
Tidak terasa usia kandungan Shea sudah memasuki delapan bulan atau tiga puluh dua minggu. Setiap malam dia sudah susah untuk tidur. Rasa pegal di punggungnya terkadang membuatnya susah menentukan posisi pas saat tidur. Bryan yang selalu setia menjaga istrinya pun selalu bangun untuk sekedar mengelus punggung Shea, atau mungkin memijat kaki Shea.
Persiapan untuk anak mereka pun juga sudah banyak dilakukan. Kamar bayi yang terletak di sebelah dan tersambung dengan kamar mereka juga sudah siap. Dekorasi dibuat netral dengan warna putih. Rencananya mereka akan mendekor setelah bayi mereka lahir.
Bryan dan Shea yang sepakat tidak akan melihat jenis kelamin, membuat mereka memilih beberapa perlengkapan yang berwarnanya netral. Mereka ingin jenis kelamin anak mereka akan menjadi kejutan untuk mereka.
Pagi ini Shea sudah bersiap-siap untuk olahraga. Semakin besar kandungannya, dia memang sudah semakin berat untuk bernapas. Jadi olah raga yoga sangat membantu untuk mengatur pernapasannya.
"Hai ... anak daddy sudah mau bersiap olahraga ya?" ucap Bryan seraya menundukkan tubuhnya menjangkau perut Shea. Satu kecupan mendarat di perut Shea.
"Iya, Daddy, aku mau olahraga," ucap Shea pada Bryan dengan suara dibuat seperti anak kecil.
"Kamu," ucap Bryan yang gemas dengan Shea. Satu kecupan pun mendarat di pipi Shea. Shea pun tertawa saat melihat suaminya yang gemas.
Semakin hari Shea semakin mengemaskan. Sikap manjanya pada Bryan, benar-benar membuat Bryan senang. Shea selalu meminta Bryan untuk pulang cepat. Entah karena efek dari kehamilan, Shea semakin ingin selalu dekat dengan suaminya.
"Aku akan pulang malam, karena proyek kerja sama dengan Davis sudah mulai berjalan." Bryan memberitahu rencananya hari ini pada Shea.
Shea sadar proyek dengan perusahaan Helena memang sudah mulai berjalan. Jadi dia sudah harus mengerti. "Iya," jawabnya.
Melanjutkan kegiatan mereka, Bryan mengantarkan Shea untuk ke rumah Selly sebelum dirinya berangkat berkerja. Saat sudah memastikan Shea masuk ke dalam rumah kakaknya, Bryan menuju ke kantornya.
Di kantor Bryan sudah disambut dengan beberapa dokumen laporan awal pembangunan hotel milik Davis. Pengerjaan yang sudah mulai tahap awal memang membuat Bryan harus ekstra keras untuk mengecek.
Pintu terdengar diketuk saat Bryan sedang sibuk dengan dokumennya. "Masuk!" seru Bryan dari dalam ruangannya.
Saat pintu terbuka terlihat Felix masuk ke dalam ruangan Bryan. "Apa kamu sudah mengecek laporannya?" tanyanya.
"Baru saja aku akan mengecek." Bryan membuka datu dokumen dan mengeceknya.
"Sepertinya kamu akan harus mengecek pembangunan awal di sana, Bry."
Bryan mendesah frustrasi saat Felix meminta untuk pergi mengecek pembangunan hotel milik Helena. Rasanya dia berat jika harus mengajak Shea yang sudah hamil delapan bulan. Apalagi Shea yang mudah lelah, dan tidak baik untuk membawanya keluar kota.
"Aku akan bicarakan dengan Shea dulu." Bryan tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Baginya berhubungan dengan Helena sangatlah sensitif. Apalagi ada cerita sebelumnya dengan Helena.
"Apa kamu akan mengajak Shea untuk ke sana?" tanya Felix.
"Aku rasa tidak. Usia kandungan Shea sudah masuk delapan bulan, dan terlalu beresiko jika harus mengajaknya." Bryan menjelaskan pada Felix.
"Kamu benar. Lagipula di sana di daerah pegunungan, jadi jika terjadi apa-apa akan jauh mendapatkan rumah sakit besar."
Bryan mengangguk mendengarkan penjelasan Felix. Yang dikatakan Felix ada benarnya. Karena tidak baik mengajak Shea untuk ke tempat yang fasilitas kesehatan terlalu jauh. "Iya, kami akan pertimbangkan itu."
***
Setelah olahraga bersama Shea kembali ke rumah untuk istirahat sejenak. Bryan yang sibuk di kantor membuat Shea tidak berani mengganggunya untuk sekedar mengajak makan siang bersama. Jadi siang ini rencananya Shea akan makan siang saja di rumah sendiri.
Menunggu jam makan siang, Shea membaca beberapa novel di aplikasi ponsel. Sejak hamil, Shea memang suka sekali membaca. Terkadang dia meminta Bryan untuk membacakannya, saat dia lelah. Saat memainkan ponselnya, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Selly. "Untuk apa Kak Selly menghubungi aku?" gumam Shea.
Mengusap layar ponselnya, dia menempelkan ponselnya di telinganya. "Halo, Kak," ucap Shea pertama kali mengangkat sambungan telepon dari Selly.
"Halo, Se, apa kamu akan makan siang dengan Bryan?" Tanpa menunggu lama Selly langsung bertanya.
"Tidak, Bryan sepertinya sedang sibuk, jadi mungkin dia akan makan siang di kantor bersama Felix."
"Bagus kalau begitu, rencananya aku akan makan siang dengan Regan, sebaiknya kamu ikut juga."
"Apa aku tidak menganggu?" tanya Shea yang merasa tidak enak.
"Kamu pikir aku sedang berkencan hingga kamu menganggu. Aku hanya makan siang biasa."
"Oh ...."
"Ya sudah bersiaplah, aku akan menjemputmu."
"Baiklah." Shea pun mematikan sambungan telepon. Namun, sebelum dia bersiap untuk pergi, dia menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada Bryan. Memberitahu suaminya itu jika dirinya akan makan siang dengan kakak iparnya.
Selesai bersiap Shea memasukkan ponselnya ke dalam tas seraya mengecek pesan dari Bryan. Namun sayangnya, pesannya tidak terbalas. "Mungkin dia sedang sibuk," gumam Shea. Dia pun langsung buru-buru untuk keluar dari kamar menuju mobil Selly yang sudah siap menunggu.
***
Sesampainya di restoran, ternyata sudah ada Regan yang sudah menunggu. Dari yang Shea dengar dari cerita Selly, Regan baru saja bertemu dengan klien.
__ADS_1
"Hai, Sayang," ucap Selly seraya menautkan pipi pada Regan.
"Apa jalanan macet?" tanya Regan yang melihat Selly dan Shea sedikit terlambat datang.
"Iya, mungkin karena jam makan siang jadi sedikit macet," ucap Selly.
Regan pun mengangguk mendengar penjelasan Selly. Dia beralih pada Shea, dan menyapanya. "Hai, Se."
"Hai, Kak."
Mereka pun akhirnya duduk dan memesan makanan. Shea dan Selly sangat antusias melihat daftar menu, hingga memesan beberapa makanan untuk makan siang mereka.
"Apa Bryan sedang sibuk?" Suara Regan di tengah-tengah makan terdengar.
Shea yang sedang makan, mengerti pertanyaan itu ditujukan untuknya. "Iya, dia sedang mengurusi proyek Davis Company."
"Apa pembangunan proyeknya sudah mulai?" tanya Regan kembali.
"Sepertinya sudah, Kak."
Regan pun mengangguk dan melanjutkan makannya. Shea dan Selly yang makan pun sesekali berbicara mengomentari makanan yang di makan. Tawa kecil pun menghiasi obrolan dua ibu hamil, sedangkan Regan hanya bisa diam dan mendengarkan.
Saat sedang menikmati makan, terdengar suara seseorang yang memanggil nama Shea. Merasa namanya dipanggil pun Shea menoleh untuk melihat siapa orang yang memanggilnya. "Kak Alex," ucap Shea saat melihat Alex lah yang memanggilnya.
"Hai, Se," ucap Alex. Dia yang melihat Shea di restoran, menghampiri wanita yang sudah dia anggap adik itu. Alex mengulurkan tangannya.
Shea berdiri dan menerima mengulurkan tangan Alex. "Kakak sedang apa di sini?" tanya Shea.
Alex terkesiap saat mendengar pertanyaan Shea.
"Kami baru saja makan siang dengan Bryan." Suara Helena terdengar menjawab pertanyaan Shea.
Mata Shea langsung beralih pada suara yang terdengar dari belakang Alex, dan dia mendapati Helena yang bersuara. Namun, Shea sedikit bingung karena ternyata Bryan tidak mengabari dirinya tentang pertemuannya dengan Helena.
"Mungkin Bryan belum memberitahu kamu, Se, karena memang tadi aku menghubungi tiba-tiba." Alex yang melihat wajah Shea berubah pun langsung mengerti jika wanita dihadapannya itu sedikit kaget.
Mendengar penjelasan Alex, Shea merasa sangat lega. Pikirnya, mungkin Bryan lupa untuk mengabari dirinya, jika dia sedang ada jadwal bertemu dengan Helena.
Helena yang mendengar hanya bisa mendengus kesal. Niatnya untuk membuat Shea kesal langsung dipatahkan oleh Alex. Rasanya Helena ingin sekali mencekik leher Alex yang menggagalkan aksinya.
"Iya, Kak."
Alex menarik tangan Helena dan membawanya untuk pergi dari restoran tempat Shea. Alex sedikit menyesal saat menghampiri Shea, karena ternyata Helena mengikuti dirinya di belakang, dan merusak suasana.
"Siapa, Se? Tidak sopan sekali," tanya Selly sesaat Alex dan Helena pergi.
"Dia rekan kerja Bryan, CEO Davis Company."
Dahi Selly berkerut mendengar jawaban Shea. "CEO Davis wanita?" tanyanya memastikan.
"Iya, dia baru saja mengantikan papanya." Shea menjelaskan pada Selly.
Selly mengangguk-angguk. "Tapi sepertinya dia menyukai Bryan." Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Selly.
"Kakak salah, justru Bryan yang dulu menyukainya." Shea pun menyangkal ucapan Selly.
"Bryan pernah suka dengan wanita seperti itu?" tanya Selly menatap Shea seolah tidak percaya.
"Iya."
Selly hanya bergidik ngeri membayangkan wanita itu jadi adik iparnya. Walaupun tampak cantik dan modis, tapi kelihatan sekali sangat arogan.
"Apa kalian akan terus bergosip dan tidak melanjutkan makan?" Regan yang mendengar percakapan antara dua wanita hamil hanya bisa menegur.
Selly dan Shea langsung kembali melanjutkan makannya, setelah suara Regan menegur mereka. Namun, Selly masih terus bergosip. Dia memperingatkan Shea untuk hati-hati dengan wanita seperti Helena. Regan pun hanya bisa menggeleng melihat aksi istrinya.
***
Shea yang menunggu Bryan pulang malam pun akhirnya tertidur. Seharian pergi bersama Selly membuatnya kelelahan. Setelah makan siang tadi, Shea dan Selly memutuskan untuk mencari perlengkapan bayi terlebih dahulu, jadi sampai sore Shea baru kembali.
Membuka pintu kamarnya, Bryan melihat istrinya tertidur. Senyum tertarik di bibir Bryan melihat istrinya begitu nyenyak saat tidur. Mendekatkan dirinya, dia mendaratkan satu kecupan di dahi istrinya.
Merasakan hembusan napas dan sentuhan di dahinya, Shea mengerjap. "Kamu sudah pulang?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, sudah tidurlah!" Tangan Bryan membelai pucuk rambut Shea.
"Tidak, aku sudah tidak mengantuk." Sedari tadi Shea memang menunggu Bryan. Satu hal yang ingin dia tanyakan adalah perihal pertemuan Bryan dengan Helena. Walaupun sebenarnya mereka tidak bertemu berdua, tapi dia hanya ingin tahu.
"Baiklah, aku akan mandi, dan aku akan menemanimu tidur." Bryan melepas jasnya, dan membuka kancing kemejanya.
"Apa kamu sudah makan?" Shea menyibak selimutnya dan berdiri. Dia menghampiri Bryan dan meraih jas milik Bryan.
"Sudah, aku tadi makan dengan Felix."
"Apa kamu tidak membaca pesanku?" tanya Shea. Tangan Shea menghentikan tangan Bryan yang membuka kancing kemeja. Mengantikan Bryan, dia membuka kancing kemeja Bryan.
"Pesanmu yang mengatakan jika kamu akan pergi dengan Kak Selly?" tanya Bryan memastikan.
"Iya."
"Bukannya aku sudah membalasnya."
Dahi Shea berkerut. "Tidak ada pesan balasan darimu."
Mendengar ucapan Shea, tangan Bryan meraih ponsel di kantung celananya. Dia melihat pesan yang dikirim oleh Shea. "Aku sudah mengetik, tapi belum sempat aku kirim," ucap Bryan saat melihat layar ponselnya.
"Pantas." Shea hanya memanyunkan bibirnya sedikit merasa kesal.
"Maaf ya, aku seharian sibuk, tadi aku pikir aku sudah membalasnya." Tangan Bryan menangkup wajah Shea dengan kedua tangannya.
"Iya."
Bryan lega istrinya itu tidak marah terlalu lama. "Mana senyumnya?" Bryan menatap lekat wajah istrinya, dan Shea pun langsung tersenyum. "Apa anak daddy hari ini pintar?" tanyanya seraya membelai lembut perut Shea.
"Seharian dia aktif sekali, beberapa kali menendang." Shea menjelaskan apa yang terjadi padanya seharian dengan kandungannya.
"Pintar." Bryan menundukkan tubuhnya dan mengecup perut Shea. "Aku mandi dulu." Tangannya membelai lembut pipi Shea dan berlalu ke kamar mandi.
***
Dalam dekapan Bryan, Shea membelai lembut dan bermain di dada suaminya. Menggambar pola-pola abstrak tepat di dada. "Sayang, apa kamu tadi makan siang dengan Helena?" Akhirnya Shea memberanikan diri bertanya.
"Kamu tahu dari mana?" Bryan menjauhkan tubuh Shea untuk bisa melihat wajah Shea.
"Aku bertemu dengan Helena dan Kak Alex."
Bryan merutuki kesalahannya tidak memberitahu Shea. "Sayang, maaf, tadi Alex menghubungi aku tiba-tiba, jadi aku tidak sempat memberitahumu. Setelah makan siang dan membahas proyek yang sedang berjalan, aku langsung kembali ke kantor bersama Felix." Brayan menjelaskan pada Shea.
"Iya, aku tahu. Aku hanya memastikan saja." Shea lega karena apa yang dijelaskan Alex sama seperti yang Bryan jelaskan.
"Maafkan aku, aku bukan bermaksud membohongimu."
"Aku tidak merasa dibohongi. Aku tahu pekerjaanmu sedang banyak jadi wajar kamu lupa."
"Tapi aku janji, ini tidak akan terulang." Bryan mengeratkan pelukannya. Sebenarnya dia ingin memberitahu Shea perihal kepergiannya untuk mengecek proyek, tapi rasanya Bryan masih terasa berat.
Mungkin besok pagi saja aku akan mengatakannya.
.
.
.
.
.
...Main aja ke IG Myafa16...
...untuk lihat Bryan dan Shea....
...Dan jangan lupa dukung My Baby CEO....
...banyakin koment, banyakin vote, ...
...dan jangan lupa like....
__ADS_1
...Di tunggu hari Senin 21 Desember 2020...