
Shea yang melihat Bryan di depan lobby hotel menatap dengan tatapan tajam. Pikirannya melayang memikirkan sesuatu yang terjadi di hotel. Rasanya Shea benar-benar tidak sanggup menerima kenyataan jika suaminya berada di hotel yang sama, di kamar yang sama atau mungkin di bawah selimut yang sama dengan wanita lain.
Felix yang berada di balik kemudi, sudah merasakan aura peperangan yang akan terjadi di hadapannya. Dia sudah bisa bayangkan, semarah apa Bryan padanya karena membawa istrinya ke puncak. Untuk menghindari itu semua, akhirnya Felix memilih untuk tetap berada di dalam mobil.
Dengan keyakinan hatinya, Shea menemui Bryan. Meraih pintu mobilnya, Shea membuka pintu dan keluar dari mobil Felix.
"Sayang." Satu kata yang terucap dari Bryan, saat melihat istrinya di hadapannya. Bryan melangkah menghampiri Shea yang baru saja turun dari mobil. "Kenapa kamu kemari?" tanyanya.
"Apa kamu tidak suka aku di sini?" tanya Shea kesal.
Bryan tahu jika istrinya dalam mode marah, jadi ucapannya akan selalu dianggap salah. "Bukan begitu, aku baru saja akan pulang." Bryan meraih tangan Shea lembut. Namun, Shea langsung menampik tangan Bryan.
"Sayang, di sini tidak ada sinyal, jadi aku tidak bisa menghubungi dirimu." Dengan menatap lekat istrinya, Bryan berharap jika Shea mau mendengarkannya. "Kemarin juga ada tanah longsor, jadi aku tidak bisa pulang." Bryan kembali meyakinkan Shea. Tangannya kembali meraih tangan istrinya. "Percayalah!"
Mendengar ucapan Bryan Shea memang tidak bisa menyalahkan Bryan. Saat perjalanan menuju ke proyek pembangunan hotel tadi, Felix membangunkannya untuk melihat keadaan di hadapannya. Dengan mata yang masih belum terbuka sempurna, dia melihat beberapa orang sibuk membersihkan tanah di jalanan.
Shea bertanya pada Felix, dan Felix memberitahu jika orang-orang sedang membersihkan sisa tanah longsor yang berada di jalanan. Felix juga menjelaskan, mungkin inilah yang menyebabkan Bryan tidak bisa pulang, karena akses jalan tertutup oleh tanah.
Mengenai sinyal ponsel, Shea sediri juga merasakan. Saat dia tadi ke proyek pembangunan hotel, dia menunggu Felix yang sedang bertanya pada pekerja seraya memainkan ponselnya, dan benar saja jika tidak ada sinyal di ponselnya.
"Sayang." Bryan menarik lembut Shea ke dalam pelukannya.
Shea yang tak kuat menahan perasaan kesal, khawatir, dan kecewanya hanya bisa menangis di pelukan Bryan. Air matanya yang tadi sudah kering kini kembali lagi mengalir di pipi putihnya.
"Maafkan aku." Melihat istrinya menangis Bryan merasa bersalah. Padahal dia sudah berjanji tidak akan membuat Shea bersedih kembali. Namun, kini dia melihat istrinya itu menangis. Tangannya membelai lembut rambut Shea. Menenangkan istrinya yang terisak karena kesedihan yang dibuatnya.
Tiba-tiba Shea teringat jika Bryan di hotel bersama Helena. Dengan gerakan cepat dia mendorong tubuh Bryan. Saat mendorong tubuh suaminya, mata Shea beralih pada beberapa orang yang berdiri di depan lobby. Ada Helena, Alex dan satu pria yang Shea tidak tahu itu siapa.
Merasakan pelukannya dilepas oleh Shea, Bryan terkesiap. Dia menatap Shea, dan ingin bertanya pada istrinya itu. Namun, melihat sorot mata Shea yang menatap tempat lain, Bryan mengurungkan niatnya, dan beralih menatap kemana sorot mata Shea tertuju. Ternyata sorot mata Shea tertuju pada Helena, Alex dan managernya. Bryan tahu, pasti dipikiran istrinya membayangkan jika dirinya baru saja menghabiskan malam dengan Helena.
"Aku tidak melakukan apapun." Tangan Bryan menarik dagu Shea agar dia bisa menjangkau wajah istrinya.
"Mana ada wanita dan pria berada di kamar hotel, tapi tidak melakukan apa-apa." Dengan nada ketus Shea meluapkan kekesalannya.
Bryan sudah menduga, hal-hal seperti ini akan terjadi. Jadi keputusannya untuk berada di dalam satu kamar dengan managernya adalah keputusan tepat. "Semalam aku tidur dengan manager itu, lalu bagaimana bisa aku berada di kamar bersama wanita?" tanya Bryan seraya menunjukan manager yang berdiri tepat di samping Alex.
Shea pun menoleh melihat ke arah orang yang ditunjuk oleh Bryan.
"Benar, Bu, semalam Pak Bryan tidur bersama saya," ucap manager saat Shea menatapnya.
__ADS_1
"Apa kamu dengar! Aku tidak melakukan apa pun dengan Helena." Bryan menatap Shea menyakinkan istrinya yang sedang meragukannya.
Shea terdiam. Semua bukti seolah mengatakan jika suaminya tidak bersalah. Dari mulai sinyal, akses jalan dan terakhir tentang di mana semalam suaminya tidur. Semuanya hanya kegelisahannya saja yang mungkin dipengaruhi rasa curiga dan tidak percayanya.
Saat memikirkan semua yang sedang terjadi. Tiba-tiba perut Shea merasa kencang. "Auch .... " Shea memicingkan matanya seraya memegangi perutnya.
"Sayang kenapa?" tanya Bryan yang panik melihat istrinya memegangi perutnya.
Alex pun mencoba ikut mendekat melihat keadaan Shea yang tiba-tiba memegangi perutnya. "Kenapa, Se?" tanyanya juga panik melihat Shea.
"Perutku terasa kencang," ucap Shea.
"Sebaiknya kita cari rumah sakit, Bry," ucap Alex pada Bryan.
Melihat keadaan istrinya, Bryan tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan anak dan istrinya. "Iya." Bryan langsung membuka pintu mobil Felix dan meminta Shea untuk masuk ke dalam mobil. Dia berusaha untuk tenang di saat istrinya merasakan sakit di perutnya.
Alex pun ikut masuk ke dalam mobil Felix dan duduk di kursi depan, tepat di samping Felix. Dia pun sama khawatirnya dengan Bryan.
"Kalian mau kemana, lalu aku bagaimana?" tanya Helena yang sedikit bingung harus kemana dia saat orang-orang mengabaikannya dan meninggalkannya.
"Jika kamu tidak mau di hotel, maka masuklah." ucap Alex dari kaca mobil. Kaca mobil yang dari tadi sengaja dibuka oleh Felix untuk melihat adegan peperangan antara Bryan dan Shea.
Dengan mendengus kesal, akhirnya Helena ikut masuk ke dalam mobil Felix. Dia duduk di kursi belakang bersama Shea dan Bryan.
Mendengar perintah Bryan, Felix langsung melajukan mobilnya menuju ke Rumah sakit terdekat.
Shea hanya meringis kesakitan saat perutnya terasa kencang. Belum lagi dia merasakan ada cairan hangat yang keluar dari jalan lahir. "Sayang, sepertinya air ketubannya merembes."
"Hah! Apa itu maksudnya?" Bryan bingung, walaupun dia sudah ikut kelas hamil, tapi dia belum dengar dengan istilah air ketuban yang merembes. Mungkin itu akan ada di pelajaran di kelas minggu ini.
"Jadi air ketubannya keluar sedikit." Dengan menahan sakitnya Shea menjelaskan.
"Lagipula kamu kenapa menyusul aku? Pasti ini semua karena kamu sangat kelelahan." Bryan benar-benar merasa frustrasi melihat keadaanya istrinya. Dia tidak bisa bayangkan jika terjadi apa-apa dengan kandungan Shea. "Kamu juga, kenapa kamu bawa istriku kemari." Tangan Bryan memukul kursi yang di duduki Felix.
Felix yang disalahkan oleh Bryan hanya mengelus dadanya. Dalam hal ini dirinya tetap saja akan jadi pihak yang salah. Apalagi dia yang membawa Shea yang sedang hamil melakukan perjalanan jauh.
"Kamu kenapa menyalahkan Felix! Kamu yang harusnya disalahkan!" Shea pun memukul tangan Bryan yang menyalahkan Felix.
Bryan hanya menelan salivanya kasar saat suara bentakan Shea terdengar menyeramkan. Dia menyadari, jika semua ini adalah kesalahannya. Walaupun tidak seluruhnya.
__ADS_1
Helena yang berada di samping Shea hanya menatap aneh, melihat wanita yang dia kira lembut bisa berubah garang. Dia pikir lawannya adalah wanita lemah, tapi nyatanya dia salah.
Shea terus mengatur napasnya. Berharap itu bisa meredakan rasa sakitnya. Shea sudah banyak belajar dari kelas ibu hamil, untuk tetap tenang saat merasakan kontraksi. Dia sadar, jika kontraksi yang dirasakannya masih terasa jarang, dan bisa juga ini adalah kontraksi palsu.
"Apa kamu mau minum?" tanya Bryan, dan Shea mengangguk.
Alex yang berada di kursi depan, melihat air mineral yang berada di depannya, dan langsung menyerahkan pada Bryan. "Ini, Bry."
"Ini bekas siapa? Apa kamu mau memberikan air mineral bekas bibir orang lain pada istriku?" Dengan berapi-api Bryan meluapkan rasa kesalnya pada Alex.
"Itu milikku." Satu pukulan lagi mendarat di lengan Bryan. Shea yang melihat suaminya memarahi Alex tanpa bertanya dulu pun ikut kesal.
"Oh ... punyamu." Dengan wajah bodoh Bryan menjawab. Tangannya langsung meraih botol air mineral yang diberikan oleh Alex, dan langsung membantu Shea untuk minum.
"Sayang, sakit," ucap Shea setelah dia minum. Memegangi punggung bagian bawahnya, dia merasakan sakit yang amat menyiksa.
"Lena, pegang ini." Bryan memberikan botol air mineral pada Helena yang berada di samping Shea.
Walaupun dengan wajah bingung, Helena menerima botol pemberian dari Bryan. Nasibnya benar-benar sial. Dia sudah bagai pesuruh, karena diminta membawakan botol air mineral milik Shea. Namun, melihat Shea yang kesakitan, dia juga tidak tega.
Setelah memberikan botol air mineral pada Helena, Bryan membelai punggung Shea berharap rasa sakit yang dirasa oleh istrinya mereda.
"Cepatlah!" Bryan yang merasakan Shea semakin kesakitan, meminta Felix untuk cepat melajukan mobilnya.
"Jangan membuatku panik juga!" Felix yang kesal pun membentak Bryan. Sejenak dia lupa kalau Bryan adalah atasannya.
Kepanikan memang dirasa semua orang yang berada di dalam mobil. Alex yang dari tadi melihat Shea kesakitan pun merasa tidak tega. Begitu juga Helena. Rintihan demi rintihan yang keluar dari mulut Shea begitu menyayat hati.
Karena posisi proyek cukup jauh di puncak. Felix hanya bisa menemukan Rumah sakit yang tidak terlalu besar. Bryan hanya bisa berharap, jika fasilitas di rumah sakit yang mereka datangi lengkap.
.
.
.
.
...Masih mau nambah ga hari ini, vote dulu......
__ADS_1
...🥰🥰...
...Jangan lupa like, koment dan vote...