat gelisah saat perkerjaan tak kunjung usai.


"Iya, dan Shea sudah pada tahap puncak kekesalnya," ucap Bryan mengingat kejadian tadi pagi.


Felix langsung tertawa. "Wajar dia marah, sudah sebulan kamu menunda."


"Kalau bukan gara-gara Kevin, aku tidak akan menunda pergi bersama Shea." Bryan benar-benar malas jika mengingat apa yang menjadi penyebab dirinya tidak jadi berangkat.


"Bicara tentang Kevin, apa kamu akan membebaskannya?" Mendengar Bryan membahas sepupunya, Felix teringat dan bertanya.


"Belum tahu, aku akan bicarakan dengan papa terlebih dahulu." Dua hari yang lalu pamannya datang menemui Bryan, dan mengembalikan setengah uang yang dikorupsi Kevin. Pamannya berharap dengan mengembalikan, Bryan akan membebaskan putranya.


"Pertimbangkan matang-matang."


"Iya, itu pasti." Sebenarnya Bryan sudah menghubungi pengacara untuk membuat penjanjian pembebaskan Kevin. Dia tidak mau mengambil resiko jika sampai Kevin macam-macam padanya.

__ADS_1


***


Sesuai janji Bryan seminggu yang lalu, rencananya besok Bryan dan Shea akan pergi untuk ke pantai. Bersama dengan Selly dan Regan, mereka akan berlibur selama empat hari. Selly dan Shea sudah menyiapkan segala hal mengenai liburan mereka, termasuk memesan villa. Selly dan Shea sudah memesan satu villa, dan mereka berempat akan tinggal bersama-sama.


"Tidak perlu membawa baju banyak-banyak," tegur Bryan saat melihat istrinya menyiapkan baju untuk kepergian mereka besok.


"Kenapa?" Shea menatap heran pada suaminya.


"Kita akan jalan-jalan dua hari dan di villa dua hari. Jadi bawa saja baju untuk dua hari, karena sisa dua harinya kamu tidak perlu memakai baju," ucap Bryan. Senyum licik tertarik di bibirnya. Dia sudah tidak sabar membayangkan menghabiskan waktu dua hari dengan Shea.


Shea hanya bisa menelan salivanya kasar mendengar ucapan suaminya. Dia tidak bisa membayangkan dua hari di dalam kamar villa akan menjadi seperti apa.


Mengabaikan ucapan Bryan, dia kembali memasukkan baju ke dalam koper. Aku akan tetap bawa baju untuk empat hari, karena aku masih berharap empat hari itu aku bisa jalan-jalan.


Shea menyusul Bryan ke tempat tidur, setelah selesai mengepaki baju yang akan dibawanya besok. Bryan yang melihat Shea langsung menyambut istrinya itu. Dia merentangkan tangannya dan membawa Shea ke dalam pelukannya.


"Aku sudah tidak sabar untuk jalan-jalan besok," ucap Shea.


Bryan hanya bisa mengeleng saat mendengar istrinya yang begitu bersemangat. Dia tahu istrinya sudah menanti liburan ini sejak sebulan yang lalu. "Sudah tidurlah! Jangan seperti anak sekolah yang tidak bisa tidur saat akan pergi berlibur."


Bibir Shea langsung mencebik saat mendengar ucapan Bryan. Namun, dia menyadari, jika rasa penasaran akan seperti apa liburannya besok, pasti membuatnya tidak bisa tidur.


Bryan mengeratkan pelukannya dan memberikan kehangatan pada Shea. Pelukan hangat yang Bryan berikan selalu bisa membuat Shea tertidur pulas, termasuk malam ini. Dalam hitungan menit, Shea sudah tertidur.


"Selamat malam," ucap Bryan seraya mendaratkan kecupan di pucuk rambut istrinya. Bryan berharap jalan-jalan besok akan membuat Shea senang.


.


.


.


.


.


Jangan komplen ini dikit ya, karena aku sebenarnya niatnya ga up hari ini.

__ADS_1


Lanjut besok ya...


Jangan lupa like dan vote


__ADS_2