
Saat sampai di rumah selepas pulang kerja, Shea membantu Bryan untuk mengepaki barang-barangnya. Bersimpuh di lantai, Shea memasukkan pakaian milik Bryan ke dalam koper.
Bryan sejak tadi sudah menyuruh Shea untuk istirahat saja, tapi ditolak oleh Shea. Dia tetap ingin membantu Bryan, menyiapkan keperluannya untuk ke luar negeri.
"Jadi kamu pergi sendiri?"
"Iya, Felix akan tetap disini, untuk mengurus semuanya selama aku tidak ada."
Shea yang mendengar Bryan menjelaskan hanya mengangguk saja.
Selesai mengepaki pakaiannya, Bryan mengulurkan tangannya pada Shea, untuk membantu Shea bangun.
Shea mensejajarkan tubuhnya di depan Bryan setelah dia bangun dari duduknya, Shea menatap Bryan. "Apa akan ada wanita disana?" tanya Shea ragu-ragu.
Bryan merengkuh pinggang Shea, mengkikis jarak di antara keduanya. "Untuk apa wanita?"
Shea menaikan bahunya, dan tidak menjelaskan pertanyaannya.
"Aku kesana untuk kerja, dan bukannya aku sudah berjanji tidak akan melakukan itu lagi."
Shea merasa lega saat ternyata tidak ada wanita bersama Bryan. Entah kenapa Shea merasa sedikit takut, saat Bryan jauh dari pengawasannya.
"Saat malam, aku akan menghubungimu, kamu akan lihat jika aku sendiri, dan tidak melakukan apa pun." Bryan meyakinkan Shea, jika dirinya tidak akan melakukan apa-apa saat jauh.
Shea menatap kedua bola mata milik Bryan, menelisik apakah ada kebohongan di sana. Bryan yang melihat Shea menatapnya, balas menatap Shea.
Bryan yang berada dalam posisi jarak yang dekat, tidak bisa menolak pesona Shea. Melihat bibir ranum milik Shea, Bryan mendaratkan bibirnya pada bibir Shea.
Ini adalah ketiga kalinya Shea mendapatkan ciuman dari Bryan. Mengingat bagaimana Bryan mengerakan bibirnya sewaktu menciumnya, membuat Shea sedikit tahu bagiamana mengerakan bibirnya.
Dengan gerakan yang masih kaku, Shea membalas ciuman Bryan, dia melakukan hal yang sama seperti Bryan lakukan.
Mendapati balasan dari Shea, membuat Bryan bergelora. Mendorong pelahan tubuh Shea ke belakang, Bryan membawa Shea ke tempat tidur. Merebahkan tubuh Shea perlahan di atas tempat tidur, Bryan membuat Shea di bawah kungkungannya.
Tautan bibir pun tak dilepas oleh Bryan. Menyesapi manisnya bibir masing-masing, mereka larut dalam ciuman panas mereka. Suara kecapan demi kecapan pun terdengar mengisi keheningan kamar.
Tangan Bryan terus mulai bergrilya, merasakan benda kenyal yang pas di tangannya.
Ini memang bukan pertama kali Bryan memegangnya, dan Shea merasakan hal lain saat Bryan melakukannya kembali. Dulu Bryan melakukannya dengan kasar, sedangkan sekarang, Bryan melakukannya dengan lembut.
Melepas tautan bibirnya, Bryan beralih menyusuri leher Shea. Tapi sejenak tangan Shea yang mendorong lembut bahu Bryan, menghentikan gerakan Bryan.
"Jangan tinggalkan jejak di leher." Shea benar-benar trauma saat Bryan meninggalkan jejak di leher seperti kemarin.
"Aku akan meninggalkan jejak di tempat yang tak terlihat." Bryan kembali membenamkan diri di ceruk leher Shea. Memberikan kecupan-kecupan di sana, tanpa meninggalkan jejak.
Menyusuri lebih ke bawah, Bryan memberikan kecupan. Benda kenyal yang tadi di sentuhnya dengan tangan, kini disentuhnya dengan bibir. Sesapan demi sesapan, Bryan nikmati di tempat yang akan menjadi tempat favorite baginya, dari tubuh Shea.
"Bryan .... " Suara serak Shea lolos begitu saja, saat Bryan berada di tempat yang tidak pernah Shea bayangkan, dan itu membuatnya semakin tidak menentu.
Mendengar namanya di panggil membuat Bryan tersenyum tipis saat melakukan kegiatannya. Bryan ingat betul, jika dulu dirinya meminta Shea memanggil namanya, tapi Shea tidak melakukannya.
Kecupan dan sesapan begitu Bryan nikmati. Meninggalkan tanda merah di sana, Bryan membuat jejak yang tidak akan di lihat oleh orang lain.
Bryan menghentikan kegiatannya, saat mengingat kandungan Shea belum cukup kuat. Dirinya tahu, jika dilanjutkan dirinya akan tidak kuat. Jadi sebelum sebuah pergumulan panjang malam ini terjadi, dia memilih menahan hasratnya, dari pada mempertaruhkan anaknya.
Membenarkan bra milik Shea, dan mengancingkan kembali piyama yang sempat dia buka saat tangannya bergrilya, Bryan mengakhiri kegiatannya.
Wajah Shea begitu merah saat melihat Bryan mengakhiri kegiatannya. Rasanya Shea benar-benar malu, saat mengingat jika dia menikmati sentuhan yang Bryan berikan.
Shea langsung membalikkan tubuhnya miring, dan berusaha membelakangi Bryan, menyembunyikan warna merah pipinya.
Aku benar-benar sudah gila.
Shea merutuki dirinya yang terbawa kenikmatan yang diciptakan oleh Bryan.
Melihat Shea yang membelakanginya, Bryan tahu jika Shea sangat malu.
"Aku tahu, jika kamu sudah siap jika aku melakukannya," ucap Bryan berbisik pada Shea.
Shea memilih diam, dan tidak menjawab ucapan Bryan. Dirinya sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku akan menunggu sampai anak kita kuat." Bryan mendaratkan kecupan di bahu Shea.
Mendengar ucapan Bryan, Shea merasa bingung. Otaknya mengatakan tidak tapi hatinya mengatakan iya. Logika dan hatinya benar-benar bertarung hebat untuk saat ini.
"Tidurlah!" Bryan mengeratkan pelukan dan memberikan kehangatan malam ini pada Shea.
***
Pagi ini Bryan di antar Felix menuju Bandara. Shea yang ikut mengatar, memilih izin sebentar pada Regan.
Sepanjang perjalanan, Shea dan Bryan saling bergandengan tangan. Tak sedikit pun keduanya melepas.
"Apa kalian melihat ada aku di sini?" Felix yang menyaksikan Bryan menciumi punggung tangan Shea dari kaca depan benar-benar merasa tidak dianggap.
"Tutup matamu saja, jangan melihat kebelakang." Bryan malas sekali, Felix menganggu aktifitasnya.
"Kalau aku menutup mata, mobil ini tidak akan sampai Bandara, tapi akan sampai Rumah sakit!" seru Felix.
Bryan mendengus kesal mendengar ucapan Felix.
Sesampainya di Bandara, Bryan meminta Felix keluar, karena dirinya ingin berpamitan dengan Shea.
Felix yang keluar dari mobil, hanya dapat mengerutu kesal.
Apa mereka kurang berpamitan di rumah.
Felix tidak habis pikir dengan kegiatan dua insan manusia yang sedang berada di dalam mobil itu.
"Jaga dirimu saat aku tidak ada, jika kamu butuh bantuan, mintalah Felix untuk membantumu."
__ADS_1
Shea menjawab dengan anggukan.
Bryan beralih pada perut Shea. Mendaratkan satu kecupan di perut Shea, dan usapan lembut di perut Shea. "Jaga mommy ya, Sayang. Yang pintar saat daddy tidak ada."
Menegakkan tubuhnya, Bryan kembali menatap Shea. Bryan mendaratkan kembali bibirnya di bibir Shea. Rasanya Bryan tidak bisa jauh dari bibir manis yang sudah bagi candu itu.
"Bry ..." panggil Shea yang sedikit mendorong tubuh Bryan. Shea sangat malu, karena ada Felix di luar sana.
"Aku pasti akan merindukanmu," ucap Bryan tak henti mengecup pipi Shea.
Shea hanya tersenyum, saat Bryan menciumi pipinya.
"Apa kamu akan merindukanku nanti?"
"Aku belum tahu, kamu pergi saja belum."
"Aku jamin kamu akan merindukan aku," ucap Bryan semakin gemas dan mencium kasar pipi Shea.
"Bry ...." Shea berusaha menghindar dengan apa yang dilakukan Bryan
Entah kenapa semakin hari Bryan semakin gemas dengan Shea. "Ayo kita keluar," ajak Bryan.
Bryan dan Shea pun keluar dari mobil, dan menuju ke dalam Bandara.
"Aku pergi dulu," ucap Bryan mendaratkan kecupan di dahi Shea.
Apa tadi di mobil, masih kurang.
Felix yang melihat Bryan mengecup kening Shea hanya bisa mengeleng. Dia tidak bisa mengambarkan bagaimana dua insan yang akan berpisah ini melepas kepergian.
"Hati-hati, kabari aku jika sudah sampai." Shea tersenyum lembut pada Bryan.
Bryan mengangguk, dan menarik kopernya, meninggalkan Shea.
Shea menunggu Bryan yang pergi, dan hilang dari jangkauannya. Walapun terasa berat, tapi semua dilakukan untuk keberhasilan Bryan.
"Ayo, Se," ajak Felix saat Bryan sudah tidak ada dalam jangkuan.
Shea dan Felix menuju ke mobil mereka. Felix mengantarkan Shea untuk ke kantornya, sebelum dirinya ke kantor.
"Aku senang kamu bisa mengubah Bryan yang liar, menjadi sejinak itu." Suara Felix memecah keheningan di dalam mobil.
"Kamu pikir dia hewan," cibir Shea.
Felix tertawa saat Shea membela Bryan. "Iya dulu dia hewan, dan semenjak dekat dengamu akhirnya dia menjadi manusia."
"Sejak kapan kamu berteman dengan Bryan?" Rasanya Shea ingin tahu lebih banyak tetang Bryan.
"Sejak kecil, karena dulu orang tuaku berkerja dengan papa Bryan."
"Berarti kamu sudah tahu betul seperti apa Bryan."
"Apa Bryan tidak pernah punya pacar?" tanya Shea.
"Apa kamu sedang mengali infomasi dari aku?"
"Mungkin." Shea menjawab dengan enteng.
"Oke, aku akan menjawabnya ... sebenarnya dia tidak pernah pacaran, karena hidupnya di penuhi dengan belajar bisnis." Felix memulai menjelakan pada Shea.
Mendengar penjelasan Felix, Shea mengingat cerita Bryan, dan itu sama.
"Sampai kuliah, dia tidak bisa pergi bermain seperti diriku, tidak bisa berganti pacar seperti aku, yang di lakukan hanya belajar."
"Apa kamu sedang memamerkan dirimu?"
"Sedikit," ucap Felix tersenyum.
"Lalu?"
"Sampai dia menyukai wanita?"
"Wanita yang menolaknya karena ...." Shea tidak melanjutkan ucapannya, rasanya bibirnya berat sekali mengucap apa yang menjadi alasan wanita itu menolak Bryan.
"Iya, tepat sekali, wanita itu."
"Kenapa dia sekejam itu?" Shea bergidik ngeri membayangkan wanita seperti apa yang menilai seorang pria dari hal intim.
"Dulu Bryan belum seperti sekarang," jawab Felix.
"Oh ya, memang seperti apa dulu Bryan?" Shea memang belum pernah lihat foto Bryan waktu dulu.
"Apa di kamarnya tidak ada foto Bryan?"
"Tidak."
"Dulu Bryan tampak lugu dan polos."
Shea baru mengerti, bagaimana wanita itu menolak Bryan.
Sebagai wanita yang menilai pria dari hal intim, melihat wajah polos Bryan, pasti dia menebak jika Bryan tidak akan hebat di ranjang panasnya.
"Sejak saat itu Bryan merubah semuanya. Tapi tanpa dia sadari, dia masuk terlalu dalam dengan kehidupan gelapnya." Felix mengingat bagaimana Bryan bisa seperti itu.
"Apa kamu tidak mengingatkan?"
"Aku pun ikut terjerumus," jawab Felix tertawa terbahak.
Shea membulatkan matanya di sertai denguskan kasar. "Ternyata kamu sama saja."
"Eit ... tapi aku berbeda dengan Bryan." Felix mengelak ucapan Shea.
__ADS_1
"Apa bedanya?"
"Bedanya aku melakukannya dengan kekasihku saja."
"Berapa kekasihmu?" Shea akhirnya tertarik untuk tahu kehidupan Felix juga.
"Kalau itu, aku tidak hitung."
Shea memutar bola matanya malas, saat tahu Felix memiliki banyak kekasih, dan melakukan hal intim juga dengan kekasihnya.
Tanpa terasa perbincangan Shea dan Felix harus terhenti saat mobil Felix sampai di kantor Shea.
"Terimakasih, Felix," ucap Shea saat membuka seatbelt yang melingkar di tubuhnya.
"Se, jika ada apa-apa, jangan sungkan kabari aku."
"Iya, aku akan menghubungimu jika aku membutuhkan bantuan." Shea tersenyum dan membuka pintu mobil.
Setelah Shea keluar dari mobil, Felix melajukan mobilnya menuju kantornya, sedangkan Shea masuk ke dalam kantor.
Sesampainya di kantor, Shea langsung menuju ke meja kerjanya. Tapi belum sempat sampai di meja kerjanya, Shea berpapasan dengan Regan di depan lift.
"Apa Bryan sudah berangkat?"
"Sudah."
"Baiklah, lanjutkan perkerjaanmu!"
"Baiklah." Shea pun berlalu ke meja kerjanya, dan melanjutkan kerjanya.
***
Saat jam kerja berakhir, Shea bersiap-siap untuk pulang. Disaat yang bersamaan, Regan juga keluar dari ruangannya.
"Ayo, Se, kamu pulang denganku."
Kemarin Bryan sudah menemui Selly dan Regan untuk menitipkan Shea sementara waktu, selama dirinya pergi ke luar negeri. Jadi selama Bryan di luar negeri, Shea akan berangkat dan pulang dengan Regan.
"Jessie, aku duluan ya," ucap Shea pada Jessie.
"Iya, Se."
Shea dan Regan pun menuju ke parkiran mobil, dan melajukan mobilnya sesaat setelah mereka masuk ke dalam mobil.
"Se, bisakah aku meminta tolong?" tanya Regan saat perjalanan ke rumah.
"Apa?"
"Pastikan, jika Bryan benar-benar menyelesaikan masalah proyek pembangunan properti di luar negeri."
"Apa Kak Regan tidak percaya dengan Bryan?"
"Se, bukan aku meragukan kemampuan Bryan, tapi terkadang Bryan meninggalkan tanggung jawabnya untuk kepentingannya sendiri."
Shea menyadari, jika dulu Bryan suka meninggalkan perkerjaanya. "Lalu apa yang bisa aku bantu?"
"Pastikan Bryan tidak pulang sampai dia bisa menyelesaikan masalah di sana."
"Aku usahakan, tapi aku tidak janji." Shea yang sudah mendengar cerita Bryan yang suka di paksa papanya, tidak bisa melakukan hal yang sama. Tapi Shea akan tetap berusaha dengan caranya sendiri, agar Bryan menyelesaikan masalah di sana dengan baik.
"Terimakasih, Se."
"Sama-sama, Kak."
Sesampainya di rumah, Shea dan Regan sudah di sambut oleh Selly.
"Aku sudah menyiapkan kamar untukmu, Se," ucap Selly saat mengajak Shea masuk ke dalam rumah.
"Maaf merepotkan, Kak Selly."
"Jangan seperti itu, aku sudah menganggapmu adikku sendiri."
Shea merasa sangat beruntung di kelilingi orang-orang yang begitu baik.
"Istirahatlah!" ucap Selly saat sampai di depan kamar Shea.
"Terimakasih, Kak."
Shea masuk ke dalam kamar. Saat membuka pintu kamar, Shea melihat dinding putih, dengan dekor minimalis.
Memutar ingatannya, Shea mengingat jika kamar yang di tempatinya sekarang adalah kamar dimana waktu dia pingsan dan mengetahui jika dirinya hamil.
Serasa dunianya berubah di kamar ini, sesaat mendengar jika dirinya hamil, Shea tidak menyangka jika kembali ke kamar ini dengan situsi yang berbeda.
Hubunganya dengan Bryan yang sudah baik pun membuatnya tersenyum saat dirinya mengingat.
Aku harap hubunganku dengan Bryan akan semakin baik.
Shea hanya bisa berharap, hal terbaik dalam hidupnya.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan vote
__ADS_1