My Baby CEO

My Baby CEO
Nikmati kencan kita


__ADS_3

Setelah memutuskan pulang, Bryan melajukan mobilnya. Tujuannya adalah Rumah sakit. Bryan ingin memastikan, jika Shea baik-baik saja.


"Bryan, aku sudah bilang bukan, aku baik-baik." Shea merasa tidak perlu untuk mengecek kandungan Shea. "Lagi pula, ini hari libur, dokter Lyra pasti juga tidak praktek."


"Kita coba dulu." Bryan masih tetap dengan keteguhannya untuk memeriksakan kandungan Shea.


Sesampainya di Rumah sakit, Bryan langsung mendaftarkan diri. Tetapi sayangnya, ternyata dokter Lyra sudah selesai praktek dan sudah pulang.


"Aku sudah bilang bukan, kalau dokter Lyra pasti tidak ada." Shea mencebikkan bibirnya kesal saat Bryan tidak mau mendengarkannya.


"Bryan, Kakak ipar," panggil Erik. Erik yang baru saja akan ingin pulang melihat Shea dan Bryan.


Bryan dan Shea pun menoleh saat mendengar seseorang memanggil nama mereka.


"Ada apa kalian kemari?"


Saat melihat Erik, akhirnya Bryan berpikir untuk memeriksakan saja Shea pada Erik. "Kami ingin memeriksakan kandungan pada dokter Lyra, tapi dokter Lyra tidak ada," jelas Bryan, "bisakah kamu memeriksa Shea?" lanjut Bryan bertanya.


"Memang Kakak ipar kenapa?" tanya Erik menatap Shea.


Shea merasa bingung harus menjelaskan apa pada Erik.


"Tadi dia habis lari, dan perutnya sedikit sakit." Akhirnya Bryan lah yang menjelasakan pada Erik.


"Oh, begitu, baiklah, ayo ikut ke ruanganku." Erik pun mengajak Bryan dan Shea menuju ke ruang prakteknya.


Mengikuti Erik tepat di belakang Erik, Shea dan Bryan masuk ke dalam ruang praktek Erik.


"Naik, Kakak ipar!" Erik memerintahkan Shea untuk naik ke ranjang priksa.


Di bantu Bryan, Shea naik ke ranjang periksa.


Erik mamasang stetoskop di telinganya, dan mulai memeriksa keadaan Shea.


Erik menyibak sedikit baju Shea untuk memeriksa perut Shea. Tapi belum sempat tangan menyibak baju Shea, tangannya sudah dicekal oleh Bryan. Erik pun langsung menoleh saat Bryan mecekal tangannya.


"Mau apa kamu?" tanya Bryan saat Erik menoleh.


"Ya, memeriksa, memang apa lagi?" Erik merasa heran kenapa Bryan mencekal tangannya.


"Bryan kamu sedang apa?" Shea pun bertanya juga pada Bryan.


"Kalau Erik menyibak bajumu, dia akan melihat perutmu" ucap Bryan pada Shea. Bryan tidak rela perut mulus milik istrinya disentuh atau dilihat orang lain.


Wajah Shea langsung merona merah saat mendengar ucapan Bryan. Dia begitu malu, dengan yang dilakukan oleh Bryan.


Erik pun mengerutkan keningnya disertai gelengan kepala. Dia merasa sangat heran dengan sikap Bryan. "Lalu kalau aku tidak menyibaknya bagaimana aku memeriksannya?"


"Ya coba cara lain." Bryan masih tetap tidak mau Erik menyentuk Shea.


"Bryan, bagiamana bisa Erik memeriksa dengan cara lain." Shea yang mendengar ucapan Bryan sedikit merasa kesal.


"Biar aku yang menyibak baju Shea dan menempelkan testoskop." Bryan yang tidak terima pun memberikan ide pada Erik.


Erik hanya bisa menghela napasnya, dia tidak punya pilihan selain menuruti Bryan. Sebagai dokter, sebenarnya ini adalah hal biasa memeriksa lawan jenis. Tapi kali ini, Erik memberi pengecualian untuk Bryan. Erik memilih untuk menuruti pria yang sedang jatuh cinta, yang istrinya tidak mau di sentuh.


"Ya sudah, tempelkan stetoskop di perut kakak ipar."


"Tutup matamu dulu, agar kamu tidak lihat aku yang sedang menyibak baju Shea."


Mendengar perintah Bryan, akhirnya Erik menutup matanya, dan tidak melihat Bryan yang sedang menyibak baju Shea.


Melihat Erik sudah memejamkan mata, Bryan menyibak perut Shea dan menempelkan stetoskop milik Erik.


Shea yang dari tadi memperhatikan suaminya, sebenarnya kesal sekali.


Untung dokternya Erik, kalau bukan, pasti dirimu akan ditendang keluar, batin Shea.


"Sudah," ucap Bryan pada Erik.


Erik membuka matanya, dan beralih memeriksa Shea. Tangannya berusaha memeriksa Shea dengan posisi terhalang baju, karena dirinya tidak bisa memegang langsung stetoskop miliknya.


Mendengarkan detak jantung janin Shea, Erik memeriksa dengan seksama. "Apa sakit disini?" tanya Erik dengan sedikit menekan perut Shea.


"Tidak."


"Disini?" Erik beralih menekan tempat lain.


"Tidak."


Mendapat jawaban Shea, Erik pun melepas stetoskopnya. "Aku rasa kandungan kakak ipar baik-baik saja," ucap Erik menatap Bryan.


"Benarkah, coba periksa dengan lebih teliti." Bryan masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Erik.


"Bryan," tegur Shea.


"Aku hanya tidak percaya saja," elak Bryan.


Erik tersenyum melihat wajah khawatir Bryan. Mengenal Bryan cukup lama, Erik mengetahui sepak terjang Bryan menjelajah wanita. Tapi saat melihat Bryan khawatir, rasanya Erik menemukan jawaban, jika sang casanova sedang bertobat.


"Kalau kamu kurang percaya, kamu bisa periksakan kembali besok pada dokter Lyra."


Bryan tidak punya pilihan, selain menerima hasil pemeriksaan Erik. "Baiklah." Bryan langsung membantu untuk turun dari ranjang periksa.


"Sebenarnya, apa yang membuat kalian lari?" tanya Erik seraya melangkah menuju meja prakteknya, dan menarik kursinya.

__ADS_1


Shea dan Bryan hanya saling pandang saat mendapatkan pertanyaan dari Erik. Mereka sangat malu kalau mengatakan mereka lari dari bioskop karena film horor.


"Tadi di mal Shea melihat badut, jadi dia lari." Bryan yang terpikir ide itu pun akhirnya mengatakan pada Erik.


Shea yang mendengar alasan Bryan, hanya bisa menahan tawanya.


"Oh .... " Erik mengerti alasan Shea lari. "Tapi lain kali usahakan jangan sampai terjadi hal seperti itu, itu sangat berakibat fatal jika sampai kakak ipar terjatuh saat berlari."


Bryan dan Shea pun mengangguk mengerti apa yang di ucapkan oleh Erik. "Baiklah." Bryan dan Shea menjawab bersamaan.


"Ayo, kita keluar bersama-sama," ucap Erik berdiri setelah memeriksa Shea.


Bryan tahu, jika tadi Erik hendak pulang juga. Mengikuti Erik yang berdiri, Shea dan Bryan pun ikut berdiri, dan keluar dari ruang praktek Erik.


Mereka bersama-sama menuju ke parkiran.


"Terimakasih," ucap Bryan seraya mengulurkan tangan.


"Sama-sama." Erik pun menerima uluran tangan, dan beralih mengulurkan tangan pada Shea.


Masuk ke dalam mobil masing-masing, mereka menuju rumah mereka.


***


Sesampainya di rumah, Shea langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Keadaan hamil memang membuat Shea mudah lelah. Apa lagi dirinya tadi habis berlari.


"Ganti bajumu dulu, dan baru istirahat." Bryan yang melihat Shea sudah merebahkan diri pun menegurnya.


Shea tidak menjawab, dan malah memejamkan matanya.


"Atau aku yang akan gantikan bajumu?" Senyum tertarik di ujung bibir Bryan saat berucap. Dia membayangkan, akan melihat tubuh mulus Shea, saat menganti baju Shea.


"Tidak perlu." Shea langsung membuka matanya sempurna dan bangkit dari tempat tidur. Berlalu ke lemari, Shea mengambil bajunya.


Bryan hanya tersenyum, melihat wajah takut Shea yang mendengar dirinya akan mengantikan baju.


Shea masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Bryan memainkan ponselnya. Mengusap layar di ponselnya, dia mencari sesuatu.


Sesaat Shea keluar dari kamar mandi, dia kembali merebahkan tubuhnya. Matanya yang begitu berat, tidak bisa di ajak kompromi. Dalam hitungan menit pun dengkuran halus terdengar.


Mendengar dengkuran halus, dari Shea, Bryan mendekat untuk mengecek apakah istrinya sudah tidur. Saat melihat Shea tidur, Bryan mendaratkan satu kecupan di dahi Shea, dan menyelmuti Shea. Sebelum keluar, Bryan menyalakan lampu. Memastikan jika semua sudah aman Bryan meninggalkan Shea yang sudah tertidur pulas.


***


Suara lenguhan terdengar mengema mengisi kekosongan kamar. Kedua bola mata mengerjap ketika sinar lampu menembus kelopak matanya.


"Jam berapa ini?" Shea yang melihat ke arah jendela, dan melihat sinar matahari telah berganti dengan sinar rembulan. Beralih ke dalam kamar, Shea melihat jika lampu kamarnya sudah di nyalakan. Itu tandanya memang sudah malam.


Saat mau bangun, Shea melihat jika tubuhnya terbungkus selimut. Dia sudah menebak, siapa yang menyelimutinya. Menyibak selimutnya, Shea berlalu ke kamar mandi.


Setelah membersihkan diri dan menyegarkan dirinya, Shea keluar dari kamar mandi. Shea mengingat jika dari bangun tidur dirinya tidak melihat Bryan, akhirnya dia memutuskan untuk keluar kamar untuk mencari Bryan.


Senyum tertarik di ujung bibir Shea saat melihat lilin yang cantik berjajar indah. Lilin-lilin berjajar rapi di kanan dan kiri, menyisakan tempat kosong di tengah, seolah memberikan ruang untuk berjalan. Lilin yang berjajar rapi pun seakan menujukan arah suatu tempat.


Menyusuri kemana lilin-lilin itu akan bermuara, Shea melangkahkan kakinya. Di sepanjang tangga pun juga berjajar lilin di setiap anak tangga.


Shea terus melangkah mengikuti kemana lilin-lilin itu akan membawanya. Hingga sampailah langkahnya di ruang makan belakang.


Meja besar yang biasa ada di ruang belakang pun tidak ada, dan kini meja itu sudah terganti dengan meja bulat kecil dengan dua kursi.


Lilin-lilin yang tadi berjajar rapi menujukan arah jalan Shea, berhenti di kaki meja, dan mengelilingi meja.


Di depan meja sudah terlihat Bryan yang berdiri menyambut Shea. Wajah Bryan yang terkena sorot lilin pun memancarkan auranya sendiri.


Dengan langkah tegap, Bryan menghampiri Shea. "Apa kamu suka?" tanya Bryan pada Shea.


Wanita mana yang tidak suka mendapatkan perlakuan romantis seperti yang sedang Bryan lakukan. Dengan penuh keyakinan, Shea mengangguk.


Bryan memutar tangannya yang dari tadi menyembunyikan satu buket bunga yang dia simpan dari tadi di belakang tubuhnya. "Untuk wanita cantik yang begitu aku cintai." Bryan menyerahkan buket bunga pada Shea.


Senyum mengembang di wajah cantik Shea, saat melihat Bryan memberikan bunga. "Terimakasih." Tangan Shea menerima bunga yang di berikan oleh Shea.


"Ayo," ajak Bryan mengulurkan tangannya pada Shea.


Menerima uluran tangan dari Bryan, Shea mengikuti Bryan yang membawanya ke meja makan.


Di meja makan, Shea melihat hidang yang terjadi dengan rapi. Hiasan lilin pun juga ikut tersusun rapi di tengah-tengah hidangan. Shea tidak menyangka jika Bryan akan menyiapkan semua ini.


Bryan menarik kursi dan mempersilakan Shea untuk duduk. "Silakan."


Shea hanya tersenyum dan duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh Bryan. "Kamu yang menyiapkan semua ini?" Pertanyaan itu yang dari tadi menghiasi isi kepal Shea.


"Apa kamu tidak yakin aku yang menyiapkan semua ini?"


Shea menaikan bahunya, pura-pura tidak yakin.


Bryan langsung tertawa. "Aku memang tidak bisa menyiapkan semua ini, kecuali aku mencari infomasi di ponsel."


"Kamu searching untuk membuat ini semua?" tanya Shea memastikan.


"Iya," jawab Bryan, "tidak mengecewakan bukan?" tanya Bryan kembali.


"Good job." Shea memberikan pujian pada Bryan. Satu hal yang Shea tahu, bahwa Bryan selalu berusaha. Walapun banyak hal yang Bryan tidak tahu, Bryan tidak pernah menyerah.


"Ayo makan, dan nikmati kencan kita." Bryan mengambil gelas berisikan jus.

__ADS_1


Karena makan malam spesial untuk ibu hamil, Bryan tidak menyediakan minuman beralkohol. Dia menganti minum beralkohol dengan jus yang sangat baik untuk ibu hamil. Hingga akhirnya dia pun ikut juga meminum jus.


"Cheers," ucap Shea menautkan gelasnya pada gelas Bryan.


Shea dan Bryan pun menikmati makan malam mereka. Mungkin tadi siang kencan mereka berantakan, tapi kini, kencan mereka berjalan dengan lancar.


Makan malam romatis untuk kencan pertama mereka berjalan dengan mulut. Tidak ada drama atau gangguan seperti tadi siang.


Tidak perlu tempat mewah untuk menghabiskan waktu berdua, karena saat ada tempat paling nyaman seperti rumah, kenapa tidak?


"Apa kamu menyiapkan semua ini saat aku tidur?" Shea yang sedang menikmati makananya, menyempatkan untuk bertanya.


"Iya," jawab Bryan dengan anggukan.


"Terimakasih sudah menyiapkan semua ini untuku."


"Aku ingin membuatmu bahagia, jadi jangan berterimakasih."


Shea pun mengangguk. Rasanya, malam ini dirinya begitu bahagia.


Bryan mengeluarkan sebuah kotak berisikan kalung pada Shea, dan memberikannya pada Shea. "Untukmu."


Belum selesai Shea dibuat kaget oleh makan malam romantis dari Bryan, kini dirinya dikagetkan dengan Bryan yang memberinya kalung.


Mata Shea tertuju pada kalung yang di berikan Bryan. Kalung silver dengan liontin bentuk love berhiaskan diamond, begitu cantik saat kedua bola mata Shea melihatnya.


"Ini untukku?" Shea memastikan kembali pada Bryan.


"Iya."


Mata Shea berbinar saat melihat kalung indah yang Bryan berikan.


"Aku akan pasangkan di lehermu," ucap Bryan.


Meraih kalung di dalam kotaknya, Bryan berdiri, dan melangkah mendekat pada Shea. Shea pun ikut berdiri mensejajarkan diri agar Bryan lebih mudah memakaikannya.


Shea membelakangi Bryan dan membuat Bryan berdiri tepat di belakangnya. Bryan menyibak rambut Shea, dan memasangkan kalungnya.


Kalung indah itu pun sudah terpasang, di leher jenjang Shea.


"Terimakasih, Bry." Shea berbalik dan berterimakasih pada Bryan.


"Sama-sama."


Bryan melihat wajah cantik Shea dengan hiasan senyum di wajahnya, dan itu menandakan jika Shea sangat senang.


"Aku akan mengobati luka yang pernah aku buat."


Shea yang sedang sibuk menunduk untuk melihat kalungnya beralih menatap Bryan.


"Apa kamu sekarang beralih menjadi dokter?" tanya Shea tersenyum.


"Iya."


"Kalau dokter sehebat dirimu, Erik akan segera pensiun jadi dokter."


"Apa berarti aku sudah menyembuhkan lukamu?"


"Pertemuan kita yang pertama memang sangat menyakitkan. Tapi seburuk apa pertemuan kita yang pertama, anggap saja itu adalah cara Tuhan mempertemukan kita." Shea selalu yakin, jika tidak ada suatu kejadian yang tidak akan ada hikmah di dalamnya.


"Kamu sudah menyembuhkan luka itu. Hingga kadang aku lupa, jika hal itu pernah terjadi," imbuh Shea.


Bryan menautkan jemarinya pada jemari Shea. "Aku janji tidak akan pernah menyakitimu lagi." Bryan menatap lekat pada Shea.


"Iya," jawab Shea menatap Bryan. Shea yakin dengan sikap Bryan yang seperti ini, dia tidak akan menyakitinya.


Sejenak kedua bola mata keduanya saling mengunci. Tatapan penuh cinta yang Bryan berikan, mampu membuat Shea terpesona. Bola mata biru dengan tatapan tajam, begitu membuatnya membeku.


Perlahan, Bryan mendekatkan wajahnya pada Shea. Satu tempat yang ingin Bryan gapai adalah bibir ranum milik Shea. Bibir yang sudah membuat candu baginya, tak mau dia lewatkan begitu saja.


Merengkuh pinggang Shea, Bryan membenamkan bibirnya pada bibir Shea. Mencium lembut bibir indah yang begitu dia damba.


Mendapati ciuman dari Bryan untuk kedua kalinya, Shea benar-benar mulai menikmatinya. Tanpa sadar dia membuka mulutnya agar Bryan menjangkau lebih dalam.


Bryan yang merasa Shea memberikan kesempatan, tidak menyia-nyiakannya. Kecapan demi kecapan membuat bibir keduanya basah.


Walaupun Shea tidak membalas, tapi Shea memberikan ruang untuk Bryan menjelajah.


Cukup lama pertemuan antara dua bibir terjadi, hingga Bryan melepaskan tautan bibirnya saat napasnya mulai terengah.


Melepas tautan bibirnya, Bryan melihat bibir basah milik Shea. Tangan Bryan langsung mengusap bibir Shea, menghapus sisa basah yang dia ciptakan.


Wajah Shea yang memerah menandakan seberapa malu dirinya.


"Aku akan ke kamar lebih dulu," ucap Shea. Shea tidak berani menatap Bryan. Perasaan canggung begitu dirasa oleh Shea.


Bryan hanya mengangguk, dan membiarkan Shea untuk pergi. Dia menyadari, jika istrinya sangat malu setelah berciuman.


Aku tahu kamu sudah mencintai aku. Aku akan menunggu dimana saat kamu mengatakan cinta padaku.


Melihat Shea yang memberinya ruang untuk menjelajah bibirnya, Bryan menyadari jika di hati Shea ada cinta untuknya.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan vote


__ADS_2