My Baby CEO

My Baby CEO
Seberapa pertahanannya?


__ADS_3

Sabtu malam, sesuai undangan, Bryan dan Shea bersiap untuk menghadiri acara di hotel milik keluarga Davis. Dengan balutan long dress satin dibalut broklat, Shea tampil cantik malam ini. Dress tanpa lengan dengan hiasan pita satin memberi tampilan yang begitu elegan. Potongan yang melebar ke bawah pun membuat perut Shea lebih nyaman.


"Kenapa kamu cantik sekali?" tanya Bryan yang baru saja memakai dasi.


Shea yang masih membenarkan dress miliknya di depan cermin, melihat Bryan dari pantulan cermin dan tersenyum. Dia langsung berbalik saat melihat suaminya yang akan memakai dasi. Tangannya meraih dari yang berada di tangan Bryan dan melingkarkan di kerah kemeja milik Bryan.


"Sebagai istri seorang CEO aku tidak boleh mempermalukan bukan?" tanya Shea.


"Sebenarnya aku sangat tidak suka ke pesta seperti ini."


Mata Shea yang sedang fokus memasangkan dasi pun beralih menatap suaminya. "Lalu apa yang kamu suka?"


"Menghabiskan malam denganmu," ucap Bryan seraya membenamkan bibirnya di ceruk leher Shea.


"Bisakah kamu diam!" Shea yang sedang memakaikan dasi di kerah kemeja, kesulitan saat Bryan tidak bisa diam dan malah menciumi lehernya.


"Bisakah kita tidak pergi?" tanya Bryan berbisik di telinga Shea.


Shea mendorong tubuh Bryan agar berdiri dengan tegak dan dirinya bisa memasangkan dasi. "Tidak bisa!"


Bibir Bryan mencebik mendapati jawab Shea.


"Bertemu rekan bisnis juga penting untuk menjalin hubungan, jadi jangan malas untuk pergi ke pesta hari ini. Apalagi kamu sudah berkerja sama dengan Davis Company, jadi paling tidak tunjukan jika kamu rekan bisnis yang baik." Dengan masih sibuk memasang dasi, Shea berucap pada Bryan.


"Aku serasa punya penasehat," goda Bryan mendaratkan satu kecupan di pipi Shea.


"Kamu benar-benar tidak bisa diam ya!" Shea mendorong tubuh Bryan dan membuatnya tegak kembali.


Bryan hanya tersenyum mengabaikan istrinya yang kesal karena ulahnya. "Oh ya, nanti di sana, jangan dekat-dekat dengan Alex!" ucap Bryan saat teringat dengan pria yang namanya berada di dalam buku diary istrinya itu.


"Iya." Sebenarnya Shea sendiri bingung. Alex adalah orang yang dia kenal dari kecil, dan akan sulit jika dirinya harus menjauh. Namun, dia tidak mau merusak keharmonisannya dengan Bryan.


"Kamu tidak mau memperingatkan aku agar tidak dekat-dekat dengan Helena?"


"Untuk apa aku memperingatkan, jika alarm alami pada dirimu sudah berbunyi saat berdekatan dengan Helena." Dari apa yang dilihat Shea, dia sudah tahu jika suaminya tidak akan mendekati Helena.


"Kamu!" Bryan benar-benar gemas dengan istrinya. Dia langsung memeluk Shea dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada Shea.


"Sudah ayo berangkat! Kita akan terlambat nanti."


"Iya." Bryan melepaskan pelukan dari tubuh Shea. Mereka pun keluar dari kamar, dan menuju ke hotel tempat acara yang diadakan keluarga Davis.


***


Sampai di hotel tempat acara, Bryan dan Shea sedikit bingung saat tahu jika acara begitu banyak di hadiri tamu undangan. Mereka berdua melihat di dalam ballroom hotel begitu banyak tamu yang hadir.


"Aku pikir saat tetanggamu itu bilang akan ada pesta, aku tidak menyangka jika pestanya sebesar ini," ucap Bryan menoleh pada Shea.


"Kemarin kita juga lupa tanya, acara apa ini sebenarnya?" Shea berucap dengan disertai tawa kecil.


Bryan terkesiap mendengar ucapan istrinya. "Iya juga, aku lupa menanyakannya." Bryan merutuki kebodohannya yang melupakan pertanyaan untuk apa dia dan Shea datang.


Saat mereka sedang tertawa kecil membahas ketidaktahuan mereka untuk apa datang ke pesta, dari kejauhan Alex berjalan menghampiri mereka.


"Selamat malam Pak Bryan," ucap Alex seraya mengulurkan tangannya.


"Malam, panggil saja Bryan," ucap Bryan menerima uluran tangan dari Alex


"Oke, Bryan," jawab Alex. Dia beralih pada Shea yang berdiri di samping Bryan. "Hai, Se," sapanya.


"Hai, Kak." Shea menyapa Alex tapi dia sedikit melirik pada Bryan.


Alex tertawa kecil saat melihat Shea seolah takut untuk menyapanya. "Apa suamimu melarang untuk berbicara denganku?"


Shea terkesip mendengar ucapan Alex. "Ti-dak," ucapnya terbata. Shea terpaksa berbohong karena merasa tidak enak dengan Alex.


"Bagus kalau tidak," ucap Alex tersenyum.


Bryan menahan gemuruh dalam hatinya, rasanya dia benar-benar kesal. Namun, dia sadar Alex pernah berada di hidup Shea, dan itu akan membuatnya sulit untuk menolak berbicara padanya


"Mari! Aku akan kenalkan dengan Pak Davis." Alex mengalihkan pembicaraan.


Bryan dan Shea pun mengangguk dan mengikuti Alex untuk menemui Tuan rumah acara ini.


"Pak Davis," panggil Alex.


"Iya, Lex." Davis menoleh pada Alex.


"Kenalkan ini Bryan Adion." Alex memperkenalkan Bryan.

__ADS_1


"Oh, yang akan mengerjakan proyek pembangunan hotel kita di luar kota itu?" tanya Davis memastikan.


"Iya," jawab Alex.


"Senang bisa bertemu dengan Pak Davis," ucap Bryan mengulurkan tangannya.


"Senang sekali saya juga bisa bertemu juga dengan Anda." Davis menerima uluran tangan Bryan. "Saya selalu senang, jika para anak muda berbisnis."


"Saya masih sangat baru dalam dunia bisnis, Pak, masih harus banyak belajar dari orang-orang seperti Pak Davis, yang sudah ahli dalam bisnis."


Davis tertawa. "Ya, saya suka orang-orang yang mau berusaha dan belajar," ucapnya. Mata Davis beralih pada Shea yang berdiri di samping Bryan. "Ini istri Anda?"


"Iya, Pak, kenalkan ini Shea, istri saya." Bryan mengenalkan istrinya pada Davis.


"Shea," ucap Shea mengulurkan tangan.


"Davis." Davis mengulurkan tangannya. Tatapannya beralih pada perut Shea. "Berapa bulan kehamilanmu?" tanya Davis.


"Lima bulan, Pak."


Davis tersenyum. "Rasanya aku tidak sabar melihat Helena akan hamil seperti dirimu."


"Aku akan hamil setelah mendapatkan pria yang aku suka." Suara Helena menyela di tengah-tengah Davis berbicara dengan Shea. Dia melangkah menghampiri, papanya, Bryan, Shea, dan Alex. "Hai, Bry," ucap Helena menyapa Bryan. Senyum manis tertarik di ujung bibirnya.


"Kenapa kamu hanya menyapa Bryan saja?" tanya Davis pada putrinya.


Helena menatap malas pada papanya yang menegurnya. "Hai, Se .... " Helena mengingat-ingat siapa nama istri Bryan.


"Shea," jawab Shea Bryan melanjutkan Helena yang lupa.


"Iya," jawab Helena pada Bryan. Matanya beralih kembali pada Shea. "Hai, Shea," sapanya.


"Hai, Helena."


"Lihat Lena, Shea sedang mengandung, cepatlah menikah! Sehingga kamu bisa memberikan cucu untuk papa." Davis melanjutkan kembali ucapannya.


"Aku sudah bilang bukan, Pa, jika aku akan memberi papa cucu setelah menikah dengan pria pilihanku," ucap Helena. Tatapannya tertuju pada Bryan yang berada tepat di hadapannya.


"Papa tidak yakin dengan pilihanmu, karena pilihanmu pasti tidak akan baik untukmu," cibir Davis. Davis tahu betul bagaimana perangai anaknya.


"Lalu, menurut papa pilihan papa baik?" Helena malas sekali meladeni papanya.


"Iya," jawab Davis pasti. Dia beralih pada Bryan dan Shea. "Maaf mendengarkan obrolan ayah dan anak," ucapnya.


"Kamu benar." Davis tertawa kecil menjawab ucapan Bryan. "Ayo, Bryan, aku akan mengajakmu berkenalan dengan rekan bisnisku, siapa tahu kamu bisa berkerjasama dengan mereka juga."


Mendapat tawaran dari Davis, merupakan satu keuntungan besar untuk Bryan. Sebagai pengusaha besar, Davis pasti punya rekan bisnis yang banyak dan mereka pasti handal dalam segala hal. Namun, Bryan ragu menerimanya, karena tidak bisa meninggalkan Shea sendiri.


"Pergilah, Sayang! Aku akan di sini dengan Helena." Shea yang bisa menebak isi pikiran Bryan pun memberikan izin. Lagipula ini adalah kesempatan untuk Shea berbicara dengan Helena.


"Baiklah, jangan kemana-kemana, dan jangan jauh-jauh dari aku," ucap Bryan pada Shea. "Mari, Pak." Bryan beralih pada Davis. Berjalan dengan Davis dan Alex, Bryan bertemu dengan rekan bisnis Davis.


"Wah, romantis sekali Bryan," puji Helena sesaat setelah Bryan meninggalkan Shea dengan Helena.


"Jangan terlalu memuji suami orang, karena itu akan membuatmu mengaguminya." Shea sadar dengan ucapannya. Karena dirinya sendiri sudah mengalaminya pada Regan.


Helena tertawa. "Apa kamu sedang takut, aku mengagumi suamimu?"


"Untuk apa aku takut, jika dia bisa menjaga dirinya dari godaan."


Helena mendengus diiringi tawa. "Kita akan lihat seberapa pertahanannya akan kuat."


Shea hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar ancaman Helena. Namun, belum selesai dirinya menjawab ucapan Helena, Alex datang menghampiri mereka. "Ayo, acaranya akan dimulai!" ucapnya pada Helena.


Dengan langkah elegan, Helena berlalu meninggalkan Shea dan Alex. Dia maju ke depan untuk naik ke podium bersama papanya, untuk acara perkenalan dirinya sebagai CEO baru di Davis Company.


"Jangan pikirkan ucapannya." Suara Alex mengisi keheningan sesaat setelah Helena pergi.


"Kak Alex dengar?" tanya Shea menatap Alex.


"Iya," jawab Alex, "aku akan menjamin dia tidak akan menganggu rumah tanggamu."


Shea tersenyum mendengar ucapan Alex. "Sampai kapan Kakak melindungiku?"


"Tidak ada kata berhenti saat seorang kakak melindungi adiknya," ucap Alex, "itu pun juga jika kamu masih menganggap aku kakak," imbuhnya. Wajah Alex tampak kecewa saat berucap.


"Kak .... " Shea tahu apa yang membuat Alex begitu kecewa.


"Sebenarnya aku kecewa denganmu, yang menghilang tiba-tiba dan hanya mengirimi aku pesan. Hingga tiba-tiba kembali dengan kabar sudah menikah."

__ADS_1


Shea menyadari kesalahannya. Dia yang memilih menghadapi semua sendiri tidak memberitahu siapa pun tentang keadaanya. Apalagi dirinya dulu harus menikah karena kehamilan akibat pemerkosaan yang dilakukan Bryan. "Maafkan aku?"


"Awalnya aku tidak yakin dengan Bryan saat pertama kali bertemu, tetapi melihatnya begitu mencintaimu, aku menjadi yakin jika dia akan menjagamu." Alex menatap Shea dengan senyuman di bibirnya. "Aku berharap adik kecilku bahagia."


Rasanya Shea terharu mendengar ucapan Alex. Setelah orang tuanya tidak ada, hanya Alex yang selalu ada untuknya. Namun, sejenak dia melupakan Alex karena tidak mau membuatnya tahu keadaanya. "Terima kasih."


Alex mengangguk. "Aku akan ke depan lebih dulu," ucapnya, dan Shea mengangguk. Alex berlalu meninggalkan Shea menuju podium menunggui atasannya.


"Bicara apa saja dia?" Suara Bryan tiba-tiba terdengar dan membuat Shea begitu kaget. Bryan yang tadi berbincang dengan rekan bisnis Davis, harus merelakan istrinya berbincang dengan Alex.


"Dia hanya ikut senang karena ternyata aku menikah dengan orang yang begitu mencintai aku," ucap Shea seraya melingkarkan tangannya di lengan Bryan.


"Benarkah?" tanya Bryan menelisik ke dalam bola mata Shea mencari kebenaran dari ucapan istrinya.


"Kamu pikir aku suka berbohong?" Shea mencebikan bibirnya saat Bryan meragukannya.


"Iya, aku percaya," jawab Bryan, "jangan marah," lanjutnya. Dia tahu, istrinya tidak akan berbohong padanya.


Shea langsung tersenyum mendengar Bryan membujuknya. Sebenarnya dia tidak benar-benar marah. Namun, melihat Bryan panik saat dirinya marah, Shea merasa senang.


***


Saat masih menunggu acara pengumuman Helena yang menjadi CEO Davis Company, mata Shea melihat cake yang tersusun rapi di meja. "Sayang, aku mau itu," ucap Shea melihat cake di atas meja.


"Tapi acaranya belum selesai."


Shea merasa kecewa saat keinginannya tidak dipenuhi. Dia yang melihat cake begitu tampak mengiurkan membuat dirinya tidak sabar untuk memakannya.


Melihat istrinya yang begitu menginginkan cake, rasanya Bryan tidak tega. Namun, melihat banyaknya tamu undangan yang begitu banyak dan rata-rata berasal dari kalangan atas, Bryan pasti sangat malu. "Aku akan meminta pelayan, tapi jangan makan disini, oke?" ucapnya pada Shea.


Mata Shea berbinar melihat jawaban Bryan. "Iya." Dia langsung mengangguk mendengar ajakan Bryan.


Menarik tangan istrinya, dia membawa Shea ke belakang sebuah pilar. "Tunggu disini, aku akan meminta pelayan." Bryan langsung berlalu mencari pelayan. Hingga akhirnya dia bertemu dengan pelayan yang sedang menyusun makanan. "Permisi," ucap Bryan menegur pelayan.


"Iya, Pak?"


"Bisakah aku minta cake," ucap Bryan memberanikan diri.


"Tapi acaranya belum mulai, Pak." Pelayan merasa bingung dengan permintaan Bryan.


"Iya saya tahu, tapi istri saya sedang hamil, dan ingin makan cake." Bryan menjelaskan pada pelayan.


Pelayan bingung harus mengizinkan atau tidak, sampai akhirnya dia menemui pelayan senior terlebih dahulu untuk menyampaikan keinginan Bryan. Akhirnya pelayan mengambilkan satu box berisi cake, dan memberikan pada Bryan.


Bryan bersyukur karena dirinya mendapatkan cake untuk Shea. Dia kembali menghampiri Shea yang sudah setia menunggu dirinya. "Ini," ucap Bryan memamerkan cake yang dibawanya.


Namun, Shea merasa tidak enak saat harus makan di tengah-tengah banyak orang. "Kita makan di mobil saja ya," ucap Shea.


Melihat orang yang memandangi dirinya membawa box berisi cake, Bryan berpikir yang dikatakan Shea ada benarnya. Dia lebih baik makan di dalam mobil. "Ayo!" Bryan menarik lembut tangan Shea menuju ke mobilnya.


Sampai di dalam mobil, Shea langsung memakan dengan lahap cake yang dibawa oleh suaminya. Bryan yang melihat istrinya begitu lahap makan merasa sangat senang.


"Apa kamu mau?" tanya Shea menyodorkan cake pada Bryan.


"Makanlah!"


Saat Bryan menolak, akhirnya Shea menghabiskan cake yang dibawa oleh Bryan. Manisnya cake selalu membuat candu baginya. Hingga mengabaikan suaminya dan fokus pada makanannya.


Mengakhiri makan cake, Shea menjilati jari jemarinya yang terkena butter cream yang menempel di jari jemarinya. "Kenyang sekali," ucapnya


Bryan hanya bisa menggeleng karena istrinya bisa makan begitu banyak cake. "Kalau begitu kita masuk lagi saja."


"Sayang, aku lelah, bisakah kita pulang saja!" pinta Shea.


Menyadari jika keadaan Shea yang hamil, memang memudahkan rasa lelah mendera. "Baiklah. Kamu tunggu di sini dan aku akan berpamitan dulu dengan Pak Davis."


"Iya," jawab Shea disertai anggukan.


Mendapati anggukan dari Shea, Bryan pun keluar dari mobil dan menuju ke dalam acara, untuk berpamitan dengan pemilik acara. Dia tidak mau dianggap tidak sopan, karena pergi tanpa berpamitan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


...Karena akan banyak kejutan setelah ini....


...Jadi jangan lupa like dan vote....


__ADS_2