My Baby CEO

My Baby CEO
Aku harus pergi


__ADS_3

Shea yang selesai membesihkan wajahnya, langsung merebahkan tubuhnya menyusul Bryan yang sudah terada di tempat tidur.


"Selamat malam, Bry," ucap Shea seraya membelakangi Bryan, dan bersiap untuk tidur.


Bryan yang sedang memainkan ponselnya, tersentak kaget saat Shea meninggalkannya untuk tidur lebih dulu.


Meletakkan ponselnya, Bryan menyusul Shea dan memeluknya dari belakang.


"Tadi kamu spa apa?" tanya Bryan berbisi tepat di belakang Shea.


"Spa coklat," jawab Shea yang sudah sangat mengantuk.


"Wah, apa kulitmu akan semanis coklat, jika kamu spa coklat?"


"Entah."


"Coba biarkan aku mencicipinya, aku akan memastikan kulitmu semanis coklat atau tidak." Senyum tertarik di sudut bibir Bryan, membayangkan bibirnya akan merasakam kulit Shea.


"Jangan macam-macam, Bry." Shea langsung membalikkan tubuhnya dan mengancam Bryan.


"Kenapa?" Senyum masih mengembang sempurna di wajah Bryan.


"Aku tidak mau besok jadi tontonan orang, saat orang-orang melihat kissmark di leherku." Shea tidak bisa membayangkan hal itu terjadi, jadi Shea memilih menolak apa yang akan di lakukan Bryan .


"Aku akan melakukannya di tempat yang tidak terlihat jika kamu mau."


Shea membulatkan matanya sempurna saat mendengar ucapan Bryan.


"Jangan membulatkan matamu seperti itu," ucap Bryan.


"Apa maksudmu dengan tempat tidak dilihat orang?"


"Menurutmu, aku harus membuat dimana?" Bryan tidak menjawab pertanyaan Shea tapi dia malah mengoda Shea.


"Bryan, jangan macam-macam!" Shea benar-benar ketakutan Bryan akan melakukan di daerah-daerah yang tertutup dengan bajunya."


Bryan langsung tertawa, saat melihat Shea yang ketakutan.


Cup


Bryan mendaratkan satu kecupan di bibir Shea. "Aku tidak akan melakukannya tanpa izinmu."


Shea merasa lega, saat Bryan tidak benar-benar melakukannya.


"Tapi tidak janji, jika tiba-tiba aku mengigau dan melakukannya." Bryan menambahi ucapannya.


"Bry ...." Shea melayangkan tatapan tajam pada Bryan.


"Sudah ayo tidur," ajak Bryan, "kamu mau di peluk dari depan atau belakang?" tanya Bryan.


"Belakang." Shea pun membalikkan tubuhnya membelakangi Bryan.


Memeluk Shea dari belakang, Bryan pun mulai tertidur.


Shea yang tadi mengantuk akhirnya tidur dalam hitungan detik. Pelukan hangat dari Bryan memang membuat dirinya lelap saat tidur.


Saat mendengar dengkuran halus dari Shea, Bryan mengintip sedikit wajah Shea.


Dia sudah tidur.


Melihat Shea yang sudah tidur, Bryan melancarkan aksinya. Menyibak sedikit baju yang di kenakan Shea di bagian bahu, Bryan mendaratkan bibirnya di bahu Shea.


Ternyata lebih manis.


Bryan yang merasakan kulit halus Shea merasakan rasa manis. Aroma coklat yang masih menempel pun memberikan sensasi baru untuk Bryan.


Saat Bryan sedang menikmati aksinya, terdengar lenguhan Shea dan gerakan Shea tepat di bahunya


Bryan buru-buru menghentikan aksinya membuat kissmark di bahu Shea sebelum Shea terbangun.


Maafkan aku tidak tapat janji. Aku hanya ingin merasakaj coklat dari kulitmu, dan ternyata lebih manis dari pada makan coklatnya langsung.

__ADS_1


Bryan hanya bisa meminta maaf pada Shea dalam hatinya. Menarik selimut dan mengeratkan pelukan pada Shea, Bryan menyusul Shea tidur.


***


Pagi ini, seperti biasa Shea bersiap berkerja. Memakai pakaiannya, Shea memakai bra miliknya. Tapi saat membenarkan tali bra di bahunya, dia melihat tanda merah terpampang disana.


Bryan, batin Shea geram saat mengingat jika Bryan lah yang melakukannya.


Keluar dari kamar mandi, Shea sedikit memoles wajahnya, sebelum akhirnya dia menuju ke meja makan.


Di meja makan, Bryan sedang sibuk menyiapkan roti untuk sarapan.


"Minum susu yang sudah aku siapkan!" perintah Bryan. Tangan Bryan masih sibuk mengolesi selai roti untuk Shea.


Shea yang masih kesal, hanya bisa mengerucutkan bibirnya.


Bayangannya masih terlintas tanda merah yang ditinggalkan oleh Bryan. Meminum susu yang dibuatkan oleh Bryan, Shea menahan gemuruh di hatinya.


"Kamu kenapa?" tanya Bryan yang melihat wajah kusut Shea.


"Kamu bertanya, seolah kamu lupa apa yang membuatku kesal."


Oh ... dia pasti melihat tanda kissmark yang aku buat semalam. Bryan tahu apa yang membuat Shea marah.


"Itu tidak akan kelihatan," elak Bryan.


"Tapi tetap saja .... " Shea malas sekali harus berdebat pagi-pagi berdebat dengan Bryan.


"Jangan buat mood-mu berantakan, hanya karena kissmark buatanku." Senyum licik mengembang dengan sempurna di wajah Bryan.


Shea pun menatap malas pada Bryan. Melanjutkan makannya, Shea mengabaikan Bryan.


Sampai selesai sarapan, dan berangkat berkerja pun, Shea masih terus memasang wajah kesalnya.


Sepanjang perjalanan ke kantor, Bryan melihat wajah Shea yang kesal. Keheningan begitu terasa saat perjalanan menuju kantor.


Sampai mobil Bryan berhenti di depan lobby kantor pun Shea masih diam. Bryan membuka seatbelt yang melingkar di tubuhnya, dan sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah tubuh Shea.


Shea yang mendengar ucapan Bryan hanya bisa mengeleng. "Apa kamu sedang mengajak kerja sama dengan anak kita?"


Bryan menengadah. "Iya, aku mencari pendukung." Senyum tertarik di wajah Bryan.


Melihat senyum Bryan pun Shea membalas senyum Bryan.


Cup


Bryan mendaratkan satu kecupan di pipi Shea. "Maaf, jangan marah."


Shea pun mengangguk. Entah kenapa dirinya tidak bisa marah dengan Bryan.


"Siang ini aku tidak bisa makan siang denganmu, jadi kamu makanlah sendiri." Bryan yang memang ada meeting memutuskan untuk membiarkan Shea makan sendiri.


"Iya, tapi usahakan kamu juga makan."


"Iya, aku pastikan akan makan."


Shea pun turun dari mobil dan menuju ke dalam kantor, sedangkan Bryan melajukan mobilnya menuju ke kantor.


Sesampainya di kantor, Bryan. langsung masuk ke dalam ruangannya. Felix yang melihat Bryan sudah datang akhirnya mengikuti Bryan.


"Bagiamana kabar proyek kita yang di luar negeri?" tanya Bryan seraya mendudukkan tubuhnya di kursinya.


"Sepertinya kamu harus kesana, karena di duga ada korupsi disana sehingga membuat pembangunan proyek kita macet."


Bryan menghela napasnya. Rasanya dirinya berat sekali untuk pergi, apa lagi Shea akan sendiri di rumah.


"Apa aku harus lama jika kesana?"


"Aku tidak bisa pastikan, Bry, tergantung seberapa lama kamu menyelesaikan masalah."


Jawaban tidak pasti dari Felix membuat Bryan begitu bimbang. Dalam waktu lama rasanya Bryan akan sangat berat jauh dari Shea.

__ADS_1


"Aku akan bicarakan dengan Shsa dulu, aku belum bisa pastikan aku bisa pergi atau tidak."


"Baiklah, tapi aku harap kamu segera bicarakan pada Shea, karena sebelum papamu tahu, sebaiknya semua sudah selesai."


"Iya, aku tahu." Bryan sadar, papanya akan marah besar, jika proyek besar ini berantakan.


"Jangan lupa, nanti siang kita ada meeting, pastikan tidak ada jadwal lain." Felix memberitahu Bryan, agar Bryan tidak membatalkan meeting penting hari ini.


"Iya, aku tahu."


Bryan menyadari, jika perkerjaannya belakangan ini sangat banyak, dan akan menguras tenaganya. Tapi ini adalah satu hal yang bisa Bryan buktikan pada papanya, jika dirinya bisa memajukan perusahaannya.


***


Setelah menjemput Shea pulang dan berlanjut pada makan malam. Bryan dan Shea menuju ke kamarnya.


Seperti biasa, rutinitas Shea membersihkan wajah dan memakai lotion, membuat Bryan menunggu.


"Se, ada yang aku mau bicarakan?"


"Apa?" Shea yang sudah selesai, menyusul Bryan di atas tempat tidur.


"Aku harus pergi mengurus proyek di luar negeri." Bryan memulai pembicaraan dengan Shea.


Shea bukan tidak tahu proyek apa yang sedang di kerjakan oleh Bryan. Berkas-berkas yang berada di kantornya, sudah menjelaskan seberapa penting Bryan harus pergi.


Shea juga mendengar pembicaraan Regan kemarin, dan itu sudah memberitahu Shea untuk apa Bryan ke luar negeri.


"Pergilah, aku tidak masalah."


Ada kelegaan dalam hati Bryan saat Shea mengizinkannya. Tapi tetap saja tidak membuat rasa cemasnya hilang. "Tapi aku tidak bisa meninggalkan kamu sendiri."


"Bagiamana kalau aku tinggal di rumah mama?" Shea memberikan ide pada Bryan.


"Se, bukan aku tidak mengizinkan kamu tinggal di rumah mama, tapi kamu tahu bukan jika papa tidak tahu masalah ini."


Shea mengingat apa yang dikatakan Selly kemarin, jika mertuanya akan marah jika tahu masalah perusaahaan, dan Shea sudah bisa menebak jika Bryan akan jadi sasaran mertuanya.


"Lalu?" tanya Shea bingung.


"Bagaimana jika kamu tinggal di rumah Kak Selly sementara, lagi pula juga kamu bisa berangkat berkerja dengan Kak Regan."


Shea menimbang apa yang di ucapkan oleh Bryan, tapi Shea tidak punya pilihan. Memikirkan tinggal sendiri, pasti akan sangat bahaya saat kondisi hamil seperti sekarang.


"Baiklah, aku mau."


"Terimakasih, Se, aku janji akan segera pulang setelah semua selesai."


Shea mengangguk. "Lalu kapan kamu pergi?"


"Mungkin lusa."


Entah kenapa Shea merasa berat saat ternyata tinggal dua malam Bryan akan di rumah. Tapi Shea tidak boleh egois, karena itu demi perusahaan Bryan, dan ini cara Bryan membuktikan pada papanya jika dia juga bisa memajukan perusahaannya.


"Baiklah."


"Ayo kita tidur," ajak Bryan.


Shea dan Bryan merebahkan tubuh. Bryan memeluk Shea dari belakang. Entah apa rasanya berpisah dengan Shea untuk beberapa waktu, Bryan tidak bisa membayangkan sejauh itu. Tapi Bryan yakin, jika ini semua akan baik-baik saja.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan Vote

__ADS_1


__ADS_2