My Baby CEO

My Baby CEO
Rencana


__ADS_3

Setelah menguatkan diri untuk berangkat berkerja, Shea bersiap untuk berkerja. Keluar dari kamarnya, dia menuju meja makan.


Di meja makan, sudah ada Regan dan Selly. Mereka berdua menunggu Shea.


"Pagi, Se," sapa Selly.


"Pagi, Kak." Shea menarik kursi dan duduk di depan Selly. Regan yang berada di ujung meja, membuatnya berada diantara Shea dan Selly.


"Bagaimana tidurmu?" tanya Selly seraya mengoleskan selai di atas roti, dan memberikannya pada Regan sesaat kemudian.


"Em ... pulas, Kak."


"Apa benar kamu pulas? Aku mendengar suaramu di jam dua pagi, sedang menghubungi Bryan." Regan yang menguyah roti bertanya pada Shea.


Shea terkesiap saat mendengar jika Regan mendengar dirinya yang sedang menghubungi Regan semalam.


"Apa kamu tidak bisa tidur semalam?" Selly pun ikut penasaran saat Regan menjelaskan jika Shea semalam tidak tidur.


"Aku tidur, Kak, tapi terbangun saat malam, dan aku coba menghubungi Bryan." Akhirnya Shea pun menjelaskannya.


"Wah ... wah ... aku rasa kamu tidak bisa tidur karena rindu dengan Bryan," goda Selly.


Wajah Shea seketika merona saat Selly mengodanya. Dia tidak bisa menyanggah apa pun ucapan Selly, karena pada kenyataanya dirinya memang tidak bisa tidur karena tidak ada Bryan di sampingnya.


"Tidak apa-apa itu terjadi saat kita sudah memiliki suami. Aku juga dulu begitu saat Regan keluar kota."


Shea pun mengangguk saat Selly menjelaskan.


"Akan tetapi dulu, aku menyusul Regan saat rindu." Selly tertawa kecil saat melihat apa yang di lakukan dirinya dulu.


"Jangan memberi ide itu pada Shea," potong Regan. Regan tahu betul segila apa istrinya jika rindu.


"Kenapa?"


"Shea sedang hamil, dan tidak baik jika Shea berpergian, apa lagi ke luar negeri."


Selly yang mendengar penjelasan Regan, mengerti jika memang di usia kehamilan trimester awal tidak baik untuk kehamilannya.


"Kamu yang sabar ya, Se, semoga Bryan cepat kembali."


Shea hanya mengangguk saja. Dirinya juga memang tidak ada niatan untuk pergi menyusul Bryan.


Setelah sarapan, Shea dan Regan berangkat berkerja. Melajukan mobilnya, Regan menuju ke kantornya.


"Maaf aku mendengarkan pembicaraanmu semalam." Regan yang dari tadi diam akhirnya mulai berbicara.


Apa dia mendengar semua termasuk masalah kissmark?


Shea hanya berpikir apa yang di dengar oleh Regan.


"Namun, aku tidak mendengar semua. Aku hanya mendengar saat Bryan mengatakan jika dia tidak akan pulang sebelum perkerjaanya selesai."


Mendengar ucapan Regan, Shea merasa lega, karena ternyata dia tidak mendengar semua yang di bicarakan dengan Bryan.


"Terimakasih sudah membuat Bryan berubah." Regan menoleh sejenak pada Shea sebelum kembali pada jalanan di hadapannya.


"Aku tidak mengubah apa pun, dia berubah memang karena sudah waktunya dia berubah."


"Kamu benar, dan waktunya itu saat bersamamu."


"Mungkin."


"Aku berharap Bryan tidak menyakitimu lagi." Rasanya masih ada ketakutan di hati Regan saat mengingat apa yang dulu dilakukan Bryan.


"Terimakasih dulu sudah membantuku, dan aku pastikan Bryan tidak akan menyakiti aku lagi." Dengan sikap Bryan yang sudah berubah, Shea yakin jika Bryan tidak akan menyakitinya.


"Baiklah, kalau kamu yakin, tapi jika dia menyakitimu untuk kedua kalinya, kamu tahu harus meminta tolong pada siapa."


"Aku tahu." Kadang Shea berpikir, kebaikan apa yang sudah di perbuatnya di masa lalu, hingga kini dirinya mendapatkan orang-orang baik di sekelilingnya.


***


Saat jam istrihat Shea, Jessie dan Chika makan bersama di kantin kantor.


"Aku melihatmu kemarin pulang bersama Pak Regan, Se." Jessie yang ingin bertanya dari kemarin perihal pulangnya Shea dengan Regan, tetapi dirinya belum mempunyai kesempatan.


"Bryan sedang pergi, jadi aku tinggal di rumah Pak Regan."


"Jadi Bryan sedang pergi?" tanya Chika memastikan.


"Iya."


"Wah ... pasti kamu sangat merindukannya bukan." Jessie pun mengoda Shea.


"Apa kamu rindu, Se?" tanya Chika ingin tahu. Mata Chika menatap menunggu jawaban dari Shea.


"Semalam aku tidak bisa tidur, jadi aku menghubunginya. Apa itu berarti aku rindu?"


"Benar, itu artinya kamu merindukan suamimu." Jessi menjawab pertanyaan Shea.


"Apa itu berarti aku jatuh cinta?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Shea.


Jessie langsung tertawa mendengar pertanyaan Shea. "Kamu ini lucu sekali, bukannya kamu sudah menikah, kenapa bertanya tentang jatuh cinta."


Sejenak Shea lupa, kalau Jessie tidak tahu kenapa dirinya menikah dengan Bryan.


"Maksud Shea, apakah Shea merasa jatuh cinta lagi dengan suaminya," jawab Chika membela Shea, "iya kan, Se?" tanya Chika beralih pada Shea.


"Iya, itu maksudku." Shea merasa beruntung saat Chika membantunya.


"Oh ... itu maksudnya." Jessi mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Chika.


Mereka melanjutkan makannya setelah perbincangan mengenai rindu. Akan tetapi, Shea masih sibuk dengan pikirannya.


"Aku ke toilet sebentar ya," ucap Jessie seraya berdiri meninggalkan Shea dan Chika.


"Terimakasih kamu membantuku tadi." Shea tidak habis pikir jika sampai dirinya ketahuan menikah karena hamil di luar nikah dan bukan karena saling mencintai.


"Tenanglah!" Chika tersenyum saat melihat wajah panik Shea. "Apa itu artinya kamu sudah mencintai Bryan?" tanya Chika lirih.


"Aku rasa begitu. Dari semua tanda-tanda jatuh cinta yang diberikan Jessie, aku sudah merasakannya."


"Wah ... lalu kapan kamu akan mengungkapkan cinta pada Bryan?"

__ADS_1


"Mungkin, rencananya setelah Bryan pulang, aku akan mengatakannya," jawab Shea, "tapi, apa aku tidak apa-apa mengatakan cinta padanya?" Shea merasa ragu saat harus mengungkapkan isi hatinya pada Bryan.


"Bukankah dulu dia sudah mengatakan cinta padamu, anggap saja itu jawaban atas pernyataan cintanya."


Shea mengangguk mengerti. Dia berniat akan mengatakan pada Bryan, saat nanti dia pulang.


***


Setelah makan malam, Shea kembali ke kamarnya. Dia menunggu Bryan menghubunginya.


Sebenarnya tadi jam tiga sore saat Shea berkerja, Bryan sudah menghubunginya, tapi karena Shea sedang berkerja, akhrinya Shea mematikan sambungan teleponnya.


Shea yang tidak bisa tidur karena menunggu Bryan, memainkan ponselnya. Tapi sampai jam menunjukan pukul dua belas malam Bryan tidak menghubunginya sama sekali.


Shea yang menunggu Bryan, merasakan perutnya lapar lagi. "Kamu mau makan ya, Sayang?" tanya Shea seraya membelai perutnya lembut.


Akhirnya Shea memutuskan untuk keluar dari kamar menuju ke dapur. Shea berharap di lemari pendingin akan ada makanan untuk menganjal perutnya yang lapar.


Saat keluar dari kamar, Shea melihat lampu sudah temaram, dan hanya beberapa sudut saja terdapat lampu yang menyala.


Sebenarnya Shea merasa sangat takut, tapi perutnya yang tidak bisa di ajak kompromi membuat dirinya memberanikan diri.


Sampai di dapur, tangan Shea langsung membuka lemari pendingin. Matanya melihat dengan seksama apa isi lemari pendingin.


Matanya berbinar saat menemukan apel. Meraih apel yang, Shea mengambilnya.


"Shea," panggil Regan seraya menyalakan lampu dapur.


Shea yang terjingkat kaget, langsung menjatuhkan apel yang berada di tangannya. Membalikkan tubuhnya dia melihat Regan berada di belakangnya.


"Apa kamu lapar?" tanya Regan seraya mengambil apel yang mengelinding ke arahnya.


"Iya." Shea merasa sangat malu, saat tertangkap basah masuk ke dalam dapur seperti maling. Tangannya langsung menutup pintu lemari pendingin.


"Mau aku buatkan sesuatu?"


"Memangnya Kak Regan bisa buat apa?" Mengingat jika Bryan tidak bisa masak, Shea pun juga merasa jika Regan pun sama.


"Mau aku buatkan spaghetti?"


"Apa benar Kak Regan bisa?" Mata Shea menatap Regan menanti Jawaban Regan.


"Apa kamu meragukan aku?" Regan melangkah menghampiri Shea dan memberikan apel yang tadi jatuh pada Shea, dan Shea pun menerima apel yang di berikan oleh Regan.


"Kak, tidak perlu, aku makan apel saja." Shea tidak menyangka jika Regan akan benar-benar membuatkannya spaghetti.


"Tunggulah di meja makan, aku akan membuatkan untukmu. Kamu bisa memakan apelmu lebih dulu." Regan melangkah mengambil beberapa bahan untuk membuat spaghetti.


Shea masih membeku di depan. Dirinya bingung harus bagaimana. Dia tidak enak jika sampai Selly melihat Regan dan salah paham.


"Apa kamu akan diam di sana?"


"Iya." Dengan terpaksa akhirnya Shea melangkah menuju meja makan untuk menunggu Regan.


Saat Shea sedang menunggu Regan yang membuatkan spaghetti, Shea mendengar langkah kaki, dan saat menoleh, dia mendapati Selly yang sedang melangkah menghampirinya.


"Kamu juga lapar?" tanya Selly seraya menarik kursi dan duduk di samping Shea.


Juga? Rasanya Shea bingung dengan kata juga yang di ucapkan oleh Selly.


Shea yang melihat dua piring spaghetti, baru sadar jika ternyata memang Regan bukan seutuhnya membuatkan spageti untuk dirinya, tapi untuk Selly juga.


Perasaan lega langsung menghampiri Shea. Tadinya Shea benar-benar takut akan menimbulkan salah paham.


"Cepat makan!" perintah Regan.


"Jadi kamu bangun karena lapar, Se?" tanya Selly kembali.


"Iya, Kak," jawab Shea malu.


"Tadi Shea ingin makan apel, karena aku sekalian ingin membuatkan kamu spaghetti, jadi sekaligus aku buatkan." Regan ikut menjelaskan.


"Kalau kamu lapar, kamu bisa minta tolong asisten rumah tangga, Se," ucap Selly pada Shea, "tapi untung tadi ada Regan yang mau membuatkan aku makanan," imbuh Selly.


"Iya, Kak."


***


Setelah perutnya kenyang kembali, Shea kembali ke kamarnya. Saat masuk ke dalam kamar, ponselnya berdering.


Meraih ponselnya di atas nakas, Shea mengusap layar ponselnya. Dia sudah tahu, siapa jam segini yang menghubungi dirinya.


"Halo, Sayang."


Suara yang sudah Shea tunggu dari tadi, akhirnya terdengar dari sambungan telepon. Suara bass terdengar lembut dengan imbuhan panggilan 'sayang' begitu membuat hati Shea tenang.


Wajah yang begitu tak kalah di tunggu Shea juga terpampang di layar ponselnya, dan menambah rona bahagia di wajah Shea.


"Halo, Sayang," balas Shea. Rasanya Shea sudah mulai merasa nyaman dengan panggilan itu pada Bryan.


Mendengar panggilan 'sayang' dari Shea, rasanya lelah Bryan hari ini menguap begitu saja. Senyum manis Shea pun memulihkan tenaganya yang baru terkurang mengurusi semua masalah di kantor cabangnya.


"Apa kamu sudah tidur?" Bryan merasa bersalah menghubungi malam-malam.


"Tidak, aku baru saja selesai makan," ucap Shea malu-malu.


"Makan? Apa kamu baby kita sedang lapar malam ini?"


Shea mengangguk, menjawab pertanyaan Bryan.


"Makan apa kamu?"


"Tadi Kak Regan membuatkan aku spaghetti."


"Oh ... " Bryan hanya mengangguk saat mendengar cerita Regan memasak spaghetti malam-malam untuk Shea.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Shea langsung melempar pertanyaan pada Bryan, sebelum dia mengomentari perihal Regan.


"Belum." Wajah Bryan semakin di tekuk saat mengingat masalah pembangunan proyek properti.


Melihat wajah frustrasi dari Bryan, Shea menduga ada yang tidak beres. "Apa semua baik-baik saja?"


"Terjadi korupsi besar-besaran di sini, dan aku sedang mencari data."

__ADS_1


"Apa semua bisa selesai?"


"Bisa, tapi butuh waktu. Karena aku membutuhkan banyak bukti untuk menyeret ke pengadilan."


"Apa harus sampai ke pengadilan?"


"Ini bukan uang sedikit, jadi aku tidak mau membiarkan orang itu seenaknya saja."


"Aku berharap semua cepat selesai."


"Kenapa jika cepat selesai?" Di tengah rasa pusingnya memikirkan pekerjaannya, Bryan masih menggoda Shea. "Apa kamu mau memberiku kejutan?"


"Mungkin." Shea sudah berniat mengatakan cintanya pada Bryan saat Bryan kembali.


"Beritahu aku, apa yang ingin kamu berikan?"


"Rahasia." Shea tidak mau mengatakan pada Bryan apa yang akan dilakukan.


"Emm ... aku akan menanti kejutanmu." Bryan cukup senang karena Shea sudah mulai bertahap membuka hatinya.


"Apa kamu sudah mengantuk?"


"Kenapa?"


"Aku sudah mengantuk." Shea yang baru saja makan, merasakan ngantuk.


"Baiklah, sebaiknya kamu tidur," ucap Bryan, "kecup rinduku untukmu dan baby kita."


"Terimakasih daddy," ucap Shea mengarahkan ponselnya ke arah perutnya. "Selamat malam ... Sayang."


Shea mematikan sambungan telepon dan meletakkan ponselnya di nakas. Memejamkan matanya, Shea berusaha untuk tidur.


***


Pagi ini Bryan sudah sampai di kantor cabang. Setelah kemarin dirinya meminta data-data, hari ini dia mengecek dan mencari bukti kembali.


"Pak, sepertinya ini semua sudah terencana." Manager pelaksanan memberitahu Bryan.


Selama manager pelaksanaan-lah yang memberitahu Bryan adanya pembangunan proyek yabg macet.


"Ada orang dalam yang memang sengaja membuat korupsi ini agar pembangunan tidak berjalan dengan lancar."


Bryan terkejut mendengar ucapan managernya. Dirinya menyangka jika ternyata ada orang yang sengaja melakukan semua ini. Dia berpikir untuk tidak bisa gegabah mengambil keputusan, karena ini bisa saja menyerangnya balik padanya.


"Apa maksudmu, beberapa orang terlibat?"


"Sepertinya begitu, Pak."


"Pastikan jangan sampai ada yang tahu jika kita sedang menyelidiki ini." Bryan tidak mau langkahnya salah, saat mencari informasi.


"Baiklah."


Mananger pun keluar dan meninggalkan Bryan sendiri. Bryan menyandarkan tubuhnya di kursi. Dirinya tidak menyangka akan serumit ini persoalannya.


Aku tidak yakin bisa pulang cepat, jika persoalan seberat ini.


Dirinya tidak bisa membayangkan seberapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan semua masalah perusahaan.


Bryan sedikit menyesali, karena selama ini meremeh perkerjaan. Kegemarannya meninggalkan perkerjaan membuatnya tidak fokus pada perkerjaan. Mungkin itulah yang di manfaatkan orang untuk melakukan hal buruk di belakangnya.


Memutar ingatannya, dia mengingat jika waktu dirinya disini untuk mengurus proyek selama sebulan, dirinya malah menghabiskan malam di club.


Pikirannya yang di hiasi dengan tubuh Shea membuatnya kacau. Dirinya selalu terbayang bagaimana menikmati tubuh Shea pertama kali. Hingga akhirnya dirinya tidak fokus pada pekerjaan.


Saat memikirkan malam-malam di club, dia teringat satu nama.


Meraih ponselnya, Bryan mencoha menghubungi Felix. Bryan berpikir jika dirinya bisa meminta tolong Felix mencarikan informasi.


"Halo, Bry," sapa Felix saat mengangkat sambungan telepon.


"Halo."


"Ada apa menghubungiku?"


"Bisakah kamu cari info tentang Kevin." Satu nama yang diingat Bryan adalah sepupunya sendiri Kevin Adion.


"Kenapa memang dengan Kevin? Apa dia terlibat?"


"Aku hanya menduga dia terlihat. Karena aku ingat betul, jika dia yang selalu mengajakku ke club sewaktu aku menangani proyek disini."


Bryan mengingat jika waktu itu memang dirinya pergi ke luar negeri bersama dengan Kevin.


"Apa dia sengaja melakukannya agar bisa mengantikan dirimu?"


Bryan menghela napasnya. Walaupun dirinya adalah satu-satunya anak dari Daniel dan Melisa Adion, tetap saja peluang itu akan ada.


Apa lagi papanya yang melihat sebelah mata padanya, membuat Bryan yakin papanya tidak akan keberatan jika ada orang mengantikan dirinya.


"Aku belum sejauh itu mengarahkan kesana."


"Baiklah aku akan mengecek dari sini. Tetaplah berhati-hati disana."


"Baiklah." Bryan langsung mematikan sambungan telepon, setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan Felix.


Kembali menyandarkan tubuhnya di kursi, pikirannya kembali melayang memikirkan Kevin. Kevin adalah anak dari Martin Adion-adik Daniel Adion.


Bryan mengingat cerita dari papanya. Dulu sewaktu papanya membangun perusahaanya, pamannya itu ikut membantu.


Daniel dulu membangun perusahaan dari nol, karena memang Adion Company murni hasil kerja kerasnya, dan bukan perusahaan turunan dari kakeknya. Sebagai ucapan terimakasih pun papanya memberikan sepuluh persen saham di perusahaan untuk adiknya.


Seiring Bryan dan Kevin dewasa, Daniel memberikan Bryan posisi CEO sedangkan Kevin diberikan posisi General manager.


Kalau benar kamu yang merencanakan semua ini, aku tidak akan mengampunimu.


Rasanya Bryan tidak tahu apa jadinya jika sepupunya sendiri yang melakukannya.


.


.


.


.

__ADS_1


Up jam 12wib


Jangan lupa like dan vote.


__ADS_2