My Baby CEO

My Baby CEO
Parfum


__ADS_3

Setelah mendapatkan alamat Bryan langsung menuju ke makam. Perasaannya begitu menyesal saat tahu jika ternyata ungkapan cinta yang harusnya untuknya malah salah sasaran.


Jika dulu aku yang salah sasaran, aku bisa bersama dengan Shea. Namun, sekarang jika Shea yang salah sasaran menyatakan cinta, aku bisa-bisa tidak bisa bersamanya.


Pikiran Bryan di penuhi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika benar-benar Shea salah menyatakan cintanya.


Sampai di area pemakaman, Bryan turun dari mobil. Berbekal alamat yang diberikan Chika, dia mencari pemakaman kedua orang tua Shea.


Bryan mengedarkan matanya mencari blok makam orang tua Shea. Akan tetapi sepanjang matanya memandang, tidak tampak Shea di area pemakanan.


Setelah mencari cukup lama makam orang tua Shea, akhirnya Bryan menemukannya. Namun, sayangnya tidak ada Shea di makam kedua orang tua istrinya itu.


Bryan jongkok untuk menjangkau makam kedua orang tua Shea. Karena dia sudah sampai di makam, dia berpikir untuk memanjatkan doa dulu untuk kedua mertuanya yang belum pernah ia temui.


Setelah berdoa, Bryan menyapa makam kedua orang tua Shea. "Bapak dan IBu, mungkin itu panggilan yang biasa Shea berikan bukan?" tanyanya pada makam yang mungkin tidak akan menjawab pertanyaanya.


"Aku Bryan suami Shea, mungkin kalian baru tahu, karena aku baru kemari. Maaf kalau aku baru berkunjung." Mata Bryan terus memandangi makam bertuliskan nama kedua orang tua Shea.


"Aku mau berterima kasih, sudah menghadirkan wanita cantik dan baik seperti putri kalian. Aku tidak bisa berjanji banyak, tapi aku akan menjaganya, karena aku begitu mencintainya." Bryan tersenyum saat mengungkapkan isi hatinya pada makam yang tak akan menjawabnya.


Setelah puas menyapa dan berdoa di makam kedua orang tua Shea, dia memutuskan untuk mencari Shea kembali. Pikiran Bryan masih benar-benar khwatir saat tidak menemukan istrinya di makam. Dia tidak tahu harus mencari kemana lagi istrinya itu.


Namun, baru saja Bryan melangkah, seseorang memanggilnya. Dia pun berhenti untuk menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya.


"Apa Bapak kerabat dari pemilik makam ini?" tanya seorang pria paruh baya pada Bryan seraya menunjuk makam kedua orang tua Shea.


"Iya, saya menantunya."


"Apa berarti wanita yang tadi datang istri Anda?"


Bryan membulatkan matanya saat mendengar pria paruh baya itu menanyakan Shea. "Iya, itu istri saya, apa Bapak melihat?"


"Iya, saya melihat, karena tadi dia pingsan di sini."


"Apa?" tanya Bryan kaget. Perasaannya menjadi tidak keruan saat mendengar Shea pingsan. "Dimana dia sekarang?"


"Tadi kami membawanya ke Klinik di seberang sana, Pak," ucap pria paruh baya seraya menujuk sebuah klinik kecil di seberang makam.


"Terimakasih, Pak, infonya." Bryan pun langsung berlalu menuju ke Klinik. Dia ingin tahu apa yang terjadi pada istrinya.


Seraya berjalan melalui beberapa makam, dia keluar dari area pemakaman. Karena Klinik terdapat di seberang makam, Bryan memutuskan untuk meninggalkan mobilnya di area makam saja.


"Apa ada wanita yang tadi pingsan dibawa kemari tadi?" tanya Bryan pada perawat di klinik.


"Iya, Pak, ada di ruang rawat."


"Antarkan saya!" Bryan begitu panik saat tahu jika benar Shea ada di klinik.


Perawat yang melihat Bryan panik pun akhirnya mengantarkan Bryan menuju ruang rawat dimana Shea di rawat.


Saat sampai di ruang rawat Bryan melihat dokter yang baru saja keluar dari ruang rawat.


"Dok, Bapak ini mencari wanita yang tadi pingsan," ucap perawat.


"Saya suaminya," timpal Bryan.


Dokter pun mengangguk. "Silakan." Dokter mempersilakan Bryan untuk masuk ke dalam ruang rawat.


Saat masuk ruang rawat, Bryan melihat Shea terbaring lemah di ranjang dengan selang infus yang mengalir ke tangannya. Melangkah menghampiri Shea, dia mengenggam tangan Shea. Perasaan Bryan diliputi rasa bersalah, karena membuat Shea sampai tergeletak di ranjang Klinik.


"Apa dia belum sadar dari tadi?" tanya Bryan menoleh pada dokter.


"Sudah, Pak, tapi karena tubuhnya masih lemas dia kembali tertidur."


"Apa yang membuatnya pingsan?"


"Sepertinya istri Anda belum makan, jadi tubuhnya lemas." Dokter menjelaskan pada Bryan.


Melihat Shea dihadapannya yang begitu lemas, Bryan tidak tega. Walaupun wajah Shea sudah tidak pucat karena mungkin infus sudah masuk ke dalam tubuhnya, wajah Shea masih meninggalkan warna sedikit pucat.


"Saya harap Anda bisa menjaga asupan nutrisi istri Anda, Pak. Karena dalam kondisi hamil, nutrisi sangat di butuhkan untuk ibu dan anaknya."


"Baik, Dok."


"Saya permisi kalau begitu." Dokter pun meninggalkan Bryan yang menemani Shea.


Tangan Bryan terus mengenggam tangan Shea. Rasanya dia takut terjadi hal buruk pada Shea dan anaknya.


Bryan merutuki kesalahannya yang meninggalkan Shea sendiri di rumah. Padahal dia sadar, jika Shea sedang hamil dan butuh dirinya.


Saat merasakan tangannya di genggam, Shea membuka matanya perlahan. Sebenarnya tadi dia sudah bangun, tapi karna begitu sangat lemas, akhinya dia memejamkan kembali matanya.


"Bryan," ucap Shea. Dia masih menyadarkan dirinya bahwa yang di lihatnya bukanlah imajinasinya saja.


"Iya, Sayang, ini aku," ucap Bryan seraya menciumi tangan Shea.


Merasakan ciuman di tangannya, Shea sadar jika yang dilihatnya bukanlah khayalannya saja. "Bagaimana kamu tahu aku disini?" Pertanyaan pertama yang diucapkan oleh Shea.

__ADS_1


"Aku sudah menaruh GPS di tubuhmu, jadi aku akan tahu kamu dimana."


Shea hanya menarik senyumnya tipis, saat mendengar ucapan Bryan.


"Aku rindu senyumanmu ini." Bryan membelai pipi Shea. Dirinya yang sudah tiga minggu tidak bertemu dengan Shea, dan dirinya benar-benar menyesal membuang kesempatan karena kekesalannya semalam.


Shea memejamkan matanya merasakan sentuhan lembut Bryan di pipinya. Dia merindukan sentuhan dari tangan Bryan, tapi sejenak dia teringat sesuatu, dan langsung membuang muka.


"Sayang," panggil Bryan. Dia merasa bingung kenapa Shea marah.


Bukannya harusnya aku yang marah, kenapa jadi dia yang marah. Benar kata Felix, istriku memang lebih menakutkan.


Bryan hanya bisa membatin apa yang dihadapinya sekarang.


Saat sedang berusaha merayu, pintu kamar rawat yang ditempati Shea terdengar diketuk. Bryan dan Shea menoleh dan mendapati perawat mengantarkan makanan.


Perawat pun meletakkan makanan di meja yang terdapat di meja yang berada di kamar rawat, dan berlalu setelah menyelesaikan tugasnya.


"Makan ya, Sayang," ucap Bryan membujuk Shea.


Shea masih merasakan kesal pun memilih diam.


"Pikirkan anak kita, kamu pingsan karena belum makan, jadi aku mohon, jangan egois." Bryan menatap lekat wajah Shea, dan berusaha membujuknya.


Shea menghela napasnya, membenarkan ucapan Bryan. Diingat apa yang baru saja terjadi padanya. Karena memilih mencari Bryan, pagi-pagi dia melupakan makan paginya. Hingga akhrinya ia harus jatuh pingsan di makam.


Anggukan Shea menjawab jika dirinya mau makan, dan itu membuat wajah Bryan tersenyum. Dengan telaten Bryan menyuapi Shea.


"Kenapa tidak mengajak jika ingin ke makam?" Suara Bryan memecah keheningan di saat Shea sibuk dengan kunyahan makanan di mulutnya.


Mata Shea hanya melirik tajam pada Bryan. "Tanyakan pada ponselmu, kenapa dia tidak ada nada deringnya?"


"Nada deringnya ada," elak Bryan.


"Ya, jadi salahkan telingamu yang tidak dengar," ucap Shea ketus, dia memutar bola matanya malas.


Bryan hanya menelan salivanya kasar, saat amarah Shea terlihat sangat menakutkan. Dirinya tahu, jika dirinyalah yang salah, karena tidak mendengar ponselnya berdering. Dalam keadaan mabuk, pastinya dia tidak akan fokus pada ponselnya.


Setelah makan, dan infus yang di pasang sudah habis juga, akhirnya Shea di izinkan pulang.


"Aku akan mangambil mobil dulu di pemakaman." Bryan pun meminta Shea menunggu.


Pemakaman? Apa dia tadi kesana mencariku?


Shea yang melihat Bryan pergi hanya bisa memikirkan apa yang dilakukan Bryan di pemakaman.


"Apa kamu tadi ke makam orang tuaku?"


"Iya, aku kesana berkenalan dengan mertuaku?" Bryan tersenyum dan menoleh pada Shea sejenak, sebelum kembali pada jalanan di depan.


"Dari mana kamu tahu makam kedua orang tuaku?" Shea merasa tidak pernah memberitahu Bryan dimana makam oang tuanya.


"Aku tahu karena hatiku yang mengatakannya."


Shea hanya memutar bola matanya malas, saat mendengar ucapan Bryan yang tidak jelas. Akhirnya Shea yang malas berbicara dengan Bryan memilih tidur.


Menoleh ke samping, Bryan melihat jika Shea tertidur. Kamu tidur untuk menghindar dariku atau kamu memang benar-benar tidur?


Saat sedang fokus mengendari mobilnya, Bryan mendengar suara ponselnya. Memakai bluetooth handsfree dia berbicara.


"Halo, Bry."


Mendengar sapaan dari seberang sambungan telepnnya, dia sudah tahu siapa yang menghubunginya. "Ya, Kak." Bryan menjawab sapaan Selly.


"Apa Shea sudah pulang?"


"Kami sedang dalam perjalanan pulang."


"Syukurlah jika Shea sudah pulang. Hati-hati kalian di jalan."


"Iya." Bryan pun mematikan sambungan telepon, dan kembali fokus pada jalanan. Bryan pikir kakaknya itu akan marah dengan Shea yang memeluk suaminya, tapi dari cara kakaknya menanyakan Shea, Bryan menebak jika kakaknya tidak marah.


Sesampainya di rumah, Bryan melihat Shea yang masih tertidur pulas. Karena merasa tidak tega, Bryan pun berniat mengendong Shea.


Turun dari mobil, Bryan beralih menuju ke sisi mobil, dan membuka pintu. Menangkup tubuh Shea dengan kedua tangannya, Bryan membawa Shea dalam pelukannya.


Ya Tuhan, kamu berat sekali, apa semenjak hamil kamu makan banyak? Bryan hanya bisa mengerutu dalam hatinya.


Membawa Shea ke dalam rumah, dia kesulitan untuk membuka pintu rumah. Namun, saat dirinya sedang sibuk membuka pintu, Shea mengerjap.


"Ach ... " teriak Shea saat merasakan tubuhnya melayang.


"Sayang, jangan bergerak nanti kamu jatuh!" Bryan yang merasakan tubuh Shea goyang pun takut jika akan membuat Shea jatuh dari gendongannya.


Tangan Shea langsung melingkar di leher Bryan agar dirinya tidak terjatuh. "Kenapa kamu mengendongku?" Mata Shea mendelik saat bertanya pada Bryan.


"Tadi kamu tidur, jadi aku mengendongmu."

__ADS_1


"Kenapa tidak membangunkan aku saja?"


"Aku tidak tega," ucap Bryan, "sudah jangan banyak bertanya, tolong bukakan pintunya, badanmu berat sekali sekarang."


"Kalau berat, turunkan saja!" ucap Shea malas.


"Sayang, tolong bukakan." Suara lembut dan merdu Bryan lontarkan untuk membujuk istrinya.


Dengan tatapan malas, Shea meraih kunci di tangan Bryan dan membuka pintu. Karena posisi Shea agak miring, membuatnya sedikit susah untuk membuka pintu. "Susah," keluh Shea, "kamu turunkan saja aku!"


"Sudah cepat!" Bryan mengabaikan Shea yang memintanya menurunkannya.


Akhirnya Shea melanjutkan membuka pintu rumah dan berhasil. Saat sudah berhasil, Bryan masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan kakinya. Melanjutkan langkahnya, Bryan membawa Shea ke kamar atas.


"Turunkan aku, Bryan."


"Bryan?" Bryan menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada Shea. Dia tidak suka Shea memanggilnya dengan nama.


Shea membuang muka dan tidak membalas tatapan Bryan, saat suaminya itu menatap seolah memberikannya protes.


"Panggil aku seperti kemarin," pinta Bryan seraya melanjutkan langkahnya.


"Tidak mau!"


"Kenapa?" Langkah Bryan pun akhirnya sampai di kamarnya.


"Turunkan aku dulu, baru aku akan jelaskan."


Bryan menurunkan Shea di atas tempat tidur, dan membuatnya berada di bawah kungkungannya. Dia tidak mau sampai Shea pergi dan tidak menjelaskan padanya. "Coba jelaskan?"


"Aku kesal denganmu." Mata Shea mematap pada kedua bola mata Bryan, tapi pandangan kesal yang terlihat di dalamnya.


"Bukannya aku yang harusnya kesal?" Suara Bryan rendah tapi penuh penekanan, dia ingin Shea tahu siapa yang di sini bersalah.


"Aku sudah jelaskan bukan itu salah paham, aku tidak mencintai Kak Regan, dan yang terjadi kemarin adalah- "


Belum selesai Shea menjelaskan, Bryan sudah membungkam mulut Shea dengan bibirnya. Bibir tipis yang dia rindukan dikecupnya lembut. Menyesap manisnya bibir Shea, dia memberikan gigitan kecil agar Shea membuka mulutnya.


Ciuman semakin dalam saat tangan Shea yang dari tadi berada di leher Bryan menariknya maju.


Bryan pun tak melepaskan kesempatan merasakan kenikmatan yang sudah dia rindukan beberapa minggu ini. Memperdalam ciumannya, dia menyesap lebih rakus bibir tipis yang dari tadi tak berhenti berprotes. Kecapan pertemuan antara dua bibir itu pun mengisi keheningan kamar.


Saat napas mulai terengah, Bryan melepas ciuamannya. "Maafkan aku," ucap Bryan seraya mengusap bibir basah milik Shea.


"Aku yang harusnya minta maaf, karena tadinya aku mau memberikan kejutan padamu, tapi aku tidak tahu jika ternyata Kak Regan yang disana." Suara serak Shea menandakan jika dirinya menahan tangisnya.


"Bagaimana dirimu bisa menganggap Kak Regan aku?" Ingin rasanya Bryan tahu alasan Shea memeluk Regan.


"Saat aku masuk ke dalam kamar, aku mencium aroma parfum milikmu, jadi aku pikir itu dirimu, dan aku langsung memeluk. Akan tetapi saat aku sadar itu bukan tubuhmu aku melepasnya."


"Parfum?" tanya Bryan memastikan.


"Iya."


Bryan memutar pikirannya untuk mencari bagaiamana bisa Regan memakai parfum miliknya. "Kak Selly," ucap Bryan saat mengingat semuanya.


"Kak Selly? Apa hubungannya parfum dengan Kak Selly?" Shea merasa bingung dengan pengabungan dua hal itu.


"Apa kamu lupa jika Kak Selly pernah meminta parfum milikku, bisa jadi Kak Regan memakai parfumku saat itu."


Shea mulai mengerti kenapa bisa parfum Bryan tercium olehnya tapi ternyata Regan yang dipeluknya.


"Sayangnya kamu melepas pelukan disaat aku sudah mendengar ungkapan cintamu pada Kak Regan."


"Iya, semua jadi berantakan saat aku salah mengira jika itu kamu," jawab Shea dengan perasaan dipenuhi penyesalan.


"Untung aku tadi bertemu Felix kalau tidak aku tidak akan tahu jika kamu akan mengunggkapkan cinta padaku."


"Jadi kamu lebih percaya orang lain dari pada aku." Shea membuang wajahnya saat mendengar ucapan Bryan. Dia ingat semalam sepeti apa Bryan menuduhnya.


"Bukan begitu."


"Memang kenyataanya begitu," ucap Shea malas.


"Oke-oke aku salah, maaf." Bryan menarik lembut wajah Shea untuk melihat kearahnya. Dia tidak mau memperdebatkan masalah ini lagi.


Wajah Shea yang tepat berada dihadapannya membuatnya menyusuri wajah Shea. "Apa kejutannya masih ada?" bisik Bryan pada Shea.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote


__ADS_2