
Selly menceritakan, jika setelah pertemuannya yang pertama dengan Regan kecil, dia dan Regan selalu bersama. Di mana pun Regan sekolah, Selly juga ikut sekolah di sana. Setiap hari Regan dan Selly bertemu, hingga mereka begitu sangat dekat.
Sampai saat mereka kuliah, Selly mengatakan cinta pada Regan di acara makan malam keluarga. Regan yang tidak mau mempermalukan Selly menerima wanita yang sudah menjadi temannya dari kecil itu.
Regan sendiri masih bingung dengan perasaannya. Dia tidak tahu perasaan sayangnya itu, rasa cinta atau bukan?
"Apa setelah itu akhirnya kalian menikah?" tanya Shea yang penasaran.
"Iya, kami menikah setelah lulus kuliah."
"Wah, perjalanan cinta kakak berjalan mulus ya. Kalian bisa langsung menikah."
"Tidak begitu, Se." Selly menyanggah ucapan Shea.
"Lalu?" Dahi Shea berkerut dalam saat mendengar ucapan Selly.
"Setelah menikah banyak hal yang terjadi terjadi. Regan yang fokus pada pekerjaannya mengabaikan aku. Hingga akhirnya menimbulkan banyak perdebatan."
Shea menyadari jika semua rumah tangga tidak akan berjalan dengan mulus. Seperti dirinya dan Bryan yang terkadang masih saja berdebat.
"Aku selalu berusaha mengerti, tapi sampai di titik aku lelah. Aku memutuskan menerima pekerjaan di luar negeri dan meninggalkan Regan." Selly yang sangat suka fotografi akhirnya memutuskan menerima tawaran pekerjaan yang datang padannya.
"Kakak meninggalkan kak Regan?" Shea masih menatap Selly dan dengan penuh rasa tidak percaya. Dia tidak menyangka kisah cinta Selly juga berliku, seperti dirinya.
"Iya, tapi dari situ Regan sadar, jika dia mencintai aku." Selly menyadari jika di awal pernikahannya hanya dirinya yang begitu mencintai Regan.
"Apa seperti merasakan cinta saat kehilangan seseorang?"
"Ya, sepeti itu. Mungkin dia harus merasakan yang aku rasakan dulu agar dia mengerti jika dia mencintai aku " jawab Selly dengan disertai anggukan. "Akhirnya dia meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mengejar aku dan meminta aku kembali."
Mata Shea membelalak. Dia tidak percaya ambisi Regan kalah dengan cinta. "Setelah itu kalian kembali?" tanya Shea memastikan.
"Iya, walaupun dia harus berjuang dulu meluluhkan kembali aku." Selly tertawa kecil saat menggingat semua kisahnya.
"Ternyata yang diawal kisah baik saja, belum tentu di tengah perjalanan akan mulus," ucap Shea.
"Setiap rumah tangga punya ceritanya sendiri dan punya cara menyelesaikan sendiri" Tangan Selly membelai lembut bahu Shea. "Perjalanan kita masih panjang, jadi bersemangatlah!"
"Iya." Shea menyadari jika perjalanannya masih begitu panjang. Apalagi dirinya dan Bryan baru saja mengarungi bahtera rumah tangga.
***
Menghabiskan secangkir teh dan berbincang, Shea dan Selly mengakhiri setelah merasakan kantuk. Mereka memilih untuk tidur kembali sebelum nanti mereka akan ke pusat oleh-oleh.
Kembali ke kamar, Shea menyusul Bryan yang masih terlelap di atas tempat tidur. Membenamkan tubuhnya di dalam selimut, Shea memeluk suaminya.
"Kamu sudah kembali?" tanya Bryan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iya."
Bryan memeluk erat tubuh Shea memberikan kehangantan padanya. Shea yang merasakan pelukan hangat suaminya merasakan perasaanya tenang.
Aku berharap pernikahan kita akan berjalan dengan baik, walaupun sebenarnya aku tidak yakin, karena setiap rumah tangga akan ada masalah. Namun, sebesar apa masalah kita nanti, semoga kita bisa melewatinya.
Shea mengeratkan pelukannya setelah dalam hatinya dia berdoa untuk rumah tangganya dan Bryan.
***
Dengan mata yang masih memejam, Shea meraba sisi tempat tidur untuk mencari Bryan yang melepaskan pelukannya. Namun, saat tangannya tidak menemukan Bryan, akhirnya Shea membuka matanya. Kemana Bryan?
Menyibak selimutnya, Shea bangun dari tempat tidur. Tangannya merapikan rambutnya, sebelum keluar untuk mencari Bryan.
__ADS_1
Dia mengedarkan pandangan mencari di mana Bryan. Hingga akhirnya dia menemukan suaminya sedang asik berenang sendiri.
Mendudukkan tubuhnya di sofa yang terdapat di pinggir kolam, Shea menunggu suaminya yang asik berenang.
"Kamu sudah bangun," ucap Bryan yang baru saja keluar dari dalam air. Menepikan di pinggir kolam renang, dia memperlihatkan kepala dan setengah dadanya saja.
"Iya, aku bangun karena tidak mendapati dirimu di kamar," ucap mencebikkan bibirnya.
"Aku melihatmu sangat lelap, jadi aku tidak membangunkan kamu," ucap Bryan.
Shea mengangguk. Memang tadi dirinya begitu mengantuk setelah bercerita dengan Selly.
"Apa kamu mau ikut berenang?" tanya Bryan.
"Tidak, aku malas bermain air lagi." Setalah kemarin puas main di pantai, Shea merasa malas harus berenang lagi.
"Baiklah, kalau begitu." Bryan melanjutkan kembali berenang dan meninggalkan Shea yang duduk di tepi kolam.
Sejak dirinya bangun, Shea tidak melihat Regan dan Selly. Dia berpikir jika mungkin mereka belum bangun.
Bryan yang sudah menyelesaikan berenangnya keluar dari kolam renang dan menghampiri istrinya.
"Apa kak Regan dan kak Selly belum bangun?" Karena rasa penasarannya akhirnya Shea bertanya.
"Mereka pulang," jawab Bryan seraya memakai piyama handuknya.
"Pulang?" Shea masih bingung kenapa tiba-tiba Selly dan Regan pulang.
"Ada rekan bisnis kak Regan ingin menemuinya, jadi dia memutuskan pulang." Bryan yang menyadari jika Shea bingung pun menjelaskan pada istrinya itu.
"Padahal tadi pagi aku dan kak Selly berencana ke pusat oleh-oleh."
"Baiklah." Bagi Shea dengan siapa pun dirinya pergi, dia tidak masalah.
"Sekarang di sini, hanya kita berdua," ucap Bryan mendekatkan tubuhnya pada Shea.
Shea yang melihat Bryan mendekat, memundurkan tubuhnya. Semakin Bryan maju, Shea semakin memundurkan tubuhnya. Hingga akhirnya sampai tubuh Shea di atas sofa, dan tidak bisa mundur lagi.
"Kenapa takut? Bukannya kemarin kamu ingin mengganti?" Bryan yang menyangga tubuhnya dengan tangannya membuat Shea berada di bawah kungkungannya.
"Iya, tapi bukan sekarang," ucap Shea ragu-ragu."
"Bagiku sama saja sekarang atau nanti!"
"Tapi aku maunya nanti, karena sekarang aku harus ke pusat oleh-oleh.
"Tempat oleh-oleh tidak akan kemana-kemana," ucap Bryan masih membujuk Shea. Dia membenamkan bibirnya di ceruk leher Shea.
"Ta-pi," ucap Shea serak dan terbata. Dia bingung harus bagaimana. Sentuhan Bryan begitu membuatnya ingin merasa ingin merasakan kenikmatan.
Bryan langsung tertawa saat mendengar suara Shea yang terbata. Itu menandakan Shea mulai ingin sesuatu yang lebih. "Satu sama!" seru Bryan
Shea membulatkan matanya saat mendengar ucapan Bryan. "Kamu sedang balas dendam?" tanya Shea kesal.
"Aku hanya ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan, jadi kamu tidak akan melakukan kesalahannya lagi.
"Maaf," ucap Shea lirih. "Ternyata tidak enak saat sedang ingin menikmati, tapi terhenti"
Bryan langsung mendaratkan kecupan di pipi Shea. "Akhirnya kamu mengerti juga."
Merasakan tidak nyaman, Shea benar-benar menyesal menyiksa Bryan kemarin pagi. Apalagi dengan tenang dirinya meninggalkan Bryan. "Maaf," ucap Shea lagi.
__ADS_1
"Sudah lupakan, aku akan mengantarmu ke pusat oleh-oleh. Setelah itu kita lanjutkan kegiatan kita," ucap Bryan seraya mengedipkan matanya. Dia bangkit dari tubuh Shea dan berlalu ke kamar mandi.
Shea yang melihat Bryan bangun, juga ikut bangun dari sofa. Mengekor di belakang Bryan, dia menuju ke kamarnya.
***
Sampai di pusat oleh-oleh, Shea melihat banyak sekali sovenir yang cantik di sana. Semua berjajar rapi hingga membuat Shea bingung harus membeli yang mana.
"Kamu membelikan siapa saja? Kenapa banyak sekali?" tanya Bryan saat keranjang yang dibawa oleh Shea.
"Ini ada pouch make up cantik, jadi aku ingin membelikan untuk mama, kak Selly, Chika, dan Jessie." Shea menjelaskan pada Bryan. Matanya berbinar saat menjelaskan pada Bryan.
"Baiklah." Melihat istrinya yang begitu senang, tidak ada alasan untuk menolaknya.
Setelah mendapatkan oleh-oleh, Shea dan Bryan memutuskan kembali ke villa. Namun, baru saja Bryan melajukan mobilnya, Shea meminta berhenti kembali, saat melihat kedai es krim.
Bryan selalu tahu, jika semenjak hamil, istrinya itu begitu menyukai es krim. Hingga di lemari pendingin dia menyiapkan banyak jenis es krim dengan berbagai variant.
Turun dari mobil, Shea masuk ke dalam kedai es krim. Dia langsung memesan satu cone es krim dengan rasa vanila dan coklat.
"Kamu tidak mau?" tanya Shea seraya menjilat es krim yang berada di tangannya.
"Tidak."
Mendengar jika Bryan tidak mau, Shea melanjutkan menikmati es krim miliknya. Dia menjilat es krim dengan perlahan, menikmati setiap sensasi dinginnya dan manisnya es krim miliknya.
Bryan yang melihat Shea hanya bisa menelan salivanya. Pikirannya melayang membayangkan jika apa yang dilakukan Shea sekarang, dilakukan padanya. Namun, seketika dia menyadarkan dirinya, jika Shea tidak seagresif wanita-wanitanya, dan itulah yang disuka olehnya.
"Cepat habiskan es krimnya," ucap Bryan.
"Kenapa?" tanya Shea. Lidahnya terus saja menjilat es krim yang berada di tangannya.
Rasanya aku ingin secepatnya mengurungnya di kamar.
Bryan yang melihat Shea, benar-benar dibuat gemas. "Jangan banyak bertanya!"
"Kalau kamu tidak mengatakannya, aku akan berlama-lama memakan es krimnya!" ancam Shea seraya menjilat es krim miliknya dengan perlahan.
Semakin melihat apa yang dilakukan istrinya, Bryan semakin frustrasi. "Melihatmu menjilat es krim, aku membayangkan hal lain," bisik Bryan.
Mata Shea membulat saat mendengar ucapan Bryan. Dia menelan salivanya kasar, saat ternyata imajinasi Bryan benar-benar diluar dugaannya. "Aku sudah selesai, kamu habiskan saja es krimnya," ucap Shea memberikan es krim pada Bryan.
Bryan menahan tawanya saat melihat wajah pias Shea. Menerima es krim dari istrinya, Bryan memakannya. Kali ini Bryan sengaja memakannya dengan perlahan.
Shea yang merasa malu, memilih membuang muka dan melihat ke sisi lain. Kenapa aku tertular Bryan yang suka berimajinasi? batin Shea membayangkan hal yang mungkin di bayangkan oleh Bryan juga.
.
.
.
.
...Maaf ya cerita Selly dan Regan hanya intinya saja. Kenapa ga detail, biar fokusnya ga ilang....
...Yuk balik lagi sama Bryshe...
...Jangan lupa Like dan Vote...
...Up Jam 12 WIB...
__ADS_1