
Saat Bryan dan Felix sedang sibuk menata figura, terdengar suara bel rumah berbunyi.
"Siapa yang datang?" tanya Felix.
"Entah, aku tidak merasa punya tamu," jawab Bryan.
Bryan pun menuju pintu, untuk tahu siapa yang datang. Bryan meraih handle pintu dan membukanya.
"Kejutan!" seru Selly saat Bryan membuka pintu.
Bryan benar-benar terkejut seperti yang di ucapkan oleh Selly. Bryan melihat kakaknya yang berada di depan pintu, hanya bisa menatap malas.
"Halo, Sayang," sapa Melisa menautkan pipi pada putranya.
Belum selesai Bryan dengan keterkejutannya yang melihat Selly datang, Bryan semakin di buat terkejut dengan kedatangan mamanya juga.
Selly begitu saja masuk ke dalam rumah, dan meninggalkan Bryan yang masih diam membeku. Bryan yang melihat Selly masuk ke dalam rumah begitu saja, hanya bisa mendengus kesal di sertai lirikan tajam pada Selly.
"Mama senang kamu mau pindah kemari," ucap Melisa pada Bryan.
"Iya, Shea ingin tinggal di rumah, dan tidak mau di apartemen, karena itu Bryan putusan untuk tinggal di sini." Bryan menjelaskan pada Melisa apa alasan kepindahannya.
"Apa pun alasannya, mama senang kamu memikirkan Shea dan anak kalian."
"Ma," panggil Selly dari dalam rumah.
Bryan yang mendengar teriakan Selly hanya menahan gemuruh kekesalannya. "Apa kamu pikir rumahku ini hutan?" Bryan masuk ke dalam rumah, untuk mengecek apa yang kakaknya lakukan.
"Kalau rumahmu hutan, maka kita spesies di dalamnya," ucap Selly tertawa.
"Sudah, sudah." Melisa yang melihat anak-anaknya berdebat pun menengahi.
Untuk apa kalian kemari?" Bryan masih binggung dengan kedatangan mama dan kakaknya.
"Karena dirimu dan Shea tidak mengadakan pesta untuk rumah baru, maka kami yang akan adakan," ucap Selly enteng. Tangan Selly membuka isi dalam goodie bag yang di bawanya. Mengeluarkan isi di dalam goodie bag, Selly meletakkan di atas meja makan.
"Pesta?"
"Iya, pesta rumah baru," jawab Selly.
"Rumah ini sudah lama, untuk apa ada pesta." Bryan merasa malas dengan ide Selly.
"Rumah lama tapi baru dihuni, sama saja rumah baru." Selly masih tidak mau kalah saat menjawab ucapan Bryan.
"Bryan, mama yang merencanakan untuk acara keluarga di sini, sekaligus merayakan kepindahanmu." Melisa mencoba menjelaskan pada Bryan.
"Apa papa akan datang?" tanya Bryan ragu-ragu.
"Apa kamu berharap papa tidak datang?" timpal Selly.
Bryan hanya melirik tajam mendengar pertanyaan Selly. Bryan selalu malas jika acara keluarga. Karena saat acara keluarga papanya selalu membahas tentang kesuksesan Regan, dan pada akhirnya dirinya akan terbawa untuk di bahas.
"Kak Selly, Bibi Melisa," ucap Felix yang baru saja turun dari lantai atas.
"Kamu di sini?" tanya Selly.
"Iya, aku membantu Bryan membawa barang-barangnya, Kak."
"Kalau begitu jangan pulang, kita kan mengadakan pesta di sini," jelas selly.
"Wah, Bryan dirimu mengadakan pesta tadi tidak memberitahu diriku," ucap Felix dengan senyum tipis.
Bryan semakin malas saat mendengar ucapan Felix. Bryan tahu, Felix hanya mengoda dirinya. "Pestanya juga tidak akan dimulai karena Shea belum pulang," jawab Bryan malas.
"Sebentar lagi Shea akan datang, aku sudah menghubungi Regan tadi, untuk segera pulang setelah bertemu klien."
Mata Bryan memicing mendengar ucapan kakaknya. Bryan tidak menyangka, jika Selly sudah merencanakannya dengan baik acara pesta kepindahannya, hingga meminta Regan pulang setelah meeting.
"Sudah ayo bantu, aku merapikan semua," ucap Selly menatap Bryan dan bergantian menatap Felix.
Bryan dan Felix tidak punya pilihan, selain mengerjakan apa yang di minta oleh Selly.
***
Shea dan Regan yang selesai bertemu klien langsung menuju mobil. Melajukan mobilnya, Regan menuju rumah Bryan.
"Bukankah ini bukan jalan ke kantor, Kak?" tanya Shea saat melihat jalan yang di lalui Regan bukan jalan ke kembali ke kantor.
"Iya, kita langsung pulang," jawab Regan.
"Kenapa?"
"Akan ada pesta nanti." Regan menjawab dengan masih tetap fokus pada jalanan di depannya.
"Pesta?" Shea bingung pesta apa yang di maksud oleh Regan.
"Iya, pesta di rumah baru."
Shea mengerti rumah baru yang di maksud oleh Regan. Rumah itu adalah rumah yang akan ditinggalinya bersama Bryan.
"Sudah ada Selly dan mama di sana." Regan kembali menjelaskan pada Shea.
__ADS_1
Shea hanya mengangguk saat mendengar penjelasan Regan. Shea tidak menyangka, jika kakak ipar dan mertuanya akan mengadakan pesta.
Perjalanan Shea dan Regan akhirnya sampai di rumah. Karena jarak mall tidak terlalu jauh dari rumah, perjalanan ke rumah lebih cepat.
Turun dari mobil, Shea dan Regan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumh sudah ramai suara Selly yang berteriak-teriak, menyusuh Bryan dan Felix.
"Sayang," ucap Selly saat melihat Regan datang. Selly langsung menghampiri Regan, dan menautkan pipi pada Regan.
Shea yang melihat Selly dan Regan saling menautkan pipi merasa sangat cangung. Apalagi posisi Regan berada di sampingnya.
"Se." Selly pun menyapa Shea. Selly menautkan pipi pada Shea, tapi belum sempat Selly menautkan pipi pada Shea, Bryan sudah menarik tubuh Shea.
"Kamu kenapa?" tanya Shea yang bingung saat Bryan menarik.
"Iya, kamu kenapa, Bry?" Selly pun juga bertanya melihat sikap Bryan.
"Apa kakak sadar, jika baru saja kakak menautkan pipi dengan Kak Regan, kalau kakak menautkan pipi pada Shea, secara tidak langsung kakak menempelkan bekas pipi Kak Regan pada Shea," jawab Bryan dengan nada kesal.
Shea yang melihat ulah Bryan hanya bisa membulatkan mata. Rasanya Shea malu sekali dengan apa yang di katakan oleh Bryan.
"Hish ...." Selly hanya mendesis kesal saat mendengar ucapan Bryan.
Sedangkan Regan menarik senyum saat melihat aksi Bryan.
"Sudah biar aku saja yang wakilkan," ucap Bryan pada Selly. Bryan langsung menautkan pipinya pada pipi Shea.
Shea hanya membeku saat melihat apa yang di lakukan oleh Bryan. Shea benar-benar merasa sangat malu pada semua orang yang ada di rumahnya.
Selly dan Regan hanya saling pandang saat melihat apa yang Bryan lakukan.
"Berarti kalau mama yang menautkan pipi pada Shea, bekas pipi kamu menempel juga ya di pipi mama," timpal Melisa seraya tertawa. Melisa langsung menghampiri Shea dan menautkan pipi pada Shea. "Apa kabar, Sayang?" tanya Melisa pada Shea.
"Baik, Ma," jawab Shea.
Melisa beralih menatap Bryan dan mengedipkan matanya, mengoda Bryan. Bryan yang melihat aksi mamanya hanya memutar bola matanya malas.
"Apa berarti hanya aku saja yang tidak akan dapat tautan pipi?" Suara Felix memecah perdebatan tentang tautan pipi.
"Cepatlah menikah, kalau begitu!" ucap Melisa.
Felix hanya mendengus kesal, saat Melisa membahas pernikahan. Akhirnya membuat semua yang ada di rumah tertawa.
"Sudah ayo, kita mulai acarannya," ucap Melisa.
Semua orang pun menuju ke meja makan yang berada di luar. Udara di luar lebih sejuk, dan membuat suasanya menjadi nyaman untuk menikmati makan bersama.
"Wah kita akan barbeque?" tanya Regan saat melihat alat barbeque.
"Iya, Bryan dan Felix yang akan membakar daging nanti," jawab Selly pada Regan.
"Kamu kan Tuan rumah, jadi kamu yang akan membakar," jawab Selly enteng.
Bryan hanya menahan kesalnya. Aku tidak mengundang, bagaimana bisa aku jadi Tuan rumah, batin Bryan.
"Biar aku bantu," ucap Shea. Shea yang melihat Bryan keberatan untuk membakar daging pun akhirnya berniat membantu.
"Tidak perlu," ucap Bryan tegas. Bryan yang melihat Shea ingin membantu pun menolak. "Duduklah!" Suara Bryan melembut dan meminta Shea untuk menikmati dirinya yang akan membakar daging.
Shea pun mengangguk, mendengarkan perintah Bryan. Menarik kursi Shea duduk bersama Melisa dan Selly.
"Ayo, aku akan membantu." Regan pun akhirnya membuka jasnya dan menguluang kemejanya.
Bryan pun langsung menuju alat barbeque, di temani oleh Felix dan Regan. Dengan cekatan Bryan membakar daging. Walaupun tidak bisa memasak, tapi Bryan bisa membakar daging, karena semua sudah di marinasi oleh mamanya.
Bryan Regan, dan Felix sibuk membakar, sedangkan Shea, Selly dan Melisa, sibuk bercerita.
Saat sedang asik, terdengar suara bel rumah. Melisa yang sudah menebak jika itu suaminya pun berdiri dan membuka pintu.
"Wah, apa papa sudah terlambat?" tanya Daniel menarik kursi dan duduk.
"Belum, Pa, mereka baru saja mulai membakar daging," jawab Selly.
"Syukur kalau papa belum terlambat." Daniel merasa lega, saat dirinya tidak terlambat datang di acara keluarga yang di adakan di rumah Bryan.
Setelah Bryan, Regan, dan Felix selesai membakar, mereka semua menikmati hidangan.
Felix duduk di ujung meja makan sendiri, dan yang lain bersebelahan dengan pasangan masing-masing. Bryan duduk di samping Shea, bersebrangan dengan Regan, Selly, dan kedua orang tua Bryan.
"Em ... enak sekali," ucap Selly yang menikmati makanannya.
"Siapa dulu yang bakar," jawab Bryan menyombongkan diri.
"Kamu, Regan dan Felix," jawab Selly yang mematahkan kesombongan Bryan.
Tawa yang lain terdengar saat Bryan dan Selly yang berdebat.
Mereka semua menikmati makan, dan menikmati senja yang terlihat dari ruangan belakang. Udara menjelang malam pun membuat acara makan menjadi lebih indah.
Sesekali mereka bertukar cerita. Shea, Selly dan Melisa bercerita, tentang kehamilan. Regan dan Daniel menceritakan beberapa hal tentang bisnis yang sedang di kerjakan oleh Regan, sedangkan Bryan dan Felix memilih menikmati makannya.
"Wah, jadi kamu berkerja sama dengan perusahaan Global Company?" Daniel tidak menyangka jika menantunya berkerja sama dengan perusahaan besar.
__ADS_1
"Iya, Pa, tadi Regan baru saja bertemu dengan pihak Global Company."
"Kamu memang hebat," puji Daniel pada Regan.
Bryan yang mendengarkan cerita Regan dan papanya, hanya memutar bola matanya malas. Bryan tahu seperti apa papanya itu membanggakan Regan. Karena malas Bryan pura-pura tidak mendengar apa yang di bicarakan oleh Regan dan Daniel.
Sejenak Daniel menatap Bryan. Seketika Daniel merasa kesal, dengan pencapaian perusahaan yang tidak banyak perkembangannya, selama di pegang oleh Bryan.
"Apa kalian tadi tidak ke kantor?" tanya Daniel pada Bryan dan Felix. Daniel yang melihat Bryan dan Felix memakai baju biasa mencoba menebak.
"Tidak, Pa," jawab Bryan.
"Kenapa memangnya?"
"Kami tadi membawa barang-barang dari apartemen ke sini." Bryan menjelaskan pada papanya.
"Apa kamu tidak bisa mengerjakan sendiri, hingga Felix harus membuang waktu untuk membantumu." Suara Daniel sedikit meninggi saat berkata pada Bryan.
"Maaf, Pa," jawab Bryan.
Seketika suasana sedikit menegang saat Daniel dan Bryan berbicara.
Shea yang mendengar ucapan Daniel pada Bryan merasa tidak tega pada Bryan. Tangan Shea yang ada di bawah meja langsung meraih jemari Bryan. Menautkan jemarinya pada jemari Bryan, Shea mencoba menguatkan Bryan.
Bagi Felix, apa yang di lakukan Daniel sudah menjadi hal biasa ketika dia menemukan tingkah Bryan yang menyimpang. Bagi Melisa, Selly, dan Regan pun juga sama, mereka sudah biasa mendengar percakapan seperti sekarang.
"Berusahlah mengerjakan apa-apa sendiri lebih dulu, jangan selalu menyusahkan orang lain." Daniel dengan tegas memperingatkan Bryan.
Bryan hanya menahan gemuruh dalam hatinya. Sudah menjadi hal biasa papanya akan mengatakan hal itu pada Bryan. Di mata papanya, Bryan hanyalah anak yang susah sekali diatur, dan sesukanya sendiri. Tak ada yang bisa di banggakan dari Bryan di mata papanya. Inilah yang membuat Bryan memutuskan tinggal di apartemen. Karena Bryan malas mendengarkan ucapan papanya setiap hari.
Menahan gemuruhnya, Bryan hanya bisa mengeratkan jemarinya yang sedang bertautan dengan jemari Shea.
Shea menoleh pada Bryan, saat Bryan mengeratkan tautan jemarinya. Shea tahu, jika Bryan sangat terluka saat Bryan mendengarkan ucapan papanya.
"Pa," tegur Selly yang melihat papanya begitu kejam pada Bryan.
"Inilah yang kalian lakukan, selalu membela!" Daniel menatap Selly tajam. "Semakin kalian membela, semakin dia tidak akan tahu kesalahannya apa," sindir Daniel.
Selly langsung diam saat papanya sudah emosi.
"Lihatlah apa yang dia bisa banggakan, apa kelakuannya yang bar-bar yang suka tidur dengan wanita hingga membuat wanita tidak berdosa hamil!"
Tidak ada yang membantah ucapan Daniel saat membahas Bryan. Mereka semua sudah terbiasa melihat emosi Daniel.
"Bryan sudah bertangung jawab, Pa, jadi itu adalah hal yang bisa di banggakan." Suara Shea terdengar menjawab ucapan Daniel.
Semua orang menatap Shea. Mereka kaget karena Shea berani menjawab ucapan Daniel.
Daniel mendengus, dan diringi senyuman meledek, saat mendengar jawab Shea. "Kamu harus mengenal Bryan lebih dalam, baru bisa mengatakan apa hal yang bisa di banggakan olehnya." Daniel berdiri dan meninggalkan meja makan.
Melisa yang melihat suami berdiri, akhirnya ikut berdiri. "Jangan di ambil hati ucapan papa," ucap Melisa menghampiri Bryan. Melisa mendaratkan kecupan di pucuk rambut putranya untuk menenangkan Bryan.
"Se, mama pulang dulu, titip Bryan." Melisa pun mengecup pucuk kepala Shea.
Tapi belum sempat Shea menjawab, Melisa sudah berlalu.
Suasana menjadi hening saat Melisa dan Daniel pergi.
"Bry, jangan ambil hati ucapan papa, mungkin papa sedang kesal saja," ucap Selly menangkan adiknya.
"Aku ingin sendiri." Bryan tidak menjawab ucapan Selly tapi meminta mereka semua untuk pulang.
Regan yang melihat kondisi Bryan akhirnya memilih untuk pulang. "Sebaiknya kita pulang," ucap Regan pada Selly. "Felix, ayo pulang." Regan pun beralih pada Felix.
Akhirnya Selly, Regan dan Felix berdiri.
"Kami pulang dulu, Se," ucap Selly pada Shea.
"Iya, Kak." Shea tidak punya pilihan lain, selain mengizinkan Selly, Regan, dan Felix untuk pulang.
Shea pun mengantarkan Selly, Regan dan Felix ke depan. Shea berniat untuk menutup pintu sekalian.
"Titip Bryan, Se," ucap Selly kembali pada Shea.
"Aku akan menenangkannya, Kak."
"Ya sudah, kami pergi dulu."
Shea mengangguk dan menutup pintu saat Selly, Regan, dan Felix keluar rumah.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Up jam 12 ya
Jangan lupa like dan vote