
Shea yang pulang lebih awal, akhirnya memutuskan untuk memasak. Rasanya Shea benar-benar rindu bertempur dengan alat-alat dapur. Semenjak pulang dari rumah sakit dirinya memang tidak pernah memasak, karena Bryan melarangnya memasak.
Saat sedang asik memasak, Shea mendengar suara pintu terbuka. Shea bisa menebak jika Bryan yang datang.
"Kamu memasak?" tanya Bryan. Bryan yang baru saja membuka pintu mencium aroma masakan. Dengan langkah cepat, Bryan menuju ke dapur untuk memastikan. Sesuai dengan dugaanya, jika Shea sedang memasak.
"Iya, aku pulang lebih awal, jadi aku pikir aku akan memasak untuk kita." Senyum tertarik di ujung bibirnya saat menjawab pertanyaan Bryan.
"Bukankah aku sudah bilang jangan memasak." Wajah Bryan terlihat sangat kesal saat mengetahui Shea memasak.
"Duduklah, sepertinya kamu lelah." Tangan Shea terus sibuk memindahkan masakannya ke piring saji.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Shea!" Suara Bryan yang tadi meninggi pun belum diturunkannya. Rasa kesal Bryan benar-benar masih melingkupi hatinya.
"Aku tidak suka kamu menaikkan suaramu seperti itu," ucap Shea tegas. "Bisakah kamu duduk dan menenangkan diri!" lanjut Shea.
Bryan yang menyadari jika suaranya meninggi pun merasa bersalah. Menarik kursi di meja makan, Bryan mendudukkan tubuhnya di atas kursi, sesuai permintaan Shea.
Shea yang sudah selesai memasak, meletakkan masakannya di atas meja makan. Saat semua masakannya sudah tersedia di meja makan, Shea ikut duduk. Tapi kali ini Shea memilih duduk di samping Bryan.
"Makanlah!" Shea menoleh dan menatap Bryan.
Bryan yang merasakan kekesalan, memilih untuk diam. Disaat Shea memintanya makan pun, Bryan tidak sama sekali bergerak.
"Mau aku ambilkan?" Suara Shea melembut. Shea menyadari kekesalan Bryan masih sangat menguasai hati Bryan, jadi melawannya dengan kekesalan juga tidak akan menyelesaikan perdebatan.
Menghela napasnya, Bryan mencoba mengatur emosinya. Suara Shea yang terdengar lembut pun mampu membuatnya lebih tenang. "Aku bisa sendiri." Tangan Bryan mengambil makanan yang sudah di siapkan oleh Shea.
Shea yang melihat Bryan mulai makan, merasa senang. Shea berkaca pada dirinya sendiri, jika saat dirinya emosi, makan adalah solusi ampuh untuk sedikit meredakan emosinya. Karena saat perutnya kenyang, pikirannya lebih akan tenang.
"Aku hamil, bukan sakit, jadi jangan larang aku memasak. Lagi pula aku juga tahu kemampuanku sendiri." Suara Shea memecah keheningan saat makan.
"Aku tahu, tapi aku khawatir." Emosi Bryan yang mereda, juga membuat suaranya lebih rendah dari sebelumnya.
"Aku pun tahu kamu khwatir, tapi apa kamu bisa menurunkan suaramu saat kekhawatiranmu itu berubah menjadi emosi."
"Maafkan aku." Bryan yang menyadari kesalahannya karena membentak Shea pun akhirnya meminta maaf. Bryan menatap Shea penuh pengharapan, berharap jika Shea akan memaafkannya.
Saat mendengar permintaan Bryan yang tulus, Shea tidak bisa menolaknya. "Iya."
Bryan merasa lega saat Shea memaafkannya. Bryan menyadari kadang rasa khawatirnya yang berlebih, membuat emosi Bryan ikut berlebihan juga. Tapi melihat bagaimana Shea menanggapi dengan lembut, membuat Bryan senang, karena ternyata Shea mampu membuatnya tenang kembali dalam sekejap mata.
Setelah keadaan tenang, Bryan dan Shea melanjutkan makannya.
"Apa kamu akan menerima tawaran Kak Selly?" tanya Bryan di sela-sela makan.
Shea menghentikan makannya, saat mendengar pertanyaan Shea. "Apa kamu menganggap ucapan Kak Selly serius?" Shea tahu persis wajah Selly yang tertawa saat mengoda Bryan.
"Aku takut kamu memilih pria yang lebih baik dari aku." Bryan menundukkan pandangannya saat mengingat seburuk apa dirinya.
"Aku akan lebih menghargai seseorang yang berusaha menjadi lebih baik. Karena saat dia salah, aku akan mengingatkan seberapa besar dia sudah berjuang untuk menjadi orang yang lebih baik," ucap Shea.
Bryan yang mendengar ucapan Shea merasakan semangat dalam dirinya. Bryan menyakini dirinya, jika dia akan berubah.
Saat mereka selesai makan, Bryan berdiri, dan merapikan piring-piring sisa makan. Bryan tidak mau Shea terlalu lelah. Jadi Bryan memillih mencuci semua piring sisa makan mereka.
Shea tahu, Bryan tidak mau dirinya lelah. Jadi Shea membiarkan saja, apa yang di lakukan oleh Bryan.
Selesai makan, Bryan dan Shea memilih masuk ke kamar masing-masing.
***
Bryan yang selesai mandi, langsung menuju ke kamar Shea. Membuka pintu kamar Shea, Bryan masuk ke dalam kamar.
"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu," ucap Shea. Shea yang sedang sibuk memijat kakinya, merasa kaget saat Bryan masuk ke dalam kamar secara tiba-tiba.
"Iya." Dengan rasa tidak bersalah, Bryan melangkah menghampiri Shea di tempat tidur.
"Mau apa kamu kemari?" Shea menajamkan pandangannya saat Bryan masuk ke dalam kamarnya.
"Tidur." Bryan ikut duduk dengan Shea, dan bersandar di headboard tempat tidur.
Mendengar jika Bryan yang ingin tidur di kamar bersamanya, Shea baru ingat jika semalam dirinya tidur bersama Bryan.
Aku harus coba dulu tidur dengan Bryan lagi. Kalau besok pagi aku muntah, berarti yang terjadi tadi pagi, hanya kebetulan saja.
Shea hanya bisa membatin dalam hatinya untuk menerima Bryan tidur di kamarnya. Melanjutkan kegiatannya, Shea memijat kembali kakinya, dan mengabaikan Bryan.
Melihat Shea sedang memijit kakinya, Bryan merasa ini adalah kesempatannya. "Kamu lelah?"
"Iya."
"Biar aku yang memijat," ucap Bryan seraya mendekat ke arah kaki Shea.
Shea terperanjat saat Bryan hendak memijat kakinya. "Aku bisa sendiri," elak Shea.
"Tenanglah, aku akan melakukannya dengan pelan." Bryan tidak menghiraukan sama sekali elakan Shea. Tangannya langsung menyentuh kaki Shea, dan memberikan pijatan lembut di sana. Bryan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan berharga di depan matanya.
Shea yang tadinya menolak, merasakan kakinya begitu enak saat dipijit oleh Bryan. Akhirnya Shea memilih untuk membiarkan saja, Bryan memijat kakinya.
__ADS_1
Perlahan kaki Shea yang tadinya begitu pegal, merasa lebih enak. Pijatan Bryan benar-benar membuat kakinya lebih relax.
"Apa kamu pernah belajar memijit?"
"Kenapa memangnya?"
"Kakiku merasa sangat nyaman saat tanganmu memijat," ucap Shea.
"Aku bisa memijatmu tiap hari, jika kamu mau?" Senyum tertarik di ujung bibir Bryan.
Shea memutar bola matanya malas. Niatnya memuji Bryan, malah mendapatkan tawaran dari Bryan.
"Ibu hamil sepertimu itu, harus banyak relax." Bryan mencoba mempengaruhi Shea dengan alasan kehamilan.
Shea membenarkan ucapan Bryan, jka dirinya memang harus banyak relax selama kehamilan, dan pijatan Bryan pun membuatnya nyaman. "Iya."
Senyum sempurna tergambar di wajah Bryan. Bryan benar-benar senang saat Shea menerima tawarannya.
"Tapi kaki saja," ucap Shea melanjutkan ucapanya.
"Iya," jawab Bryan.
Untuk tahap awal, kaki saja sudah cukup, nanti perlahan aku bisa memijat yang lain, batin Bryan membayangkan dirinya akan memijat anggota tubuh Shea yang lain.
"Kamu kenapa?" tanya Shea yang meliat Bryan tersenyum.
"Tidak," elak Bryan.
Shea menelisik ke dalam bola mata Bryan, memastikan jika Bryan tidak berbohong.
"Apa saja yang kamu lakukan tadi dengan Kak Selly?" tanya Bryan mengalihkan pembicaraan. Bryan yang melihat Shea begitu lelah, juga ingin tahu apa yang di kerjakan oleh Shea.
"Aku tadi ke butik, lalu ke mall, untuk berjalan-jalan." Shea mengingat kemana saja dirinya pergi.
"Pasti Kak Selly membawamu berkeliling?"
"Kenapa kamu bisa tahu?"
"Apa kamu lupa jika dia kakakku?" tanya Bryan. "Aku sudah sangat hapal dengan hobinya berbelanja dan jalan-jalan," ucap Bryan malas.
"Apa kamu suka menemaninya?"
"Beberapa kali, dan aku tidak mau mengulanginya lagi."
"Kenapa?" tanya Shea ingin tahu.
"Karena hanya pria bodoh yang mau menemaninya berbelanja dan jalan-jalan."
"Iya, siapa lagi."
"Dia tidak bodoh, tapi dia sangat mencintai Kak Selly," bela Shea.
"Apa mencintai seseorang harus menjadi bodoh?" tanya Bryan yang tidak terima.
"Tanyakan saja pada dirmu, sebodoh apa kamu mencintai aku?"
Bryan memutar kembali ingatannya. Bryan ingat betul saat dirinya makan udang, hanya untuk membuat Shea pulang, dan itu adalah tindakan paling bodoh yang dia lakukan.
"Apa kamu sudah menjadi bagian dari para pria bodoh itu?" tanya Shea tersenyum.
"Iya," jawab Bryan malas.
Shea hanya tertawa saat mendengar jawaban Bryan.
"Kamu menertawakanku," ucap Bryan seraya mengelitik pinggang Shea.
Shea yang merasa Bryan mengelitik pinggangnya tertawa. Shea memundurkan tubunya menghindar tangan Bryan yang terus berusaha mengelitiknya.
"Kamu senang ya menertawakan aku," ucap Bryan yang begitu gemas pada Shea.
"Maaf, maaf," ucap Shea masih diiringi tawa. Tubuh Shea tersungkur di tempat tidur saat Bryan mengelitiknya.
Tubuh Bryan yang berada di bawah tubuh Shea, membuat jarak antara dirinya dan Shea begitu dekat. Napas Shea yang terengah pun membuat hembusan napasnya dapat Bryan rasakan.
Mata Bryan menatap ke dalam bola mata milik Shea. Bryan menyadari, jika dirinya memang sudah di buat gila dengan pesona Shea.
"Aku bukan hanya bodoh, tapi gila karena mencintaimu."
Shea yang mengatur deru napasnya, melihat wajah Bryan yang begitu dekat dekatnnya.
"Apa kamu sudah mulai mencintaiku?" Mata Bryan menatap dalam pada dua bola mata indah milik Shea.
"Aku...."
Melihat keraguan Shea Bryan sadar, jika Shea belum mencintainya. "Aku akan setia menunggu." Bryan tersenyum dan mendaratkan satu kecupan di pipi Shea.
Mendapati ciuman di pipi secara tiba-tiba dari Bryan, Shea membeku.
Bryan bangkit dari tumpuan tangannya, yang menyangga tubuhnya. Bryan menjadikan tangannya sebagai penyangga, menghindari agar tubuhnya tidak menindih Shea, dan melukai anaknya.
__ADS_1
Beralih pada perut Shea, Bryan mendaratkan satu kecupan juga untuk anaknya. "Selamat malam, sayang."
Bryan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Memiringkan tubuhnya, Bryan memandang Shea. "Tidurlah!"
Shea pun memiringkan tubuhnya. Menatap Bryan, Shea mengingat pertanyaan Bryan.
"Berikan aku waktu sedikit lagi untuk meyakinkan hatiku," ucap Shea pada Bryan.
"Aku akan memberikan seluruh waktu yang aku miliki jika kamu membutuhkannya." Bryan meraih tangan Shea dan mengenggamnya.
Shea pun memilih untuk menerima genggaman tangan Bryan. Shea merasakan kenyamanan saat jemari Bryan mengeggam jemarinya.
Memejamkan matanya, Shea menuju ke alam mimpinya. Menikmati malam indahnya, dengan kenyamanan yang di ciptakan Bryan.
"Aku akan selalu menunggumu." Bryan memandang wajah Shea, dan ikut memejamkan matanya.
***
Bryan melenguh seraya membuka matanya. Saat matanya terbuka, Bryan melihat wajah cantik Shea di hadapannya. Jemarinya yang masih mengenggam jemari Shea, membuatnya tersenyum. Bryan baru menyadari, jika ternyata dirinya semalaman mengenggam jemari Shea.
Rasa penasaran pun membuat Bryan mendekatkan tubuhnya pada Shea. Disaat Shea tidur, Bryan ingin memandangi wajah Shea.
Tapi saat memandang wajah cantik Shea, terlintas keinginan Bryan memeluk Shea.
Tidak ada salahnya bukan, jika aku memeluknya?
Bryan hanya bertanya dalam hatinya, jika apa yang lakukannya tidaklah salah.
Lagi pula dia sedang tidur pulas. Jadi dia tidak akan merasakan, jika aku memeluknya sedikit saja.
Meletakkan tangannya di lengan Shea, Bryan memeluk Shea. Bryan masih memberikan jarak di tengah-tengah, agar Shea tidak merasakan deru napasnya.
Akhirnya aku bisa memeluknya, batin Bryan.
Tapi saat sedang asik memeluk Shea, Bryan melihat Shea mengerjap. Bryan yang tidak mau panik dan membuat Shea curiga, akhirnya memejamkan matanya, berpura-pura tidur. Bryan berharap Shea tidak akan marah saat menemukan dirinya memeluknya.
Mengerjap Shea merasakan jemari Bryan masih mengenggam erat jemarinya. Tapi Shea juga merasakan satu tangan kokoh Bryan juga memeluknya.
Membuka matanya sempurna, ternyata tangan Bryan yang memeluknya, membuat jarak Bryan begitu dekat. Mata Shea memperhatikan wajah Bryan yang begitu dekat dengannya.
Apa aku yang tidak pernah memperhatikan Bryan. Kenapa dia menjadi tampan sekali?
Shea hanya membatin dalam hatinya, saat melihat wajah Bryan.
"Pagi," ucap Bryan. Bryan berpura-pura baru bangun saat menyapa Shea.
"Pagi." Shea yang tadi sedang memperhatikan wajah Bryan, sangat kaget saat tiba-tiba Bryan menyapanya.
"Apa kamu sedang memandangi wajahku yang tampan?" tanya Bryan di sertai senyuman di wajahnya. Walapun tadi Bryan tidak membuka matanya, Bryan merasa Shea sedang memandangi wajahnya.
"Tidak," elak Shea. Shea benar-benar merasa malu saat dirinya ketahuaan memandangi Bryan.
Cup.
Satu kecupan mendarat di pipi Shea. "Pipimu memerah, tapi kamu masih saja mengelak," ucap Bryan sesaat setelah mendaratkan satu kecupan di pipi Shea.
Shea benar-benar tidak bisa mengelak ucapan Bryan, karena dirinya memang merasakan pipinya menghangat, dan sudah Shea pastikan pipinya pasti akan merona. Akhirnya Shea memilih menghindar dari pada semakin malu di depan Bryan. "Singkirkan tanganmu, aku mau bangun!"
"Jika aku tidak mau?"
"Jika kamu tidak mau, aku yang akan menyingkirkannya sendiri," ucap Shea seraya mengangkat tangan kokoh Bryan.
Bryan hanya pasrah saat Shea menyingkirkan tangannya. Bryan tahu, jika Shea berusaha menyembunyikan perasaan malunya.
Setidaknya aku bisa memeluknya sebentar, batin Bryan mengingat pelukannya tadi pada Shea.
Shea berlalu ke kamar mandi dan meninggalkan Bryan yang masih di tempat tidur.
Melihat dirinya dalam pantulan cermin Shea melihat wajahnya merona. "Ish...kenapa merah lagi?" tanya Shea pada dirinya sendiri. Shea merutuki dirinya yang malu.
Rasanya Shea merasa, semakin hari perasaanya semakin tidak karuan. Hatinya kadang berdebar saat bersama Bryan. Rona merah di pipinya, membuatnya kadang salah tingkah di depan Bryan.
"Apa aku benar-benar jatuh cinta?"
.
.
.
.
.
Selamat membaca
Jangan lupa like dan vote
Up jam 12 WIB
__ADS_1
sementara hanya 1 bab.