My Baby CEO

My Baby CEO
Izinkan


__ADS_3

Saat masih mengerjakan perkerjaanya, Shea mendengar suara nada pesan masuk. Mengambil ponselnya, Shea melihat pesan dari nomer Bryan. Tapi mata Shea memicing saat melihat isi pesan di ponselnya. Beralih melihat jam di pergelangan tangannya. Shea ingin memastikan jam berapa ini.


"Jam empat tiga puluh." Shea yang melihat jam, belum waktu pulang, hanya bisa mengeleng.


"Kenapa di menjemput lebih awal," gumam Shea yang melihat Bryan menjemput lebih awal. Akhirnya Shea membalas pesan Bryan untuk menunggunya lebih dulu.


Memasukkan kembali ponselnya, Shea melanjutkan perkerjaanya. Masih ada tiga puluh menit untuk dirinya menyelesaikan perkerjaanya, sebelum dirinya pulang.


"Kenapa Pak Regan belum keluar ya," ucap Jessie.


Suara Jessie yang tiba-tiba terdengar membuat Shea menoleh.


"Padahal sudah jam lima." Jessi menatap Shea dan berucap kembali pada Shea.


"Mungkin masih ada perkerjaan." Shea sendiri tidak tahu, kenapa Regan belum keluar dari ruangannya. Padahal setahu Shea. Regan jarang sekali pulang terlambat.


Saat menunggu Regan yang tidak kunjung keluar, suara pesan di ponsel Shea kembali berbunyi. Mengambil ponselnya, lagi-lagi Shea mendapati pesan dari Bryan yang mengatakan 'cepat keluar, aku menunggu di lobby'.


Shea benar-benar bingung, karena dirinya tidak bisa pulang sebelum Regan pulang. Akhirnya Shea memilih membalas pesan Bryan untuk menunggu lagi.


***


Bryan yang mendapatkan pesan dari Shea, untuk menunggu, merasa kesal. "Sudah jam lima, kenapa dia menyuruhku untuk menunggu lagi?" grutu Bryan saat melihat pesan dari Shea.


Merasa lama menunggu, Bryan akhirnya memutuskan untuk memarkirkan mobilnya, dan masuk ke dalam kantor. Bryan ingin tahu, apa yang membuat Shea belum ingin pulang.


Menunggu lift, Bryan berencana menuju ruangan Shea. Tapi belum sempat Bryan masuk ke dalam lift, satu lift terbuka, dan Bryan melihat Shea, Regan, dan satu wanita yang keluar dari lift.


"Bryan," gumam Shea yang melihat Bryan berada di depan lift.


"Kamu sudah disini?" tanya Regan seraya melihat jam di pergelangan tangannya. Regan melihat jam baru menunjukan pukul lima lebih lima belas menit.


Regan hanya bisa mengeleng dengan apa yang di lakukan oleh Bryan. Regan berpikir, jika di jam segini Bryan sudah sampai, berarti Bryan keluar dari kantornya sebelum jam lima.


"Iya, aku mau menjemput Shea." Bryan dengan malas, menjawab ucapan Regan.


"Bukannya aku sudah bilang untuk menunggu." Shea menatap Bryan, dengan suara lembut. Sebenarnya Shea kesal, tapi Shea tidak mau orang lain melihat kekesalannya. Apalagi orang yang jadi sasaran kekesalannya adalah suaminya. Shea tidak mau mempermalukan Bryan di depan siapa pun. Cukup kekesalannya hanya saat dirinya dan Bryan berdua saja.


"Iya, kamu terlalu lama."


"Jika kamu keluar dari kantor tepat jam lima, aku rasa kamu tidak akan lama untuk menunggu Shea." Suara Regan memotong pembicaraan antara Shea dan Bryan.


Ucapan Regan pada Bryan, di artikan Bryan sebagai sindiran untuknya, tapi Bryan mengabaikan begitu saja. Bryan malas menanggapi ucapan Regan. "Ayo Shea," ucap Bryan seraya menarik lembut tangan Bryan.


Shea yang di tarik tangannya oleh Bryan, tidak bisa menolak. "Saya permisi dulu," ucap Shea pada Regan dan Jessie.


Belum sempat Regan dan Jessie menjawab, Shea sudah berlalu begitu saja. Regan hanya memandang Shea dan Bryan yang berlalu begitu saja.


Masih tetap sama, batin Regan.


Shea yang tangannya di tarik hanya bisa mengikuti Bryan saja. Melangkah menuju parkiran, Shea dan Bryan masuk ke dalam mobil. Tanpa mengatakan apa-apa, Bryan menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilnya menuju ke apartemen.


Dalam perjalanan ke apartemen Shea melihat wajah Bryan yang terlihat kesal. Shea menyadari, jika kekesalan Bryan adalah karena menunggu dirinya.


"Kenapa kamu tidak bertanya, kenapa aku diam saja?" Suara Bryan memecah keheningan di dalam mobil.


Shea mengerutkan dahinya dalam saat mendengar pertanyaan Bryan. "Harusnya yang kesal itu aku," ucap Shea menatap ke arah Bryan.


Bryan menoleh sejenak pada Shea sebelum kembali pada kemudinya. "Kenapa kamu?"


"Karena aku memintamu menunggu, tapi kamu justru masuk ke dalam kantor." Shea benar-benar kesal, dengan sikap Bryan yang tidak sabar menunggu.


"Apa kamu tidak tahu, jika aku menunggu lama." Bryan mencoba mengelak.


"Lagi pula siapa yang menyuruhmu datang lebih awal? Mungkin benar yang dikatakan Kak Regan, jika kamu keluar kantor tepat jam lima, kamu tidak akan lama menunggu aku," ucap Shea mengingat apa yang di katakan oleh Regan.


"Kenapa kamu mendukung apa yang di katakan Kak Regan?" Bryan menatap tajam ke arah Shea sejenak.

__ADS_1


"Aku tidak mendukung, tapi..."


"Tapi mengatakan kenyataan?" tanya Bryan yang memotong ucapan Shea yang belum selesai. Emosi Bryan begitu meninggi, saat Shea membenarkan ucapan Regan.


Shea yang melihat Bryan kesal merasa bingung. Shea tidak bisa menebak mana yang membuat Bryan sekesal itu.


Dia kesal karena apa, karena menunggu aku? Karena ucapan Kak Regan? Atau karena aku yang membenarkan ucapan Kak Regan?


Shea hanya memikirkan dalam hatinya apa yang membuat Bryan kesal.


"Bry..." panggil Shea.


"Emm..." Bryan hanya menjawab dengan deheman saja, tanpa menoleh.


Shea mencebikkan bibirnya saat mendengar jawaban Bryan. "Bryan," panggil Shea kembali.


Mendengar panggilan Shea, membuat Bryan menoleh.


"Masih kesal?" tanya Shea ragu-ragu.


"Apa aku harus menjawab?" tanya Bryan ketus seraya kembali fokus pada jalanan di depannya.


Melihat Bryan yang mengabaikannya dan menjawab ketus membuat Shea merasa jika Bryan benar-benar sedang kesal.


"Hai, baby, apa kamu lihat wajah jelek daddy saat sedang kesal, nanti saat kamu lahir, kamu pasti akan melihatnya," ucap Shea seraya membelai perutnya.


Bryan yang mendengar ucapan Shea pada anaknya, langsung menghentikan mobilnya tiba-tiba di pinggir jalan.


"Auch..." teriak Shea saat tubuhnya tertarik seatbelt karena Bryan mengerem mobilnya mendadak.


"Apa kamu mau membunuhku?" tanya Shea yang kesal saat mendapati Bryan mengeram mendadak.


"Kenapa kamu mengatakan itu pada anakku?" Bryan tidak menjawab ucapan Shea, tapi malah bertanya hal lain.


"Aku mengatakan benar, jika wajahmu jelek saat kesal," ucap Shea melirik tajam.


"Tapi kenapa kamu harus mengadu pada anakku?" Bryan tidak terima saat Shea mengadukan dirinya pada anak di dalam kandungan Shea.


Bryan menghela napasnya saat merasa dirinya terlalu berlebihan meluapkan kekesalannya. Melihat bagiamana Shea menenangkan dirinya, merasa senang.


"Maaf membuatmu menunggu." Pandangan Shea menatap ke arah mata Bryan, berharap Bryan memaafkan dirinya.


"Aku tidak kesal karena menunggumu."


"Lalu kesal kenapa?" tanya Shea. Melihat Bryan yang diam saja, Shea tidak bisa menebak apa yang membuat Bryan kesal.


"Sudah lupakan," ucap Bryan. Bryan membuka seatbelt yang melingkar di tubuhnya, dan lanngsung membungkukkan tubuhnya membelai perut Shea. "Daddy janji tidak akan kesal-kesal lagi," ucap Bryan pada anak di kandungan Shea.


Melihat Bryan yang mengalihkan pembicaraan, Shea bisa menduga ada yang disimpan oleh Bryan. Tapi sejauh ini, Shea tidak bisa menebak apa itu. Beralih menundukkan kepalanya, Shea melihat Bryan yang sedang membelai lembut, dan berbicara pada anaknya. Shea merasa senang, emosi Bryan seketika mereda saat mengingat anaknya.


Saat Bryan sedang asik membelai lembut dan berbicara dengan anaknya. Shea dan Bryan mendengar kaca mobil di ketuk, melihat ke arah kaca mobil. Bryan dan Shea membulatkan matanya saat melihat seorang polisi di sana.


Bryan dan Shea saling pandang. Mereka berdua memikirkan kesalahan apa yang sedang di buatnya hingga polisi menghampiri mereka.


Bryan langsung membuka kaca mobilnya, untuk tahu apa yang di inginkan oleh polisi itu.


"Selamat siang, Pak," sapa Pak polisi pada Bryan.


"Siang, Pak."


"Saya melihat mobil Anda berhenti di pinggir jalan, dan saya melihat Anda sedang melakukan tindakan asusila di dalam mobil, jadi saya akan menilang, Bapak." Pak polisi menjelaskan apa yang akan dia lakukan.


"Asusila?" tanya Bryan dan Shea bersama-sama.


"Asusila bagaimana? Kami tidak melakukan apa-apa?" Bryan bingung dengan maksud dari Pak polisi di depannya.


"Saya melihat Anda tadi sedang menunduk dan mendekat pada bagian bawah tubuh wanita. Itu termasuk tindakan asusila." Pak polisi menjelaskan dengan tegas pada Bryan.

__ADS_1


Bryan baru mengerti apa yang di maksud oleh polisi di depannya. Polisi di depannya mengira Bryan sedang melakukan sesuatu pada tubuh bagian bawah Shea.


"Maaf, Pak, tapi saya tidak melakukan apa-apa, tadi saya sedang mencium perut istri saya yang sedang hamil," jelas Bryan.


Bryan langsung memutar tubuhnya, dan membungkukkan tubuhnya, untuk dapat menjangkau perut Shea. Mendaratkan satu kecupan di perut Shea, Bryan menunjukkan apa yang sedang di lakukannya.


"Apa, Bapak lihat apa yang sedang saya lakukan tadi?" tanya Bryan pada polisi. "Kalau saya tidak membungkukkan tubuh saya, bagaimana saya bisa mencium perut istri saya?" ucap Bryan setelah mencium perut Shea, mempraktekan apa yang di lakukannya.


"Maaf, Pak, saya tidak tahu, saya pikir..." Polisi itu sedikit tersenyum penuh arti, dan tidak melanjutkan ucapannya.


"Tidak apa-apa," ucap Bryan.


"Ternyata Bapak juga melakukan hal yang sama dengan saya, juga suka mencium perut istri yang sedang hamil." Pak polisi yang tadi tegas, seketika berubah saat membahas istrinya yang sedang hamil.


"Istri Bapak, juga hamil?" Bryan bertanya dengan atusias.


"Iya, istri saya sedang hamil sudah hampir sembilan bulan, dan sejak istri saya hamil, saya juga sering mencium perut istri saya. Kata orang itu bagus, karena bisa membuat bayi dalam kandungan bahagia." Pak polisi menjelaskan pada Bryan.


"Oh begitu ya, Pak?" tanya Bryan tersenyum.


"Iya, jadi jangan berhenti hanya sekali saja, lakukan tiap hari, pagi, siang, sore, pokoknya setiap saat." Polisi menjelaskan pengalamannya pada Byran.


"Sayang, dengarkan! Kata Pak polisi, aku harus sering-sering mencium anak dalam kandungan kamu, jadi kamu jangan melarang," ucap Bryan membalikkan tubuhnya pada Shea. Bryan tersenyum penuh arti pada Shea.


Shea yang dari tadi tercengang karena aksi Bryan mencium perutnya, di buat semakin tercengang saat Bryan mengatakan akan mencium perutnya setiap waktu.


"Iya, Bu, biarkan suami ibu mencium anak dalam kandungan, karena itu bagus untuk perkembangan anak ibu." Pak polisi itu pun menambahkan ucapan Bryan.


Mendengar ucapan Pak polisi itu. Shea hanya bisa memaksakan senyumnya. "Iya, Pak, nanti saya akan izinkan suami saja mencium anak dalam kandungan saya." Shea tidak punya pilihan lain selain menerima apa yang di ucapan oleh polisi di depannya.


"Janji, ya sayang, kalau aku boleh mencium perut kamu," ucap Bryan membelai pipi Shea dengan lembut.


Shea hanya bisa menaham geramnya saat Bryan dengan segala akal bulusnya, mengambil kesempatan memegang pipinya. "Iya," jawab Shea terpaksa.


"Wah, kalau lihat suami istri romantis seperti ini, rasanya saya mau pulang," goda polisi. "Kalau begitu, silakan lanjutkan perjalanan Bapak dan Ibu." Pak polisi pun tidak memperpanjang lagi urusannya, setelah mengetahui apa yang di lakukan Shea dan Bryan.


"Baik, terimakasih, Pak. Saya permisi dulu. Semoga istri Bapak sehat dan lancar saat melahirkan," ucap Bryan ramah pada Pak polisi.


"Iya, terimakasih doanya."


Bryan menutup kaca mobil dan melanjutkan perjalanannya ke apartemen.


"Kenapa kamu mencium perutku tadi?" Pertanyaan yang di tahan oleh Shea dari tadi, akhirnya dia ucapkan juga.


"Apa kamu tidak melihat, jika Pak polisi tadi mengira kita melakukan perbuatan yang tidak-tidak?" tanya Bryan menoleh pada Shea.


"Kita kan tidak sedang melakukan apa-apa. Tinggal jelaksan saya bukan?" Shea masih tidak terima dengan apa yang di ucapkan Bryan.


"Tapi polisi tadi tidak akan mengerti saat kita jelaskan, karena dia sudah memergoki aku membungkuk ke bawah, dan polisi itu pikir aku sedang..."


"Polisi itu pikir apa?" Shea yang mendengar Bryan berhenti saat menjelaskan langsung bertanya.


Bryan binggung saat harus menjelaskan apa yang di pikirkan oleh polisi itu, saat melihat dirinya membungkuk. "Mungkin berpikir mencium yang lain."


"Yang lain apa maksudnya?" Shea masih tidak mengerti apa yang di jelaskan Bryan.


Bryan memijat kepalanya saat mendengar pertanyaan Shea. Rasanya Bryan tidak berani mengatakan pada Shea. Tapi kekesalan Shea dan pertanyaan Shea tidak akan berhenti, jika Bryan tidak mengatakannya. "Bagian intim milikmu," ucap Bryan lirih.


Shea langsung membulatkan matanya, saat mendengar ucapan Bryan. Tangan Shea reflek langsung menutup bagian intim miliknya. Membuang muka ke arah luar kaca mobil, Shea menyembunyikan perasaan malunya.


Melihat Shea yang menutupi miliknya dengan tangan, Bryan hanya bisa menarik senyum di wajahnya. Bryan sadar, Shea akan sangat protect dengan bagian itu. Tapi Bryan merasa puas, karena kejadian ini, dirinya bisa mencium perut Shea.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like😍


__ADS_2