My Baby CEO

My Baby CEO
Membuatnya sekali


__ADS_3

Pagi ini sesuai dengan yang di janjikan Bryan. Bryan akan membawa barang-barang Shea ke rumah baru sedangkan Shea tetap berangkat berkerja.


Bryan lebih dulu mengantarkan Shea ke kantor, sebelum dirinya mengemasi pakaiannya.


"Jangan nakal ya, Sayang," ucap Bryan seraya mendaratkan kecupan manis di perut Shea.


Shea yang mendapati Bryan mengecup perutnya, sudah mulai terbiasa. Biasanya Bryan akan mencium perut Shea saat bangun tidur, dan akan mengulangnya saat Shea berangkat kerja. Untuk malam hari, dia akan mencium saat Shea pulang kerja, dan saat Shea akan tidur. Mencium perut Shea seolah sudah menjadi rutinitas baru bagi Bryan.


Menegakkan tubuhnya, Bryan mendaratkan kecupan pada pipi Shea.


Shea membulatkan matanya saat bibir Bryan menempel di pipinya.


Bryan semakin berani setelah aku menciumnya kemarin, batin Shea.


"Jangan lupa makan siang, dan hubungi aku saat kamu istirahat," ucap Bryan sesaat setelah mendaratkan kecupan manis di pipi Shea.


"Iya," ucap Shea. Shea langsung berbalik, dan membuka pintu.


"Se," panggil Bryan menghentikan tangan Shea yang ingin membuka pintu.


"Apa?" tanya Shea berbalik.


"Emm ... tidak jadi," ucap Bryan.


Shea pun kembali berbalik membuka pintu mobil. Tapi belum sempat dia membuka pintu mobil, Shea berbalik kembali. Shea lansung mendaratkan satu kecupan pada Bryan. "Sampai jumpa di rumah," ucap Shea. Shea berbalik dan langsung keluar dari mobil.


Bryan terdiam saat Shea menciumnya. "Kamu selalu membuatku seolah menjadi patung," ucap Bryan saat mendapati kecupan tiba-tiba dari Shea.


Sebenarnya Bryan tadi ingin meminta Shea untuk menciumnya, tapi entah kenapa bibirnya kelu saat ingin berucap. Tapi Bryan tidak menyangka, jika Shea akan menciumnya, tanpa Bryan memintanya lebih dulu.


Bryan merasa senang, karena hari-harunya sangatlah bahagia. Shea yang perlahan menerimanya, membuatnya bersemangat.


"Semoga di rumah baru, kehidupan kita akan lebih baik, Se," ucap Bryan. Bryan benar-benar berharap hal itu terjadi.


Melajukan mobilnya, Bryan kembali ke apartemennya.


Sesampainya di apartemen Bryan langsung menuju ke kamarnya untuk mengepaki pakaiannya.


Dengan cepat Bryan menyelesaikan mengepaki pakaiannya. Bryan memang berencana membawa setengah pakaiannya saja, dan meninggalkan setengah pakaiannya, karena mungkin dirinya akan membutuhkan pakaian, jika tiba-tiba dirinya ke apartemen.


Selesai mengepaki pakaian dan beberapa pakaiannya, Bryan menunggu Felix. Semalam Bryan juga sudah menghubungi Felix untuk datang ke apartemen, membantunya membawa barang-barang miliknya dan milik Shea.


Saat menunggu Felix, Bryan teringat dengan buku diary milik Shea. Membuka laci dimana Bryan menyimpan buku diary milik Shea, Bryan mengambilnya.


"Apa isinya?" tanya Bryan pada dirinya sendiri.


Membuka buku diary milik Shea, Bryan mendapati tulisan di lembar pertama dengan tertuliskan 'sebuah untaian kata yang tertulis dari hati', di bawah sudut tertera nama 'Olivia Shea'.


Bryan menarik senyum di wajahnya saat membuka lembaran pertama di buku diary Shea. Tulisan yang rapi dan cantik mengambarkan sosok Shea.


Membuka lembaran kedua, Bryan mendapati tulisan Shea yang menceritakan bagaimana pertama kali dirinya masuk kuliah. Bagaimana Shea beradapatasi dengan suasana kuliah pun di tulis oleh Shea.


Shea menuliskan bagaimana masa kuliahnya, hingga beberapa lembar. Di lembar berikutnya, Shea menceritakan bagaimana Shea dan Chika memperhatikan para seniornya yang begitu tampan.


Ternyata dia suka memperhatikan pria tampan. Bryan sedikit kesal saat membaca jika Shea memuji beberapa pria.


Membuka lembar berikutnya, Bryan melanjutkan membaca. Tapi saat membaca, Bryan menajamkan pandangannya saat melihat judul di baris paling atas. Setiap cerita Shea selalu memberikan judul, dan kali ini judulnya adalah 'Kak Alex'.


Bryan begitu penasaran, apa yang di tulis Shea tentang pria tetangganya itu. 'Aku bersyukur selalu ada Kak Alex saat aku masuk kuliah' Bryan membaca tulisan apa yang di lihatnya. 'Ternyata Kak Alex tidak hanya tampan, tapi dia begitu baik' Bryan melanjutkan membaca buku diary Shea.


Bryan mendengus kesal saat Shea memuji Alex.


Apa Shea menyukai Alex? Pertanyaan itu melayang di kepala Bryan, setelah membaca tulisan Shea.


Aku harus menjauhkannya dari pria itu, batin Bryan.


Untung saja aku tidak menyetujui usulan Shea yang meminta tinggal di rumahnya. Memutar ingatannya Bryan merasa bersyukur dengan keputusannya. Bryan menyadari, dirinya bukanlah orang baik, dan saat bersaing dengan orang-orang baik, nyali Bryan begitu ciut.


Di beberapa lembar, Shea hanya menceritakan tentang bagaimana kuliahnya. Apa dia tiap hari menulis buku diary, rasanya menceritakan kuliah saja harus berlembar-lembar. Bryan hanya bisa mengerutu karena cerita tentang kuliah yang di tulis Shea cukup banyak.


Di lembar berikutnya Bryan membaca tentang tulisan yang menceritakan tentang kematian kedua orang tua Shea. Tanggal yang tertera cukup jauh dari lembar sebelumnya. Bryan menduga, jarak tanggal penulisan, mungkin dimasa itu Shea masih berduka, hingga belum menulis apa pun


Dalam tulisan Shea, dia mengambarkan seberapa hancurnya Shea saat kedua orang tuanya pergi, dan meninggalkannya sendiri.


Aku tidak bisa bayangkan seberapa hancur dirimu dulu. Bryan tidak bisa bayangkan seterluka apa Shea saat kedua orang tuanya meninggalkannya.

__ADS_1


Membaca kesedihan yang dirasakan Shea, seolah membuat Bryan juga bersedih.


Aku akan menjagamu, dan tidak akan membuatmu bersedih lagi. Aku akan selalu ada untukumu.


Bryan membuka lembar berikutnya, tapi belum sempat dia membukanya, ponselnya berdering. Mengambil ponselnya, Bryan melihat siapa yang menghubunginya. "Felix," ucap Bryan.


Mengusap layar ponselnya, Bryan menempelkan di telinganya.


"Kamu dimana? Aku sudah menekan bel berkali-kali." Suara Felix terdengar kesal dari sambungan telepon.


Bryan baru sadar, jika dirinya terlalu asik membaca buku diary milik Shea, hingga saat Felix membunyikan beli dirinya tidak tahu.


Sebaiknya, aku simpan dulu, nanti aku akan lanjutkan, batin Bryan seraya menyimpan buku diary di kopernya.


Beranjak dari sofa, Bryan keluar dari kamar, dan berniat membuka pintu.


"Lama sekali kamu," grutu Felix saat Bryan membuka pintu.


Bryan hanya diam dan mengabaikan Felix begitu saja. "Cepatlah! Bawa barang-barangku," ucap Bryan pada Felix.


Felix hanya mendegus kesal saja, saat Bryan memerintahnya. "Dia yang lama membuka, kenapa aku yang kena," grutu Felix.


Felix hanya bisa pasrah, dan mengikuti perintah Bryan, untuk membawa barang-barangnya


***


Sesuai jadwal, hari ini Shea menemani Regan untuk menemui klien. Membawa mobilnya sendiri, Regan menuju ke restoran di salah satu mall, tempatnya bertemu klien.


"Sepertinya, Pak Regan sekarang lebih suka bawa mobil sendiri?" Suara Shea terdengar bertanya, saat perjalanan menuju tempat bertemu klien. Shea sudah memperhatikan, jika Regan sering sekali membawa mobilnya sendiri.


"Aku menyuruh supir untuk berjaga di rumah, untuk mengantar Selly kemana-mana," jelas Regan. Mata Regan tetap fokus pada jalanan di depannya.


Shea menganggu mendengar penjelasan Bryan.


"Dan kamu juga sekarang, lebih sering di antar Bryan dari pada naik bus atau pergi bersamaku." Regan menoleh sejenak pada Shea saat dirinya berucap.


"Iya, karena Bryan mau mengantarkan." Shea menjelaskan pada Regan.


"Sepertinya hubunganmu lebih baik sekarang."


"Aku sudah bilang bukan, untuk memanggil aku kakak saat berdua."


"Iya, Kak."


"Apa Bryan selama ini memperlakukan dirimu dengan baik?" Regan kembali bertanya.


Shea sedikit terkejut saat Regan membahas Bryan. "Iya, Bryan memperlakukanku dengan baik."


"Bagus, kalau dia memperlakukanmu dengan baik," ucap Regan menoleh pada Shea, "karena, jika tidak, aku tidak akan membiarkannya," lanjut Regan.


Mendengar ucapan Regan, Shea benar-benar tidak tahu maksud Regan. Ucapan Regan terdengar seperti ancaman, tapi Regan mengucapkannya dengan datar, tanpa emosi. Shea juga tidak tahu ekspresi apa yang Regan tujukan saat berucap, karena Regan menatap ke arah jalanan. Akhirnya Shea memilih untuk diam, dan tidak bertanya kembali. Agar pembahasan tidak melebar.


Sampai saat mereka sampai di mall, Shea memilih untuk diam.


Keluar dari mobil, Shea dan Regan menuju ke restoran di mall, untuk bertemu dengan klien.


Sesampainya di restoran ternyata klien Regan belum datang. Shea pun meminta izin ke toilet terlebih dahulu pada Regan, sebelum klien datang.


Berlalu ke toilet Shea meninggalkan Regan sendiri. Di toilet Shea langsung mengambil ponselnya. Shea ingin tahu apa yang dilakukan Bryan. Mengusap layar ponselnya yang tertera nomer Bryan, Shea menempelkan ponsel ke telinganya.


"Halo, Bry," sapa Shea saat menghubungi Bryan.


"Halo, Se." Suara lembut Bryan terdengar sangat senang saat Shea menghubunginya.


"Apa kamu sudah di rumah?" Shea ingin memastikan dimana Bryan.


"Iya, aku sedang di rumah dengan Felix," jelas Bryan, "apa kamu sudah makan?" lanjut Bryan bertanya.


"Aku bertemu klien sekaligus makan siang."


"Baiklah, makanlah yang banyak, dan jangan biarkan anak kita kelaparan, aku akan menjemputmu nanti saat pulang kerja."


Shea hanya tersenyum saat mendengar ucapan Bryan. "Iya, aku akan makan banyak."


"Pintar."

__ADS_1


"Ya sudah, aku kembali berkerja dulu."


"Baiklah."


Shea pun mengakhir sambungan telepon dan kembali ke meja restoran untuk meeting dengan klien.


***


Saat sambungan telepon dimatikan, Bryan memasukan ponselnya di saku.


"Apa kamu sudah makan?" Suara Felix yang di buat- buat melembut, menirukan bagaimana Bryan yang sedang menghubungi Shea.


"Diam!" Bryan yang tahu jika Felix sedang mengodanya, langsung melemparkan bantal sofa ke arah Felix.


Tapi Felix sempat menghindar, dan tidak mengenai dirinya. "Kamu tahu, Bry, aku benar-benar geli saat dirimu bicara lembut." Felix berucap seraya tertawa meledek Bryan.


"Jangan dengarkan jika kamu geli," ucap Bryan enteng.


"Bagaimana aku tidak mendengarkan, jika kamu menerima telepon disampingku." Felix memutar bola matanya malas dengan ucapan Bryan.


"Sudah cepat pasang!" Bryan yang sedang menyuruh Felix memasang fotonya pun meminta Felix melanjutkan.


Felix hanya mendengus kesal saat Bryan menyuruhnya kembali memasang foto Bryan. "Sebenarnya untuk apa kamu memasang fotomu sebesar ini di kamar?" Felix benar-benar heran dengan Bryan yang memintanya untuk memasang sebuah foto Bryan dalam figura besar.


"Agar Shea selalu memandang wajahku."


Felix hanya mengeleng dan bibirnya mencebik saat mendengar jawaban Bryan.


"Coba kamu lihat, saat Shea tidur, matanya akan memandang fotoku, dan saat Shea terbangun dia juga akan memandang fotoku." Bryan yang menjelaskan seraya mempraktekkan dengan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menirukan apa yang akan terjadi dengan Shea, saat Shea nanti akan tidur dan bangun tidur.


Felix langsung tergelak. Felix benar-benar tidak habis pikir jika Bryan akan sebodoh itu saat jatuh cinta. "Aku harap dia tidak akan muntah, saat setiap saat melihat wajahmu." Felix terus tertawa, menertawakan ide konyol Bryan.


"Justru dia tidak akan muntah jika melihat wajahku," elak Bryan, "semakin dia memandangi wajahku, anaknya akan semakin mirip nanti denganku," lanjut Bryan berucap.


Felix semakin tergelak saat mendenga ucapan bodoh Bryan. "Astaga, Bry, apa dulu saat pelajaran biologi dirimu tidak masuk?"


"Apa kamu tidak ingat, jika mama dan papa menjejali otakku dengan pelajaran bisnis terus," ucap Bryan, "memang kenapa?" lanjut Bryan bertanya.


"Kalau yang menanam benih itu dirimu, jelas anak itu adalah anakmu. Jadi gen mu akan melekat pada anakmu, dan anakmu tentu akan mirip dirimu, walaupun mungkin akan ada kemiripan dengan Shea, karena kalian berdua yang ambil andil."


Bryan menatap Felix seolah sedang mencari kebenaran dari ucapannya.


"Harusnya kamu pelajari juga hasilnya, jangan hanya pelajari cara membuatnya saja." Felix melempar bantal pada Bryan.


"Aku membuatnya sekali, dan langsung jadi, mana bisa aku belajar," elak Bryan.


Felix tersenyum tipis. Felix sudah hapal sebodoh apa Bryan. "Bry, jika kamu membuatnya hanya sekali, dan tidak mengulangnya lagi, pasti anakmu hanya satu sisi yang mirip denganmu." Felix menahan tawanya saat bicara dengan Bryan.


"Oh ya?" Bryan memastikan pada Felix.


"Iya, kamu membuat sekali, itu akan membuat telinganya mirip denganmu. Membuat sekali lagi, hidungnya akan mirip dengamu. Membuat sekali lagi, matanya akan mirip denganmu...."


"Kalau aku membuat berkali-kali?" potong Bryan sebelum Felix selesai bicara.


"Ya kalau kamu buat berkali-kali, seluruh tubuh anakmu akan mirip denganmu," ucap Felix penuh keyakinan.


"Tapi Shea tidak mau aku sentuh," ucap Bryan yang mengingat Shea tidak mau disentuh oleh Bryan.


"Ya berarti, bersiap-siaplah, jika anakmu tidak akan mirip dengamu."


Bryan memikirkan apa yang dikatakan oleh Felix. Bryan tidak mau kalau sampai anaknya tidak mirip dengannya.


Aku akan berusaha membuat Shea mau ditiduri, batin Bryan.


Felix yang melihat ekpresi Bryan, hanya bisa menahan tawanya di dalam hati. Dasar CEO bodoh, batin Felix. Felix tidak menyangka jika Bryan akan mengira ucapannya serius.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan vote

__ADS_1


__ADS_2