My Baby CEO

My Baby CEO
Aku mencintaimu


__ADS_3

Wajah Shea terlihat muram sepanjang hari, karena Bryan tidak bisa menemani dirinya ke dokter kandungan. Sepanjang berkerja pikirkan Shea tidak bisa fokus, karana rasa kesalnya masih begitu menyelimuti hatinya.


Sebenarnya Shea sedih bukan hanya perihal Bryan yang tidak jadi pulang, tapi tentang pertama kali dirinya harus memeriksakan kandungannya sendiri. Dia merasa ada yang kurang saat harus memeriksakan kandungannya sendiri.


Dia pun tidak bisa berbuat apa-apa saat kemarin Bryan mengatakan jika dirinya tidak bisa pulang, dan mengharuskannya untuk ke Rumah sakit sendiri.


Dengan terpaksa, Shea pun akhrinya memerikasakan kandungannya sendiri dan diantar oleh Felix. Setelah Felix tadi menghubunginya, akhirnya Shea berangkat ke Rumah sakit dengan Felix selepas kerja.


Masuk ke dalam mobil Felix, Shea masih memilih untuk diam, menahan gemuruh di hatinya.


Felix yang menyadari Shea hanya diam saja, tahu apa alasan diamnya Shea. Namun, dia memilih memilih untuk diam juga dan tidak memancing amarah Shea.


"Apa temanmu itu tidak berniat pulang!" Suara kesal dari mulut Shea akhirnya terdengar mengisi keheningan di dalam mobil.


Felix pikir Shea akan diam saja saat di dalam mobil, tapi akhirnya Shea membuka mulutnya juga. Namun, kalimat yang keluar dari mulut Shea adalah kalimat kekesalan, dan Felix tahu itu adalah luapan hati Shea.


"Perkerjaannya bel ...."


"Perkerjaan ... perkerjaan terus yang menjadi alasan. Sudah tiga minggu dia menyelesaikan perkerjaan, apa belum selesai juga?" Belum selesai Felix mengucapkan pembelaannya untuk Bryan, Shea sudah memotong kalimat Felix.


Felix hanya bisa menelan salivanya saat emosi ibu hamil memuncak. Sabar ... sabar, kamu sedang menghadapi ibu hamil.


Felix menguatkan dirinya, agar lebih bersabar menghadapi Shea. Apa lagi dirinya juga takut tepancing untuk mengatakan jika Bryan sudah pulang.


"Kenapa kamu diam!"


Aku harus jawab apa? Otaknya terus berputar memikirkan jawaban apa yang bisa menenangkan Shea dikala sedang marah.


"Aku tahu kamu kesal karena Bryan, tapi jangan marah-marah, tidak baik untuk anak dalam kandunganmu." Kalimat penenang itulah yang akhirnya melintas di pikirkan Felix.


Shea langsung menghela napasnya, saat mengingat jika dirinya begitu kesal saat mengingat Bryan. Membelai perutnya, dia berusaha untuk menenangkan anaknya yang mungkin juga ikut emosi bersamanya.


Syukurlah, emosinya sudah mereda.


Melihat Shea yang sudah lebih tenang, Felix merasa lega. Dia merasa benar-benar tidak sanggup menghadapi Shea yang sedang marah. Dirinya lebih memilih menghadapi Bryan dari pada Shea, yang emosinya begitu meledak-ledak.


Sesampainya di Rumah sakit, Felix mengantarkan Shea sampai dalam Rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. Karena memang Shea sudah mendaftar, Shea bisa langsung masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.


"Kamu tunggu di sini saja." Shea menujuk kursi tunggu yang berjajar di dekat ruangan dokter.


"Iya." Felix sudah bak pengawal yang patuh saat mendapatkan perintah dari atasannya.


Shea masuk ke dalam ruangan dokter, dan meninggalkan Felix di luar ruangan. "Malam, Dok?" sapa Shea seraya mengulurkan tangan.


"Malam, silakan." Dokter pun menerima uluran tangan Shea.


"Apa ibu datang sendiri?" Dokter ingat jika Shea selalu datang bersama Bryan, dan kali ini Shea datang sendiri


"Iya. Suami saya sedang ada tugas di luar negeri." Shea berusaha tersenyum pada dokter, menahan gemuruh dalam hatinya yang masih begitu kesal saat mengingat kembali dirinya yang memeriksakan kandungan sendiri.


"Baiklah, jadi kita tidak perlu menunggu, mari lihat kondisi bayinya saja." Dokter berdiri menuju kursi di dekat ranjang periksa.


Shea yang di belakang dokter pun, melangkah menuju ranjang periksa dan naik ke atas ranjang periksa sesaat setelah dokter duduk.


Perawat pun membantu Shea untuk menyibak bajunya, dan menuangkan cairan untuk USG di atas perut Shea. Setelah cairan sudah di atas perut Shea, dokter mulai mengarahkan alat USG pada perut Shea.


"Panjang janinnya sudah bagus, sekitar tujuh centimeter. Berat bayi juga sudah mencapai dua puluh sembilan gram." Dokter menjelaskan pada Shea tentang kondisi anak dalam kandungan Shea.


Shea mendengarkan penjelasan dokter seraya menatap ke arah layar USG.


"Bayinya tampak sehat, dan terbentuk seluruh anggota tubuhnya, tangan, kaki, sudah terlihat bagus." Tangan dokter Lyra terus bergerak mengerakan alat USG, sesekali tangan kirinya menekan alat USG untuk mencetak hasil USG.


Mendengar penjelasan dokter, Shea merasa sangat senang. Pertumbuhan anaknya sangat membuatnya bersyukur.


Andai Bryan ada, pasti dia akan jauh lebih senang. Shea mencoba mengela napasnya, saat bayangan Bryan melintas dipikirannya.


Dokter mulai bangkit dan kembali ke kursinya, sedangkan perawat membersihkan cairan USG yang berada di atas perut Shea.


Setelah merapikan bajunya, Shea menyusul untuk duduk di kursi tepat di hadapan dokter.


"Semuanya bagus," ucap dokter menunjukan foto hasil USG.


Mata Shea selalu terpesona setiap melihat foto anaknya. Satu nyawa yang hadir dalam rahimnya, menunjukan seberapa besar kekuasaan Tuhan menciptakan makhluknya.


"Seperti yang suami Ibu tanyakan pada bulan kemari, saya rasa kandungan ibu suda cukup kuat untuk melakukan hubungan suami istri."


Pipi Shea merona saat dokter membahas hubungan suami istri yang di nanti oleh Bryan.


"Tapi saya pesan tetap lakukan dengan lembut, agar bayi di dalam kandungan tetap aman."


"Iya, dok." Dengan malu-malu Shea pun menjawab.


Dokter meresepkan vitamin pada Shea, dan memberikan hasil USG pada Shea.


"Bertemu lagi nanti di minggu ke enam belas," ucap dokter seraya mengulurkan tangan.


"Terimaksih, Dok." Shea pun menerima uluran tangan dokter.


Shea keluar dari ruangan dokter, dan menghampiri Felix yang sudah setia menunggunya di depan ruangan dokter kandungan.

__ADS_1


"Sudah selesai, Se?" tanya Felix.


"Sudah, tinggal menebus vitamin saja."


Felix mengangguk dan menemani Shea untuk menebus vitamin di apotek. Menunggu vitamin milik Shea yang sedang disiapkan oleh pihak apotek, ponsel Felix berdering. Merogoh ponselnya yang berada di dalam saku jasnya, dia melihat siapa yang menghubunginya.


Matanya melirik Shea sejenak saat tahu yang menghubunginya adalah Bryan. "Se, aku akan mengangkat telepon sebentar," pamitnya pada Shea.


"Iya."


Melangkah menjauh dari Shea, Felix berusaha agar Shea tidak mendengarnya berbicara dengan Bryan. "Halo, Bry."


"Apa kalian sudah selesai?"


"Iya, kami sudah selesai. Tinggal menunggu di apotek saja."


"Baiklah." Bryan hanya menghela napasnya, saat ternyata dia tidak bisa memberikan kejutan kedatangannya pada Shea.


Tadinya dia pikir, dia bisa datang di saat yang tepat, tapi sayangnya dia salah perhitungan. Bryan tidak menyangka jika papanya memintanya bertemu, hingga akhirnya dia harus merelakan moment menemani Shea.


Setelah Bryan menutup sambungan teleponnya, Felix kembali menghampiri Shea. "Sudah selesai?" tanya Felix pada Shea.


"Sudah, ayo pulang."


Felix mengangguk, dan melangkah bersama Shea. Dia menyuruh Shea untuk menunggu di lobby Rumah sakit, sedangkan dirinya mengambil mobil terlebih dahulu.


Saat mobil Felix berada di depan lobby, Shea langsung masuk ke dalam mobil. Dahinya berkerut dalam saat menyadari sesuatu yang dia rasakan kembali.


"Apa Bryan sudah pulang?"


Pertanyaan dari Shea membuat Felix terkesiap. Dia tidak menyangka Shea akan menanyakan hal itu.


Apa ini yang dinamakan feeling istri?


"Felix, aku tanya apa Bryan sudah pulang?" Shea kembali mengulang ucapannya.


"Kamu sendiri tahu bukan jika Bryan mengabari kalau dia tidak pulang." Felix mulai memutar kunci mobilnya, agar Shea tidak menatap kebohongan dalam matanya.


"Iya, aku tahu, tapi aku mencium parfum Bryan disini."


"Parfum?" Felix akhirnya menoleh pada Shea saat mendengar alasan Shea.


"Iya parfum, tadinya aku pikir aku salah mencium saat berangkat tadi ke Rumah sakit, tapi kini aku yakin jika yang aku cium sekarang adalah parfum milik Bryan."


Saat berangkat Shea memang sudah mencium aroma parfum milik Bryan samar-samar, tapi dia berpikir mungkin dirinya salah. Namun, kini dirinya yakin dengan apa yang diciumnya kembali walapun parfumnya tercium samar-samar karena bercampur dengan parfum mobil dan parfum Felix.


"Em ...."


Felix benar-benar takut melihat Shea yang bertanya. Pertanyaan Shea sudah bagai ancaman yang siap mengeksekusinya jika dia salah menjawab.


"Iya." Akhirnya Felix pasrah dan mengiyakan jika Bryan sudah pulang.


Bry, maafkan aku. Aku lebih memilih dirimu yang marah dari pada istrimu.


"Jadi dia sudah pulang? Kenapa dia berbohong padaku? Kenapa dia tidak datang ke rumah sakit? Kenapa dia tidak menemaniku?" Pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan Shea pada Felix.


"Tadi dia mau menemuimu, tapi papanya ingin bertemu. Jadi dia ke rumah orang tuanya terlebih dahulu." Felix mencoba menjelaskan pada Shea.


Shea mengerti akan posisi Bryan yang harus menemui papanya, tapi dia merasa sangat kecewa. "Kalau tahu dia sudah pulang, aku akan menunda untuk cek kehamilan besok."


"Awalnya dia ingin memberi kejutan padamu, saat kamu memerikasakan kandungamu di dalam ruangan dokter, dia akan datang. Akan tetapi ternyata saat dia menghubungi aku tadi, kita sudah selesai."


"Jadi tadi yang menghubungimu Bryan?" tanya Shea memastikan.


"Iya."


"Aku tahu kamu kecewa, tapi tidak mungkin Bryan tidak menemui papanya dulu. Bagi Bryan kamu dan papanya sama-sama penting." Felix berusaha memberi penjelasan pada Shea.


Emosi Shea mereda, saat mendengar penjelasan Felix. Kesempatan untuk ikut memeriksakan kandungannya, masih bisa dilakukan Bryan bulan depan, tapi menjelaskan pemasalahan kantor pada papapnya tidak bisa Bryan lewatkan.


"Bagaimana jika kamu yang gantian memberikan kejutan." Felix mencoba memberikan ide pada Shea.


"Maksudnya?" Shea merasa bingung dengan apa yang di ucapkan Felix.


"Jika tadinya Bryan ingin memberikan kejutan padamu, bagaimana jika kamu saja yang memberikan kejutan padanya."


"Kejutan apa?"


"Terserah padamu."


Shea berpikir kejutan apa yang akan dia berikan pada Bryan. Saat berpikir, Shea mengingat rencananya yang ingin mengatakan cinta pada Bryan.


Mungkin itu akan jadi kejutan untuk Bryan.


Senyum tipis tertarik saat Shea menemukan ide untuk memberikan kejutan pada Bryan.


"Apa sudah ada?"


"Iya, ada."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengecek dimana sekarang Bryan, jadi kita bisa tahu posisi dia."


Felix merogoh ponselnya di saku jasnya, dan mengusap layar ponselnya untuk menghubungi Bryan.


"Bry, kamu dimana?" tanya Felix saat sambungan telepon tersambung.


"Aku sedang pulang ke rumah untuk mandi dan ganti baju, setelah ini aku akan menuju rumah Kak Selly."


"Kenapa memangnya?"


"Tidak, aku hanya memastikan saja kemana aku harus mengantar Shea."


"Antarkan saja ke rumah Kak Selly."


"Baiklah." Felix pun mematikan sambungan teleponnya setelah mendapatkan informasi.


"Dia dimana?" Shea langsung memberikan pertanyaan pada Felix saat dia mematikan sambungan telepon.


"Bryan sedang pulang ke rumah untuk mandi, dan setelah itu dia akan ke rumah Kak Selly."


Shea mengangguk mengerti penjelasan yang diberikan oleh Felix.


"Aku rasa, saat kita sampai di rumah Kak Selly dia sudah ada disana."


"Baiklah." Shea mengerti. Dirinya pun menyiapkan hatinya untuk memberikan kejutan pada Bryan.


Felix langsung melajukan mobilnya menuju rumah Selly untuk mengantarkan Shea. Perasaannya lega, saat ibu hamil disampingnya sudah tidak marah-marah lagi. Justru sekarang senyum mengembang di wajah cantik Shea.


Memberikan ide pada Shea sama mudahnya dengan memberikan ide pada Bryan.


Jam sudah menunjukan pukul delapan saat Shea dan Felix sampai di rumah Selly. Langit sudah tampak gelap, dan lampu-lampu mengantikan cahaya di sepanjang jalanan ke rumah.


"Aku tidak turun, sampaikan salamku pada semuanya," ucap Felix pada Shea.


"Baiklah, terimakasih sudah mengatarkan aku." Shea membuka seatbelt yang melingkar di tubuhnya.


"Sama-sama."


Meraih pintu mobil, Shea keluar dari mobil. Saat keluar Shea merasa suasana tampak sepi, tapi Shea sadar jika memang sekarang sudah malam.


Saat asisten rumah tangga membuka pintu, Shea masuk ke dalam rumah. "Apa Kak Selly sudah tidur?" tanya Shea pada asisten rumah tangga.


"Sudah, tadi Bu Selly tidur lebih awal."


"Oh, baiklah."


Shea masuk ke dalam rumah. Pikirannya melayang memikirkan apakah Bryan sudah datang atau belum. Tapi melihat jarak antara Felix menghubungi Bryan, Shea menyimpulkan jika Bryan pasti sudah datang.


Saat melangkah menaiki anak tangga, Shea melihat lampu di lantai atas mati, tapi karena masih ada sorot lampu dari lantai bawah, jalan yang di lalui Shea masih terlihat.


Shea ingin berbalik dan menanyakan pada asisten rumah tangga kenapa lampu di lantai atas mati, tapi baru saja Shea berbalik, dia tidak menemukan asisten rumah tangga.


Akhirnya Shea memutuskan untuk perlahan melangkah menuju kamarnya. Mata Shea melihat ke segala arah, dan menemukan semua lampu di lantai atas mati.


Sepertinya ada yang konslet.


Shea hanya bisa memikirkan alasaba apa yang membuat lampu mati. Melangkah menuju ke kamanya, Shea menemukan pintu kamarnya yang terbuka.


Apa Bryan sengaja membukanya?


Saat baru saja masuk ke dalam kamar, aroma parfum Bryan tercium oleh indra penciumannya.


Dia benar-benar sudah pulang.


Shea merasa senang, tapi juga merasa berdebar, saat tahu jika Bryan sudah pulang dan berada di dalam kamarnya. Dia benar-benar tidak sabar melepaskan rasa rindunya pada Bryan.


Karena lampu lantai atas mati, jadi Shea tidak bisa menyalakan lampu kamarnya. Akan tetapi itu dimanfaatkan oleh Shea untuk memberikan kejutan pada Bryan.


Walaupun lampu mati, tapi masih ada sedikit sorot dari tirai jendela yang tersingkap. Jadi samar-samar, Shea melihat siluet tubuh.


Saat langkahnya mulai mendekat, Shea merasakan aroma parfum milik Bryan semakin tercium jelas. Dia meyakinkan jika dirinya akan mengatakan kata cintanya pada Bryan saat ini juga.


Tangan Shea langsung mendekap erat tubuh kekar yang begitu dia rindukan. "Aku mencintaimu," ucap Shea dengan penuh keyakinan.


Akhirnya, setelah dia memendam dan meyakinkan diri tentang perasaannya. Hari ini Shea mengutarkan semua pada Bryan.


.


.


.


.


.


Vote ya, buat lihat kelanjutan ceritanya.


Hari ini hari terakhir Vote.

__ADS_1


Buat kalian yang suka sama ceritanya, bisa vote sebanyak-banyaknya.


__ADS_2