
Shea yang dihubungi oleh Selly, kalau dia di rumah mama Melisa, akhirnya memutuskan untuk langsung ke rumah mertuanya itu.
Saat Bryan dan Shea baru saja datang mereka sudah disambut di depan pintu oleh Selly dan mertuanya. "Ma," ucap Shea yang baru saja keluar dari mobilnya. Dia menghampiri kakak ipar dan mertuanya. Menyapa keduanya, Shea menautkan pipinya pada mereka secara bergantian.
"Wah ... gulali." Selly yang melihat Shea membawakan gulali pun merasa sangat senang.
"Ini untuk Kakak," ucap Shea seraya memberikan gulali pada Selly.
"Untukku?" tanya Selly.
"Iya, tadi aku memang pergi ke taman hiburan untuk membeli gulali. Jadi aku pikir untuk membalikan untuk kakak juga." Senyum manis terlihat di wajah Shea.
"Terima kasih." Selly membalas dengan senyuman yang tak kalah indah di wajahnya. Apalagi mendapatkan gulali manis, pastilah sangat membuatnya senang.
Melisa yang melihat anak dan menantunya begitu dekat dan akur merasa sangat senang. Dia sangat lega karena anak-anaknya hidup bahagia dengan pasangannya masing-masing. "Bryan di mana?" tanya Melisa yang melihat baru Shea saja yang turun dari mobil.
Saat Melisa menanyakan anaknya itu, Bryan keluar dari mobil dan berjalan menuju ke arah Melisa. Mata Melisa membulat sempurna melihat anaknya. "Bry, kamu kenapa?" tanyanya.
"Bry, kamu sedang jadi badut?" timpal Selly yang tak bisa menahan tawanya. Bagiamana bisa Selly tidak tertawa, jika dia melihat adiknya dengan make up seperti badut dengan wajah putih, bibir merah, dan hidung bak tomat.
Bryan mendengus kesal saat kakaknya menertawakannya. Rasanya dia ingin sekali marah, tapi apa daya jika semua ini adalah keinginan istrinya.
"Tadi Bryan menjadi badut untuk menuruti aku." Suara Shea menjawab pertanyaan Selly dan mertuanya. Dia pun akhirnya menceritakan pada kakak ipar dan mertuanya itu.
"Sayang, lihat ada badut," ucap Shea di tengah-tengah menikmati gulalinya.
Bryan menoleh melihat para pria yang menjadi badut, sedang asik memakai make up, di sudut taman hiburan. Mereka semua bersiap untuk menghibur anak-anak pengunjung taman hiburan. "Iya."
"Sayang, aku mau foto dengan badut," ucap Shea dengan begitu antusias melihat beberapa badut yang sudah selesai, melayani para pengunjung untuk berfoto ria.
Mata Bryan menajam saat mendengar istrinya itu akan minta foto dengan badut. Dari kejauhan, Bryan melihat orang-orang yang berfoto dengan badut. Namun, bukan itu fokus Bryan, melainkan pose mereka yang dekat. Belum lagi tangan mereka memegang pundak salah satu pengunjung. "Tidak!"
Shea yang sedang melihat orang-orang sedang berfoto langsung beralih menatap Bryan. "Kenapa?" tanyanya.
"Apa kamu tidak lihat bagaimana para badut itu berpose dekat dengan para pengunjung." Bryan menjelaskan seraya melihat ke arah para badut.
"Aku bisa berpose agak jauh," jawab Shea yang masih tidak terima.
"Pokoknya tidak!"
Shea langsung memutar tubuhnya seperti anak kecil yang merajuk. Dia tidak mau melihat Bryan karena benar-benar kesal dengan larangan yang diberikan oleh suaminya itu.
Bryan mendesah frustrasi dengan istrinya yang merajuk karena tidak di turuti keinginan. "Sayang," bujuk Bryan seraya menarik lembut bahu Shea agar istrinya itu berbalik. Namun, tampaknya Bryan gagal membujuk Shea, karena istrinya itu tidak mau menoleh. "Baiklah kalau begitu." Akhirnya Bryan memberikan izin pada istrinya untuk berfoto dengan badut.
"Benarkah boleh?" tanya Shea berbinar saat mendengar Bryan mengizinkannya.
__ADS_1
"Tetapi tidak boleh dekat-dekat."
"Sayang, kalau tidak dekat bagaimana aku bisa berfoto."
"Bukanya tadi kamu mengatakan jika kamu tidak akan dekat-dekat." Bryan yang merasa dibohongin menjadi sangat kesal.
Shea memanyunkan bibirnya, dia pikir setelah mengizinkan dirinya bisa berfoto dengan tenang. "Bagaimana jika kamu yang jadi badutnya, jadi aku tidak perlu untuk berjauh-jauh, bukan?" Saat memikirkan cara untuk berfoto dengan badut, terlintas ide menjadikan Bryan badut.
"Aku tidak mau!"
"Ya sudah, kalau tidak mau, aku akan berfoto dekat dengan badut." Shea berucap seraya melirik Bryan. Dia tahu ancamannya akan sangat mempan untuk suaminya itu.
"Baiklah! Aku mau." Bryan yang tidak rela istrinya berdekatan dengan orang lain pun, akhirnya menuruti keinginan Shea.
Mendengar suaminya mau, Shea langsung menarik lembut tangan Bryan. Dia langsung menemui para badut, dan menjelaskan keinginannya yang ingin berfoto dengan suaminya yang berpenampilan badut. Shea juga menjelaskan jika semuanya keinginan dari anaknya yang berada di dalam kandungan.
Orang-orang yang berprofesi sebagai badut pun tidak keberatan dengan keinginan Shea. Mereka mengajak Bryan dan Shea bergabung untuk berias wajah. Dengan segala kepasrahannya, Bryan menyerahkan wajah tampannya berubah jadi badut. Shea yang duduk di samping Bryan, begitu senang melihat suaminya sedang dirias.
Setelah dirias dengan wajah putih, bibir merah dan hidung tomat, Bryan melanjutkan memakai kostum badut. Saat penampilannya sudah sempurna, Bryan meminta salah satu badut untuk memfoto dia dan Shea. Beberapa pose pun Bryan dan Shea lakukan. Wajah bahagia Shea pun terpancar nyata di wajahnya saat keinginannya sudah dituruti.
"Jadi Bryan menjadi badut karena kamu?" Setelah mendengar cerita dari Shea, Selly langsung bertanya.
"Iya," jawab Shea seraya memamerkan deretan gigi putihnya.
Bryan melirik tajam pada kakaknya. "Itu bukan foto kehamilan," elak Bryan.
"Sudah-sudah, berhenti menertawakan adikmu!" ucap Melisa pada pada anak perempuannya. Selly pun langsung berhenti saat mendengar mamanya menegurnya.
Melisa sebenarnya ingin sekali tertawa. Namun, dia bangga karena anaknya begitu mencintai istrinya, hingga rela menjadi badut. "Sudah, pergi bersihkan wajahmu!" Melisa beralih pada Bryan, dan memerintahkan putranya itu untuk segera membersihkan diri.
Bryan mengangguk, dan masuk ke dalam rumah. Diikuti Shea, Selly dan Melisa yang berjalan di belakang Bryan. Saat Bryan masuk ke dalam rumah, dia berpapasan dengan Regan dan papanya.
"Bry, kenapa wajah kamu?" Regan yang melihat wajah Bryan sedikit heran.
Mendapati pertanyaan yang sama tentang wajahnya Bryan memutar bola matanya malas. Tanpa Menjawab dia berlalu begitu saja, menuju ke kamarnya.
Tidak mendapat jawaban dari Bryan, Regan menatap pada Selly. "Kenapa?" tanyanya lirih.
Sely menahan tawanya, saat Regan bertanya pada Bryan. "Shea ingin berfoto dengan badut, dan Bryan yang jadi badutnya." Selly menjelaskan pada suaminya.
Regan langsung menatap ke arah Shea, seakan tatapannya memberikan pertanyaan pada Shea. Shea yang di tatap Regan pun hanya tersenyum polos mengingat ulahnya.
"Sudah-sudah, jangan bahas adikmu lagi. Kamu juga sedang hamil, dan sering menyuruh Regan yang aneh-aneh," potong Melisa menatap Selly.
Regan yang mendengar ucapan mertuanya hanya bisa membenarkan dalam hatinya jika yang dikatakan mertuanya benar. Dia pun mengalami hal yang sama. Namun, bedanya tidak ada orang yang tahu.
__ADS_1
"Se, urus suamimu dulu!" Melisa beralih pada Shea, dan Shea pun mengangguk.
Meninggalkan anggota keluarga yang lain, Shea menuju ke kamar untuk menyusul Bryan. Saat masuk ke dalam kamar, Shea melihat suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah membersihkan wajahnya. Dia melangkah masuk lebih dalam ke kamar, menghampiri suaminya yang sedang mengusap wajahnya dengan handuk.
"Apa kamu marah?" tanyanya seraya memeluk Bryan. Pelukan yang terhalang dengan perut buncit Shea tidak mengurangi kehangatan yang dia berikan untuk suaminya itu.
Merasakan pelukan hangat yang datang dari istrinya, Bryan memegang tangan Shea dan melepaskannya. Dia memutar tubuhnya untuk melihat ke arah wajah Shea yang merasa bersalah. "Menurutmu?" tanyanya.
"Maaf," ucap Shea melingkarkan tangannya di leher Bryan.
"Hanya maaf?"
Shea selalu tahu apa yang bisa meredakan suaminya. Dengan sedikit berjinjit, dia mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya. Satu kecupan dia berikan pada bibir suaminya. Namun, sayang niatnya yang hanya memberikan kecupan, harus berubah saat Bryan melanjutkan dengan sebuah ciuman panas.
Dengan rakus Bryan mencium bibir istrinya, dia meluapkan rasa kesal dan gemasnya pada istrinya itu. Menarik pinggang istrinya Bryan memperdalam ciumannya. Sesaat rasa kesalnya mereda saat pertukaran saliva yang begitu memberikan kenikmatan itu terjadi.
"Aku sudah tidak marah," ucap Bryan sesaat setelah melepas pelukannya. Tangannya mengusap bibir basah istrinya. "Bagaimana aku bisa marah padamu," ucapnya.
"Benarkah?" tanya Shea menggoda.
"Sebenarnya tidak juga, tapi jika nanti suatu saat aku marah, aku mohon redakan," ucap Bryan, "kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bukan?"
Shea mengangguk. Dia memang tahu setiap manusia tidak mungkin tidak memiliki perasaan marah. Perasaan marah bisa datang dalam situasi dan kondisi apa pun, dan akan menguasai manusia untuk bertindak melebihi batas mereka. Namun, setiap orang punya cara meredakan masing-masing.
"Ayo, pasti semua menunggu." Bryan melepas pelukannya dan beralih menautkan jari jemarinya pada jari jemari Shea. Menarik lembut tangan istrinya dia membawa istrinya itu keluar dari kamar.
.
.
.
.
.
Sebenarnya aku hari ini ga mau up, karena tangan aku masih sakit, dan nulis juga pelan-pelan. Jadi mungkin bab ini dan besok2 akan sedikit. Semoga melepas rindu kalian sama BryShe ya...
Buat kalian yang mau info, bisa gabung di grup, tapi pastiin kalian koment ya. Kalau ga di terima di grup bisa follow.
IG Myafa16
FB Myafa
...Jangan lupa Like dan Vote...
__ADS_1